Terjebak Dendam Suamiku

Terjebak Dendam Suamiku
Bab 79. Jangan marah


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Sesampainya di kamar Maura, gadis itu langsung duduk diatas ranjang dengan wajah lelah. "Bry, aku tidak tau harus bagaimana untuk menghadapi ayah."


"Aku tau pasti masih sulit buat kamu, tapi kamu udah melakukan hal yang benar untuk tidak bicara lebih dulu. Ayahmu masih belum pulih, biarkan dia pulih dulu...lalu bicara nanti." Kata pria itu lembut.


"Iya." Maura mengangguk, dia tersenyum seraya menatap pria yang selalu bisa menenangkan hatinya itu. "Makasih ya Bry."


"For what?" Mata Bryan memicing melihat Maura, dia masih berdiri didepannya.


"Karena kamu selalu ada disisiku, diantara semua pria yang dekat denganku, hanya kamu dan kak Evan yang paling baik." Maura memegang tangan Bryan, ia menarik Bryan hingga pria itu duduk disampingnya.


Evan baik? Entahlah...jika kamu tau semuanya, apa masih akan menganggapnya sebagai kakak yang baik?


Maura bersandar di bahu Bryan. "Seharusnya aku gak boleh kayak gini, kamu harus segara pergi ke kantor... tapi aku pengen kayak gini sebentar? Boleh kan?"


"Buat kamu, apa sih yang enggak?" Bryan memeluk Maura seraya menenangkannya. Dengan senang hati dia memberikan bahu untuk Maura bersandar, bahkan jika gadis itu meminta seluruh dunia. Pastilah dia akan memberikannya.


Tangan Maura bergerak memeluk Bryan, rasanya hangat berada di pelukan pria yang usianya jauh lebih tua darinya itu. "Maura...jangan peluk lag--ih." Lenguh Bryan.


Hanya dipeluk saja, kok sudah panas begini. Tubuhku benar-benar mesum.


"Kenapa? Kamu gak mau aku peluk?" Maura mendongak ke arah Bryan, tangannya masih melingkar di tubuh Bryan.


"Ti-tidak bukan begitu, kalau kamu peluk lagi...aku jadi semakin ingin mencium kamu." Tuturnya jujur.


"Kalau gitu cium saja."


"Hah?"


"Hehe, aku bercanda..." Maura terkekeh setelah berhasil membuat wajah Bryan merona karenanya.


"Kamu bisa bercanda juga ya? Dasar little girl nakal!" Kini Bryan benar-benar dalam posisi seperti akan mencium Maura, gadis itu juga tak menghindar. Namun saat bibir itu akan bersentuhan. Terdengar suara gaduh tidak jelas dari luar kamar.


"Bry! Tunggu!" Maura menutup bibir Bryan dengan satu jarinya. "Itu kayak suara ayah?"


"Kenapa ayah kamu berteriak seperti itu ya?"


"Bry, aku ganti baju dulu bentar. Kamu bisa keluar dulu dan pergi ke kamar ayah?" Pintanya pada Bryan.


"Kalau aku mau disini aja, gimana?" Goda Bryan pada Maura.


"Bry---aku mau ganti ba--hmmhh.."


Bibir Bryan membungkam bibir Maura dengan kecupan dalam tempo yang cepat. "Oke sayang, aku akan keluar dan pergi ke kamar ayah mertuaku." Ucap Bryan yang lalu melangkah pergi dari sana.


Aku ingin segera menikahimu Maura, tapi aku tau kamu butuh waktu.


Tindakan Bryan membuat Maura tersipu, setelah perginya Bryan dari kamarnya. Maura senyum-senyum sendiri, padahal dia selalu banyak menangis. Tapi karena Bryan, dunianya yang gelap menjadi cerah. "Makasih Bryan, kamu adalah seseorang yang bisa membuatku bernafas di dunia ini." Gumam Maura sambil mengusap dadanya dan dia tersenyum.


*****


Selagi Maura sedang berganti baju, Bryan pergi ke kamar tempat kegaduhan itu terdengar. Ia melihat di dalam kamar itu ada Evan juga. Terdengar suara Samuel yang marah-marah pada Evan. "Dasar anak kurang ajar! Kenapa kamu tega sekali mendoakan pamanmu lumpuh dan mati? Sudah gila ya, kamu Evan?!"


Sementara disana suster Anna hanya sebagai penonton saja. dia hanya orang luar, mana bisa dia ikut bicara apalagi melerai perdebatan antara keponakan dan pama itu. Suster Anna melhat Bryan yang masih berdiri di ambang pintu, keningnya berkerut dan matanya memicing seolah dia sedang memperhatikan apa yang terjadi disana.


"Om, coba om coba jalan deh! Om masih bisa jalan apa enggak? Ya, syukur syukur...om lumpuh sih, maksimal seumur HiDUP. Oh--atau gimana kalau junior om aja yang lumpuh?" Evan bicara dengan sarkas dan berani menunjukkan ketidaksenangannya melihat Samuel siuman.


"Evan, kau ini kenapa--ugghh--" Samuel memegang dadanya, pria paruh baya itu merintih kesakitan.

__ADS_1


Evan malah tersenyum sinis melihat omnya kesakitan seperti itu. Namun Anna lain, sebagai seorang suster sudah tugasnya untuk memeriksa kondisi pasien yang ada didepannya. Apalagi dia sudah dapat tugas dari Bryan. "Pak, apa bapak baik-baik saja?" tanya Anna pada Samuel.


"Dada saya sakit sus, sakit sekali...ugh..." Samuel memegang tangan suster Anna, dia mengarahkan tangan lembut gadis yang masih lajang itu pada dadanya.


Anna menghindar dan dia melepaskan tangannya dari pegangan Samuel. "Saya akan memeriksa bapak, bapak diam saja ya." Kata Anna tegas.


"Pak Evan, tenanglah! Pak Samuel baru saja siuman, kita bisa bicara padanya nanti." Bisik Bryan seraya menepuk pundak Evan. Emosi Evan pun langsung mereda karena Bryan.


Evan merasa apa yang dikatakan Bryan adalah benar, dia tidak boleh bicara sekarang para Samuel tentang apa yang telah terjadi pada Agradana grup apalagi pada Maura. Wanita yang menjadi korban dari dendam suaminya itu. Tapi dia sulit sekali untuk tidak marah pada Samuel.


Bryan meminta Evan untuk pergi lebih dulu daripada membuat masalah disana, Evan menurut karena dia tau memang ia akan emosi kalau melihat omnya.


Setelah keadaan Samuel sudah tenang, barulah Maura datang menemui ayahnya. Hari itu dia sudah izin untuk tidak bekerja pada Evan. "Bry, kenapa kamu belum berangkat?" Maura heran melihat Bryan yang masih ada disana padahal jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Jam kantor jam setengah delapan, artinya dia sudah terlambat.


"Tidak apa-apa, aku tunggu kamu dulu." Bryan tersenyum pada gadis itu.


Samuel senyum-senyum melihat kedekatan Bryan dan Maura, seperti pasangan kekasih. "Oh ya, kamu siapa?" Akhirnya Samuel bertanya pada pria muda dan tampan yang berdiri di samping putrinya itu.


"Maaf saya lupa memperkenalkan diri. Nama saya Bryan, saya adalah---"


"Apa kamu suka putri saya?" Samuel langsung menyambar, padahal Bryan belum menyelesaikan ucapannya.


Pertanyaan Samuel kontak saja membuat pasangan muda-mudi itu saling melirik dengan bingung. Kenapa Samuel bertanya seperti itu? Sambil tersenyum pula.


"Pak--saya--" Bryan langsung pucat pasi, bingung mau menjawab apa. Haruskah disaat seperti ini dia bilang kalau dia akan menikahi putrinya?


"PFut...." Samuel menahan tawa. "Maafkan saya, saya hanya bercanda, tolong jangan dianggap serius ya pak Bryan. Senang berkenalan dengan anda." Samuel tersenyum ramah.


"Ayah jangan bercanda seperti itu, pak Bryan adalah rekan bisnis perusahaan kita." Kata Maura sambil mendekati ayahnya dan suster Anna.


"Jadi kalian hanya rekan bisnis saja?" Samuel melirik ke arah Bryan dan Maura secara bergantian.


"Ya ayah, kami hanya rekan bisnis saja." Maura langsung memotong ucapan Bryan dan membuat pria itu tersentak kaget.


Lebih baik tunggu ayah tenang dan pulih, barulah aku katakan tentang hubunganku dan Bryan.


Rekan bisnis saja? Kenapa Maura bilang begitu? Bryan kesal, ya itu sudah jelas melihat wajahnya yang suram.


"Oh begitu ya." Hanya begitu saja Samuel menanggapinya, tak lupa ada senyuman tipis dibibirnya.


"Ya sudah, kalau begitu saya pamit dulu. Saya harus ke kantor." Bryan berpamitan pada Samuel.


"Baiklah, hati-hati dijalan ya pak Bryan." Kata Samuel ramah.


Maura menangkap suara dingin dari Bryan, untungnya ia cukup peka terhadap sikap Bryan yang memang ternyata kesal padanya. Bahkan saat meninggalkan kamar itu, Bryan tidak berpamitan pada Maura dan membuat Maura menyusulnya keluar. "Ayah... Maura keluar sebentar antar pak Bryan dulu ke depan ya?"


"Iya sayang." Sahutnya lembut seperti biasa.


Ia melihat putrinya keluar dari kamar dan menyusul Bryan, Samuel pun menyimpulkan bahwa Maura dan Bryan memang ada apa-apa, juga tidak ada Bara disana. Artinya keadaan sudah kembali seperti sedia kala selama dia koma.


Kini hanya Anna dan Samuel yang berada didalam kamar itu. Samuel terus tersenyum memandangi Anna yang duduk menjauh darinya.


Kenapa dia menatapku begitu? Ya Allah, aku jadi takut. Batin Anna resah dengan tatapan tidak biasa dari Samuel padanya, dia berusaha menghindari kontak mata dengan Samuel.


*****


Bryan baru saja akan sampai ke pintu depan, Maura menyusulnya pria yang berjalan cepat itu. Sudah jelas dia marah padanya.


"Bry, Bry tunggu aku dong!" Ujar Maura memanggil manggil Bryan.

__ADS_1


Akhirnya Maura berhasil menggapai tangan Bryan, ia mendengar helaan nafas pria itu. "Apa?"


"Kamu marah Bry?" Tanya Maura tanpa basa-basi. Pria itu masih tidak mau menatap Maura.


"Marah? Siapa yang marah?"


"Bener apa Tante Clara, kalau kamu marah kamu selalu bertanya balik dan memalingkan mukamu. Itu kebiasaan kamu, jadi kamu sedang marah saat ini." Tutur Maura pada Bryan. Saat Clara menceritakan tentang Bryan, Maura mendengarkannya dan dia akhirnya jadi tau bagaimana calon suaminya ketika marah.


"Hem--aku--"


Maura berjinjit, lalu dia menggapai wajah Bryan dengan kedua tangannya. Dia memandang Bryan, berusaha mengimbangi tinggi badannya agar tidak terlalu mendongak. "Bry, maaf--jangan marah dong."


Bryan masih bertahan dengan wajah datarnya, walau dia sempat melirik Maura yang menatapnya dengan manja. "Bry..."


Ughh...shitt! Benar-benar gila, mendengar suaranya memanggil namaku saja, bisa membuat hatiku berdebar-debar. Kenapa sulit sekali marah padanya?


"Bry, aku bicara seperti itu pada ayah karena belum saatnya bicara tentang hubungan kita. Ada beberapa masalah keluarga yang harus aku selesaikan dengan ayah, setelah semuanya selesai...mari kita bicara pada ayah bersama-sama kalau kita memiliki hubungan dan akan menikah. Kamu pahami aku ya?" Maura menatap pria itu, tangannya menyentuh bagian dada sixpack dibalik kemeja dan jas hitam yang dipakainya saat itu. "Bry...."


"Oke, aku paham."


"Kamu gak marah lagi kan?" Gadis itu tersenyum, melihat Bryan akhirnya mau melihat ke arahnya.


Pria itu mengangguk dan Maura balas tersenyum. Karena sudah lama berjinjit, tubuh Maura oleng ke belakang dan dengan cepat Bryan merengkuh tubuhnya. "Hahaha.. hampir saja ya." Maura mengalungkan tangannya di leher Bryan.


Bagaimana bisa aku marah pada wajah manis ini? Wajah yang mengalihkan duniaku.


Kemudian Bryan membenamkan bibirnya pada bibir Maura dengan lembut. Awalnya hanya penyatuan bibir biasa saja, namun Maura membuka mulutnya memberi akses untuk Bryan memasuki rongga mulutnya. Mereka pun sedikit melumatt, tidak cukup lama hanya beberapa detik saja, lalu pagutan itu terlepas.


"Bry--"


"Kamu yang kasih jalan loh." Bryan tersenyum, lalu dia mencubit gemas hidung mancung Maura.


"Hehe, jadi kamu gak marah lagi kan?"


"Aku gak akan marah lagi, kalau sepulang kerja aku melihat wajah ini." Tatap Bryan pada gadis itu.


"Gimana caranya? Kamu mau ke rumahku?"


"Kenapa? Gak boleh?" Tanya Bryan lagi pada Maura.


"Ish... kebiasaan deh kalau aku nanya, kamu balik nanya lagi."


"Gak, hari ini aku gak ke rumah. Kita video call aja ya."


"Kenapa?"


"Aku ada makan malam sama mama, nanti aku sama mama video call kamu ya?"


"Oke, kamu jangan lupa makan ya." Maura mengingatkan dengan perhatian.


"Kamu juga, kamu kan baru keluar dari rumah sakit. Kalau ada apa-apa telpon aku ya?" Kata pria itu lembut dan perhatian pada Maura, dia mengecup lagi bibir Maura sebelum pergi darisana.


"Iya, hati-hati ya." Maura tersenyum lebar setelah dia mengantar Bryan sampai ke depan rumah dan melihat mobilnya pergi meninggalkan rumah itu.


Saat dia akan masuk kembali ke dalam rumah, seorang pria berjas rapi dan membawa satu buket bunga Lily ditangannya. "Maura..."


"Ngapain kamu kesini?"


...****...

__ADS_1


__ADS_2