Terjebak Dendam Suamiku

Terjebak Dendam Suamiku
Bab 68. Maura kenapa??!


__ADS_3

Like 150, komen 15, author up lagi 🗡️🗡️🗡️


Berhubung ini hari Senin, author minta vote atau gift nya boleh kan 😘😉


...🍁🍁🍁...


Pria itu panik melihat Maura jatuh pingsan dan segera membawanya masuk ke dalam mobil untuk dibawa ke rumah sakit. "Maura, kamu kenapa?!" Bryan gemetar melihat Maura tidak sadarkan diri terbaring di kursi sebelahnya.


Tidak pernah Bryan merasakan gemetar ketakutan seumur hidupnya, baru kali ini dia merasakannya ketika melihat wanita yang dia sayangi jatuh pingsan dengan wajah pucat.


Bryan Seager Xander.


Pria dingin dan selalu menjaga jarak dengan wanita, sekarang sedang panik dan kalang kabut. Dia yang tidak pernah takut pada apapun, kini mulai merasakan apa itu rasa takut dan apa itu cinta. Bryan merasakannya saat melihat Maura, wanita yang berusia lebih muda darinya 7 tahun. Cinta pertama yang tidak pernah dia rasakan seumur hidupnya dan hanya wanita itu yang bisa membuat dia berdebar.


Tangan hangat Bryan membelai pipi Maura yang dingin. "Aku akan bawa kamu ke rumah sakit, kamu harus baik-baik saja!" ucap pria itu khawatir.


Bryan pun membawa Maura pergi ke rumah sakit terdekat disana, tak lupa dia menghubungi Evan tentang keadaan Maura. Kini Bryan berada di luar ruang IGD. "Dokter...tolong--"


"Bapak tenang saja dan tunggu diluar ya, kami akan menangani pasien." Ucap seorang dokter wanita, dengan jas putih dan stetoskop mengalung di lehernya.


"Baik dok," jawab Bryan patuh.


Dia melihat ruang IGD dengan cemas menunggu hasil pemeriksaan dari dokter.

__ADS_1


15 menit berlalu dan Bryan masih menunggu sambil mondar-mandir di depan sana, namun dokter masih belum keluar juga dari ruangan itu. Evan pun tiba disana dan dia langsung menanyakan keadaan adiknya pada Bryan.


"Pak, bagaimana adik saya?" tanyanya cemas.


"Dokter masih belum keluar," jawab Bryan cepat.


Evan tidak bicara lagi, dia juga menunggu sama dengan Bryan. Tak lama kemudian seorang dokter keluar dari ruangan IGD, dokter itu mengatakan bahwa dia harus bicara secara pribadi dengan keluarga pasien karena mungkin ini adalah hal privasi.


"Pak Bryan, saya titip Maura sebentar ya." Pesan Evan pada pria itu, dia sepertinya sudah memercayai Bryan.


"Baik," jawab Bryan tersenyum, dia senang mendapatkan kepercayaan seperti itu dari Evan. Harapannya bersama Maura mungkin akan segera terwujud. Lampu hijau saja sudah di depan mata, hanya tinggal menyatakan cinta.


"Terima kasih pak," Evan tersenyum, kemudian dia mengikuti dokter untuk bicara di ruangannya.


Tibalah Evan dan dokter itu di ruangan yang tidak terlalu luas dengan aroma obat, khas rumah sakit pada umumnya. Ruangan yang di cat putih semua.


"Silahkan duduk pak," ucap dokter itu mempersilakan Evan untuk duduk di kursi yang berada didepan mejanya.


Evan merasa situasi ini serius sampai-sampai dokter memanggilnya secara pribadi. Evan sudah duduk disana, lalu dia mulai bertanya padanya."Dok, apa ada hal serius tentang adik saya? Apa adik saya sakit atau---" Evan berpikir kemungkinan yang terjadi pada Maura, keningnya mengerut dari tadi tak hentinya dia cemas.


"Pertama-tama saya akan jelaskan dulu kondisi Bu Maura ya pak, Bu Maura sedang hamil dan wanita hamil tidak tidak boleh mengalami stress, saya harap bapak bisa lebih memperhatikannya." Tutur dokter itu menjelaskan hasil pemeriksaannya pada Evan.


JLEB!

__ADS_1


Sesuatu menusuk ke dalam organ dalam Evan, bagai tersambar petir saat dia mendengar penjelasan dokter tentang Maura yang hamil.


Tercengang!


Sungguh Evan tidak percaya dengan apa yang dia dengar itu, "Apa maksud dokter? Maura kenapa?!" Evan bertanya sekali lagi untuk memastikan apa yang dia dengar ini benar atau salah.


"Adik bapak sedang mengandung saat ini," jawab dokter dengan santainya.


"Innalilahi!" sontak saja Evan mengeluarkan kata-kata itu dari mulutnya, menyiratkan bahwa dia tidak suka dengan berita ini yang dianggapnya sebagai berita duka.


Dokter wanita itu terheran-heran dengan reaksi Evan. 'Loh? kok Innalilahi ya? Bukannya harusnya Alhamdulillah?' Pikir dokter itu dalam hatinya.


Evan terguncang sampai tertegun, dia yakin dan sudah pasti anak yang dikandung adiknya itu anak siapa. Pastilah si bajingan Bara!


"Dokter! Gimana bisa ini terjadi? Padahal cuma sekali melakukan, adik saya selalu minum pil KB setelah itu dan dia juga disuntik! Kenapa bisa hamil, dok? Gak masuk akal ini," Evan tidak percaya dengan diagnosis dokter.


"Pak saya akan jelaskan, seseorang bisa beresiko hamil meski hanya sekali melakukan **** dengan pasangan.Selama melakukannya di saat yang tepat, seorang wanita bisa hamil ketika baru sekali berhubungan intim dengan pasangannya. Artinya, jika wanita dan pria sedang dalam masa subur. Ada banyak faktor lainnya juga pak-"


Evan semakin gusar mendengar penjelasan dari dokter. "Saya tidak mau dengar lagi dok, katakan saja... apa kandungan itu bisa dibatalkan?"


"Apa maksud bapak?" Kening dokter wanita itu mengerut, alisnya menaut.


"Saya ingin menggugurkan bayi itu, dok!" Tegas Evan yang sudah bulat keputusannya. Dokter wanita itu tercengang mendengar permintaan Evan.

__ADS_1


...****...


__ADS_2