
...❤️❤️❤️...
.
.
Ketika Evan masih sibuk dengan urusannya menghalangi Bara untuk pergi menemui Maura. Bryan dan Maura berada didalam dunia mereka sendiri. Dunia yang bernama indahnya mencintai dan indahnya mencintai.
Mungkin bagi Bryan ini adalah pertama kalinya dia jatuh cinta, tapi bagi Maura mungkin ini yang kedua dan dia tidak mau gagal lagi dalam cinta.
Hubungan keduanya setelah Maura bercerai, semakin dekat saja. Bryan selalu membantu Maura, berada disampingnya disaat wanita itu sedang sedih dan terpuruk.
Tidak ada yang bisa menolak pesona pria seperti Bryan, walau Maura tidak tahu saja bahwa dia pernah memerintahkan orang untuk pura-pura menodai Ghea karena di kesal pada wanita itu.
"Pak, kita mau kemana?" Maura menanyakan kemana mereka akan pergi.
Bryan tertegun seperti berpikir. "Kemana dulu ya? Ini masih sore, masih lumayan lama ke makan malam. Apa aku ajak Maura ke tempat lain dulu?"
"Bry?" Wanita itu mengibaskan tangannya ke depan wajah Bryan karena Maura melihat Bryan melamun.
"Ya cantik?" sahut Bryan tanpa sadar menoleh ke arah Maura yang tepat disampingnya.
"Cantik?"
"Ah...i-itu...a-aku.." Bryan tergagap, dengan tangan masih sibuk menyetir.
"Bry, kamu kenapa?"
Wajahnya kok pucat gitu, apa dia sakit?
"Kamu sakit ya? Apa seharusnya kita pulang aja? Antar saja aku pulang, Bry." Kata Maura cemas.
"Apa maksudmu pulang? Gak, kita gak boleh pulang! Aku mau ajak aku ke suatu tempat!" Seru Bryan langsung bicara dengan cepat begitu Maura meminta diantar pulang.
Tentu saja dia tidak mau mengantarnya pulang karena dia sudah merencanakan sesuatu didalam hatinya.
"Kamu mau ajak aku ke suatu tempat?"
"I-iya, a-apa kamu suka danau?"
"Danau?"
"Kita ke taman yang ada didekat danau yuk?"
Maura menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tipis. Bryan balas dengan senyuman juga. Demi menghabiskan waktu sampai makan malam, Bryan mengajak Maura pergi ke sebuah taman dekat danau.
Pemandangan sore dan angin yang berhembus membuat suasana semakin sejuk. Bryan melihat Maura agak menggigil, dia pun berinisiatif untuk membuka jasnya. "Tidak usah Bry," Maura yang sudah tau kenapa Bryan melepas jasnya, langsung menolak jas itu.
"Wah...bahkan sekarang kamu sudah tau apa yang akan aku lakukan sekarang," Pria itu tersenyum senang karena Maura mulai memahaminya.
"Tentu saja aku tau, selama aku mengenalmu hampir 3 bulan ini. Kalau kamu membuka jas, atau jaket, pasti kamu akan memberikannya padaku. Tapi...kali ini aku suka dengan udaranya, jadi aku tolak dulu jas dari kamu." Jelas wanita itu dengan tatapan mata polosnya.
"Haahh...oke baiklah. Tapi kalau kamu dingin, bilang padaku ya?" Ucap pria itu sambil kembali memakai jas abu-abunya.
"Iya dan aku akan memintamu menghangatkan ku, lagi." Gumam Maura dengan suara pelan.
Karena kalau aku kedinginan, kamu selalu menghangatkanku dengan sikapmu itu.
Bryan langsung melirik ke arah "A-apa yang kamu bilang barusan?"
Menghangatkan apa? Ranjang? Atau apa?.
Otak Bryan travelling mendengar ucapan tentang menghangatkan itu.
"Tidak apa-apa. Oh ya, ayo kita wisata kuliner sebentar yuk! Katanya mau coba makanan pedas?" Tatapan Maura mengarah pada seorang pedagang lumpia yang mendorong roda disana.
__ADS_1
"Eh...ta-tapi nanti kita makan malam,"
"Benar juga. Tapi kita bisa makan berdua," usul Maura pada Bryan.
"Oh ya, kamu kan gembul...jadi kamu bisa makan makan dengan tubuh kecilmu ini." Bryan menggoda Maura yang selalu dipanggil Rara gembul.
"Ah! Bry, kamu nyebelin...ah gak asik banget. Ini semuanya gara-gara kak Evan, kamu jadi ejekin aku terus!" Jengkel, Maura terus digoda Bryan karena kata-kata Evan yang pernah dia ucapkan sebelumya tentang Rara gembul.
"PFut...udah jangan ngambek dong, maaf ya?"
"Tau ah, aku jadi gak mau makan lagi! Aku mau pulang aja,"
Wanita itu ngambek, lalu dia melangkah pergi dari sana. Bryan memegang tangan Maura dan menariknya, lalu tubuh Maura terhempas ke arahnya dan berakhir dengan memeluknya.
"Ah!!"
Dag Dig dug
Itulah perasaan Maura dan Bryan yang saat ini sedang dalam posisi berpelukan tanpa sengaja. Maura merasakan dan mendengar dibalik kemeja Bryan, ada yang berdebar disana.
Apa jantung Bryan baik-baik saja? Ini suara jantungku, apa jantungnya? Kencang sekali. Tangan Maura memegang dada Bryan, dia ingin memastikan suara itu berasal dari mana.
Mereka masih berada dalam posisi berpelukan di tengah keramaian. Tangan Bryan tertahan pada niat hati ingin memeluknya.
Oh shittt! Aku ingin memeluknya, jantungku rasanya mau copot saja!
Tak lama kemudian, Bryan menjauhkan tubuh Maura darinya. Maura seperti kecewa karena Bryan mendorongnya. "Ayo kita beli lumpia," ucap Bryan sambil memalingkan wajahnya, dia berjalan lebih dulu dari Maura yang masih berdiri mematung itu.
"Apa Bryan tidak suka berdekatan denganku? Mengapa aku kecewa dia mendorongku begitu?' Gerutu Maura dengan suara pelan, dia memegang dadanya. "Bagian sini masih berdebar," ucapnya lagi.
Dia melihat punggung Bryan yang berjalan sudah cukup jauh darinya. Bryan sendiri merasa salting, sulitnya dia menahan gejolak rasa.
Bagus Bryan, kamu berhasil menahannya. Kamu harus pelan-pelan, jangan terburu-buru seperti waktu itu.
Mereka berdua pun makan lumpia bersama, sambil menikmati pemandangan terbenamnya matahari di dekat danau. Maura duduk menjaga jarak dari Bryan, tidak seperti sebelumnya dan membuat pria itu bingung.
"Tidak apa-apa, aku hanya mau duduk disini saja." Kata Maura cuek sambil meminum Thai tea yang dia beli.
Glek
Bryan menelan ludah, dia yakin ada yang salah dengan sikap Maura. Wanita itu tiba-tiba berubah sikapnya. Tidak seperti tadi, yang dekat dengannya.
"Apa aku ada salah sama kamu?" To the poin Bryan bertanya pada Maura, apa yang salah.
"Tidak," jawab Maura dengan wajah ditekuk tanpa senyuman.
"Terus kenapa kamu marah?"
"Aku gak marah, kenapa aku harus marah?" Tanya Maura dengan suara ketus,tidak lembut seperti biasanya.
Kenapa ya aku marah? Ah entahlah!
"Jelas-jelas kamu marah, ada apa sih? Kalau karena bilang Rara gembul, aku minta maaf ya...aku cuma bercanda." Bryan mengatupkan kedua tangannya seraya meminta maaf pada Maura.
"Aku kan udah bilang, aku gak marah."
Wah gawat nih, bisa-bisa rencanaku gagal malam ini kalau mood Maura jelek. Bryan ketar-ketir didalam hatinya, dia merasakan Maura yang marah padanya.
Lalu dia teringat dengan Ferry, "Ingat pak! Ketika wanita marah, bapak jangan tanya dia terus menerus karena mereka akan semakin kesal kalau bapak terus bertanya mereka kenapa. Terkadang wanita tidak bisa di mengerti pak, kalau ditanya tidak, biasnyaa itu artinya iya. Maka dari itu kita harus tau alasan kenapa wanita marah."
"Ferry, sepertinya teorimu benar." Gumam Bryan pelan sambil menundukkan kepalanya.
Sementara Maura asik sendiri menikmati matahari yang terbenam, dia masih kesal pada Bryan meski kesalnya tak jelas.
****
__ADS_1
Malam itu setelah lewat jam 7, Bryan mengajak Maura yang masih kesal padanya dan entah kenapa, pergi ke sebuah restoran yang memiliki views indah. Seolah mereka berada di dunia lain, dunia bawah air karena restoran itu memiliki views seperti di akuarium
"Woaahhh...aku baru tau ada restoran seperti ini. Seperti di dunia bawah air."
Maura terpana dan baru tau ternyata di Jakarta, ada restoran mewah seperti ini. Restoran yang berbeda dengan restoran lainnya, Maura suka akuarium dan dia suka melihat ikan-ikan. Bryan melihat raut wajah Maura yang terlihat baik dan senyum-senyum sendiri.
Bagus, raut wajahnya terlihat baik. Aku harus mulai bersiap.
"Hem, Maura...aku pergi dulu ke depan ya. Ponselku tertinggal di mobil." Bryan pamit pada Maura, entah pamit ataukah dia hanya beralasan saja.
"Lalu aku gimana?"
"Kamu jalan duluan saja," jawab Bryan sambil tersenyum.
Bryan pergi meninggalkan Maura sendirian dengan buru-buru, entah apa yang dia rencanakan. Maura mengerutkan kening, dia heran dan bingung, mengapa Bryan terburu-buru. "Ah...ya sudahlah, aku masuk duluan saja deh."
Ketika Maura berjalan, dia melihat ada beberapa orang memakai pakaian berbentuk ikan hias yang lucu-lucu. Maura tersenyum melihatnya, "Apa ini konsep restorannya ya? Bagus juga, menyambut tamu dengan memakai kostum ikan." Pikir Maura.
Salah satu dari orang yang memakai kostum ikan itu berjalan mendekati Maura dan menghadang jalannya. "Ada apa ya?" alisnya menaut ke atas melihat seseorang dibalik kostum ikan itu.
Orang itu memberikan Maura satu tangkai bunga mawar merah dan disana ada kartu ucapannya. "Ini untukku?"
Anggukan adalah jawaban yang dilihat Maura dari sosok orang yang memakai kostum ikan itu. Dia mengisyaratkan agar Maura membuka kartu ucapannya. "Baiklah, akan aku buka."
Wanita itu membuka kartu ucapannya, dia melihat ada tulisan dalam bahasa Korea disana.
...Neo ttaemune haengbokhaeyo...
...Karena kamu aku bahagia...
Dia terpana melihat tulisan itu, lalu dia kembali berjalan dan salah seorang dari orang berkostum ikan itu memberikan lagi padanya satu tangkai bunga mawar padanya. Kali ini ada juga kartu ucapannya.
...*Naega geudae gyeoteul jikyeo julgeyo...
...Aku akan melindungimu*...
Lalu ada kata berikutnya juga yang menggetarkan hatinya.
...Hangsang geudaereul saenggakhaeyo...
...Aku selalu memikirkanmu...
...Neo eobsi mot sala...
...Aku tidak bisa hidup tanpamu...
Maura berjalan lagi ke depan, sampai dia bertemu dengan Bryan di tengah tengah restoran bernuansa akuarium itu. Dia memegang buket bunga mawar besar ditangannya. Dia berlutut didepan Maura dengan disaksikan semua orang disana.
"Bry..." Mata Maura terbuka lebar, dia terpana melihat pria tampan dan seorang konglomerat itu berlutut didepannya, didepan semua orang.
"Maura...aku jatuh cinta kepadamu..." ucap Bryan menyatakan cinta dalam bahasa Indonesia, tidak seperti bahasa Korea yang dia tulis di kartu-kartu itu.
"Bry!"
"Maura, sejak pertama kali aku melihatmu...aku sudah tertarik padamu, kamu berbeda dari wanita-wanita lain di dunia ini. Kamu spesial dan aku tidak bisa ungkapkan betapa spesialnya kamu di dalam hidupku. Karena hanya kamu yang bisa masuk ke dalam hatiku...dekat denganku, aku nyaman denganmu. Walau waktu pertemuan kita mungkin terbilang singkat, tapi aku yakin...kamulah takdirku."
Suara musik dari biola mengiringi pernyataan cinta dari Bryan. Maura terdiam, matanya berkaca-kaca menatap Bryan yang masih berlutut. Lalu Bryan pun berdiri dan menyimpan bunganya diatas meja, dia mengambil balon berbentuk hati, bertuliskan Aku cinta kamu dalam bahasa Korea. Kenapa bahasa Korea? Itu karena Bryan tau Maura penggemar drama Korea.
Bryan berdiri walau sebenarnya jantungnya berdegup begitu kencang. "Maura, maukah kamu menjalin hubungan yang lebih serius denganku? Kalau kamu mau, terima dan peluklah balon ini, kalau kamu gak terima...kamu pecahkan balonnya." Pria itu menyerahkan sebuah jarum pada Maura.
Tenang Bryan, tenanglah hatiku...tenanglah jantungku! Jangan copot dulu.
Maura mengambil jarum itu, dia menelan ludah. Dia tak percaya bahwa Bryan mewujudkan semua mimpinya, mimpi tentang seseorang menyatakan cintanya dengan ala Korea.
*****
__ADS_1
Sementara itu Bara dengan kaki dan tangan terluka, dia naik ke dalam mobil taksi dan pergi ke tempat Maura berada. "Tolong lebih cepat pak! Ngebut!!" Teriak Bara.
...******...