Terjebak Dendam Suamiku

Terjebak Dendam Suamiku
Bab 78. Mata keranjang


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Perasaan Maura mungkin bercampur aduk saat ini, entah apa yang dia rasakan saat melihat ayah TERCINTANYA kembali siuman setalah hampir tiga bulan koma.


Pria paruh baya itu menyambut Maura dengan tangan terlentang, sudah pasti dan jangan ditanyakan lagi. Posisinya saya ini jelas ingin memeluk putrinya yang sudah lama tidak ia lihat.


Namun, putrinya malah terdiam membeku tak jauh dari tempatnya tidur. Langkahnya meragu, tatapan Maura berkaca-kaca saat melihat ayahnya itu.


"Maura, kamu kenapa sayang? Kamu gak mau peluk ayah?" Samuel menatap putrinya dengan alis terangkat, penuh kasih sayang dan kerinduan.


Rasanya masih tidak percaya saja bahwa Samuel yang memiliki raut wajah lembut dan perannya sebagai seorang ayah yang baik akan melakukan hal bejat pada dua orang wanita yang dia tau. Alina dan Jessica, mereka adalah korbannya. Untuk yang lain, entahlah karena Maura tak tahu.


Bryan melihat Maura diam saja, dia tau kekasihnya itu sulit mengendalikan dirinya. Sulit bagi Maura percaya kenyataan pahit tentang sang ayah yang sangat dia cintai. "Maura...tenang dulu ya?" pinta Bryan seraya berbisik pada wanita itu.


Mendengar ucapan Bryan membuat Maura tertegun.


Bryan benar, aku harus tenang. Saat ini ayah baru saja siuman. Aku gak bisa menanyakan apapun padanya sekarang, jadi ayo tunggu sampai keadaan ayah lebih baik.


"little girl, are you all right?" bisiknya lagi pada Maura.


Hanya anggukan saja jawaban dari Maura. Kemudian Maura tersenyum dan menghampiri ayahnya yang saat ini berada di atas ranjang bersiap menyambut dirinya.


Akhirnya dia memeluk ayahnya, meski rasa kecewa masih ada didalam hatinya. Saat ini dia tahan karena keadaan Samuel yang jelas belum stabil.


"Ayah kangen banget sama kamu nak...selama ini gimana kabar kamu? Apa kamu sudah bercerai dari suamimu yang kejam itu?!"


Itulah pertanyaan yang pertama kali ditanyakan oleh Samuel padanya. Keadaan Maura dan juga perceraian. Ya, Maura juga menduga bahwa dia akan mengatakan tentang ini.


Terlepas dari apa yang Bara lakukan padanya dan juga keluarga Agradana pasti membuat Samuel marah. Apalagi pria itu adalah penyebab utama Samuel koma.


"Maura, kenapa kamu diam saja?"


"Ayah, mungkin lebih baik untuk sekarang Ayah istirahat dulu ya. Banyak hal yang terjadi selama ayah koma dan aku gak bisa ceritain sekarang." Maura tidak bisa cerita sekarang tentang apa yang dialaminya selama atau bulan.


"Oke, ayah paham. Tapi kamu baik-baik saja kan? Kamu sakit? Wajah kamu pucat, nak?" Samuel memegang wajah anaknya, tentu saja dengan tatapan cemas juga.


Maura menelan saliva dia tersenyum getir, saat melihat wajah sang ayah yang lembut itu. Masih sulit dipercaya bahwa dia yang selembut ini akan menyakiti para wanita itu dengan biadab.

__ADS_1


Sama halnya dengan yang dirasakan Maura, pendapatnya tak jauh berbeda dengan Bryan yang melihat sosok Samuel dari dekat. Siapapun yang melihat Samuel sekilas akan percaya pria itu adalah orang baik.


"Aku gak apa-apa ayah, cuma sedikit gak enak badan aja. Ayah istirahat ya, Maura mau pergi ke kamar dulu." Kata wanita itu lesu sambil tersenyum tipis.


Kenapa sikap Maura berbeda padaku ya? Ada apa ini?. Samuel tersentak kaget melihat sikap Maura yang berbeda padanya, menjadi lebih dingin dan tidak seperti putri manja kesayangan ayahnya.


"Tapi ayah pengen ngobrol dulu sama kamu." Pinta Samuel pada anaknya.


"Maura gak akan lama kok, Maura cuma ganti baju aja."


"Maura, aku antar ya?" Tanya Bryan seraya melihat ke arah Maura dengan cemas. Dia takut kalau wanita itu akan menangis.


"Oke."


"Om, saya permisi dulu ya." Bryan dengan sopan berpamitan pada Samuel.


"I-iya." Samuel tergagap, dia bahkan tidak kenal siapa pria kebule-bulean yang ada didepannya itu. Maura belum memperkenalkannya.


"Om, nanti saya akan kembali dan memperkenalkan diri." Pria tampan itu tersenyum ramah pada Samuel yang mungkin nanti akan menjadi ayah mertuanya.


Maura dan Bryan sudah tak terlihat lagi di kamar itu. Kini hanya ada suster Anna dan Samuel saja disana. Suster Anna sedang sibuk mengecek kondisi Samuel, mengecek tekanan darah dengan alatnya.


Suster Anna tidak bicara, dia hanya menulis setelah memeriksa kondisi Samuel. Akhirnya Samuel memperhatikan suster cantik dengan rambut pendek itu. Dari atas sampai bawah, tubuh suster Anna memang menggoda. Kulitnya putih bersih, wajahnya cantik, hidungnya mancung dan bibirnya tipis.


Samuel meneguk ludah melihat suster Anna yang kini melihat ke arahnya. Suster Anna telah membangkitkan bagian yang tertidur. Samuel ternyata memang buaya darat!


Seandainya Maura melihat ini, apa yang akan dia pikirkan?


Siapa suster cantik ini? Jika dia berada dibawah tubuhku...pasti akan sangat...ughh.


"Pak, apa bapak baik-baik saja?" Anna bertanya pada Samuel yang sedari tadi menatap dirinya. Apalagi pada bagian dadanya, membuat Anna merasa aneh mendapat tatapan seperti itu.


"Sa-saya...aduh kepala saya agak nyeri Sus." Samuel dengan tidak tahu malu memegang tangan Anna dan mengarahkannya pada kening Samuel.


"P-pak..." Anna segera menarik tangannya dengan cepat, merasa ada yang salah dengan semua itu.


"Sus, kepala saya sakit?" rengek Samuel dengan nada manjanya.

__ADS_1


"Sa-saya akan tulis obat pereda rasa sakit untuk bapak, juga obat lainnya. Nanti saya akan menyerahkannya pada putri bapak." Ana langsung membalikan wajah dan pura-pura melakukan hal yang lain.


Si bapak ini kenapa sih pegang-pegang aku?. keluh Anna didalam hati.


"Makasih sus, ngomong-ngomong saya Samuel...suster siapa?"


"Anna pak," jawabnya singkat.


"Oh suster Anna, apa suster tau siapa pria yang bersama anak saya?" Tiba-tiba saja nada bicaranya jadi serius.


"Dia adalah bos saya yang memperkerjakan saya untuk memeriksa kondisi bapak setiap harinya."


"Bos? Namanya? Usia? Pekerjaan?" Tanya Samuel dengan nada introgasi pada Anna.


Dia terlihat dekat dengan Maura dan dia terlihat kaya... bukan seperti orang biasa.


Anna hanya menjawab singkat nama lengkap Bryan dan tidak menjelaskan apa-apa lagi. Ketika mendengar ucapan Anna tentang nama belakang Bryan. Sungguh membuat Samuel sangat tertarik. "Xander grup? Sungguh menarik." Gumam pria itu pelan sambil tersenyum menyeringai.


Tak lama kemudian, Evan yang baru tau kalau omnya sadar. Segera datang kesana dan melihat kondisi Samuel. "Ternyata om masih hidup. Aku pikir om akan pergi ke alam baka." Kata Evan sarkas.


"Sambutan macam apa ini Evan? Om kamu baru saja siuman dan begini cara kamu bicara sama om?" Samuel tidak suka dengan cara bicara Evan yang sarkas itu.


"Terus aku harus gimana? Bilang Alhamdulillah, syukurlah? Aku malah berharap om mati saja." Ucap Evan yang terbuka ingin Samuel mati saja.


Samuel menatap pria itu dengan tajam, tak percaya bahwa Evan keponakan kesayangannya akan berkata seperti itu pada dirinya.


"Kamu kerasukan apa Evan? Kenapa kamu ingin om mati?" Tanya Samuel yang langsung meninggikan suaranya.


Evan berjalan mendekati Samuel, dia menatap pria paruh baya yang baru sadar dari koma itu dengan sinis lalu dia terkekeh. "Suster, apa dia gak lumpuh?" Lutim Evan pada suster Anna.


"Ah? Apa tuan?" Anna tercengang mendengar pertanyaan dari Evan.


"Evan! Kamu benar-benar keterlaluan!" Teriak Samuel emosi..


...****...


Hai Readers, maaf author up-nya jadi malam terus. Maaf juga karena sedang tidak fokus, sebab ada keluarga yang lagi tidak sehat. 🤧🤧🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2