
...🍀🍀🍀...
Kesepakatan antara Bryan dan Maura telah dicapai dengan tandatangan di surat kontrak itu. Namun isi kepala dua orang itu berbeda, satunya mengejar cinta dan satunya mencoba mengambil kembali harta kekayaan keluarganya dari tangan Bara.
Setelah pembicaraan tentang kesepakatan itu usai, Maura mengantar Bryan keluar dari rumah kontrakan Hanna. Disana dia melihat Evan yang juga baru pulang kerja, Evan tinggal tepat disebelah rumah kontrakan itu.
"Pak presdir!" Evan terkejut melihat Presdirnya ada disana. Evan langsung memberi hormat kepadanya dengan sopan.
Bryan menjawab salam Evan dengan senyuman ramah.
"Kakak? Kakak baru pulang?" sambut Maura pada kakak sepupunya itu.
"Iya Ra, aku baru pulang. Tapi kenapa pak presdir ada disini?" Evan keheranan melihat Bryan ada bersama adik sepupunya.
"Ehm...nanti aku jelaskan kak. Oh ya, pak Bryan sebaiknya anda segera pulang, bukankah ini sudah terlalu larut?"
"Baiklah, kamu jangan lupa perjanjian kita ya Little girl." Bryan tersenyum manis ketika dia memandang Maura.
"Saya akan ingat selalu pak dan bapak juga mohon untuk menepati janji."
"I swear little girl, aku akan tepati janji. Karena jika aku melanggar janji...aku akan kehilangan uang 1 milyar." Kata Bryan bersungguh-sungguh.
__ADS_1
Evan tercengang melihat Bryan yang selalu bersikap dingin di kantor, bisa tersenyum seindah itu saat dia melihat Maura. Evan bertanya-tanya ada apa dengan Bryan, apakah pria itu ada rasa pada sepupunya?
"Kalau begitu, saya pamit ya pak Evan." Bryan tersenyum ramah pada kakak sepupu Maura itu.
"Eh, i-iya pak! Hati-hati dijalan pak." kata Evan mengingatkan.
Ini aneh, mana bisa bongkahan es itu tersenyum manis pada Maura bahkan sekarang dia tersenyum ramah padaku.
Bryan baru saja melangkah beberapa langkah menuju ke mobilnya yang terparkir di halaman rumah itu. Bryan kembali membalikkan badannya, dia kembali menghampiri Maura. "Ada apa pak?" Maura menatap pria itu dengan keheranan. Mengapa dia kembali?
"Didalam kantong kain merah itu, untuk kamu...disana sudah kusimpan nomorku."
Bryan langsung pergi begitu saja. Tak lama setelah kepergian Bryan, Evan bertanya pada Maura kenapa Bryan berada disana dan darimana Maura kenal dengan Presdir Xander grup itu. Maura menjawab bahwa awal pertemuan mereka adalah pada malam pernikahannya didalam taksi.
Maura juga menjelaskan urusannya dengan Bryan pada Evan tanpa ada yang ditutup-tutupi. Bahwa dia memanfaatkan Bryan untuk balas dendam kepada Bara dan untuk mengambil kembali apa yang harusnya jadi milik Agradana.
"Maura, tindakan kamu ini sangat beresiko! Bagaimana bisa kamu percaya begitu saja pada pak Bryan? Kamu baru satu bulan mengenalnya kan? Bagaimana jika dia-"
"Kak, kakak gak usah khawatir...aku dan dia sudah terikat kontrak, dia sudah janji akan membantuku. Lagipula ini hanya bisnis saja kok,"
"Lalu apa yang dia dapatkan dari kontrak ini, Maura?" tanya Evan pada adiknya dengan mendesah karena cemas.
__ADS_1
"Dia ingin aku menjadi tamengnya,"
"Tameng?" Evan terheran-heran mendengar kata tameng ini.
"Iya, aku juga tidak tau tameng apa. Tapi dia memintaku untuk selalu menjawab telepon dan pesannya. Oh ya kak, dia juga akan membantu memindahkan ayah ke rumah sakit lain tanpa sepengetahuan Bara." ucap Maura sambil tersenyum senang.
Sebelumnya Bryan mengusulkan pada Maura untuk mengamankan Samuel, karena dia takut bahwa Samuel akan menjadi ancaman Bara pada Maura, padahal Maura sama sekali tak memikirkan hal ini sebelumnya.
🍀🍀🍀
Malam itu Bryan sampai di rumahnya, dia senyum-senyum sambil bersenandung. Pria itu berjalan menaiki tangga menuju ke kamarnya.
"Bryan Seager Xander!!"
Bryan terdiam mengehentikan langkahnya, kemudian dia memalingkan wajah melihat ke arah seseorang yang memanggil namanya.
"Mama??"
Seorang wanita paruh baya, terlihat cantik dengan wajah judesnya, dia menyilangkan kedua tangan didada.
...*****...
__ADS_1