Terjebak Dendam Suamiku

Terjebak Dendam Suamiku
Bab 132. Di hari bahagia


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Tepat saat kaki Stella akan menendang perut Maura, seseorang membuat Stella ambruk lebih dulu. Pria dibelakang Stella memukul wanita Psikopat itu dengan tongkat golf.


"Ahh!!!"


"By...." lirih Maura melihat suaminya, seperti melihat dewa penolong.


Melihat istrinya berdarah-darah, Bryan menjadi emosi. Dia memukuli Stella yang sudah jatuh di lantai dengan keadaan kepala berdarah. "Kamu benar-benar gila! Aku akan membunuhmu, Stella! Aku akan MEMBUNUHMU!" Teriak Bryan murka.


Stella tidak berdaya, tentulah karena kekuatan Bryan seorang pria jauh lebih besar darinya. Pandangan Stella mulai kabur, dia bahkan tidak bisa bicara sepatah katapun karena lemas.


"By...hentikan! By, kamu bisa membunuhnya!" teriak Maura sekuat tenaga. Menahan rasa sakit ditangan, kepala dan perutnya.


"Pak Presdir! Tolong hentikan! Wanita itu bisa mati," kata Nick pada bosnya itu, Nick juga berada dalam keadaan terluka. Bahkan tangannya memiliki luka bakar.


"Oh...biarkan saja dia mati, biarkan!" Bryan masih memukuli Stella tanpa ampun. Sepertinya kali ini Stella benar-benar akan dibunuh olehnya, tidak ada ampun baginya.


Gawat...Bryan benar-benar akan membunuhnya, tidak... aku tidak boleh membiarkan suamiku menjadi seorang pembunuh.


"Akhh....By, tolong aku...by..." lirih Maura memanggil suaminya.


"Pak! Bu Maura, Bu Maura terluka...Bu Maura kesakitan!" seru Nick, berusaha mengalihkan perhatian bosnya yang sudah berada dalam tahap murka.


"BRYAN!" teriak Maura pada suaminya.


Prak!


Bryan menjatuhkan tongkat golf yang dia pakai untuk memukul Stella. Akhirnya Bryan menghentikan aktivitasnya sebelum wanita itu benar-benar mati. Dia menghampiri istrinya yang terbaring di atas lantai yang dingin.


"Nick, kamu ikat dia dengan kuat...jangan sampai dia lepas. Kalau dia lepas belum polisi datang menangkapnya, kamulah yang akan aku BUNUH!" ancam Bryan pada Nick.


"Ba-baik pak..." Nick, pria itu benar-benar merasa bersalah. Semua ini terjadi karena keteledorannya juga, dia tidak sengaja memakan makanan yang dicampur oleh obat. Makanan itu adalah makanan pemberian dari Stella, dia pun tidak sadarkan diri dan dikurung di apartemennya entah bagaimana caranya dan bagaimana ceritanya dia tak tahu.


Tau-tau saat bangun dia sudah berada di dalam apartemennya dengan keadaan terbakar. Beruntung, Bryan datang menyelamatkannya lebih dulu, walau tangannya sudah menjadi korban karena terbakar api.


Nick pun memegangi Stella yang sudah terluka parah akibat serangan dari Bryan. Dia mengikat wanita psikopat itu dengan tali yang kencang. Sementara disisi lain, Bryan menangkap tubuh istrinya dan menggendongnya ala bridal. "Kak Bryan, aku doakan anakmu mati!" Stella terkekeh mendoakan kematian untuk anak yang ada dikandungan Maura.


"Kamu yang mati, jika istriku tidak menghentikanku! Kamu yang mati Stella!" ujar Bryan pada Stella.

__ADS_1


"Hahahaha...." Stella malah tertawa terbahak-bahak setelah melakukan kejahatan yang besar.


"By... perutku sakit, by..."


"Iya sayang, kita ke rumah sakit!" serunya pada Maura.


Setelah itu Stella ditangkap oleh polisi dan dia tidak bisa lepas dari hukumannya kali ini. Ayahnya juga tidak bisa berbuat apa-apa untuk meringankan hukumannya. Dia diawasi dengan ketat di penjara.


Maura dibawa ke rumah sakit, awalnya keadaan Maura kritis dan bayinya hampir saja tiada. Akan tetapi, Maura dan bayinya bisa bertahan meski mengalami sejumlah luka ditubuhnya.


Waktu pun berlalu, semua keadaan membaik. Apalagi setelah Bara dan Vera menikah. Semua keluarga berkumpul di rumah keluarga Xander. Tak terasa usia kandungan Maura kini sudah menginjak 8 bulan lebih, perutnya sudah semakin membuncit.


"Hati-hati sayang," Bryan memapah istrinya untuk menuruni anak tangga yang hanya ada 4.


"By, ini hanya empat anak tangga aja. Aku gak akan kenapa-napa."


"Tetap harus diperhatikan keselamatan sayang," Bryan tersenyum pada istrinya.


"Kak, udah siap?" tanya Bara pada kakaknya.


"Oke, yuk kita kondangan." jawab Bryan.


Sesampainya di gedung hotel Xander, Bryan dan Bara kompak memapah istri mereka masing-masing. Bryan melihat Bara dengan kening berkerut. "Aduh...lebay banget sih kamu Bara."


"Memangnya kakak enggak?" sindir Bara pada kakaknya.


"Istrimu kan baru hamil 3 bulan, tak perlu berhati-hati seperti itu...nah kalau aku kan wajar protektif pada istriku."


"Huh, memangnya kakak saja yang boleh protektif! Aku juga mau dong memanjakan istriku." Bara tersenyum seraya melirik istrinya.


Kedua istri dari kakak adik itu tersenyum manis melihat tingkah suami-suami mereka. Kemudian mereka pun masuk ke dalam gedung hotel Xander yang mewah. Terlihat banyak kamu yang hadir dalam acara pernikahan Evan dan Hana.


Pernikahan itu berlangsung meriah, semua orang memberikan selamat kepada pengantin baru tersebut. Namun, saat berada dalam ruangan pernikahan. Tiba-tiba saja Maura merasakan sakit perut yang luar biasa, perutnya mengencang. "Ughh..."


"Sayang, kamu kenapa?" Bryan menatap istrinya dengan cemas.


"By...sakit sekali...perutku sakit By..." Maura meringis kesakitan, dengan tangan yang memegang tangan suaminya. Terlihat keringat dingin membasahi wajahnya.


"Oh.. astagfirullahaladzim...air apa itu?!" Hanna melihat air yang mengalir di bawah kaki Maura.

__ADS_1


"Sepertinya Maura mau melahirkan!" pekik Vera.


"Tapi ini belum waktunya..." gumam Bryan bingung.


"Kamu lihat itu, air ketuban! Ini sudah waktunya, ayo cepat sekarang bawa Maura ke rumah sakit!" ujar Evan.


Tanpa banyak basa-basi, Bryan membawa istrinya ke rumah sakit dengan ditemani oleh Ferry sang sekretaris. Maura langsung dibawa ke ruang bersalin ditemani oleh suaminya.


Di luar ruangan itu ada Evan, Hanna, Clara, Bara dan Vera juga menunggu persalinan Maura. Setelah melalui proses persalinan yang cukup panjang, akhirnya Maura melahirkan bayi kembar mereka.


Sepasang bayi kembar yang berjenis kelamin laki-laki. Semua keluarga bahagia dengan kehadiran bayi kembar itu, apalagi kedua orang tuanya.


"Sayang, terimakasih kamu sudah memberikanku kebahagiaan yang sempurna." Bryan tersenyum seraya mengecup kening istrinya.


"Aku juga sangat berterima kasih kepadamu suamiku, karena Kamu telah memberikanku sebuah kebahagiaan yang tiada tara." balas Maura dengan senyuman bahagia dibibirnya.


Waktu pun berlalu, di dalam kamar Maura dan Bryan. Terlihat sepasang bayi anak laki-laki yang tengah tertidur di atas ranjang kamar mereka. Usianya sekitar 5 tahunan, mereka terlihat imut dan menggemaskan, lelap dalam damai.


"Huft... syukurlah mereka berdua sudah tidur." ucap Maura sambil menghela nafas lega. "Seharian ini mereka sudah membuatku pusing, bertengkar terus..."


"Kalau mereka bertengkar terus, kita harus membuat mereka akur."


"Bagaimana caranya?" Lirik Maura pada suaminya.


"Ikut aku ke kamar, sayang." Bryan menuntun tangan istrinya, sedari tadi dia senyum-senyum sendiri.


Akhirnya pasangan suami-istri yang sudah dikaruniai dua anak itu, sampai di kamar mereka. Maura takjub melihat kamar mereka di hias seperti kamar pengantin. "By..."


"Maafkan aku sayang, tadi aku sempat lupa bahwa hari ini adalah hari anniversary kita yang ke 6 tahun." Bryan meraih pinggul sang istri, hingga tubuh mereka berdua saling berhimpitan.


Wanita itu tersenyum lembut. "Aku maafkan, tapi cara apa yang kamu bilang tadi? Apa cara yang bisa membuat mereka akur?"


"Bikin anak lagi, perempuan...kita belum punya." bisik Bryan.


"APA?"


Bryan tersenyum lalu mengeksekusi istrinya. Berpadu dalam cinta yang bahagia. Setelah mengalami dendam dari mantan suaminya yang kini menjadi adik iparnya, akhirnya Maura menemukan cinta sejati pada cinta kedua yang menjadi cinta terakhirnya.


...*****...

__ADS_1


...The end...


__ADS_2