
Bara memegangi tubuh Maura, dia memanggil Bi Iyam untuk membawa Maura pergi. Kemudian dia pun bicara dengan meminta wanita itu di dalam kamar dan meminta dia untuk segera pergi dari rumahnya karena urusan mereka sudah selesai.
"Sayang! Kenapa kamu mengusirku?" tanya wanita itu kesal.
"Urusan kita sudah selesai Lisa, jadi untuk apa kamu tetap berada disini? Ambil uangnya diatas meja, lalu pergilah." ucap Bara para Lisa.
Lisa menghampiri Bara sambil memeluknya. "Sayang, kamu memanggilku hanya untuk memeluk dan menciumku saja...apa kamu tidak mau hal yang lebih dari itu? Kamu akan rugi, karena aku mendapatkan bayaran yang mahal dan tidak setimpal dengan apa yang kamu dapatkan." ucap Lisa dengan tangan yang menelusuri tangan Bara dengan lembut.
Aku tau aku dipanggil kesini untuk berpura-pura menjadi kekasihnya dan pura-pura bercinta dengannya. Tapi, aku benar-benar ingin menjadi wanitanya. Alangkah bagusnya kalau aku hamil anaknya dan mempunyai lebih dari sekedar uang ini.
Bara sama sekali tidak tergoda dengan kecantikan Lisa, dia menepis tangan Lisa dengan kasar. "Jangan sentuh aku! Atau aku tidak akan membayarmu." ucap Bara tegas dan dingin.
Akting wanita ini lebih buruk dibandingkan Vera, lebih baik aku tetap berakting dengannya saja. Setidaknya dia tidak melakukan kekerasan fisik padanya.
Lisa mend*s*h, dia pun mengambil tas bermerek yang dibelikan oleh Bara untuk berakting menjadi kekasihnya. "Ya sudah sayang, aku pulang dulu. Tapi, bukankah kamu harus mengantarku sampai ke depan rumah? Nanti istrimu bisa curiga dong kalau kita hanya kekasih pura-pura." Lisa tersenyum manis pada Bara.
"Baiklah." Bara mengenal nafas.
Lisa menggandeng tangan Bara, mereka pergi ke depan rumah. Maura dan Bi Iyam melihatnya, Bara tidak mengantar Lisa pergi dan meminta supirnya yang mengantarkan Lisa pulang.
"Sayang, nanti aku ke kantor kamu ya." Lisa mencium pipi Bara dengan mesra. Matanya melirik tajam pada Maura yang berdiri tidak jauh dari sana.
"Iya sayang, kamu hati-hati ya." ucap Bara sambil memeluk Lisa dengan mesra untuk dipertontonkan pada Maura.
Meski sudah memiliki niat balas dendam pada Bara, hatinya tetap sakit melihat Bara bermesraan dengan wanita lain didepan matanya. Diam-diam Bara melirik Maura yang menatap dirinya dan Lisa dengan tatapan sakit hati.
Lisa pergi dari rumah itu bersama Hendra, supir rumah itu. Bara juga bersiap untuk pergi ke kantornya karena hari sudah siang, namun sebelum itu dia sarapan bersama dengan ibu dan adiknya.
"Ghea, hari ini kamu ujian ya?" Tanya Bara sambil memakan nasi goreng yang menjadi sajian sarapan pagi itu.
"Iya kak, sebentar lagi aku lulus loh." Ghea tersenyum sambil memakan nasi gorengnya.
__ADS_1
"Woah...gak kerasa ya? Kamu udah ada rencana mau kuliah dimana?" tanya Bara.
"Hem...kalau kuliah keluar negri, boleh gak kak?" tanya Ghea pada kakaknya.
Disisi lain Maura sedang mengepel lantai di sekitar sana dan mendengar percakapan suami dan keluarga suaminya itu secara tak sengaja.
"Boleh, kamu boleh kuliah di tempat manapun yang kamu inginkan." Kata Bara sambil tersenyum dan menyanggupi permintaan adiknya.
Kuliah di luar negeri? Apa kamu akan memakai uang dari perusahaan yang kamu curi? Heh!. Maura membatin kesal, mendengar rencana Ghea untuk kuliah ke luar negeri.
"Benaran kak? Tuh kak Bu, kakak aja mengizinkan aku kuliah di luar negeri!" kata Ghea senang.
"Aduh Bara, kenapa kamu izinin sih? Ibu gak mau anak gadis ibu satu-satunya pergi ke luar negeri, masih banyak universitas bagus disini." ucap Alya tidak mengizinkan.
"Ya, ibu tolong...izinin aku dong. Kakak, bujuk ibu ya?" Ghea mengatupkan kedua tangannya seraya memohon pada ibu dan kakaknya untuk setuju dengannya.
"Ghea, itu-"
Suara bel rumah itu berbunyi.
"Maura, buka pintunya!" titah Alya pada Maura yang sedang menyimpan lap pelnya ke dalam baskom air kotor.
"Iya Bu." jawab Maura patuh.
Maura membuka pintunya, dia melihat seorang pria bertopi membawa satu buket besar bunga mawar putih ditangannya. "Maaf, bapak cari siapa ya?" tanya Maura pada kurir itu.
"Maaf Bu, saya mencari Bu Maura Syanita Agradana." jelas si kurir itu sambil tersenyum.
"Dengan saya sendiri, pak." jawab Maura.
"Oh mbak ya? Ini bunga untuk mbak."
__ADS_1
"Untuk saya?" Maura mengambil buket bunga mawar putih itu setelah dia menandatangani kertas penerimaan bunga.
Sang kurir pergi meninggalkan rumah itu setelah melaksanakan tugasnya. Maura terheran-heran melihat bunga mawar putih yang indah itu, kemudian dia membaca kertas kecil disana.
...Aku minta maaf Maura. Mari kita bertemu di hotel kemarin jam 8 malam, aku jemput kamu di rumah Hanna....
...Dari Mr. B...
"Mr. B? Apa jangan-jangan..."
Entah bagaimana ceritanya, Bara sudah berdiri dibelakang Maura lalu mengambil buket bunga mawar itu dan kertas kecilnya. "Apa yang kamu lakukan? Dasar tidak sopan!"
"Mr. B? Hah, aku tidak tahu ternyata kamu punya pacar dan janjian ketemuan." Bara mendesis sinis kemudian dia membuang bunga itu ke tempat sampah.
Jadi dia sudah punya pria lain, dia benar-benar selingkuh? Bahkan selingkuhannya tau rumah kontrakannya dan temannya?
Maura menatap tajam ke arah Bara, dia marah karena bunga untuknya dibuang.
🍁🍁🍁
Bryan sedang dalam perjalanan bersama Ferry menuju ke kantornya. Dia sedang melihat tab dengan memakai kacamata, pria tampan keturunan luar negeri itu terlihat maskulin layaknya aktor Hollywood.
"Ferry."
"Ya pak?" sahut Ferry yang sedang menyetir.
"Apa bunganya sudah sampai?"
"Seharusnya sudah pak." jawab Ferry sambil tersenyum.
"Aku harap dia yang menerimanya dan semoga dia suka, yang lebih penting lagi semoga dia memaafkanku." ucap Bryan berharap Maura akan memaafkannya.
__ADS_1
...*****...