
Alya menemui putranya di penjara, dia sudah bicara pada polisi untuk segera melepaskan Bara dengan jaminan. Tapi, polisi tidak mengizinkannya karena ini adalah kasus menyangkut KDRT dan sudah ada buktinya.
Bara tidak akan bebas dengan mudah, sampai Maura sendiri yang mencabut tuntutannya. Alya resah dan sedih karena anaknya berada di dalam penjara.
"Bara, kamu gak apa-apa nak? Kamu baik-baik saja kan?" Tanya Alya sambil menatap Bara yang sekarang sudah memakai baju tahanan.
"Bara gak apa-apa Bu, kenapa ibu kesini?" tanya Bara pada ibunya.
"Nak, ibu sudah bicara pada pihak kepolisian untuk membebaskan kamu. Tapi, mereka bilang kalau kamu tidak bisa bebas dengan jaminan dan kamu akan tetap berada disini sampai kasusnya dibawa ke pengadilan! Bara...ibu gak mau kamu mendekam di penjara, bagaimana ini Bara?" Alya menangis sambil memegang tangan putranya.
Bara tidak fokus saat ibunya bicara padanya, dia terlihat sedang melamun, entah memikirkan apa. "Bara! Kamu dengar ibu tidak sih?"
"Ibu, apa ibu sudah pergi ke rumah sakit?" Bara menatap ibunya, dia dengan tatapan lembutnya menatap Alya.
Alya mendongak terkejut, dari tadi anaknya melamun selagi dia bicara dan Bara mengkhawatirkan keadaan Maura. "Kenapa kamu bertanya tentang rumah sakit? Jangan bilang kamu cemas pada istrimu?" tanya Alya pada putranya.
Apa Bara sebenarnya mencintai Maura?. Pikir Alya dalam hatinya.
"Aku..." Bara tidak mampu menjawab Alya.
Apa aku cemas pada Maura? Aku sendiri juga tidak tahu perasaan macam apa ini. Semalaman aku tidak tertidur karena aku memikirkannya.
"Ibu sudah ke rumah sakit, ibu bermaksud untuk memintanya agar membebaskan kamu dari penjara. Tapi..."
Apa aku harus mengatakan tentang keadaan Maura padanya?
Bara menelan ludah, menatap ibunya yang tidak menyelesaikan ucapannya. "Tapi apa Bu? Dia baik-baik saja, kan?" Tanya Bara pada ibunya.
Alya pun meneruskan ucapannya. "Tapi dia tidak bisa ditemui saat itu."
"Maksud ibu gimana? Tidak bisa ditemui bagaimana?" tanya Bara pada ibunya semakin penasaran dengan keadaan Maura.
"Dia... dia..." Alya ragu-ragu untuk mengatakannya pada Bara.
__ADS_1
"Ibu, cepat katakan! Dia kenapa?!" Teriak Bara penasaran dengan keadaan istrinya itu.
"Dia mencoba bunuh diri," jawab Alya sambil menunjukkan kepalanya.
Pria itu tercengang mendengar jawaban ibunya, apa yang dilakukannya pada Maura telah membekas memberikan luka mendalam pada wanita itu. "A-apa itu tidak bohong? Apa benar Maura mencoba bunuh diri?!"
"Ibu tidak bohong nak. Ibu bahkan sampai bertanya-tanya apa yang kamu lakukan padanya sampai dia seperti itu? Keadaannya hampir sama dengan almh Alina, tapi ibu lihat keadaannya lebih buruk." Alya menjelaskan apa yang dilihat olehnya tentang Maura di rumah sakit.
Bara mengepalkan tangannya, dia menundukkan kepala. Matanya berkaca-kaca, air mata menggenang dibawah mata Bara dan bersiap untuk keluar. "Bara...apa kita tidak kelewatan padanya? Setelah ibu pikir-pikir, kita harus meminta maaf pada Maura dan keluarganya sebelum semuanya terlambat. Bara, semua ini bisa diperbaiki! Asalkan kamu mau meminta maaf dan memohon padanya, ibu yakin kalau dia pasti akan memaafkanmu! Masih ada kesempatan Bara," Alya menyarankan anaknya untuk meminta maaf pada Maura dan keluarganya.
Aku tidak mau hidup anakku hancur karena dendam ini, sudah seharusnya dendam ini diakhiri. Pria itu benar, seharusnya kamu menghukum Samuel bukan Maura ataupun keluarganya yang lain. Ini salah dan aku malah mendukung anakku balas dendam karena aku sayang pada Alina seperti anakku sendiri.
Alya menyesali perbuatannya yang sudah mendukung Bara untuk mengambil jalan balas dendam pada Samuel dan keluarganya. Dia meminta putranya untuk meminta maaf pada Maura sebelum semuanya terlambat.
"Bara, kamu dengar ibu kan?" Alya melihat putranya melamun, dengan berlinang air mata.
"Aku memperkosanya, aku memukulinya, aku juga menyakiti hatinya dengan menuduh dia tidur bersama pria lain, tidak cukup dengan semua itu aku merebut harta keluarganya, membuat kakaknya masuk penjara, membuat ayahnya masuk rumah sakit....apa setelah semua yang aku lakukan, dia akan memaafkanku?" Bara tidak percaya diri bahwa Maura akan memaafkan kesalahannya.
"Ibu yakin, Maura itu gadis yang baik...dia pasti akan memaafkan kamu. Kamu juga masih berstatus suaminya, kalian pasti masih bisa berdamai!" kata Alya berusaha meyakinkan anaknya bahwa hati Maura akan luluh oleh Bara.
"Kalau kamu menyesal, maka kamu harus meminta maaf padanya. Hanya itu juga jalan satu-satunya supaya kamu bisa selamat dari hukuman, ibu tidak mau hidup putra ibu hancur berakhir di penjara!" Kata Alya pada anaknya.
"Aku pasti akan meminta maaf, akan aku lakukan apapun agar aku bisa meminta maaf padanya Bu." Bara bersungguh-sungguh ingin meminta maaf pada Maura. Satu malam dipenjara telah membuatnya berubah, itu semua tidak secara tiba-tiba tapi karena dia bermimpi melihat Alina.
Didalam mimpinya, Alina menangis kecewa karena Bara telah menyakiti kaum wanita. Dia meminta agar Bara berhenti balas dendam karena dia tidak suka Bara balas dendam dengan menyakiti wanita lain sebagai gantinya.
Alina bahkan mengatakan pada Bara. "Apa bedanya kamu dengan Samuel, Bara? Kenapa kamu sampai melakukan hal seperti itu pada wanita yang sangat mencintaimu? Bara SADARLAH...sebelum kamu terlambat dan kehilangan cinta dalam hidupmu. Aku sudah bahagia disini, Bara...jadi kamu juga harus bahagia!"
Kata-kata itu terus terngiang di pikiran Bara, mengingatkannya akan kenangan tentang Maura. Bagaimana gadis itu mencintainya dengan tulus selama 4 tahun kebohongannya? Apakah akan mudah untuk Maura untuk memaafkannya? Apa belum terlambat untuk SEMUANYA?
Alya memegang tangan Bara, "Ibu akan pergi ke rumah sakit untuk meminta maaf padanya lebih dulu dan melihat keadaannya...kamu tenang saja, kamu pasti akan keluar dari sini!" Kata Alya pada Bara.
*****
__ADS_1
Di rumah sakit, siang itu Maura terbangun dari tidurnya. Hanna berada disampingnya, dia langsung melihat ke arah Maura begitu dia menyadari bahwa tangan Maura bergerak-gerak. "Hanna..."
"Maura, kamu sudah sadar?" Hanna bertanya pada wanita itu.
Ya Allah, apa dia akan seperti tadi pagi? Aku harus siap-siap panggil dua orang pria didepan itu kalau-kalau Maura seperti tadi.
"Hanna, dimana pak Bryan?" Maura langsung menanyakan Bryan.
"Pak Bryan? Dia pasti di kantornya kalau jam segini, ada apa? Kenapa kamu menanyakan dia?" Hanna heran karena saat temannya bangun, dia malah menanyakan Bryan.
Kenapa Maura menanyakan bule itu? Tapi syukurlah...dia tidak mengamuk seperti tadi
"Aku...ingin bicara dengannya sekarang..." ucap Maura dengan nafas yang terengah-engah karena tubuhnya masih lemah.
"Baiklah, aku akan menelponnya."
Lebih baik aku turuti saja apa kata Maura, daripada dia nanti berbuat yang tidak-tidak.
"Tapi Maura, aku gak punya nomor telponnya?" Hanna bingung karena dia tak punya nomor telepon Bryan.
Maura menunjuk ke arah tasnya yang ada diatas meja. Hanna pun mengambil ponsel Maura, dia menelpon Bryan langsung dari sana.
"Belum diangkat juga, apa dia lagi kerja ya?" gumam Hanna bingung.
Maura terdiam dan melamun, dia mengepalkan tangannya dengan gemas teringat kejadian semalam.
Tidak Bara! Semuanya sudah berakhir diantara kita.
Ketika Hanna masih berusaha menelpon Bryan lewat ponsel Maura, tiba-tiba saja seseorang berdiri didepan pintu ruangan itu. Maura menatap tajam ke arah orang itu.
"Maura..."
"Ngapain ibu kesini?" tanya Maura sinis pada wanita yang dia sebut sebagai ibu.
__ADS_1
...*****...