
...🍁🍁🍁...
Bara menolak untuk menceraikan Maura, dia bisa memberikan segalanya untuk wanita itu tapi tidak untuk perceraian. Alya tercengang, mengapa Bara menolak bercerai dengan istrinya. Padahal sebelumnya Bara sudah memiliki rencana untuk menceraikan Maura setelah semua hartanya di rebut dan setelah Bara puas menyiksa Maura.
Lalu kenapa sekarang keputusannya berubah drastis?
"Bara, mengapa kamu menolak bercerai darinya? Bukankah sejak awal rencanamu menang ingin menceraikannya, kan?"
"IBU! Aku mohon jangan bahas lagi perceraian, aku tidak mau ibu membahasnya lagi. Aku dan Maura tidak akan bercerai Bu, aku menolak!" Seru Bara menolak perceraian itu dengan tegas.
Jika aku bercerai dari Maura, maka tidak akan ada lagi yang tersisa untukku. Aku sadar, aku sangat mencintainya.
"Bara, kenapa kamu berubah seperti ini? Kamu harus bercerai dari wanita itu agar kamu bisa keluar dari penjara. Apa kamu mau kasusnya sampai ke pengadilan? Kalau sudah sampai ke pengadilan, maka urusannya akan menjadi rumit!" Alya memberitahu pada Bara, bahwa dia tidak punya pilihan lain agar bisa keluar dari penjara selain menyetujui semua syarat dari Maura dan salah satunya adalah untuk bercerai.
Pria itu menundukkan kepalanya, dia tetap menolak perceraian dengan tegas. Dia tidak akan melepaskan Maura, karena dia bermaksud ingin memulai semuanya dari awal dengan Maura.
"Apanya yang mau dimulai dari awal, nak? Kamu sudah sangat terlambat untuk itu, dia sudah sangat membencimu."
"Empat tahun..." gumam Bara.
Alya menatap ke arah anaknya, "Apa maksudnya 4 tahun?"
"Empat tahun aku dan dia bersama, dia sangat mencintaiku, Bu. Jadi tidak mungkin dia melupakan perasaannya begitu saja, tidak mungkin dengan mudah hatinya bisa melupakanku." Bara percaya diri bahwa dia bisa memulai semuanya dari awal karena ia yakin bahwa Maura masih mencintainya.
Namun sayang seribu kali sayang, Alya merasa bahwa cinta Maura pada Bara sudah berubah menjadi benci. Dia pun mengatakan pada anaknya untuk menyerah saja dan hidup dengan tenang setelah bebas dari penjara. Tapi Bara menolak, dia dengan tegas menolak permintaan cerai dari Maura.
"Kalau ibu bicara tentang perceraian lagi, maka jangan temui aku Bu!" Seru Bara tegas.
"Bara,"
"Aku akan tetap dipenjara dan mempertahankan dia, daripada aku keluar dari penjara tapi aku kehilangan dia." Bara menatap sedih ke arah Alya, dia tersenyum getir.
"Jangan seperti ini Bara, kamu harus keluar dari penjara! Ibu mohon, setujui saja perceraian itu!" Seru Alya membujuk anaknya.
"Ibu...aku tidak bisa, aku harus menebus kesalahanku padanya. Aku tidak bisa melepaskannya Bu," ucap Bara sambil menyeka air matanya.
Dia berharap kesempatan kedua untuk memperbaiki hubungannya dan Maura. Dia masih memilik keyakinan bahwa Maura akan memaafkannya atas dasar kata Cinta.
Alya lelah membujuk Bara, sepertinya apapun yang Alya katakan pada anaknya hanyalah bualan semata. Dia masih tidak percaya bahwa Maura tidak akan memaafkannya, jika Alya jadi Maura, ia juga tidak akan memaafkan pria yang sudah memperlakukannya dengan kejam.
"Baiklah Bara...karena kamu tidak percaya dan sulit untuk dibujuk. Maka ibu akan menunjukkan kebenarannya didepan matamu sendiri!" Alya mengepalkan tangannya. "Aku menemuinya lagi," ucapnya sambil menghela nafas berat.
*****
.
.
Malam itu di rumah sakit, Maura sedang makan malam di suapi oleh Evan kakaknya. Keadaannya terlihat baik-baik saja dari luar, bahkan dia bisa tertawa dan tersenyum karena ada orang orang terdekatnya disana. Bryan merasa lega karena Maura tidak serapuh yang dia pikirkan, dia cukup tegar walau sempat jatuh dia bangkit lagi.
"Kak, aku mau itu." Kata Maura seraya menunjuk ke arah kotak bergambar donat di atas meja. Dia ingin makan makanan yang manis-manis.
"Kamu mau ini? Habiskan dulu buburnya," ucap Evan memberi syarat pada Maura untuk menghabiskan bibirnya terlebih dahulu.
Bubur yang dimakan Maura memang belum habis, bahkan masih banyak. Evan meminta Maura untuk menghabiskan dulu buburnya, lalu wanita itu bisa memakan donat yang dia mau.
"Kak, udah ah...aku udah kenyang sama yang asin asin. Aku mau yang manis manis aja," ucap wanita itu sambil menggelengkan kepalanya.
"Kamu harus habiskan bubur dulu ya," bujuk Evan lembut.
__ADS_1
Melihat Maura seperti ini, aku jadi teringat dengan masa kecil. Aku harap dia tidak berpura-pura ceria dan aku harap dia bisa melupakan Bara.
"Kakak..."
"Makan ini dulu, Rara gembul!" Evan tertawa dengan ucapannya sendiri.
"Kakak!" Seru Maura malu ketika Evan memanggilnya Rara gembul.
Kok kak Evan masih inget saja dengan sebutan Rara gembul itu?
"PFut..." Bryan dan Hanna yang sedang duduk di sofa ,tertawa mendengar panggilan Evan pada Maura.
"Kenapa kalian ketawa?!" Maura ngambek pada ketiga orang yang ada di ruangan itu. "Kakak juga, kenapa sih kakak panggil aku begitu?"
"Hehe, ayo dong jadi Rara gembul lagi." Evan menggoda adik sepupunya, dia tertawa kecil melihat Maura ngambek padanya.
"Kakak...ish nyebelin." Gerutu Maura dengan bibir yang mengerucut.
Kenapa sih kak Evan malah panggil Rara gembul didepan Hanna dan pak Bryan? Nanti aku di ejekin mereka.
"Rara gembul? Apa dulu kamu pernah gemuk?" tanya Bryan penasaran pada wanita yang dipanggil Rara gembul itu.
"Nggak!" Maura langsung menyanggah pertanyaan Bryan.
"Terus kenapa kamu dipanggil Rara gembul?" tanya Bryan dengan satu alis terangkat.
Maura menolak menjawab, wajahnya begitu sumrawut. Dia kesal pada Evan dan jadi kesal pada semua orang disana. Tangannya menyilang didada, dia jadi menolak makan bubur. "Rara, ayo dong makan dulu!"
"Gak mau!" Maura menggeleng-geleng seperti anak kecil.
"Rara ambekan ya, oke...kakak Evan minta maaf deh." Evan mengatupkan kedua tangannya seraya memohon maaf pada Maura.
Bryan tersenyum, dia merasa bahwa Maura yang ngambek seperti itu sangatlah menggemaskan. Pada akhirnya Maura berhasil di bujuk makan oleh Hanna, ya walau dia masih kesal tapi dia tetap makan buburnya. Sementara Bryan dan Evan duduk di sofa sambil mengobrol.
"Maura memang suka begitu kalau lagi marah. Marahnya sama satu orang, tapi kalau ada orang lain disana saat dia marah maka yang lain kena marahnya juga." Celetuk Evan sambil tersenyum, lalu dia menyeruput kopinya.
"Hahaha, pantas saja dia jadi ikut kesal padaku dan temannya juga." Bryan tertawa kecil.
Entah kenapa aku senang dengan perbincangan ini, apalagi jika ini tentangmu. Aku harus tau banyak tentang calon istriku.
"Iya pak, Maura memang begitu. Dia disebut Rara gembul, bukan karena dia gemuk...itu karena dia banyak makan tapi dia tetap imut."
"Benarkah? Banyak makan tapi tetap imut?" Bryan terlihat semakin tertarik membicarakan tentang Maura.
"Iya pak, waktu kecil Maura banyak makan cemilan...dia suka banget sama yang manis-manis bahkan sampai sekarang juga, ya bapak bisa lihat sendiri kan? Dia bisa menghabiskan satu kotak donat yang besar itu sendirian, tapi badannya tetap saja mungil, " tanpa sadar Evan jadi menceritakan tentang masa kecil Maura dan kenapa dia disebut Rara gembul karena banyak makan tapi badannya tetap kurus.
"Jadi Maura suka yang manis-manis ya, nanti aku akan bawakan yang manis-manis untuknya," gumam Bryan pelan. Lalu Bryan bicara pada Evan. "Pak Revandra, apa saya bisa menganggap kalau sikap bapak ini adalah lampu hijau untuk saya?" Bryan tersenyum pada Evan, dia menganggap ucapan Evan adalah lampu hijau untuknya
Evan membalas bosnya dengan senyuman. juga. "Apa bapak menganggapnya begitu?"
"Kamu menceritakan Maura, bukankah tujuannya untuk memberiku jalan?" Pria itu tersenyum percaya diri.
"Baiklah kalau bapak menganggapnya begitu kebetulan saya juga suka bapak dan sepertinya bapak tidak punya niat buruk pada adik saya." Ucap Evan sambil menatap Maura yang sedang makan bersama Hanna.
Jika kamu ingin membuka hati, sepertinya pak Bryan adalah orang yang tepat untukmu Maura. Semoga saja itu benar.
Bryan terperangah, dia sangat senang karena Evan sudah memberikan jalan untuk maju mendekati Maura. "Aku sangat senang mendengarnya kakak ipar,"
Evan tercengang, dia tak percaya bosnya begitu cepat mengklaim dirinya sebagai kakak ipar. "Pak, terlalu cepat untuk memanggil saya kakak ipar."
__ADS_1
"Ma-maaf tanpa sadar aku bicara tidak sopan." Bryan menggaruk kepalanya, dia malu karena tidak bisa mengontrol dirinya.
"Hehe, pak Bryan orangnya lucu juga ya. Padahal kata orang-orang bapak itu kejam, tapi ternyata gosip itu salah...bapak ternyata baik." Kata Evan sambil tersenyum lebar.
"Hahaha.."
Memang aku baik padamu dan Maura saja.
Setelah itu Hanna dan Evan pamit pulang terlebih dahulu. Mereka berdua memiliki kepentingan masing-masing untuk pulang ke rumah, Hanna akan bersih-bersih terlebih dahulu lalu dia mengambil baju Maura karena dia akan menginap. Sementara Evan akan pulang untuk pergi ke tempat kerjanya di toko ayam dan meminta izin cuti kerja satu hari.
"Maura, kakak sama Hanna pamit pulang dulu ya. Nanti kami kesini lagi kok," Evan berpamitan pada adiknya itu.
"Iya kak, kakak hati-hati ya. Lalu kenapa kakak tidak bawa bule narsis ini pergi?" Maura melirik sebal ke arah Bryan yang masih stay disana saja.
Bryan menahan tawa, dia melihat sisi gemas dari Maura lagi. Yaitu sikap blak blakannya.
"Maura...yang sopan kamu sama pak Bryan!" Evan menasehati adiknya untuk bersikap sopan.
"Ya habisnya ngapain dia disini, kan dia gak punya kepentingan juga? Kayak gak ada kerjaan aja," ucap Maura ketus.
"Dia akan menjaga kamu sebentar disini, sementara aku dan Hanna pulang. Udah jangan cerewet, aku akan pulang." ucap Evan buru-buru. Evan pun berbisik pada Bryan, "Saya titip adik saya pak,"
"Baik, aku paham." jawab Bryan.
Hanna dan Evan pun pergi dari rumah sakit, meninggalkan Maura dan Bryan disana. Maura terus mengabaikan pria yang duduk di sofa itu, sambil melirik lirik ke arahnya. "Apa kamu mau sesuatu?" tanya Bryan pada Maura.
"Ti-tidak," jawab Maura.
"Habisnya kamu memperhatikanku terus," kata Bryan sambil tersenyum.
"Mulai deh narsisnya, siapa juga yang memperhatikan bapak." Ucap Maura menyangkal.
"Kebiasaan deh RARA gembul suka nyangkal,"
Perhatian Maura langsung teralihkan sepenuhnya pada Bryan saat mendengar Bryan memanggilnya Rara. "Bule narsis!"
"Biarin, daripada Rara gembul!" Ejek Bryan pada wanita itu. Dia senang sekali menggoda Maura.
Maura marah, dia beranjak dari ranjangnya dan berniat menghampiri Bryan. Namun belum sempat dia berjalan, tubuhnya oleng karena lemas. Bryan berlari dan dengan sigap dia menangkup Maura. "Aduh..."
"Kamu mau ngapain sih pakai turun ranjang segala?" Bryan menggendong Maura.
"Saya mau pukul bapak," jawab Maura. "Eh bukan bukan, saya bukan mau pukul bapak! Saya cuma-"
Kenapa sih dia selalu menggendongku? Rasanya jadi aneh, kan.
"Sudahlah, Rara gembul." Bryan memangkas ucapan Maura.
"Bule narsis...huh.."
Maura sudah duduk di atas ranjang, Bryan yang membawanya kesana. "Oh ya pak Bryan, terimakasih sudah menjaga ayah saya. Walau kontrak kita mungkin akan berakhir setelah saya bercerai, tapi saya akan tetap menjadi teman bapak dan saya siap membantu bapak kalau bapak membutuhkan saya."
"Teman, lagi-lagi teman.." gumam Bryan sedih.
"Pak, kenapa bapak-"
Kenapa wajahnya muram begitu?
Bryan memegang tangan Maura, dia menatap wanita itu dengan berbeda. "Setelah semua yang aku lakukan, kamu hanya menganggapku teman?"
__ADS_1
...----****----...