Terjebak Dendam Suamiku

Terjebak Dendam Suamiku
Bab 37. Maafkan aku


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Bara panik, buliran air mata jatuh membasahi pipinya ketika dia melihat Maura tidak sadarkan diri setelah disiksanya berulang kali setengah malam itu.


"Maaf...Maura maaf..." Bara membelai pipi Maura dengan lembut. Ada penyesalan didalam dirinya setelah mengetahui bahwa Maura masih perawan saat dia melakukan hal bejat itu.


Apa yang harus aku lakukan? Aku harus menelpon Nathan untuk membawa dokter kemari!.


Bara hendak mengambil ponselnya yang ada diatas meja.


Tok,tok,tok


Bara menoleh ke arah pintu, saat dia mendengar ada suara seseorang mengetuk pintu dengan keras. "Pak, tolong buka pintunya! Atau saya terpaksa harus mendobraknya," ancam seorang pria yang berada di luar ruangan itu.


"Heh! Siapa kamu berani mengancam saya?!" Bara tidak takut dengan ancaman itu, dia masih tidak mau membuka pintunya.


Didepan pintu kamar hotel itu, Bryan dan beberapa polisi sudah berdiri disana. Tanpa banyak bicara, Bryan mendobrak pintu hotel itu hingga gagang pintunya rusak.


BRAK!


Bara melotot ke arah Bryan yang kini berada didepannya, bersama polisi disana. "Beraninya kalian masuk ke dalam-"


Sebelum Bara melanjutkan ucapannya, bogem mentah sudah lebih dulu menyerang Bara dari tangan Bryan. Bara terjengkang, dia masih bertelanjang dada dan belum sempat mengenakan pakaiannya.


"Brengsek! Aku akan membunuhmu!" Bryan menghajar Bara habis-habisan. Bara juga tidak diam saja, dia membalas pukulan Bryan berkali-kali lipat.


Terjadilah adu tinju disana, yang akhirnya berhasil dilerai oleh polisi. "Aku akan membunuhmu Bara Rahadian!" Seru Bryan yang sedang ditenangkan oleh Ferry sekretarisnya.


"Pak, saya mohon tenanglah..." ucap Ferry sambil menahan tangan Bryan yang gatal ingin memukuli Bara.


"Lepaskan aku Ferry! Akan kuhajar dia sampai mati, beraninya dia berbuat bejat pada Maura!"


"Heh! Siapa kamu mau menghajar ku sampai mati? Mau aku melakukan apapun pada istriku, itu hakku dong! Kamu siapa?" Bara terus bicara, tidak mau kalah dari Bryan.


"Pak, kita harus tolong Bu Maura dulu..." bisik Ferry pada Bryan.

__ADS_1


Oh ya, Maura.


Bryan tersadar, dia hampir lupa dengan Maura yang masih berada diatas ranjang dalam keadaan tidak sadarkan diri. Bryan melihat ada beberapa luka ditubuh cantiknya itu, kulit putihnya juga berdarah-darah masih basah.


"Lepaskan tanganmu dari istriku!" Teriak Bara marah, melihat Bryan memegang tangan Maura.


"Pak, tangkap dia! Dia sudah menganiaya istrinya!" Titah Bryan pada polisi yang ada disana.


Setelah melihat bukti yang ada, polisi pun menangkap Bara dan memborgol tangannya. "Lepaskan saya pak! Saya harus membawa istri saya ke rumah sakit!"


"Maaf pak Bara, anda harus ikut kami ke kantor polisi!" ujar seorang petugas kepolisian tegas.


Bryan menertawakan Bara, dia tidak menyangka bahwa Bara masih ada pikiran untuk membawa Maura ke rumah sakit. Bryan menutupi tubuh Maura dengan selimut, dia menggendong wanita itu dengan hati-hati.


"Aku ingin sekali membunuhmu saat ini juga, tapi keselamatannya lebih penting daripada berurusan dengan binatang sepertimu!" Bryan menatap Bara dengan emosi.


"A-aku..." Bara berkaca-kaca, melihat istrinya dibawa pergi oleh pria lain dan bukan ditolong olehnya. Disisi lain dia mencemaskan keadaan Maura.


"Kau benar-benar sampah! Aku tau bahwa kekasihmu dulu pernah di perkosa, tapi dia mati karena pilihannya sendiri kan? Bukan pak Samuel yang membunuhnya...walaupun dia salah dan dia sampah! Apa kamu tidak sadar, bahwa kamu lebih sampah darinya? Apa bedanya kamu dengannya?!" Bryan murka, dia menyerang batin Bara. Menunjukkan bahwa pria itu sama saja, bahkan lebih buruk dari Samuel.


Bryan membawa Maura yang tidak sadarkan diri keluar dari hotel dan berniat membawanya ke rumah sakit. Ferry yang menyetir mobilnya. "Ferry kumohon lebih cepat!!" Teriak Bryan pada Ferry.


"Baik pak, ini saya sudah ngebut." Ferry menancap gas lebih keras lagi.


Presdir Xander grup itu memeluk Maura dengan erat, dia merasakan darah mengalir deras dari tubuh Maura dan dia tidak tahu kenapa darah itu terus keluar dan darimana darahnya berasal. "Kumohon...little girl, bangunlah? Bangunlah! Aku minta maaf, aku minta maaf karena aku terlambat, maaf!"


Jika saja aku tidak percaya perkataan wanita itu, aku pasti sudah menemukanmu dari tadi dan menolongmu tepat waktu.


#Flashback


Beberapa jam yang lalu, Bryan baru saja selesai mengobrol dengan rekan bisnisnya. Dia mencari-cari Maura ditengah pesta ulang tahun perusahaannya.


"Dimana dia? Katanya dia pergi ke toilet, tapi kenapa lama sekali? Apa dia baik-baik saja?" gumam Bryan cemas.


Ferry menghampirinya dan memberitahu bahwa Maura tidak ada di sekitar taman hotel atau berada di pesta itu. "Pak, Bu Maura tidak ada di sekitar aula atau taman belakang," Ferry melapor pada Bryan.

__ADS_1


"Hem...kalau toilet wanita? Apa sudah diperiksa?" Tanya Bryan dengan wajah polosnya.


"Pak, apa saya harus masuk ke toilet wanita?" Ferry malah bertanya balik.


"Heh! Kenapa kamu harus pergi ke toilet wanita? Aku sendiri akan mencarinya kesana!" Bryan mengerucut. Dia melangkah pergi ke arah toilet wanita.


Bukan Maura yang dilihatnya, tapi Lisa yang baru saja keluar dari kamar mandi. Bryan cuek saja melewati Lisa, sampai saat Lisa bicara padanya. "Bapak mencari Maura ya?"


Bryan mengabaikan Lisa, lalu Lisa memegang tangannya. "Apa-apaan sih kamu?" risih, Bryan menepis tangan wanita itu.


"Gak ada siapa-siapa didalam, Maura sudah pergi."


"Apa?" Bryan langsung tertarik mendengar Lisa mengatakan tentang Maura.


"Ya, dia pergi buru-buru setelah menerima telpon dari kakaknya," tutur Lisa menjelaskan.


Bodohnya Bryan percaya dengan semua itu dan dia berpikir bahwa Maura benar-benar pergi dengan Evan. Namun sebuah telpon masuk ke ponsel Bryan saat dia sedang berada di rumahnya, Evan menanyakan Maura pada Bryan karena adiknya belum pulang.


Saat itulah Bryan langsung pergi dari rumahnya dan mencari Maura.


#EndFlashback


Sesampainya di rumah sakit, Bryan langsung membaringkan tubuh Maura di atas ranjang beroda untuk segera dibawa ke ruang IGD. "Harus dokter wanita yang memeriksanya!" Ujar Bryan pada salah satu suster yang mendorong ranjang Maura.


"Baik pak," jawab suster itu sambil menganggukkan kepalanya.


Maura dilarikan ke ruang IGD untuk segera tempatkan perawatan. Bryan dan Ferry berdiri didepan ruangan itu, tiba-tiba saja Bryan jatuh terduduk di kursi sambil memegang kepalanya. "Maaf...maafkan aku...maaf Maura, aku tidak bisa menjagamu, seharusnya aku tidak terlambat!"


"Pak...ini ada telpon untuk bapak," ucap Ferry sambil menyerahkan ponsel Bryan yang ada padanya.


"Siapa?" Bryan terlihat cemas.


"Pak Evan, pak." jawab Ferry singkat.


Aku harus mengatakan apa pada kakakmu? Ya Tuhan..

__ADS_1


...*****...


__ADS_2