Terjebak Dendam Suamiku

Terjebak Dendam Suamiku
Bab 131. Wanita Psikopat


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Sepeninggal suaminya ke kantor, Maura menghabiskan waktu berdua bersama bi Sumi, orang yang dipercaya untuk menjaga Maura selama di apartemen. Bi Sumi terlihat sedang membersihkan pantry di dapur.


"Ada apa non? Apa non mau sesuatu?" tanya Bi Sumi pada Maura sambil tersenyum.


"Aku mau ambil buah-buahan bi,"


"Biar saya yang ambilkan non."


"Gak usah bi, biar aku aja...deket kok disini." Maura mengambil buah apel diatas keranjang buah yang dibelikan oleh Nick tadi pagi. Maura memakan buah itu dengan lahap.


Bi Sumi memandang Maura yang tengah asyik memakan buahnya. Maura benar-benar bosan karena dia harus berhenti bekerja, lalu berdiam diri di rumah. Tau begini dia tetap bekerja sama di perusahaan, jadi dia tidak bosan.


Kegiatan Maura hanya menonton drama, rebahan, menyetrika baju suaminya, mencuci dan memasak sudah dilakukan oleh Bi Sumi. Lalu apa kerjanya di rumah? Hingga tak terasa waktu pun sudah menjelang senja, bi Sumi masih stay disana bersamanya.


"Non, kalau non bosan kenapa non tidak tinggal di rumah saja dengan nyonya?"


"Iya harusnya aku disana saja, tapi gak tau kenapa aku lagi pengen disini." gumam Maura sambil cemberut.


"Biasa non bawaan bayi," kata Bi Sumi seraya tersenyum pada Maura.


"Gitu ya bi?"


"Segini sih gak rewel, dulu waktu nyonya hamil tuan muda Bryan...nyonya banyak maunya waktu ngidam. Tapi wajar sih, namanya juga ngidam kan non?"


Maura mengangguk. Dia pun memutuskan untuk membantu bi Sumi di dapur. Walau hanya memotong motong bahan makanan untuk makan malam saja, Maura memotong semuanya kecuali bawang yang bisa membuatnya mual-mual.


Ketika Bi Sumi sedang memasak di pantry dan Maura berada di kamarnya. Terdengar suara bel berbunyi, Maura segera pergi keluar kamar dan mendekati pintu masuk apartemen tersebut.


Dia membuka pintu dan terlihat Nick bersama seorang wanita berambut hitam disana. Wanita yang wajahnya terlihat asing. "Pak Nick ada apa?" tanya Maura seraya melihat wanita berambut pendek, berkacamata dan wajahnya tampak asing. Wanita itu membawa kotak makanan ditangannya.


"Maaf Bu, ada orang memaksa masuk ke dalam apartemen ibu...saya tidak kenal siapa, tapi dia tinggal di apartemen depan." jelas Nick dengan suara datar seperti biasanya.


"Oh begitu...tapi maaf, mbak siapa ya?" tanya Maura yang juga tak kenal dengan wanita didepannya ini.


"Mbak maafkan saya, saya baru pindah ke apartemen ini...saya mau memberikan sesuatu untuk tetangga saya, semuanya saya beri makanan ini." wanita itu terlihat lembut dan sopan di mata Maura.


"Oh gitu ya mbak, ya udah mbak silahkan masuk." Maura mempersilahkan wanita itu masuk ke dalam apartemennya, dia merasa tak ada yang mencurigakan.


Nick juga tidak terlalu waspada, mungkin wanita itu memang hanya sekedar berkunjung sebagai tetangga baru. Maura akan mengingatkan kepada Nick untuk bersikap sopan pada tamu.


"Apakah Bu Maura tidak terlalu waspada? Bisa saja kan orang itu orang jahat? Ya sudahlah, aku juga disini...aku mengawasi disini." gumam Nick sambil berdiri didepan apartemen itu. Sesekali dia pergi ke kamarnya yang tepat disamping apartemen bosnya, Bryan lah yang memberikan apartemen itu kepada Nick.


Maura dan wanita itu masuk ke dalam apartemen, Maura langsung pergi ke dapur untuk menyeduhkan sesuatu. Akhirnya Maura dan wanita itu berkenalan. "Nama saya Cindy,"


"Saya Maura, jadi mbak Cindy masih baru disini?" tanya Maura pada Cindy alias Stella.

__ADS_1


"Iya mbak, saya baru pindah ke apartemen di depan sana. Mohon bantuannya ya mbak," ucap Stella seraya tersenyum. Dia pun menyerahkan brownies kukus yang di kotak makanan itu pada Maura.


Beruntunglah kamu Maura, aku tidak akan membunuhmu dengan cara diracun. Tapi kematian yang harus kamu rasakan adalah kematian yang menyakitkan.


Stella dan Maura memakan brownies itu, mereka mengobrol dengan akrab dan tertawa-tawa. Bi Sumi melihat dari kejauhan, dia senang karena Maura punya teman mengobrol.


Hingga malam itu bi Sumi pamit pulang dari apartemen Maura karena dia harus kembali ke rumah Clara. "Non, apa gak apa-apa saya pergi sekarang?"


"Gak apa-apa bi, lagian bentar lagi Bryan pulang. Ada Cindy juga yang nemenin aku.'"


Cindy alias Stella tersenyum lebar melihat kearah bi Sumi. Akhirnya Bi Sumi pamit pulang, dia merasa baik-baik saja meninggalkan Maura bersama Nick dan Cindy disana.


"Suami mbak bentar lagi pulang?"


"Iya mbak Cindy, sebentar ya mbak...saya mau siapkan dulu sesuatu buat mbak di dapur."


"Baik mbak," Stella menganggukkan kepalanya, dia melihat Maura pergi ke dapur. Ditangannya sudah ada suntikan yang entah apa isinya, juga ada pisau dibalik bajunya.


Mana yang lebih dulu untukmu, Maura? Suntikan atau pisau?


Stella melangkahkan kakinya diam-diam ke dapur, menghampiri Maura yang sedang sibuk menyimpan makanan diatas kotak makan. Stella tampaknya tidak akan puas sebelum membunuh Maura dengan tangannya sendiri. Wanita Psikopat itu sudah berdiri tepat dibelakang Maura memegang pisau yang diarahkan padanya.


Senyumnya menyeringai, tatapannya begitu membunuh. Sementara Maura senyum-senyum begitu menyiapkan makanan itu.


Mati kamu Maura! Mati kamu wanita sialan!


*****


Sementara itu Bryan berada dalam perjalanan pulang, dia menyetir mobilnya sendiri. Didalam perjalanan Bryan menerimanya telepon dari salah satu petugas rumah sakit jiwa.


"Halo.."


[Selamat malam pak, apa benar saya berbicara dengan bapak Bryan Seager Xander?]


"Benar, ini saya."


[Pak saya ingin mengabarkan kalau pasien yang bernama Stella telah kabur dari rumah sakit jiwa]


"Hah? Kabur?! Bagaimana bisa? Kapan?" Bryan langsung memberhentikan mobilnya dan menepikan mobilnya di pinggir jalan, dia sangat kaget dengan berita yang diterimanya itu.


[Iya pak, dia berhasil mengelabui petugas di rumah sakit kami. Dan ada seseorang yang menyamar menjadi dirinya disini, saya pikir ada seseorang yang membantunya kabur]


"Saya...akan menuntut pihak rumah sakit jiwa, kalau terjadi sesuatu pada ISTRI SAYA!!" Bryan langsung menutup teleponnya dengan emosi.


Ia langsung menelepon Gilbert, ayah dari Stella. Telpon dari Bryan langsung diangkatnya. "Halo pak!"


[Bryan, maafkan saya... saya juga tidak tahu menahu tentang hal ini. Saya tidak pernah membantu putri saya untuk melarikan diri dari rumah sakit, sungguh saya bersumpah!]

__ADS_1


"Benarkah? Apa ucapan bapak bisa dipercaya? Pak Gilbert, sampai saat ini saya masih sangat menghormati bapak sebagai dosen saya. Tapi, jika benar bahwa bapak terlibat dalam kaburnya Stella! Saya tidak akan tinggal diam, rasa hormat saya kepada bapak akan hilang, rasa percaya saya akan hancur. Jika... terjadi sesuatu kepada istri saya karena anak bapak, sumpah demi Tuhan kali ini tidak akan ada maaf untuknya!" ucap pria itu dengan wajah merah karena emosi.


Dia mungkin akan benar-benar menggila bila sesuatu terjadi kepada istrinya yang sedang hamil itu, mungkin dia juga bisa membunuh wanita yang bernama Stella itu. Wanita Psikopat yang sangat terobsesi dengan dirinya. Selalu berusaha mengganggu untuk kehidupan pribadinya.


[Baik Bryan, saya serahkan Stella pada kamu...saya harap istri kamu baik-baik saja. Saya juga sedang menyuruh beberapa orang untuk mencari anak saya]


Telpon itu pun diputus begitu saja oleh Bryan, dia kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Di dalam perjalanan, Bryan berusaha untuk Nick namun Tak Ada jawaban juga dari pria itu. "Sialan! Kemana kau Nick! Kenapa kau tidak mengangkat teleponku?"


Dengan panik dan tergesa-gesa, akhirnya Bryan menelepon istrinya. Hanya ada nada tersambung dan tidak ada jawaban dari istrinya."SIAL!"


Bryan semakin melajukan mobilnya dengan kencang, tidak peduli dengan rambu-rambu lalu lintas. Beberapa menit kemudian, dia sampai di halaman lantai bawah apartemennya. Tanpa memarkirkan mobilnya, Bryan berlari masuk ke dalam kawasan apartemennya.


"Maura sayang, semoga kau baik-baik saja sayang..." bisik Bryan sembari berlari menuju ke lift.


****


Sementara itu Nick terbaring tak berdaya di apartemennya sendiri. Keadaan apartemen Nick di penuhi oleh api. Dan disisi lain Maura terlihat jatuh terduduk, dengan tangan yang berdarah-darah dan ada luka robek ditangannya. "Aahh.. sakit! Lepaskan aku! Kenapa kamu melakukan ini?"


"Hahaha...Maura, kau benar-benar wanita bodoh. Bisa-bisanya kau mempersilahkan orang asing masuk ke dalam apartemenmu." Wanita Psikopat itu akhirnya menunjukkan sifat aslinya, dia membuka penyamarannya.


Alangkah kagetnya Maura, begitu melihat sosok wanita yang tadinya polos kini berubah menjadi wanita dengan wajah menyeramkan.


"STELLA!" Maura memegang tangan kirinya yang ditusuk oleh belati Stella.


Ya Tuhan, aku benar-benar lengah...aku bodoh. Bagaimana aku bisa menyelamatkan diriku dari wanita psikopat ini.


Maura melawan Stella dengan peralatan seadanya di dapur, dia bangkit dan berusaha melangkah ke dekat pintu. Wajah Stella terluka karena spatula yang di pukul Maura padanya. "Sialan kamu!"


Stella mengejar Maura, dia menjambak rambut panjang Maura dengan kasar. "Ahhh!! Lepas!"


Wanita Psikopat itu membenturkan kepala Maura ke tembok dengan cukup keras.


BUK!


Maura terhuyung, jatuh terbaring di lantai dengan kepala terluka. Pandangannya mulai kabur.


"Hahaha...lihat Maura, kamu cantik sekali dengan noda merah di kening dan tanganmu itu..." Stella tertawa-tawa melihat Maura berdarah-darah.


"Kamu udah gila Stella, kamu...Bryan tidak akan melepaskan kamu." ucap Maura lemas sambil memegang perutnya yang terasa sakit.


Nak, little Bean mama, mama mohon sayang.... bertahanlah kita harus keluar dari sini.


"Tidak apa-apa, yang penting aku bisa membunuh kamu...kalau dulu aku hanya mengerjai wanita-wanita yang mendekati kak Bryan, tapi untukmu lebih baik dibunuh saja." Stella tersenyum menyeringai. Kemudian kakinya terangkat entah mau apa. "Aku dengar kamu hamil ya? Gimana kalau aku memusnahkan bayi yang belum lahir ini."


Wajah Maura semakin pucat, manakala ia mendengar ancaman Stella. Sorot mata membunuh itu semakin menyala.


*****

__ADS_1


__ADS_2