Terjebak Dendam Suamiku

Terjebak Dendam Suamiku
Bab 83. Buat dia bahagia


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Suara klakson mobil yang ada dibelakang mereka terus bersahutan, itu karena Bryan belum memajukan mobilnya. Dia malah menatap Maura yang bibirnya dan bajunya basah. "Bry! Cepat jalankan mobilnya atau kita akan terlambat!" Ujar Maura pada Bryan yang masih saja memandanginya.


"Oke sayang." Bryan tersenyum, lalu dia menginjak pedal gasnya.


Maura menelan ludah mendengar Bryan memanggilnya sayang dengan suara maskulin seksinya itu. 'Jantungku tenanglah, tenanglah!'


Pria itu tersenyum puas setelah mencium kekasihnya. Dia tak sabar ingin melamar Maura, tapi waktu saja yang belum tepat. Ada beberapa hal yang harus diselesaikan, terutama masalah keluarga Maura. Mereka berdua sepakat untuk tidak membicarakan masalah pernikahan sebelum masalah keluarganya dan Nathan selesai. Hanya tinggal itu saja, masalah pertanggung-jawaban Samuel pada Nathan dan wanita yang pernah disakiti ayahnya.


Tinggal masalah waktu, Bryan pikir tidak masalah untuknya menunggu sebentar lagi. Toh! Maura juga sudah resmi menjadi kekasihnya. Hanya tinggal sebentar lagi, tapi dia sebenarnya sudah tak tahan. Hasratnya terhadap Maura harus segera tersalurkan, usianya juga sudah tidak muda lagi.


Dia takut akan lepas kendali.


*****


Mereka berdua sudah sampai didepan kantor Agradana grup. Namun sebelum Maura keluar dari mobil, Bryan mengatakan ingin bicara dengannya dulu sebentar.


"Maura, aku ingin bicara sebentar." Bryan menutup kembali pintu mobil yang berada tepat di samping Maura.


"Ya? Ada apa Bry?"


"Apa kamu perlu bantuanku untuk menyelesaikan semua masalahmu?" Tanya Bryan tak sabar.


"Tidak usah, aku bisa menyelesaikannya sendiri."


"Maura, aku mohon jangan menolaknya. Kalau kamu lupa siapa aku, aku katakan sekali lagi...aku kekasih kamu." Bryan ingin masalah Maura cepat selesai dan mereka segara menikah, dia juga ingin menjadi orang yang diandalkan untuk Maura.


"Aku tau kamu kekasihku, kamu calon suamiku. Tapi, ini masalah keluarga yang harus aku selesaikan sendiri! Aku tidak mau kamu--"


Tiba-tiba saja Bryan memangkas ucapan Maura yang belum selesai itu. "Maura, apa kamu menganggapku orang asing?" Tanya Bryan memelas.


"Tidak! Kenapa kamu ngomong kayak gitu?"


Pria itu tersenyum getir."Karena kamu selalu saja membatasi diri denganku, menolak bantuanku. Apa gunanya aku sebagai calon suami kamu kalau aku gak bisa bantu kamu?"


"Oke, aku paham perasaan kamu. Bry, kamu salah paham...alasan aku gak minta bantuan sama kamu bukan karena aku masih merasa kamu adalah orang asing. Itu karena aku gak mau kamu terbebani dengan masalahku. Aku ingin hubungan kita bersih tanpa masalah keluargaku."


"Ya...aku paham juga maksud kamu begitu, kamu tidak meminta bantuanku karena kamu merasa tidak enak padaku. Tapi sayang, sekarang kamu punya aku. Tolong andalkan aku untuk bisa membantu kamu," ucap Bryan seraya mengambil tangan Maura dan membelainya dengan lembut.


"Bry..." lirih Maura pada Bryan, dia menatap pria itu dengan bingung.


"Kamu punya aku dan kamu harus mengandalkan aku, please...aku ingin kamu berbagi segalanya denganku. Ini arti dari pasangan." Bujuk Bryan pada Maura.


"Oke, kalau aku butuh bantuan dari kamu. Aku pasti akan memintanya... tapi..."


Bryan menatap wanitanya itu. "Hem?"

__ADS_1


"Sekarang aku masih bisa sendiri,"


Tidak baik melibatkan Bryan terus menerus dalam urusan keluargaku. Dia sudah banyak membantuku.


"Oke, aku gak akan maksa. Tapi kalau kamu ada masalah yang gak bisa kam selesaikan sendiri, kamu harus minta bantuan sama aku dan bilang apa masalah kamu ya?" Tanya pria itu perhatian dan lembut pada kekasihnya.


"Iya." Maura tersenyum. "Kalau gitu aku kerja dulu ya, kamu juga yang semangat kerjanya!"


"Iya little girl, sampai ketemu nanti siang ya." Bryan tersenyum, kemudian dia mengecup pipi Maura dengan lembut.


Chu~


Nanti siang? Oh ya aku ada janji membicarakan masalah proyek dengan Bryan.


Maura teringat bahwa dia punya janji membicarakan masalah proyek kerjasama dengan Bryan.


"Iya, sampai ketemu nanti ya."


Lagi-lagi setiap mereka akan berpisah, Bryan akan meminta isi daya pada kekasihnya itu. Kalau tidak pelukan ya pasti cium pipi. "Hem...kamu ini..." Maura tersenyum lalu mencium pipi Bryan dengan cepat.


Keduanya lalu saling melempar senyum, melambaikan tangannya. Lalu Bryan pergi dari sana, setelah Bryan pergi. Maura melihat seorang pria tengah berdiri di belakangnya.


"Bara? Ngapain kamu disini?" Kesal saat Maura melihat mantan suaminya masih berada disekitarnya.


"Aku mau ketemu kamu lah."


"Bara, aku kan sudah bilang kalau--"


Berteman?


Maura langsung tercekat melihat ke arah Bara. "Pertemanan apa yang kamu maksud?"


"Kalau kita gak bisa menjadi pasangan kekasih ataupun menjadi suami-istri lagi, bisakah kita berteman saja?"


"Maaf Bara, rasanya sulit berteman dengan kamu. Kita gak bisa berteman, hanya bisa sekedar menjadi orang yang saling mengenal saja.


Sakit lagi hati Bara mendengar penolakan itu. Lalu dia tersenyum getir. "Berteman saja gak bisa Ra?"


Aku gak percaya kalau tidak ada yang tersisa diantara kita Ra. Apa karena hati kamu udah buat cowok itu? Apa benar gak ada aku lagi di dalam hati kamu? Semua kenangan itu... terlupakan karena adanya orang baru di hari kamu.


Bara menatap Maura yang terdiam itu, dia memegang dadanya mempersiapkan jawaban menyakitkan yang mungkin akan dia terima dari Maura.


Lalu benar saja, Maura menggelengkan kepalanya dengan tegas, dia tidak bisa membangun hubungan apapun lagi dengan Bara yang sudah terlampau menyakitinya. Bahkan maaf saja untuk Bara dari Maura belum sepenuhnya bisa dia berikan. "Maaf Bara."


"Oke, maaf ya aku udah ganggu kamu. Tapi, apa kamu dan dia pacaran?" Bara tidak bisa menahan rasa penasarannya terhadap hubungan Maura dan Bryan, apalagi belum lama Bara melihat Maura dan Bryan saling mencium pipi satu sama lain dengan mesranya.


"Iya, aku memang pacaran sama dia."

__ADS_1


Pria itu mengigit bibir bagian bawahnya, dia mengepalkan tangannya dengan kuat. Dia terlihat berat mendengar jawaban dari Maura. Meski sudah menduga sebelumnya tentang apa jawaban Maura, hatinya sakit lagi mendengar ketegasan Maura. Terlebih lagi, dia lihat adanya keraguan di mata Maura saat wanita itu mengatakan bahwa dia memang berpacaran dengan Bryan.


"Oh-o-oke.." jawab Bara sambil menundukkan kepalanya. "Se-semoga ka-kamu bahagia dan aku harap dia serius sama kamu."


Ayo Bara, cobalah berbesar hati.


"Ya, dia serius sama aku...dia gak menipu aku sama seperti seseorang." Sindir Maura pada Bara. Kini didalam hatinya, Maura memang sudah tidak ada rasa yang tertinggal untuk Bara.


Tanpa pamit, Maura meninggalkan Bara sendirian didepan kantornya dan dia masuk ke dalam gedung kantor. Bara sendiri hanya bisa menatap punggung Maura dengan sedih, matanya berkaca-kaca. Dari kejauhan dari dalam mobil, Bryan melihat Bara disana.


Kenapa dia masih ada disana? Apa dia selalu memenuhi Maura dibelakangku? Sialan!


Lalu dia melihat ponsel Maura yang ada di tempat duduk sebelahnya. Dia yang sudah setengah jalan pergi dari sana, tiba-tiba kembali lagi saat melihat ponsel Maura ada disana untuk mengembalikan ponsel kekasihnya itu.


Ketika Bara akan pergi, dia melihat Bryan sudah berdiri dibelakangnya. Menatap dirinya dengan tajam tanpa ekspresi. "Sedang apa kamu disini?"


"Bukan urusan kamu." Bara menyeka air matanya, lalu melangkah pergi.


"Tentu saja ini urusan saya, kamu ada di kantor tempat calon istri saya bekerja dan juga apa yang kamu bicarakan dengan calon istri saya?" Bryan memegang tangan Bara dan dengan cepat Bara menepisnya.


"Calon istri? Apa anda serius? Maura bilang kalau kalian hanya pacaran saja."


"I-tu..."


"Rupanya Maura tidak menganggap anda sebagai calon suaminya, karena dia gak bilang begitu." Ucap Bara sambil tersenyum tipis. "Apa anda belum melamarnya? Atau dia sudah menolak lamaran anda?"


Wajah Bryan yang tadinya datar berubah menjadi kesal mendengar ucapan Bara. "Bukan urusan kamu--"


"Tentu saja ini urusan saya, kamu menjalin hubungan dengan wanita yang saya cintai."


Senyum getir terlihat di bibir Bryan mendengar pengakuan blak-blakan dari Bara yang mengakui bahwa dia masih mencintai Maura. "Gak tau malu ya kamu!" Dengus Bryan kesal.


"Kalau anda tidak mau saya merebut kembali Maura, anda harus segera melamarnya agar tidak akan ada celah untuk saya kembali bersamanya. Tolong....miliki Maura dan buat bahagia, agar saya tidak berharap lagi padanya."


Bryan tidak menyangka bahwa Bara akan mengatakan hal itu padanya. Entah tulus atau tidak ucapan Bryan padanya itu, tapi dia tidak menangkap kebohongan dalam wajah Bara yang terlihat olehnya. Dia hanya melihat wajah putus asa, sakit hati dalam tatapan Bara itu. Bryan juga melihat air mata yang menggenang dibawah mata Bara yang siap mengalir.


"Tolong... buat dia bahagia! Saya yakin kamu berbeda dengan saya yang hanya bisa menyakitinya." Bara menepuk bahu Bryan, lalu dia tersenyum pahit.


"Tentu...saya akan buat dia bahagia, saya akan membuat dia menjadi milik saya secepatnya. Saya tidak akan membiarkan adanya celah untuk kamu bersama Maura lagi." itulah jawaban yang Bryan berikan pada Bara.


"Bagus!"


Sebenarnya masih banyak yang ingin dikatakan Bara pada Bryan, tapi dia terlanjur sedih dan tak bisa menahan air matanya. Dia memilih pergi meninggalkan Bryan disana.


"Kenapa aku sedih melihatnya begitu? Harusnya aku senang kan?" Gumam Bryan bingung karena dia sedih melihat Bara sedih.


Setelah mengantar ponsel Maura, Bryan langsung pergi darisana. Dalam kepalanya terus terngiang-ngiang suara Bara dan raut wajahnya yang terluka.

__ADS_1


"Apa yang dikatakan si Bara itu benar! Aku harus cepat melamar Maura, tapi...dia ingin menyelesaikan masalahnya dulu. Aku harus bagaimana?"


...****...


__ADS_2