
Pov Bryan
...🍁🍁🍁...
Bryan Seager Xander, itulah namaku.
Semua orang yang melihatku dari luar pasti berpikir bahwa aku sempurna. Memiliki otak genius, lulusan sekolah luar negri, fasih dalam 4 bahasa. Dari kecil aku selalu bisa mendapatkan apa yang ku mau dan apa yang ingin ku raih pasti bisa aku dapatkan tanpa bersusah payah.
Ya inilah diriku, seorang genius yang selalu dipuja-puja orang. Namun jujur saja, aku tidak suka mendengar pujian orang-orang kepadaku. Aku merasa risih, terlebih lagi ketika ada beberapa temanku yang meminta bantuanku. Aku lelah dan aku memilih untuk menjadi penyendiri saja, menjadi orang cuek yang tidak terlibat dalam apapun.
Akhirnya aku menjadi seorang genius yang hebat, walau komunikasi ku dengan orang lain sangatlah kurang. Sejak adikku Kenzo menghilang, aku tidak pernah memiliki teman dekat lagi dan memilih menghabiskan waktuku sendiri.
Bahkan selama ini semua orang mengira bahwa aku takut pada wanita. Ya, aku bukannya takut tapi aku alergi terhadap wanita. Aku mengidap mysophobia, terkena kotoran sedikit saja. Aku akan membasminya, atau bahkan mandi sebanyak 7 kali sampai tubuhku benar-benar terbebas dari yang namanya bakteri.
Hingga pada suatu hari, kutemukan sosok wanita bertubuh mungil mengenakan baju tipis tiba-tiba saja masuk ke dalam taksi yang sedang ku naiki.
Kurasakan jantungku berdebar kencang ketika melihat sosok wanita bertubuh mungil, memilikinya hidung mancung, mata indah, bulu mata lentik, sungguh dia dapat mencuri semua atensiku.
"Pak, ke rumah sakit Mitra Husada! Cepat!" titah si gadis cantik itu pada supir taksi dengan buru-buru.
Sungguh! Bukan hanya wajahnya yang cantik, tapi suaranya juga merdu. Membuat dadaku bergetar hebat karenanya.
"Mau ke rumah sakit, apa ke klub malam neng?" tanya supir taksi itu menggodanya sambil melihat baju tipis dan rok diatas lutut dan dipakainya. Supir taksi itu menyindirnya seolah wanita itu bukan wanita baik-baik.
Jujur, dalam hati aku marah dengan perkataan kurang ajar dari si supir taksi ini. Akan tetapi aku siapa? Kenal ia saja tidak.
"Rumah sakit pak!" Tegasnya pada supir taksi, tanpa ragu.
__ADS_1
Apa dia bodoh atau bagaimana? Bisa-bisanya dia bersikap tenang setalah dihina oleh si supir taksi itu.
"Ehem," Aku berdehem agar dia menyadari kehadiranku disana.
Si mungil itu dan supir taksi itu menoleh ke arahku. Aku menatapnya dengan sinis.
"Maaf pak, tapi saya duluan yang naik taksinya." ucapku tak mau kalah, pada supir taksi. Kan memang aku duluan yang masuk ke dalam taksi. Hanya karena dia cantik, lalu apa dia bisa merebut taksi yang ku pesan ini?
"Oh ya, mas duluan yang naik. Neng, maaf ya...tapi si mas bule duluan yang naik. Silahkan keluar!" seru supir taksi itu menyuruh si cantik keluar dari taksi.
"Pak, saya mohon...izinkan saya naik taksi ini. Saya sedang sangat buru-buru, ayah saya berada di rumah sakit. Tolonglah..." Ia memohon sembari mengatupkan kedua tangannya didepanku.
Sungguh aku tidak tega melihatnya memohon begitu. Tapi aku tidak mau kalah, aku berdebat dengannya dan memintanya turun dari taksi. Ya, karena aku juga sedang buru-buru.
"Sa-saya akan bayar berapapun, tapi tolong sekarang pergi ke rumah sakit! Tolong pak!" Lagi-lagi si mungil memohon padaku.
"Hikssss... hikssss...dasar pria jahat, gak punya hati!"
Hah? Apa? Dia menangis? Oh tidak! Melihat bulir air mata yang jatuh membasahi pipinya, sungguh aku tidak tega. Bahkan bisa kulihat wajah si sopir taksi merasa bersalah padanya.
Apa dia bilang? Aku gak punya hati?
"Apa bapak gak punya orang tua? Bagaimana kalau orang tua bapak berada di rumah sakit dan sedang dalam keadaan darurat saat ini? Lalu tidak ada yang mau menolong bapak! Bagaimana? Bapak jahat...hikss..."
Bagaimana bisa aku berantem sama anak kecil? Pikirku dalam hati. Hah...ya sudahlah, aku mengalah saja pada si mungil ini.
"Pak, Rumah sakit mitra Husada!" Ujarku tegas pada si supir taksi.
__ADS_1
Kulihat tangannya mulai menyeka air mata di pipinya. Raut wajah yang tadi menatapku marah dan kesal, berubah dalam sekejap mata. Sungguh, dia sangat lucu dan menggemaskan. Tapi aku berpikiran buruk padanya karena di keluar dari hotel dan berpakaian tipis. Apa dia melakukan pekerjaan yang tidak halal? Lalu kusingkirkan pikiran negatif itu. Mana mungkin seorang gadis dengan mata polos seperti ini akan melayani pria hidung belang.
Atensiku lagi-lagi tercuri saat melihat bibirnya yang bicara, aku mulai berpikiran liar ingin mencium bibirnya. Tapi apakah aku yang mysophobia ini bisa melakukannya? Untuk memastikan alergi atau tidak diriku padanya, saat membuka pintu mobil. Dengan sengaja aku menyentuh tangannya yang lembut.
Tidak terjadi apa-apa padaku, aku baik-baik saja. Sejak saat itu aku yakin bahwa si mungil little girl adalah jodohku.
Aku mencari informasi tentang gadis yang berhasil mencuri perhatianku untuk pertama kalinya itu, dan akhirnya aku menemukan informasi dari Ferry bahwa dia adalah Maura Syanita Agradana. Putri pemilik perusahaan Agradana grup.
Ku putusan untuk mendekatinya dengan cara apapun juga. Aku kan selalu bisa mendapatkan apa yang ku mau. Sebenarnya keinginanku untuk memilikinya sempat membuatku runtuh manakala aku tau kalau gadis mungilku itu sudah memiliki seorang suami.
Akan tetapi, aku temukan fakta lainnya bahwa suaminya berselingkuh, kejam dan menikahinya hanya karena dendam. Lalu terbukalah jalan bagiku untuk mendekatinya. Aku tidak peduli dengan statusnya dan statusku, atensiku hanya satu. Aku menginginkannya dan aku harus mendapatkannya. Meski harus mendapat julukan pebinor sekalipun, aku tidak peduli.
Perlahan tapi pasti, aku mulai menjadi sandaran baginya yang terluka. Segala cara aku lakukan agar dia luluh padaku, akhirnya aku mendapatkannya. Dia jatuh cinta padaku dan aku yakin itu.
Dia memutuskan untuk bercerai dengan suaminya. Saat itu jujur saja aku bahagia, tapi aku hanya bisa menyimpan kebahagiaan ini dalam hati untuk saat ini. Sebab, aku harus menghibur Maura yang bersedih akan perceraiannya.
Akhirnya, aku sampai pada hari dimana aku akan melamar Maura setelah mendapatkan persetujuan dari ayah Maura, kakak sepupunya dan tentunya mamaku. Namun, sesuatu yang besar terjadi dan sebuah fakta mencengangkan terungkap. Bara yang menyelamatkan Maura ternyata adalah adikku Kenzo dan dia mengalami hilang ingatan.
Sungguh! Fakta ini benar-benar membuatku tersedak pahit. Kenapa harus Bara? Kenapa Kenzo harus dia? Pria yang kubenci karena sudah menyakiti wanita yang aku cintai.
Entah dia melakukan drama atau bukan, yang jelas Bara mengakui Maura sebagai istrinya. Sungguh, aku tidak rela ketika mamaku memintaku untuk mengizinkan Maura berada di sisinya berpura-pura menjadi istrinya.
"Tidak ma, Bryan menolak. Bryan gak mau, Maura dekat dengannya!"
Kulihat raut wajah mama yang bingung, tapi aku tak peduli. Pada dasarnya aku memang orang yang keras kepala, apalagi kalau urusan Maura. Maaf maaf saja, aku tidak bisa mengalah pada siapapun termasuk adikku, Kenzo.
Karena aku tidak yakin bahwa Bara benar-benar hilang ingatan. Rasanya janggal saja, kenapa dia tak ingat semua orang tapi dia ingat dengan Maura saja? Aneh bukan?
__ADS_1
...****...