
...πππ...
Maura mengajak Bryan masuk ke dalam rumah kontrakan Hanna yang dia tinggali bersama Hanna.
"Assalamualaikum," Maura membuka pintu rumah itu, sambil melepas sandalnya.
Sementara itu Bryan sedang melihat-lihat suasana rumah kontrakan yang bahkan tidak seluas kamar mandi dirumahnya. Rumah itu terlihat seperti gubuk untuk Bryan yang selama ini hidup bergelimang harta.
Bagaimana bisa Maura tinggal di rumah yang sempit seperti ini? Kalau dia sudah resmi jadi pacarku nanti dan menerima hatiku, aku harus membelikannya rumah yang layak.
"Pak Bryan, jangan lupa lepas sepatunya ya?" Maura mengingatkan Bryan untuk melepaskan sepatunya ketika masuk ke dalam rumah.
"Oh, jadi harus lepas sepatu dulu?" Tanya pria itu polos, karena di rumahnya dia tidak pernah melepas sepatu kecuali ketika akan tidur, itupun kalau dia tidak lupa.
"Iya pak." jawab Maura sambil berjalan masuk ke dalam rumah mendahului Bryan yang akan melepas sepatunya.
"Han? Hanna, aku udah pulang.." Maura mencari-cari temannya ke setiap ruangan, namun tidak ada batang hidungnya disana. "Hanna kemana ya? Apa dia belum pulang?" gumam Maura keheranan karena Hanna belum pulang.
Apa dia masih ditempat kerja?
Maura pun meminta Bryan untuk duduk terlebih dahulu di sofa yang ada disana, dia juga menawarkan minuman untuk Bryan. "Pak Bryan, bapak mau minum apa? Apa bapak suka kopi? Atau teh, mungkin susu?"
Saat ditanya seperti itu oleh Maura, Bryan hanya diam saja memandangi wanita itu dengan terpesona.
Cantik, suara yang indah dan lembut.
"Pak Bryan? Apa anda baik-baik saja?" Maura melambai-lambaikan tangannya didepan wajah Bryan, namun pria itu masih saja melamun.
Ada apa dengannya? Apa dia kesambet?
"Pak Bryan! Pak..." Maura memanggil lagi pria itu sambil berjalan mendekatinya.
__ADS_1
Tiba-tiba saja tubuh Maura oleng karena tersandung ujung kursi, dia menimpa Bryan yang sedang duduk di kursi.
"Kyaaakkk!!" Teriak Maura terkejut.
"Kamu gak apa-apa, little girl?" Bryan bertanya dengan suara lembut, pada wanita yang saat ini sedang berada di pangkuannya.
"Sa-saya..." Maura tergagap, saat dia tak sengaja melihat kedua mata biru milik pria itu.
Dia tampan sekali, mana mungkin pria seperti dia mau denganku?. Maura masih tidak percaya bahwa pria sempurna seperti Bryan akan mengucapkan cinta padanya. Rasanya seperti sesuatu yang mustahil.
Kini giliran Maura yang melamun, sampai dia tak sadar bahwa dirinya masih berada dipangkuan Bryan. Pria itu malah senyum-senyum, dia memegang punggung Maura, memandang wanita itu seperti memandangi keajaiban dunia.
Wanita asli Indonesia, memang cantik banget. Lebih cantik dari wanita yang biasa aku lihat di luar negeri. Bryan juga ikut memandangi Maura yang memandanginya.
Tiba-tiba Maura kembali sadar, dia mendorong Bryan yang memeluknya. "A-apa yang bapak lakukan? Dasar bule mesum!" Seru Maura yang lalu beranjak dari pangkuan pria tampan itu.
"Apa? Kamu bilang aku apa? Bule mesum?" Bryan mendesis dengan kening berkerut saat dikatakan seperti itu oleh Maura.
"Hey, siapa yang cari-cari kesempatan? Kamu sendiri yang jatuh kepangkuan saya dan kamu yang memeluk saya. Terus, kamu juga memandangi saya..."
Maura tersedak mendengarnya, "A-apa? Siapa yang memandangi bapak?!"
"Hah! Gadis kecil ini, kamu masih menyangkalnya? Seandainya tadi aku merekam atau mengambil gambarmu saat kamu memandangiku penuh cinta!" Bryan dengan gaya tengilnya, menggoda Maura habis-habisan.
"Memandang penuh cinta? Bapak ini benar-benar bule mesum dan juga narsis!"
"Lah!! Aku tidak mesum, aku juga tidak narsis, kamunya saja yang terpesona padaku." Bryan tersenyum percaya diri didepan wanita itu.
"Heh! Dasar bule narsis," bibir Maura mengerucut sebal pada pria itu. "Jadi, bapak mau kopi, susu atau teh?"
"Yang manis-manis saja, seperti wajahmu." Bryan tersenyum lebar, hingga kedua lesung pipinya terlihat. Menambah keindahan di wajah Bryan, yang tampan makin tampan lagi.
__ADS_1
Maura langsung memalingkan wajahnya dari pria itu. "Sa-saya akan siapkan air putih saja!"
"Loh kenapa? Bukankah barusan kamu menawarkan susu, teh dan kopi?"
"Tidak, tidak ada! Sudah habis semua! Tunggu ya pak, saya siapkan air putihnya." Kata Maura dengan langkah cepat menuju ke arah dapur rumah kontrakan itu.
Bryan tertawa kecil melihat tingkah imut Maura, belum pernah dia tertawa dan tersenyum seperti ini ketika dekat seorang wanita. Dia bersumpah akan merebut Maura dari Bara dan membuat Maura bercerai dari suaminya.
"Bara Rahadian, kau adalah pria bodoh. Lihat saja, ketika berlian ini aku curi darimu." Bryan tersenyum menyeringai, dia memikirkan cara agar Maura cepat bercerai dari Bara.
****
πDi kamar Baraπ
Bara baru saja selesai menerima laporan dari Hendra, tentang Maura yang pulang ke rumah Hanna. Dia tidak bertemu siapapun disana dan langsung masuk ke dalam rumah. Bara agak sedikit tenang hatinya.
Malam itu Vera menggoda Bara agar dia mau melakukan xx dengannya. Namun lagi-lagi Bara menolak melakukan hal yang lebih jauh. Bara dan Vera berhenti hanya sampai ciuman saja.
"Vera... hentikan...aku menyuruhmu berpura-pura bukan untuk menggodaku sungguhan."
"Ini kan memang peranku dan aku dibayar untuk ini," Vera membuka
kancing kemeja Bara, namun Bara menghentikannya.
"Sudah kubilang, hentikan!" Bara mendorong wanita itu hingga jatuh ke lantai.
"Bara, kamu kasar sekali sih." Vera mengerutkan kening, dia kesal karena Bara mengacuhkannya.
"Kamu tinggal disini saja, aku akan kesini besok pagi sebelum Maura datang," ucap Bara yang selalu berjalan pergi meninggalkan Vera sendiri di kamar itu.
Bara pergi ke ruang kerja Samuel yang kini sudah menjadi ruang kerjanya. Disana dia mengambil bingkai foto seorang gadis remaja yang cantik sedang bersanding dengannya. Keduanya tersenyum didalam foto itu. "Al, katakan padaku? Apa aku melakukan hal yang benar, kan?"
__ADS_1
...****...