
...🍁🍁🍁...
Malam itu saat jam makan malam, Gilbert datangi rumah keluarga Xander. Maksudnya sudah jelas, dia ingin meminta kepada Bryan dan ibunya untuk membebaskan Stella dari rumah sakit jiwa.
Lain halnya dengan Bryan, Clara dan Maura menyambut pria paruh baya itu dengan ramah. Berbeda dengan tadi pagi, Gilbert terlihat lebih tenang dan tidak emosi seperti sebelumnya.
"Tolonglah Bu, tolonglah Bryan... masa depan anak saya masih panjang, tolong bebaskan anak saya dari rumah sakit jiwa. Dia tidak gila, dia hanya khilaf..."
Bryan langsung menaikkan kedua alisnya ke atas. Ia tak senang dengan ucapan Gilbert yang dirasa meremehkan keselamatan istrinya. "Apa bapak bilang? Dia khilaf? Khilaf macam apa, yang hampir membuat nyawa istri saya melayang!"
"Bryan kamu tenang dulu nak, jangan dahulukan emosimu! Ingat, di depanmu ini adalah orang tua. Hormatilah orang tua!" tegur Clara kepada anaknya yang emosional itu.
Maura juga sama, dia melirik ke arah suaminya dan mengedipkan mata. Seraya memberi isyarat pada suaminya untuk lebih tenang dan tidak memakai emosi. Bryan menghela nafas berat, kenapa setiap dia berbicara dengan pria paruh baya itu selalu saja dia marah. Bayangan akan kejadian Maura yang hampir tiada karena putrinya, Masih terngiang-ngiang jelas di dalam ingatannya. Seperti kaset yang diputar berulang-ulang.
"Pak, mohon maaf atas ketidaksopanan anak saya. Dia seperti ini karena dia merasa sangat mengkhawatirkan istrinya. Dan menurut saya juga, putri bapak memang sudah seharusnya mendapatkan perawatan. Bukankah Sudah beberapa kali dia hampir mencelakai orang lain?" Clara berusaha bicara dengan pria paruh baya itu dengan suara yang rendah, menahan emosi.
Namun Gilbert malah emosi mendapat ucapan seperti itu dari Clara. "Apa maksudnya dengan perawatan? Apa ibu juga berpikir bahwa anak saya sudah gila?!" bentaknya pada Clara.
"Tuh kan, dia emosi lagi." Bisik Bryan pada istrinya.
"Ssstt...By, udahlah kamu jangan marah-marah. Biarkan mama yang bicara, kamu sama pak Gilbert itu seperti air dan api." bisik Maura pada suaminya, meminta dia untuk diam saja dan tidak ikut bicara.
"Sayang, kamu memang paling mengerti deh sifat suamimu ini." Bryan masih sempat-sempatnya menggoda Maura.
"Ish...kamu ini,"
Kembali lagi pada pembicaraan antara Clara dan Gilbert. Gilbert tidak terima anaknya dikatain sebagai pasien rumah sakit jiwa. Pria itu malah balik marah kepada Clara. "Maaf pak, bukan maksud saya menyinggung perasaan bapak.... tapi yang saya katakan ini adalah fakta. Saya juga sama seperti Bryan, saya tidak mau menantu kesayangan saya terluka. Dan seandainya saat itu terjadi sesuatu kepada menantu saya, saya juga tidak akan tinggal diam." Clara tegas.
Maura terperangah mendengar ketegasan Ibu mertuanya, dia tidak menyangka bahwa Clara yang terlihat lembut ternyata bisa tegas juga. Dia merasa di sayang oleh Clara, Karena dia sudah ditinggalkan ibunya sejak masih kecil.
Matanya mulai berembun, teringat sosok ibunya yang terlihat sama-sama dalam ingatannya. Dia melihat sosok ibu itu di dalam diri Clara.
"Ibu! Kenapa ibu berlebihan sekali? Menantu ibu juga tidak apa-apa kan? Kenapa ibu ribet seperti ini?!" Gilbert naik pitam.
Atensi semua keluarga itu, tertuju kepada Gilbert. Lagi-lagi itu tidak berakhir dengan lancar. Gilbert, menahan kecewa dan marahnya. Rasanya percuma dia datang ke rumah itu untuk memohon, jawabannya masih sama saja.
"Ya Tuhan! Pria itu... Mama benar-benar enggak menyangka bahwa dia kan sangat ngeyel!" Keluh Clara kesal.
"Iya kan Ma? Makanya Bryan kesel juga, dia memang ngeyel ma!" Bryan ngangguk-ngangguk seraya membenarkan ucapan ibunya.
"Sikap kamu sudah benar Bryan, cowok kayak gitu emang harus dikerasin. Kalau gak di kerasin, ya makin ngelunjak lah!"
"Ma, By, memang benar ya kalau Stella itu mengalami gangguan jiwa?"
__ADS_1
Clara langsung berubah 180 derajat, manakala dia mendengar suara menantunya yang mengalun indah. "Iya sayang, dari kecil Mama sudah melihat bahwa Stella memiliki kelainan. Dia selalu terobsesi kepada Bryan, dan apa kamu tahu? Pernah ada seorang wanita yang menyatakan cintanya kepada Bryan dan wanita itu berakhir dengan dipermalukan oleh Stella. Ah dan banyak lagi wanita yang di perlakukan buruk oleh Stella."
"Benarkah itu Ma? Apakah semua wanita itu adalah wanita yang menyukai Bryan?" Tanyanya seraya melirik ke arah Bryan.
"Iya sayang, dulu Bryan tuh banyak banget yang suka. Tapi dia menolak semua wanita itu, tau gak? Dulu Mama sempat mengira bahwa anak mama itu tidak suka wanita." Cerita Clara pada menantunya.
Hem...wajar sih kalau Bryan banyak yang suka. Dia kan ganteng dan sempurna. Tapi kenapa aku kesel ya?
"Ma!" Bryan menepuk tangan mamanya, meminta sang mama untuk diam.
"Iya deh iya, ya udah mama pergi ke kamar dulu ya." Pamit Clara yang sudah mengantuk.
"Maaf ma, tunggu sebentar!" Seru Maura pada mama mertuanya.
"Ya sayang?" sahut Clara.
"Ma, apakah sebaiknya kita membebaskan dari rumah sakit jiwa?" Tanya Maura pada mamanya, dia merasa kasihan pada Gilbert.
"Aduh sayangku, kamu terlalu lembut...bener kata Bryan. Sayang, kamu gak tau Stella orangnya kayak gimana. Dia orang yang terobsesi pada pasangan Bryan, jadi mama takut kalau dia dikeluarkan dari rumah sakit jiwa...dia akan membahayakan nyawa kamu. Jadi biarlah dia mendekam di penjara dan mendapatkan perawatan di rumah sakit jiwa itu," jelas Clara pada Maura.
"Iya sayang, udahlah jangan membahas itu lagi. Kita bobo yuk, udah malam." ajak Bryan pada istrinya.
"Iya kalian tidur aja, besok kan Bryan sudah mulai kerja lagi." Clara menepuk bahu Maura. Lalu dia beralih pada Bryan dan bisik kepada putranya. "Bryan, mama udah gak sabar pengen momong cucu."
Pasangan suami istri itu tiba di kamar mereka, Maura mengganti pakaiannya dengan piyama tidur. Dia tidak seperti wanita lainnya yang memakai lingerie. Padahal Bryan ingin sekali melihat istrinya berpakaian seperti itu untuk menggodanya. Ah...tapi Maura adalah wanita yang polos. Itulah daya tarik Maura, yang membuat Bryan menggila karenanya.
"Little girl..." lirih Bryan seraya memanggil istrinya untuk segera naik ke tempat tidur.
"Ya, By? Apa kamu mau kopi atau--"
"Gak, aku nggak mau apa-apa. Aku mau Kamu tidur di samping aku." Bryan menepuk-nepuk ranjang di sebelahnya yang masih kosong, di tatapnya wanita itu dengan penuh kasih sayang seperti biasanya.
Wanita itu menurut, dia naik ke atas ranjang dan berbaring tepat di samping suaminya. "Iya By, ya udah kita bobo yuk..." Maura menyelimuti tubuh suaminya dengan selimut hangat.
"Bentar sayang," Bryan memegang tangan Maura.
"Hem?"
"Sayang, kamu mau punya anak berapa?" Tiba-tiba Bryan bertanya soal anak.
"Eungh....itu," Maura menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.
"Sayang, dijawab dong? Aku kan lagi nanya kamu!" Seru Bryan yang tak sabar dengan jawaban istrinya.
__ADS_1
"Ya kalau inginku, 3 anak saja. Itu pun jika Allah mengabulkan doaku."
"3? Kenapa?"
"Aku kan anak tunggal, dari kecil... aku selalu terbiasa sendiri. Aku nggak punya saudara laki-laki lain selain Kak Evan dan aku mau nanti anak kita memiliki saudara. Ya, supaya ada teman bermain juga."
Bryan mendengarkan dengan seksama penjelasan istrinya. "Terus kamu mau anak berapa?" Maura bertanya balik kepada suaminya.
"Aku mau empat...hehe.." Bryan terkekeh lalu memeluk istrinya.
"4?"
"Ya, kalau bisa dua laki-laki dan dua perempuan. Tapi seperti apa kata kamu, semuanya tergantung Allah memberikan kita." Mau berapapun anak kita nanti, mau perempuan atau laki-laki, aku akan menyayangi mereka. Tentu saja , karena mereka adalah anak kita."
"Kamu benar. Aku senang mendengar pemikiranmu ini sayang,"
"Okeh, ayo kita tidur. Sudah malam nih."
"Iya By."
Maura yang biasanya tidur dengan mematikan lampu, kini dia harus menyalakan lampu karena Bryan masih takut dengan kegelapan. "Sayang, matiin aja lampunya...gak apa-apa."
"Eum...gak ah,"
"Asalkan di peluk kamu, aku gak akan kenapa-napa kok."
"By..." Maura khawatir dengan kambuhnya Bryan ketika dia takut.
Ctak!
Bryan mematikan lampu tidur itu, dia memeluk Maura dengan erat. Rasanya hangat dan dia tidak merasa sesak seperti sebelumnya. "Kamu gak apa-apa By?" tanya wanita itu cemas.
"Aku gak apa-apa, ada kamu disini. Tapi kita tidur sambil pelukan, nggak apa-apa kan?"
Maura membalas Bryan dengan pelukan balik yang lebih erat dari sebelumnya. Mereka tidur sambil berpelukan dengan mesra dalam kegelapan.
*****
Sementara itu Samuel terlihat menderita karena sekarang Arya sering menginap di rumah itu untuk menjaganya. Arya sendiri, sudah dipercaya oleh Evan untuk menjaga Samuel.
Samuel mengatakan kepada Arya, bahwa dia ingin bertobat. Ia akan melakukan apapun agar Arya memaafkannya, namun Arya tak peduli. Dia ingin menyiksa Samuel sampai mati.
Ya Allah, aku mohon... bebaskan aku dari penderitaan ini. Aku ingin bertaubat sebelum aku menghembuskan nafas terakhir.
__ADS_1
...****...