Terjebak Dendam Suamiku

Terjebak Dendam Suamiku
Bab 59. Perpisahan


__ADS_3

POV Maura


...🍀🍀🍀...


Aku tidak tahu bagaimana perasaanku terhadap Bryan Seager Xander, pria berkebangsaan Belanda-Jakarta itu. Aku bukanlah wanita bodoh yang tidak peka terhadap perasaan seseorang, aku tahu pak Bryan menaruh perhatian padaku, dia membantuku bukan tanpa sebab pasti ada alasannya.


Tidak mungkin dia membantu tanpa pamrih, pasti ada yang dia inginkan, bukan?


Awalnya aku tidak tahu perasaannya padaku, sikap baik, perhatian, sering kali dia memberikan kode kepadaku yang tidak aku pahami. Hingga aku tak sengaja mendengar percakapannya bersama kak Evan dan disana terdengar jelas bahwa pria itu jatuh cinta padaku. Hari ini aku merasakan jelas perasaan itu, saat dia datang ke rumahku dengan membawa bunga dan coklat yang aku suka. Apa dia suka padaku? Yang jelas hatiku berdebar karena perlakuannya ini. Jujur, aku memang tersentuh.


Sesampainya di depan kantor polisi, aku keluar dari mobil dan melihat Bryan juga ikut turun dari mobil. Mau apa dia? Tanyaku dalam hati.


"Pak, kenapa bapak turun juga?" Aku terheran-heran melihatnya.


"Aku akan menunggu kamu disini," ucap pria itu kepadaku dengan tatapan penuh harapan dan jujur aku sangat bdebar dengan tatapan pria tampan itu di dalam mata birunya.


"Ti-tidak usah pak, bapak kan harus kerja dan bapak sibuk. Lebih baik bapak cepat pergi," titahhku pada Bryan, aku tidak mau merepotkannya lagi. Pikirku untuk mengakhiri perasannya yang tidak bisa aku balas.


Kulihat pria itu menggeleng, "Aku akan berada disini," ucapnya padaku.


Aku merasakan ada yang berbeda dari tatapannya kali ini, nada suara yang hangat dan lagi-lagi membuat hatiku berdebar kencang. Namun, aku putuskan padanya bahwa aku ingin memberikan kejelasan. Hatiku, belum bisa menerima orang lain masuk ke dalam sana. Bahkan aku sedang berusaha untuk mengeluarkan sosok Bara dari hatiku dan rasanya itu sulit sekali. Aku belum bisa menerima orang baru. "Pak, tolong jangan terlalu baik pada saya. Saya tidak bisa menerima kebaikan bapak, saya tidak bisa membalasnya dan saya tidak mau memberi harapan pada bapak, karena saya tidak bisa memberikan apa-apa untuk bapak."


Kulihat keningnya berkerut dan matanya memicing, aku pikir Dia mungkin sudah mengerti apa yang ku katakan padanya. Kemudian dia tersenyum padaku, "Jangan bilang begitu, jangan bilang kamu tidak bisa membalasnya. Tidak apa, aku akan tetap disini, kamu hanya perlu datang."


Aku berdebar lagi, jantungku seperti sedang berperang. Mendengar kata-katanya yang begitu romantis memabukkan pikiranku, menyentuh ruang hatiku yang gelap ini. Mulutku kelu, aku kehilangan kata-kata dalam sekejap. Refleks, tubuhku berbalik membelakangi pria yang sedang menatapku dengan nanar itu. Terserah dia mau berpikir apa, nyatanya aku belum siap dan semoga dia paham apa maksudku.


Kakiku sudah melangkah masuk ke dalam penjara tempat Bara berada karena penasaran aku membalikkan badanku untuk melihatnya.

__ADS_1


Mataku tercekat! Rupanya dia masih ada disana, apa dia benar-benar menungguku? Ya sudahlah, aku biarkan saja. Mungkin nanti juga dia akan pergi, pikirku dalam hati.


Aku pun sampai di tempat besuk napi, kulihat Bara sedang berjalan ke arahku bersama seorang sipir penjara. Dia duduk didepanku, menyunggingkan senyuman ramah dibibirnya.


"Selamat pagi Maura, apa kabar?" Kudengar suara lembut Bara menyapaku dan menanyakan kabar.


Anehnya aku sama sekali tidak merasa berdebar saat mendengar suaranya yang hangat. Padahal dulu, aku selalu kegirangan ketika Bara menyapaku, kini tidak lagi aku rasakan semua itu!


"Alhamdulillah aku baik," jawabku seadanya tanpa bertanya balik.


Kulihat wajahnya babak belur, ada rasa iba di dalam hatiku padanya. Tampaknya dia mendapatkan balasan di penjara, arghh...aku memikirkan apa sih? Karma itu tidak ada!


"Syukurlah kalau kamu baik-baik saja,"


Segeralah aku menyodorkan dokumen perceraian yang harus dia tandatangani, supaya semuanya cepat beres. Kusediakan bolpoin disamping dokumen yang sudah kububuhkan tanda tangan itu. "Silahkan tanda tangani, tapi...kalau kamu mau baca, boleh. Cuma waktuku tidak lama, aku harus segera pergi bekerja."


Tangannya mengambil bolpoin yang ada di samping dokumen itu. Dia langsung menandatanganinya tanpa banyak bicara. Aku terkejut, kenapa semudah ini? Padahal sebelumnya dia tidak mau melepaskanku?


Kulihat dia tersenyum getir, hatiku kok rasanya aneh? Alisku terangkat dan keningku berkerut, menampakkan reaksi bingung.


"Selamat karena kita sudah bercerai, Maura. Aku minta maaf, selama ini aku tidak bisa menjadi suami yang baik bagimu. Aku adalah bajingan, maaf..."


Permintaan maaf itu sudah dia ucapkan berkali-kali padaku, tapi tetap saja rasa sakit di hati ini masih ada. Itu karena dia telah membuat lubang yang besar di dalam hatiku, kepercayaanku terhadap cinta juga hancur. Aku jadi meragu, Apakah setelah ini aku bisa membuka hatiku untuk pria lain?


Bara meminta maaf padaku, tapi tidak aku balas menjawabnya. Aku hanya sibuk membereskan dokumen yang sudah dia tanda tangani itu dan bergegas untuk pergi dari sana. Rasanya aku muak melihat Bara!


"Terima kasih sudah mempermudahnya. Setelah ini aku akan mencabut tuntutanku dan kamu bisa bebas." Kataku memberitahu.

__ADS_1


Bara menghela nafas, sekilas kulihat ada air menggenang di bawah matanya. "Maura... bolehkah aku memeluk kamu untuk yang terakhir kalinya?"


Mataku melebar dengan permintaan Bara, sebenarnya aku enggan. Tapi karena dia bilang ini yang terakhir kalinya, aku kasih izin.


"Ya, silahkan."


Bara berdiri dari tempat duduknya, dia menghampiriku lalu memeluk tubuhku dengan hangat dan erat. Kedua tangannya menyentuh tubuhku dengan lembut, sesaat aku terhanyut dalam dekapannya.


Tak lama setelah itu dia melepaskan pelukannya, kupikir ini sudah selesai. Akan tetapi, dia kembali meraih tubuhku, tangannya meraih wajahku. Kemudian dia membenamkan bibirnya pada bibirku.


Akhp!!


Aku terkesiap, tak sempat aku menghindar ciumannya itu. Niatku mendorong dia, tidak jadi karena dia sudah melepaskanku dan tidak berlama-lama mencium bibirku.


Kurasakan basah di wajahku, itu berasal dari air matanya. "Bara..."


"Maafkan aku, aku cinta kamu." Bara mendekat lagi padaku dan dia mengecup keningku. Masih saja Bara mengucapkan cinta padaku.


Setelah menandatangani surat itu, Bara bebas dari penjara dan satu bulan kemudian kami pun resmi bercerai, tepat setelah melalui 1 bulan perceraian.


Kami keluar dari gedung pengadilan kantor urusan agama, menuruni tangga gedung itu. Aku melihat Bara berada tak jauh dari tempatku berdiri, disana kulihat ada Ghea dan Bu Alya bersamanya. Aku juga tak sendiri, aku bersama kakakku, pengacara keluargaku dan juga Bryan.


"Ayo Maura, kita rayakan kebebasanmu ini." Kak Evan menepuk pundakku.


"Iya benar, saya akan traktir kalian." Kata Bryan sambil tersenyum padaku.


Namun, aku malah menangis.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2