
...🍁🍁🍁...
Maura melihat Evan berdiri didepan kontrakan Hanna bersama Hanna juga disana. "Kenapa kamu baru pulang? Apa kamu baik-baik saja?" tanya Evan sambil menghampiri adik sepupunya itu.
"Aku habis dari rumah sakit menjenguk ayah." ucap Maura sambil tersenyum pahit.
"Bohong, aku lama berada disana dan kamu gak ada. Ini aku baru saja pulang menjenguk om Samuel." jelas Hanna yang menepis ucapan bohong Maura.
Maura tercekat mendengarnya. Dia tidak bisa berbohong lagi untuk menutupi kembalinya dia kerumah Bara.
"Maura, apa kamu kembali ke rumah Bara?" tanya Evan cemas.
"Iya."
"Kenapa kamu kembali? Bukankah urusanmu disana sudah selesai pada sore hari?" Tanya Evan sambil memegang tangan Maura, dia menatap adik sepupunya dengan cemas.
"Kak...tadi aku ketinggalan sesuatu dan aku mengambilnya kembali." jelas Maura berbohong lagi.
"Maura... sebenarnya-" Evan menghentikan ucapannya saat dia melihat memar dipergelangan tangan adik sepupunya itu.
Menyadari tatapan Evan pada tangannya, Maura segera menarik tangannya dari Evan,lalu menyembunyikannya. "Maura!"
"Aku lelah, aku ingin istirahat kak."
"Tanganmu kenapa? Apa Bara menyiksamu lagi?" Evan memegang lengan Maura, meminta Maura untuk bicara padanya.
Maura melepaskan tangan Evan, dia berjalan masuk ke dalam rumah. Namun, langkahnya terhenti saat Evan mengatakan jika Maura tidak mengatakan kenapa tangannya terluka, dia akan pergi memukuli lagi Bara sampai mati.
"Kalau kamu tidak bicara kenapa tanganmu terluka, aku akan pergi ke rumah si brengsek itu dan memukulinya sampai mati!" Seru Evan mengancam.
"Tidak kakak! Jangan lakukan itu!" Teriak Maura takut.
__ADS_1
Evan mendekati Maura dan bicara keras padanya. "Kenapa masih ada sisa rasa dihati kamu untuk pria jahat seperti dia? Kamu tidak mau dia terluka! Kamu masih cinta pada binatang itu?! Katanya kamu mau balas dendam, lupakan perasaan mu itu Maura...kamu harus ingat karena dia om Samuel masuk rumah sakit dan koma, karena dia kita hidup susah! Kamu jangan lupa itu!"
"Kak Evan, udah cukup!" Seru Hanna pada Evan yang terus menekan Maura melupakan Bara.
"Tidak Hanna! Aku harus bicara, aku harus mengingatkan dia bahwa dia tidak boleh terjebak dalam cinta, atau dia akan terjebak dalam dendam." ucap Evan sambil menatap Maura. "Maura dengarkan aku, semua akan berjalan lancar kalau setengah hatimu sudah melupakan dia! Kalau bisa sepenuh hatimu, kamu harus melupakannya, membunuh semua perasaan cinta itu."
Cinta? Apa aku masih mencintai Bara? Apa karena itu, aku tidak ingin dia terluka. Kak Evan benar, perasaan cintaku ini harus mati untuknya...tapi kenangan tentangnya masih teringat jelas dalam benakku. Hatiku tidak semudah itu melupakannya, tapi aku harus!
"Kakak benar, aku akan mencoba melupakannya...namun aku masih belum bisa lepas darinya. Aku masih ada kontrak dengannya." jelas Maura jujur.
"Maura, berapa hutangmu padanya? Kita lunasi semua hutangmu dan kamu akan bebas darinya."
Kebetulan pak Bryan juga ingin membantu meminjamkan uang, maka aku akan dengan senang hati menerimanya asal Maura tidak menderita lagi.
"Sebenarnya ini bukan soal uang, kak. Tapi, aku memikirkan sesuatu yang menarik." ucap Maura sambil tersenyum menyeringai.
"Sesuatu yang menarik apa itu Maura?" tanya Hanna penasaran.
Ya Allah, tolong buat agar hatiku bisa melupakannya.
Tanpa mereka sadari Bryan melihat mereka bertiga dari mobilnya dari kejauhan. Dia merasa bersalah karena sudah mengatakan hal yang menyakiti hati Maura.
****
Keesokan harinya, Maura pergi ke rumah Bara pagi-pagi sekali seperti biasanya untuk beres-beres rumah sebelum dia berangkat bekerja. Pagi itu dia melihat wanita lain yang keluar dari kamar Bara dengan pakaian tipis.
Namun anehnya dia tak melihat Bara dikamar itu. Biasanya Bara akan disana bersama Vera atau wanita yang selalu dia bawa hampir setiap malam ke rumah.
"Heh! Aku haus, minta jus jeruk dong!" kata wanita seksi itu pada Maura.
"Maaf, saya bukan pembantu kamu jadi kamu tidak bisa menyuruh-nyuruh saya." ucap Maura menolak dengan tegas.
__ADS_1
"Cepat ambilkan aku jus jeruk!" wanita itu mencengkram tangan Maura. Maura melawannya dan mendorong tubuh wanita itu hingga jatuh ke lantai.
Tak mau membuat masalah, Maura memilih pergi. Namun langkahnya terhenti saat melihat Bara keluar dari ruang kerjanya. Tepat saat itu, si wanita seksi menjambak rambut Maura.
Ini saatnya aku mengetes kamu Bara.
"Akhhhh!! Sakit! Tolong lepaskan!" Maura berteriak agar Bara mendengarnya. Maura pun terjatuh ke lantai.
BRUGH!
"Apa-apaan ini?!" Bara bertanya apa yang terjadi, dia melihat Maura terjatuh ke lantai dengan rambut acak-acakan.
"Bara...hiks..." Maura menangis, dia menatap Bara.
Aku akan melihat apa kamu peduli padaku atau tidak, Bara.
"A-aku gak ngapa-ngapain dia.. sumpah, sayang." kata wanita itu membela diri.
Sial! Aku gak mendorong dia, dia jatuh sendiri. Apa dia pura-pura?
Bara menatap tajam ke arah wanita seksi depannya itu. Dia membawa si wanita bukan untuk menyiksa tubuh Maura, tapi hati dan batinnya saja.
Bara membantu Maura berdiri, dia menatap wanita itu dengan rasa sedikit empati. "Auw...sakit..." rintih Maura sambil memegang kaki kanannya, satu tangannya memegang tangan Bara.
"Apa kamu bisa berjalan?" tanya Bara sambil memegang tangan Maura, namun Maura menepisnya.
"Aku bisa sendiri." Ucap Maura sambil berusaha berjalan sendiri. Namun dia terjatuh beberapa saat kemudian. "Ughh.. "
Eh, kenapa aku tidak jatuh?. Maura heran kenapa dia tidak jatuh ke lantai. Ternyata sepasang tangan kekar menahan tubuhnya.
Bara, ternyata kamu punya hati. Maka akan aku gunakan hati itu untuk menghancurkan kamu, sama seperti kamu menghancurkanku.
__ADS_1
...*****...