
...🍁🍁🍁...
Ruang UGD!
Adalah tempat Samuel berada saat ini. Maura dan suaminya menunggu Samuel di luar sana. Maura tidak mau diam, dia terus mondar-mandir resah gelisah menunggu ayahnya, dia takut terjadi sesuatu pada ayahnya.
Sekejam dan seburuk apapun pria itu, tetaplah ayahnya. Orang yang memiliki ikatan darah dengannya. Disaat Maura dan Bryan berada di sana, Evan pergi mengurus si pelaku yang kini berada di kantor polisi. Arya mengakui semua kejahatannya dan tanpa rasa bersalah, dia mengatakan bahwa dia ingin Samuel mendekam di penjara juga. Arya menunjukkan bukti pelecehan Samuel terhadap wanita pada polisi, ternyata korbannya bukan hanya satu atau dua orang. Evan tidak menyangka bahwa Samuel sangat buas pada wanita.
Bryan dan Maura sudah menunggu selama beberapa menit di luar sana. "Sayang...kamu tenanglah dulu ya? Ayah pasti baik-baik saja." Bryan beringsut menghampiri istrinya, lalu memeluknya. Maura masih gelisah menunggu dokter.
"By, gimana kalau terjadi sesuatu pada ayah? Gimana..."
"Gak sayang, gak akan terjadi apa-apa. Kamu tenang ya, dokter pasti akan menanganinya dengan baik."
"By... seburuk apapun ayah, dia tetap ayah kandungku. Aku memang tidak suka semua perbuatannya pada wanita-wanita itu dan mengutuknya, tapi aku tidak tega melihat ayah kenapa-napa." wanita itu menggelengkan kepalanya.
"Ya sayang, aku paham...hubungan darah memang kental. Kamu memiliki perasaan seperti itu karena kalian memiliki ikatan darah." tutur pria itu seraya menenangkannya.
Sama seperti aku dan Bara, walau aku tak suka padanya...dia tetaplah saudara kandungku dan itu tak bisa dipungkiri.
"Sayang, aku minta maaf ya...jika bukan karena aku memperkerjakan Arya, hal ini tidak akan terjadi." lanjutnya merasa bersalah.
"Gak By, ini bukan salah kamu. Kamu kan gak tau kalau pak Arya itu penipu," balas Maura yang sama sekali tidak menyalahkan suaminya.
Begitu pintu ruang UGD itu terbuka, terlihat seorang dokter keluar dari ruang tersebut. Bryan dan Maura segera menghampirinya. Maura bertanya keadaan ayahnya pada dokter itu. "Dok, bagaimana keadaan ayah saya?"
"Ibu tenang saja, pak Samuel baik-baik saja...dia hanya mengalami serangan panik dan syok karena kejadian yang menimpanya. Namun ada beberapa luka ditubuhnya, tapi ibu tenang saja...lukanya sudah di obati." tutur sang dokter menjelaskan.
"Alhamdulillah..." Maura dan Bryan lega mendengarnya.
"Dok, apa boleh kami masuk?" ucap Bryan bertanya seraya melihat ke arah ruang UGD.
"Silahkan! Pak Samuel juga menanyakan kalian, anak dan menantunya." Dokter itu mempersilakan Maura dan Bryan untuk masuk.
"Makasih ya dok." balas Maura yang berlalu masuk ke dalam ruang UGD.
Terlihat sosok Samuel yang sudah siuman, namun terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Bibirnya masih bengkok seperti biasa, karena stroke ringan yang dideritanya itu.
Maura dan Bryan mendekatinya, Samuel menatap keduanya dengan bulir air mata jatuh membasahi pipi. "Ayah..." wanita itu memeluk sang ayah, dengan cemas. "Ayah gak apa-apa? Alhamdulillah ayah masih selamat..."
Samuel mengangguk pelan, masih dengan air mata menetes di pipinya. Dia mengecup kening Maura dengan lembut. "Ayah..." ditatapnya sang ayah dengan sedih.
"Mwaafkan aywahh...selama ini ayah membuat kamu susah. Ayah...jahat sama kamu..."
"A-apa yang ayah katakan? Ayah jahat sama aku?"
"Ayah...sudah berdoswwa karena ayah sudah membuat kamu menderita, ayah minta maaf Maura." lirih pria itu sambil menangis, dia mengelus kepala Maura dengan tangannya yang masih kaku itu.
Wanita itu dan suaminya dapat merasakan ketulusan Samuel di dalam kata-katanya, mungkinkah ayahnya itu sudah ingin bertobat dan menyesali semua kesalahannya selama ini. "Ayah, ayah jangan minta maaf padaku!" digenggamnya tangan kaku itu oleh Maura.
"Karena ayah, kamu terjebak dendam yang seharusnya tidak pernah kamu dapatkan. Ayah menyesal, Maura...ayah ingin memperbaiki semua kesalahan ayah, jika ayah bisa." Samuel semakin terisak, manakala dia teringat semua dosa-dosanya di masa lalu. Berapa banyak wanita yang dia gagahi, yang dia buat hancur masa depannya. Seandainya waktu bisa diputar kembali, Samuel tidak ingin melakukan semua hal kotor itu. Namun air sudah terlanjur tumpah, nasi sudah menjadi bubur, semuanya sudah terjadi.
__ADS_1
Akibat dari semua kesalahan dan dosanya, adalah Maura. Maura terkena imbas dari semua perlakuan Samuel, dia yang paling dirugikan dan menderita karena kelakuan bejat ayahnya. Wanita itu harus menikah dengan pria yang memiliki dendam padanya, pria itu menyiksa jiwa dan raganya. Meski para akhirnya dia hidup bahagia dengan cinta yang baru. Namun, semua luka dan kenangan buruk itu akan selalu teringat olehnya. Samuel merasa amat bersalah.
"Ayah...." lirih Maura sambil menatap ayahnya
Ya Allah, benarkah ayah tulus mengatakan semua ini? Apa ayah benar-benar menyesali semua perbuatannya?
"Menantuku, kemarilah!" ujar Samuel, seraya melambaikan tangannya kepada Bryan.
Bryan mendekat kepada Samuel dan Maura, "Ya, ayah?" sahut Bryan.
"Menantuku, apakah kamu bisa... bawa Nathan dan Jessica kemari?" pinta Samuel pada Bryan yang sontak saja membuat pasangan suami istri itu tercengang. Ya, memang hanya Bryan saja yang tahu di mana keberadaan Jessica dan Nathan. Bryan sengaja menjauhkan dua orang itu karena takut mereka akan mengganggu kehidupan Samuel dan Maura. Bryan menjamin semua kebutuhan mereka berdua, juga memberikan Nathan perusahaan yang dia inginkan.
"Ayah... kenapa tiba-tiba ayah menanyakan mereka?" tanya Maura heran.
"Ayah mau meminta maaf kepada mereka berdua, ayah ingin perbaiki hubungan sebagai ayah dan anak, dengan Jessica dan Nathan." jelasnya dengan senyuman getir tersirat di bibirnya.
"By, katakan padaku! Dimana kak Nathan dan kak Jessica?" tanya Maura pada suaminya.
"Mereka baik-baik saja dan berada di tempat yang aman. Ayah tenang saja." ucap Bryan menjawab sambil menatap Maura dan Samuel.
"Syukurlah...ayah mohon bawa mereka berdua kemari, ayah ingin bertemu." Pinta Samuel pada Maura dan Bryan.
Aku harus menebus semua dosaku, sebelum ajak menjemputku.
Maura dan Bryan saling melirik satu sama lain. Kemudian Maura mengatakan bahwa dia akan menemui Nathan dan Jessica. Dia juga harus bicara dengan kedua kakaknya itu, kakak beda ibu.
Setelah memastikan Samuel berada dalam keadaan baik-baik saja, dipindahkan ke ruang rawat dan beberapa orang suruhan Bryan menjaganya. Maura dan Bryan meninggalkan Samuel dengan tenang. "By, berikan aku alamat kak Nathan dan alamat perusahaannya juga."
"Gak bisa, kamu kan ada rapat penting. Udah 3 hari kamu gak masuk kerja. Kasihan pak Ferry, dia pasti sibuk banget ngurus perusahaan tanpa ada kamu." ucap Maura sambil merapikan dasi suaminya yang sedikit bengkok.
"Biarin aja, aku kan bos nya. Aku bisa ambil li--aduh duh...little girl, sakit!" Bryan meringis kesakitan, karena Maura mencubit pipinya dan menguyel pipi itu.
"By, gak boleh gitu! Kamu ini seorang bos, kamu harus mencontohkan yang baik buat bawahan kamu. Hanya karena kamu bos, bukan berarti kamu bisa sembarangan! Pergilah dan lakukan tugasmu, By." tegasnya pada Bryan.
Aku tidak bisa merepotkan Bryan terus karma masalah keluargaku. Aku ingin menyelesaikan masalahku sendiri.
"Hem, baiklah...tapi kamu gimana? Masa kamu mau pergi ke tempat Nathan sendirian?" Tanya Bryan cemas.
"Aku gak apa-apa kok, kamu gak usah khawatir By." balas Maura sambil tersenyum.
"Oke kalau itu mau kamu. Tapi, salah satu orangku harus ikut dan dia akan menjaga kamu."
"Eh? Gak usah sayang." tolaknya halus.
"Jangan ada penolakan sayang, aku gak mau terjadi sesuatu sama kamu." Bryan tersenyum, kemudian dia memanggil salah satu bodyguard yang berjaga di depan ruang rawat Samuel.
Tubuh pria itu tampak atletis, dengan baju berwarna hitam-hitam, wajahnya datar. Ada sedikit kumis tipis di bawah hidungnya. "Bapak memanggil saya?"
"Iya. Nick, tolong kamu jaga istriku baik-baik.... mulai saat ini tugasmu adalah menjaga istriku di saat aku tidak ada bersamanya. Paham?"
Dalam sekali penjelasan, pria yang bernama Nick itu langsung paham dengan yang diperintahkan oleh bosnya. "Baik pak," jawabnya seraya mengangguk patuh.
__ADS_1
"Sayang, beneran deh--aku nggak usah pakai bodyguard-bodyguard segala!" tolak wanita itu halus.
"Nggak bisa sayangku, kalau kamu mau pergi...kamu harus berada dalam pengawasanku. Nurut aja ya? Atau aku gak akan izinin kamu."
"Haahh....ya udah deh," Maura mendesah pasrah dengan permintaan suaminya yang kekeh ingin menempatkan bodyguard di sisinya.
"Don't be angry, ini demi kebaikan kamu juga my little girl."
"Iya, aku gak marah kok." matanya menatap pria itu penuh cinta.
Bryan menggenggam tangan Maura."Ya udah, kita pergi ke depan yuk, sekalian aku berangkat kerja."
Pasangan suami-istri itu pergi ke depan rumah sakit, mereka memakai mobil yang berbeda. Maura pergi ke rumah Nathan dan tempat Jessica bersama dengan Nick, sementara Bryan pergi ke kantor bersama Ferry.
*****
Setelah 1 jam menempuh perjalanan, Maura sampai di sebuah ruang sederhana yang letaknya jauh dari keramaian. Ternyata, Nathan tinggal di kota Bogor bersama Jessica.
"Pak Nick, apa ini rumahnya?" tanya Maura pada Nick yang sepertinya sudah hafal jalan ke sana.
"Benar nyonya,"
"Apa pak Nick sudah pernah kesini sebelumnya?" Tanya Maura lagi penasaran.
"Iya nyonya, saya yang menggantikan kepindahan pak Nathan dan Bu Jessica."
Maura terdiam, 'Pantas saja kalau pak Nick tau banget tempat ini'
Tanpa banyak bicara, Maura melangkah masuk ke dalam rumah sederhana itu. Namun dia meminta Nick untuk menunggu diluar saja. "Maaf nyonya, saya harus berada di sisi nyonya seperti apa yang diperintahkan oleh pak Bryan."
Nick yang profesional, tidak akan membiarkan tugasnya memilih celah kesalahan. Selama ini dia selalu bekerja dengan baik dan akan selalu begitu.
"Walaupun aku pergi ke kamar mandi, apa bapak mau ikut?" Tanya Maura sambil tersenyum tipis.
Nick langsung menundukkan kepalanya. "Ehm...itu--"
"Tunggu saja di luar ya pak, saya gak akan kenapa-kenapa kok. Bukankah bapak juga diminta untuk menuruti permintaan saya?" bujuk Maura pada Nick.
"Baiklah nyonya, tapi saya tidak akan jauh-jauh dari nyonya." jawab Nick dengan helaan nafas berat.
"Makasih ya, pak Nick."
Maura berjalan ke rumah itu yang kebetulan pintunya terbuka lebar. Miris harinya saat melihat seorang wanita cantik dengan penampilan lusuh, sedang menggendong Boneka bayi. Di sana ada seseorang yang berusaha menyuapinya juga.
Bu Jessica masih belum sembuh?. Maura sedih melihat Jessica.
"Bayi...ini bayiku...ini bayiku...hehe.."
"Assalamualaikum!" Maura mengucap salam.
"Waalaikumsalam," sambut wanita yang sedang menyuapi Jessica itu, seorang wanita berusia sekitar 30 tahunan. Dia memakai baju perawat.
__ADS_1
...*****...