Terjebak Dendam Suamiku

Terjebak Dendam Suamiku
Bab 90. Maura setuju


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Terlihat senyuman manis di bibir tipis Bryan, pria yang disebut setengah bule oleh Maura. Tatapannya begitu hangat dan lembut kepada kekasihnya.


Ngomong-ngomong soal lamaran, sepertinya kini jalan itu terbuka lebar untuk Bryan. Ucapan Maura menjadi kode keras untuk dirinya melangkah maju. "So, kamu-- mau dilamar sama aku?"


"Ehem! Siapa yang mau--"


Chu~


Satu kecupan manis mendarat dari bibir Bryan pada kening kekasihnya membuat Maura terdiam. "Ayolah jangan jaim-jaim gitu. Little girl, Kamu setuju kan kalau kita menikah dalam waktu yang dekat? Kamu sudah berubah pikiran?"


"Sebenarnya, aku juga ingin segera menikah sama kamu. Tapi..."


"Masalah ayah kamu dan Nathan, belum beres kan?" Tatap Bryan pada kekasihnya.


Maura mengangguk pelan.


"Kalau kamu kasih aku izin, aku mau bantu bereskan masalah ayah kamu sama Nathan."


"Gimana caranya? Pak Nathan, menginginkan harta warisan ayah juga perusahaan Agradana...tapi kan perusahaan itu peninggalan keluarga almarhumah ibuku." Maura mengungkapkan bahwa perusahaan Agradana adalah peninggalan keluarga almarhumah ibunya yang diserahkan kepada Samuel sebagai penanggung jawabnya. Maura tidak mau kalau perusahaan yang dibesarkan oleh keluarga almarhumah ibunya, sampai jatuh ke tangan Kakak tirinya yang bahkan tidak memiliki keterkaitan dengan perusahaan.


Bukannya Maura tidak ikhlas, tapi masalah pertanggungjawaban dan masalah perusahaan itu adalah dua hal yang sangat berbeda. Dan Nathan mengaitkan masalah ayahnya dengan perusahaan.


Tangan Bryan membelai rambut Maura dengan lembut, seraya berkata kepadanya. "Little girl, yang diinginkan olehnya adalah perusahaan kan?"


"Iya, dia mau perusahaan dan 90% saham juga!"


"Hem... little girl kalau kamu mengizinkan, aku akan membantu kamu. Izinkan aku ya, hem? Percaya sama aku, kalau aku bisa menyelesaikan masalah kamu." Ucap Bryan sambil tersenyum, ia sangat mengharapkan kepercayaan dari kekasihnya.


Ada batu yang menghalangi pernikahanku, sudah pasti aku harus menyingkirkannya


"Oke, aku percaya kok sama kamu. Tapi masalah pernikahan kita, Tante Clara gimana? Apa dia setuju sama hubungan kita?" Mendadak Maura menjadi insecure dengan statusnya yang janda sedangkan Brian seorang lajang yang super power.


Bryan meraih tubuh Maura lalu membuat gadis itu berada di dalam dekapannya. "Little girl, kamu jangan khawatir... asalkan aku bilang mau menikah, pasti mamaku akan setuju. Apalagi orangnya adalah kamu, mama sangat suka sama kamu."


"Walaupun aku janda?" Maura sedikit mendorong tubuh Bryan, lalu dia mendongak ke atas.


"Tuh kan, lagi-lagi kamu insecure kayak gini...udah ah, jangan insecure dong! Bagiku, mau kamu perawan, janda, wanita tua, aku gak peduli semua itu. Karena aku dan mama tau...kalau kamu yang aku sayang."


"Hem...ya sudah, kalau gitu. Kamu jangan menyesal ya sudah memilihku." Gadis itu mau wanti-wanti pada kekasihnya agar dia tidak menyesal telah memilihnya.


"Eh... itu harusnya perkataanku loh. Kamu yang jangan menyesal telah memilihku, karena aku tidak akan melepaskanmu setelah kita menikah. Aku akan memintamu diam di rumah dan mengikatmu disisiku selamanya."


"Kenapa aku harus berada di rumah? Aku kan harus pergi bekerja juga!"


"Setelah menikah, kamu masih mau bekerja?"


Maura menganggukan kepalanya. Ia memang masih ingin mau bekerja bahkan setelah menikah. "Kenapa? Aku punya banyak uang, aku bisa menafkahi kamu lebih dari cukup. Kamu mau sebulan 20 juta? 30? Bahkan 100 juta pun bisa aku berikan perbulannya untuk kamu,"


"Hahahaha...Bry, kamu itu selalu aja deh uang dan uang!"


"Terus, kenapa kamu mau kerja kalau bukan uang alasannya?"


"Ya...aku ingin mengandalkan diriku sendiri untuk mencari uang, aku tidak mau selalu mengandalkan kamu."


"Ets... kalau alasannya itu aku nggak setuju," Bryan menggerakkan jari telunjuknya, kesana-kemari. Kepalanya juga ikut menggeleng ke kanan dan ke kiri.


"Loh? Kenapa nggak setuju?"


"Untuk apa ada seorang suami, pemimpin keluarga... kalau kamu mengalahkan diri sendiri untuk mencari uang. Suamimu yang akan melakukan semua itu karena itu adalah tanggung jawabnya. Paham?"


"Kamu benar juga Bry,"


Bryan menyentuh hidung Maura dengan jarinya. "Kamu hanya perlu diam di rumah, melayaniku, menungguku pulang...menemani tidurku dan---"


Chu~


"Oke, stop! Aku paham kok, jangan ngomong lagi ya." Maura menutup mulut Bryan dengan sebuah kecupan. "Sekarang kita akhiri pembicara ini ya, ini udah malam dan kamu harus segera pulang. Besok kerja!"


"Ya udah, yang penting kamu udah setuju nikah sama aku." Ucap Bryan sambil mengecup punggung tangan kekasihnya.

__ADS_1


Maura tersenyum manis menerima sikap sweet dari Bryan. "Aku pulang dulu ya my little girl."


"Heem... oh ya, maaf untuk besok aku gak bisa makan siang bareng kamu dulu."


"Kenapa?" Bryan beranjak dari tempat duduknya.


"Aku mau makan siang bareng temen."


"Temen? Cewek apa cowok, temennya?" Tanya Bryan dengan tatapan curiga.


"Cewek, itu Hanna...temen baikku, aku mau makan siang bareng dia." Ungkap Maura sambil tersenyum.


"Yah, aku makan sendiri deh." Bryan menghela nafas panjang, ia tampak tak rela walau sebentar saja waktunya bersama Maura di rampas.


"Kamu bisa makan bareng pak Ferry, kan?" Saran Maura pada Bryan agar tidak kesepian. Dia bisa makan bersama dengan sekretarisnya itu.


"Dia kan cowok," bibir Bryan mencicit.


"Hah? Terus? Kamu mau ditemenin cewek, gitu?" Nada bicara Maura ketus, mengisyaratkan kecurigaan.


"Bukan gitu maksudku, sayang!" Kening Bryan berkerut dan wajahnya langsung panik. Ia takut Maura akan marah padanya.


"Hehe, aku bercanda...aku bercanda kok." Maura terkekeh kecil lalu memeluk Bryan. "Hati-hati di jalan ya."


"Oke, good night...jangan bobo diluar ya. Oh ya, coklatnya di makan."


"Iya makasih ya Bry,"


Maura mengantar Bryan sampai ke depan rumah, setelah Bryan pergi dari rumahnya. Maura menghela nafas dan terlihat berpikir keras. Dia sudah mengambil keputusan dalam hidupnya untuk menikah lagi dengan Bryan, lalu apakah keputusan ini benar? Apakah pernikahan keduanya akan berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan? Pikir Maura dalam hatinya.


Masalah, pastilah selalu ada dalam sebuah hubungan yang harmonis sekalipun. Maura berharap bahwa pernikahannya yang kedua ini akan berjalan lancar dan abadi sampai akhir hayat. "Aku harap keputusanku untuk menikah lagi denganmu adalah keputusan final, aku harap bisa menghabiskan seluruh sisa hidupku denganmu Bry."


*****


Malam itu, sepulang dari rumah Maura. Bryan pulang ke rumahnya dan tidak pergi ke apartemen miliknya. Dia tak sabar ingin memberitahukan mamanya kabar bahagia ini. Kabar, bahwa Maura setuju untuk menikahinya.


"Cinta...cinta...cinta..." Bryan bersenandung tidak jelas dan mengucapkan kata cinta, sambil memutar-mutar kunci mobil yang di bawahnya. Ia berjalan menaiki tangga. Sampai terdengar sebuah suara yang menghentikan langkahnya saat itu juga.


"Wah, anak mama kenapa nih? Nyanyi nyanyi gak jelas gitu?"


"Mama!"


"Aduh duh...ada apa sih Bryan-ku? Kayaknya kamu bahagia banget deh. Ada apa?" Clara memegang tangan kekar anaknya itu dan menatap Bryan dengan tatapan penuh pertanyaan. Suatu hal yang langka, sebab anaknya itu jarang sekali tersenyum, bahkan sampai bersenandung begini.


Bryan lepaskan pelukannya kemudian dia duduk di samping Clara. Senyuman itu mengembang di bibirnya dengan begitu ceria.


"Ma! Tanya aku dong, tanya aku kenapa?" Tanya Bryan semangat.


"Mama kan udah tanya kamu barusan!"


"Tanya lagi ma!" ujar Bryan banyak seperti anak kecil yang minta permen.


Clara tersenyum, lalu dia pertanyaannya dan bertanya apa yang membuat Bryan sampai seperti ini. "Oke, kamu kenapa? Apa yang membuat anak mama yang ganteng ini bahagia?"


Pasti habis ketemu Maura.


"Ma...Maura dia udah setuju menikah sama aku!" Kata Bryan yang tak terlepas dari senyuman dibibirnya.


Clara tercengang bahagia mendengar jawaban dari Bryan, yang mengatakan bahwa Maura setuju untuk menikah dengan anaknya. Clara juga ikut bahagia mendengar kabar bahagia ini, dia bukanlah seorang ibu yang akan menentang hubungan anaknya hanya karena status atau derajat seseorang. Dia tidak sekolot itu, dia tidak seperti ibu-ibu yang berada di sinetron atau di dalam drama-drama mertua kejam. Ia ingin menjadi ibu dan mertua yang baik untuk anak dan menantunya.


Baginya, kebahagiaan anaknya adalah yang terpenting dan dia tidak akan pernah menentang apa yang membuat anaknya bahagia. "Wah? Benarkah? Maura, sudah setuju menikah dengan kamu? Bagaimana kamu membujuknya? Apa jangan-jangan kalian sudah--" Clara menatap bibir Bryan yang bengkak dan ada sedikit lipstik disana dengan curiga.


"Sudah apa ma?"


"Itu dibibir kamu, ada bekas lipstik! Kamu sama Maura.. jangan-jangan udah--" Clara tidak melanjutkan ucapannya dan dia menepuk kedua tangannya.


Bryan paham apa yang diisyaratkan oleh Clara. "Nggak Ma! Cuma ciuman aja kok, gak sampe kesitu...aku gak mungkin melakukan suatu hal yang melampaui batas sebelum kami menikah."


Clara menghela nafasnya dengan lega. Walaupun ia dan anaknya lama tinggal di luar negeri, namun Clara selalu mengajarkan kepada Bryan untuk tidak melakukan hubungan sekss bebas seperti yang terjadi di luar negeri sana. "Huft.. syukurlah, Mama kira kamu sudah ngapa-ngapain sama Maura."


"Nggak lah ma!" Bryan menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Bagus sayang, kalau Maura sudah mau menerima pernikahan kalian...ya sudah, mama akan lamar Maura buat kamu."


"Iya ma, tapi aku punya rencana lamaran mah. Aku ingin mewujudkan lamaran yang indah untuk Maura!"


"Kamu ada rencana apa, Bryan?"


Bryan mendekati mamanya kemudian membisikkan sesuatu pada sang mama. Entah apa yang dibisikkan Bryan, Clara hanya mengangguk-angguk saja. "Oke Bryan, mama bantu siapkan ya. Jadi besok malam kamu akan melamarnya?"


"Iya ma. Tapi ma... apa Mama setuju aku menikah dengan Maura?"


Clara mengerutkan keningnya dengan heran. "Hah? Kok kamu nanyanya kayak gini sih? Udah jelas Mama setuju sama semua pilihan kamu, asalkan kamu bahagia dan kalian saling mencintai itu udah cukup untuk mama,"


"Aku sudah tahu kalau mama akan menjawab begini." Bryan tersenyum.


"Lah? Terus kenapa kamu nanya lagi kalau udah tahu jawabannya?"


"Maura yang suruh aku tanya ke Mama, katanya dia insecure... takutnya mama gak setuju kalau aku dan dia menikah."


"Ya ampun, kenapa pakai insecure segala? Dia itu hebat loh, sudah bisa menaklukkan hati anak mama yang keras ini... udah lebih dari nilai plus buat dia." Clara membangga-banggakan calon menantunya yang sudah mengambil hati Bryan.


Bryan memeluk mamanya dengan penuh kasih sayang. Dan mencium pipi mamanya berulang kali." Unchh...mama makasih ya, mama udah jadi mama yang baik banget buat aku!"


"Iya sayang, makasih juga udah jadi anak mama yang baik."


Mendengar nada suara ibunya yang tiba-tiba menjadi sedih, membuat Bryan melepaskan pelukannya lalu menatap sang mama dengan cemas. "Ma, kenapa? Kok suaranya sedih gitu?"


Tiba-tiba Clara menangis, "Mama...mama gak apa-apa kok."


"Ma?" Tak tega Bryan melihat mamanya menangis, dengan lembut ia menyeka air mata Clara. "Ada apa ma?"


"Mama teringat adik kamu, kamu udah mau nikah... tapi dia masih belum ditemukan juga. Bryan, Kenzo adik kamu--dia masih hidup kan? Dia pasti baik-baik saja kan?"


Ya Allah, ternyata di dalam hati mama masih menyimpan rasa sedih karena Kenzo.


Bryan memegang tangan mamanya, "Mama, orang-orang kita sampai sekarang masih mencoba untuk mencari Kenzo. Kenzo pasti masih hidup, suatu hari nanti Kenzo akan datang sama kita, Ma."


"Iya Bryan, mama berharap begitu. Mama mau Kenzo, anak mama." Clara menyandarkan kepalanya di dalam dekapan Bryan. Pria itu mengelus kepala Clara dengan lembut.


"Semoga sebelum pernikahan aku dan Maura, Kenzo bisa ditemukan!" Doa Bryan tulus untuk adiknya yang telah hilang 25 tahun silam.


****


Keesokan harinya, seperti biasanya pada setiap pagi Maura dan Evan selalu mengecek kondisi semula sebelum mereka berangkat bekerja. Kini Samuel semakin kesulitan untuk berbicara, tangan dan kakinya juga masih kaku belum bisa kemana-mana dan hanya bisa berada di tempat tidur saja.


"Ayah, Maura sama kak Evan berangkat dulu ya. Papa baik-baik sama pak Arya." Maura mengambil tangan ayahnya dan mencium tangannya. "Assalamualaikum ayah."


Samuel menatap Maura sambil menangis, ia memegang erat tangan Maura dengan tenaga yang dia miliki dan sebisanya. "Ja..ngwann.."


Jangan pergi Maura, jangan pergi! Jangan tinggalkan ayah di sini bersama si gila ini!


"Ayah...Maura harus pergi kerja. Ayah sama pak Arya ya."


"Om, udahlah! Jangan manja, Maura bantu aku di perusahaan..." ucap Evan ketus pada omnya.


Maura melirik ke arah kakaknya. "Kakak, kok ngomongnya gitu sih?"


"Pak, Bapak tenang saja saya akan merawat Bapak dengan baik di sini..." Arya tersenyum lembut dan hangat seperti biasanya. Arya melepaskan tangan Samuel dari Maura.


"Pak Arya, saya titip ayah saya ya. Seperti biasa, kalau ada apa-apa pak Arya hubungi saya saja atau Kak Evan juga boleh." Mendadak Maura menjadi cemas ketika melihat wajah ayahnya yang kurang baik itu.


"Hmmp...hmphh..." Samuel mengerang, menatap Maura. Seperti tidak rela kalau Maura pergi.


"Ayah...Maura bakal pulang lebih awal, Maura janji." Maura tersenyum seraya berjanji pada ayahnya untuk pulang lebih awal.


"Maura, ayo! Kita udah telat nih!" Evan menyuruh Maura untuk buru-buru.


Maura dan Evan pun pergi meninggalkan rumah itu. Samuel menahan tangis, ketika dia berada berdua bersama Arya disana. "Sekarang kita main ke taman yuk, pak Samuel? Saya gak bisa biarkan bapak mati dengan mudah pak, bapak harus menikmati hidup dengan indah... seperti bapak menikmati para wanita itu yang menjadi korban kejahatan bapak!" Ucap Arya pada Samuel.


Apa lagi yang mau dilakukan si gila ini?. Samuel hanya bisa membatin.


Arya pun menggendong Samuel dengan susah payah dan memindahkannya ke kursi roda. "Ayo pak, kita jalan-jalan keluar ya! bapak pasti sangat bosan terus berada di kamar kan?" Terlihat seringai di senyuman Arya.

__ADS_1


Samuel bergidik ketakutan melihat senyuman Arya, senyuman yang menandakan bahwa dia akan berbuat jahat lagi kepadanya.


...*****...


__ADS_2