Terjebak Dendam Suamiku

Terjebak Dendam Suamiku
Bab 76. Kalian semua sama saja


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Entah bahagia atau sedih, Bryan bingung harus bagaimana. Di satu sisi dia lega karena Bara tidak akan punya kesempatan untuk kembali bersama Maura. Disisi lain dia sedih karena Maura baru saja kehilangan bayinya.


Namun siapakah disini yang paling sedih? Pastilah Bara adalah orangnya. Semua harapan Bara kembali bersama mantan istrinya adalah bayi yang ada di dalam kandungan Maura. "Vera...bayiku...bagiku tiada? Aku harus bagaimana? Kesempatanku untuk kembali bersama Maura sudah tidak ada lagi!" Bara menumpahkan kesedihannya pada Vera.


Bryan mengarahkan bogem mentah kepada wajah Bara, hingga tubuh pria itu akan oleng ke belakang. "Apa-apaan kamu?" Sontak mantan suami Maura itu menatap Bryan dengan marah.


"Anakmu baru saja tiada dan itu karenamu, bukan dia yang kamu cemaskan tapi kesempatan untuk kamu bisa bersama Maura lagi? Sungguh kamu benar-benar pria yang tidak tahu malu!" Kata Bryan sarkas.


"Tahu apa kamu tentang diriku? Aku cemas pada Maura dan pada anakku yang ada didalam kandungannya, tapi sebenarnya bukan aku yang membuat dia keguguran!" Bara menyangkal bahwa bukan dia yang membuat Maura keguguran.


"Apa?! Apa maksud kamu? Jangan lempar batu sembunyi ditangan ya?Jelas-jelas kamu yang--"


Seseorang datang kesana dan menghentikan ucapan Bryan yang belum usai. "Nah, orang ini...dialah penyebabnya!" Tunjuk Bara pada Evan.


"Ada apa ini?" Evan yang baru saja datang tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh Bara padanya.


"Maura keguguran, puas kamu Evan?" Bentak Bara menyalahkan Evan.


"Kenapa ini jadi salahku? Jangan sembarangan bicara, kamu ya!" Evan tidak mau disalahkan juga.


"Kamu membuat Maura memakan makanan yang bisa membuatnya keguguran!"


"Maura keguguran karena kamu mendorong dia, kenapa jadi menyalahkan aku?" Terus saja Evan menyangkal keterlibatannya dalam insiden Maura yang keguguran.


Kedua pria itu malah berdebat tentang siapa yang salah. Bryan hanya mendesah kesal, dia tidak melerai dan memilih masuk ke dalam ruang rawat Maura. Vera lah yang melerai Evan dan Bara, namun kedua pria itu seperti anak kecil masih berdebat tak mau kalah.


Bryan masuk ke dalam ruangan, dia melihat Maura baru saja siuman. Wajahnya pucat, dia menundukkan kepalanya. "Maura..."


"Bry, kata dokter dan suster...aku punya hamil. Tapi, bayiku meninggal. Padahal aku baru tau kalau aku hamil." Maura memegang perutnya, sekuat mungkin menahan tangisnya untuk pecah.


Tangan Bryan meraih tubuh Maura, dia memeluk wanita itu. "Aku tidak tahu bagaimana caranya menghiburmu, tapi...aku turut berduka."


"Hiks..hiks..."


"Tak apa, menangis saja."


Wanita itu membalas pelukan Bryan, dia menangis didalam dekapannya. "Kata dokter...jatuh dari tangga bukan salah satu penyebab utama aku kehilangan bayiku, katanya aku banyak makan makanan dan minuman yang bisa membuat keguguran. Makanya kandunganku yang tadinya kuat jadi lemah. Aku gak tau kalau aku hamil, jadi aku selalu makan makanan yang dilarang ibu hamil. Aku menyesal Bry, hiks...tanpa sadar akulah yang membunuh bayiku sendiri."

__ADS_1


Walau Maura membenci ayah bayinya, tapi jika bayinya masih hidup. Dia pasti akan menyayangi bayi itu sepenuh hatinya. "Tidak, kamu tidak membunuh bayimu. Kamu tidak salah, kamu gak sengaja...kamu juga gak tau kan kalau kamu sedang hamil? Udah...gak apa-apa, tenang ya." Bryan menghibur Maura yang masih menangis berduka karena kehilangan bayinya.


Jadi ini benar-benar ada sangkut pautnya dengan Evan. Dia tau Maura hamil dan dia mencoba menggugurkan bayinya?. Bryan mengusap-usap lembut rambut Maura.


Setelah Maura tidur lelap karena pengaruh obat, Bryan hendak keluar dari ruangan itu. Akan tetapi didepan pintu sudah ada Bara dan Evan yang akan melihat keadaan Maura.


"Pak Bryan, bagaimana keadaan adik saya?"


Bryan menatap Evan dan Bara dengan tajam. "Kalian! Kita bicara di luar!" Katanya tegas.


"Aku ingin melihat Maura!" Seru Bara.


"Maura baru saja tidur. Ada yang ingin aku bicarakan pada kalian, ayo keluar!" Bryan menarik kedua pria itu untuk keluar dari ruang rawat Maura.


****


"Kamu apa-apaan sih?" Protes Bara pada Bryan.


"Kalian ini laki-laki macam apa? Apa kalian sudah puas melihat Maura menderita?" Pria itu marah kepada Bara dan Evan tanpa terkecuali.


"Pak Bryan kenapa anda marah juga pada saya? Apa salah saya?" Tanya Evan tak paham.


Evan dan Bara menatap Bryan dengan kening berkerut. "Memangnya apa yang saya lakukan?"


"Sejak awal, kamu tau Maura sedang hamil. Waktu Maura pingsan di depan rumah sakit jiwa dan aku membawanya ke rumah sakit, kata dokter ada yang ingin dibicarakan dengan anggota keluarga. Kalau aku tidak salah, saat itu kamu tau kan Maura sedang hamil dan kamu bilang bahwa Maura sakit maag? Lalu--"


"Aku tau selanjutnya, setelah itu kamu merahasiakan kehamilan Maura dan mencari cara untuk mengugurkan anak itu!" Bara turut menghakimi Evan yang merencanakan membunuh bayi didalam kandungan Maura.


Evan menundukkan kepalanya. Ya, secara tidka langsung dia mengakui bahwa dia memang melakukannya. "Kalian berdua... benar-benar..."


Aku tak menyangka bahwa Maura hidup bersama pria-pria yang memiliki akal pendek.


"Pak Bryan, saya memang melakukannya. Tapi saya punya alasan karena saya sayang sama Maura, saya ingin dia bahagia...intinya saya gak mau Maura jatuh ke lubang yang sama." Kata Evan dengan lirikan tajam pada Bara.


"Tapi tidak harus membunuh bayi yang tidak berdosa juga, kan? Tega ya kamu Evan!"


"Apa salahnya? Lagipula anak itu tidak akan bahagia punya bapak seperti kamu."


"Sudah CUKUP! Kalian berdua salah dan kesalahan kalian akan sulit di maafkan oleh Maura. Kalian akan tau betapa marah dan kecewanya Maura saat dia tau kalau kakak sepupunya, dia adalah dalang dibalik kematian bayinya! Aku akan rahasiakan ini dari Maura, hanya karena aku tidak mau Maura terluka. Jadi kumohon, jangan bahas masalah ini lagi didepannya. Bara, kamu juga rahasiakan ini! Sudah cukup kamu membuatnya terluka!" Bryan menunjukkan jarinya pada Bara lalu pada Evan dengan marah.

__ADS_1


Membuat kedua pria itu terdiam dalam diam dan rasa bersalah. Evan, Bara dan Bryan sepakat untuk merahasiakan ini dari Maura. Bara yang tadinya akan menjenguk Maura, memilih untuk pergi dari sana setelah keadaan tenang. Dia berjalan dengan lesu.


"Bara, kamu udah ketemu Maura?" Tanya Vera yang sedari tadi duduk di ruang tunggu.


"Tidak, aku tidak bisa bertemu dengannya sekarang. Aku tidak punya muka!" Bara berlalu pergi setelah mengatakannya.


Vera mengikuti pria itu dari belakang, dia terlihat cemas pada Bara.


****


Setelah keadaan Maura lebih baik, esok harinya dia sudah bisa pulang dan beristirahat di rumah. Sebagai kekasih yang setia, Bryan tentulah menjadi nomor satu untuk Maura. Dia berada di barisan pertama ketika Maura akan keluar dari rumah sakit.


"Kamu kan sibuk, Bry. Seharusnya kamu jangan datang kemari."


"Maura, apa kamu lupa? Kita sudah jadi pasangan kekasih. Jadi wajar kan kalau aku jemput kamu? Semalam kamu udah setuju juga untuk menerimaku." Bryan memegang tangan Maura dengan hati-hati.


"Bry, kamu baik banget sih..."


"Gak akan ada cowok sebaik aku di dunia ini, makanya kamu harus cepat halalin aku." Goda Bryan pada Maura, hingga wanita itu tersenyum.


"Bukannya kebalik? Cewek yang harusnya bilang gitu, dong!"


"Hehe, gak apa-apa dong." Bryan tersenyum lebar.


Saat sampai didepan rumah sakit, Maura baru teringat soal kakaknya dan soal kenapa Bara bisa tau dia hamil? Bahkan dia sendiri tidak tahu.


...*****...


Hai Readers, sambil menunggu up novelku.. mampir kesini ya 😘😘


Cerita ini lanjutan dari Cerpen "Aku Hamil Anak Mantan Pacarku."


Dina Aurelia, seorang wanita berusia 24 tahun yang harus menerima sebuah kenyataan pahit, mengetahui kalau dirinya hamil anak mantan pacarnya. Lebih menyakitkan lagi, Dina mengetahui kehamilannya, disaat Nando telah resmi menikahi wanita lain. Hal itu terjadi disaat malam pengantin Nando dan Mira.


Dina mencoba untuk meminta pertanggung jawaban kepada Ernando Ari, mantan kekasihnya. Namun, sebuah tamparan penolakan Dina dapatkan dari Nando. Nando tak mengakui kalau anak itu anaknya dan menuduh Dina bermain dengan pria lain.


Bagaimana nasib Dina? Jalan apa yang akan Dina pilih? Iklhas atau berjuang mendapatkan ayah dari anaknya?


__ADS_1


__ADS_2