Terjebak Dendam Suamiku

Terjebak Dendam Suamiku
Bab 66. Satpam Baru


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


"Kenapa? Apa kamu tidak ingin Maura tau tentang kebejatan ayahnya itu?" Tanya Bara sambil menepis tangan Evan.


"Kalau kamu bicara sedikit saja tentang Nathan dan kakaknya, aku pastikan kamu tidak bisa menginjakkan kakimu di negara ini lagi!"


"Apa kamu mengancamku? Apa dengan kekuatan Agradana yang sekarang, kamu bisa menyingkirkan aku? Tidakkah kamu sangat percaya diri?" Bara tersenyum sinis, dia tidak takut dengan ancaman Bara.


Evan tertegun, perusahaan Agradana sekarang tidak berjaya seperti dulu lagi. Bahkan ada banyak dana yang dipakai oleh Samuel dan tidak tau kemana uang itu habis. Evan tau semuanya karena dia mengelola perusahaan saat ini dan saat Bara menjabat dia juga ikut menggelapkan dana.


"Aku bisa membuatmu dan keluargamu tak bisa menginjakkan kaki di negara ini dengan meminta bantuan Presdir Xander grup."


Kedua mata melebar mendengarnya, dia marah mendengar nama Bryan disebut. "Heh! Apa tujuanmu mendekatkan Maura dan dia?!"


"Bukankah semuanya sudah jelas? Aku ingin Maura bersamanya, bersama orang yang bisa membuat dia bahagia. Orang yang bisa memperlakukannya seperti putri Raja."


"Aku tidak akan biarkan itu terjadi!" Bara marah.


Tidak bisa, Maura tidak boleh bersama dengannya. Hanya aku yang dia cintai dan hanya aku yang bisa membuat dia bahagia.


"Apa yang bisa laki-laki kere seperti kamu lakukan untuk mendapatkan Maura kembali? Kamu jangan bodoh ya Bara, kamu bahkan tidak pantas bersaing dengannya." Evan tersenyum menyeringai pada Bara.


Bara mengepalkan tangannya dengan kuat, dia kesulitan menahan emosinya karena dia takut Maura akan benar-benar berpindah hati pada Bryan yang memang baik segalanya dari dirinya.


"Nah, sekarang kamu mending ganti baju lalu pergi dari sini. Jangan pernah datang lagi," Evan menunjukkan jarinya ke wajah Bara, lalu dia membalikkan badan dan melangkah pergi dari sana.


"Tunggu Evan! Kita kesampingkan dulu masalah Maura dan pria itu, yang aku tanyakan adalah...bukankah Maura harus tau kebenaran tentang ayahnya itu?"


Sontak Evan membalikkan badannya, dia menatap marah pada Bara. "Tutup mulut kamu! Kalau Maura sampai tau, kamu yang akan tau akibatnya."


"Haahh.. sampai kapan kalian akan menutupi kebejatan Samuel? Sampai ada orang lain lagi yang dendam pada kalian selain diriku? Kamu juga Evan, kamu sudah tau rahasia ini tapi kamu berpura-pura tidak tahu. Bayangkan betapa terluka nya hati Maura saat dia tau kalau kakak tercintanya menyembuhkan rahasia besar." Bara mendesah, menjelaskan pada Evan bahwa sikapnya menyembunyikan dari Maura adalah kesalahan.


"Lebih baik menutupinya daripada dia akan semakin terluka kalau tau kebenarannya, jadi Bara...kamu diam saja." Evan meminta pria itu untuk bungkam.


Kamu salah Evan, jika kamu menutupi ini dari Maura dan saat dia tau kebenarannya, dia malah akan semakin terluka. Hanya tinggal masalah waktu saja. Batin Bara.


"Baiklah, aku akan bungkam. Tapi dengan satu syarat,"

__ADS_1


Maaf Evan, sepertinya aku harus mengambil rahasia ini sebagai kesempatan.


"Jangan buat syarat denganku!" Seru Evan.


"Aku tidak akan minta uang, rumah dan sebagainya. Izinkan saja aku bekerja disini setiap pagi dan malam,"


"APA?!" Evan terlonjak kaget mendengar syarat konyol dari Bara.


Bara hanya tersenyum, dia menganggap syarat ini adalah sebagai transaksi dan juga simbiosis mutualisme. Dia tidak akan melepaskan kesempatan sekecil apapun untuk berjuang.


Lalu apakah perjuangannya akan membuahkan hasil?


*****


Pagi itu Maura sudah dijemput oleh Bryan dan Bryan baru masuk kerja lagi setelah 3 hari dia cuti sakit. Begitu banyak pekerjaan yang menumpuk karena dia tidak masuk selama 3 hari.


Bryan sudah berada di depan gerbang, dia melihat Bara ada disana dan memakai seragam satpam. Hal itu tentu saja membuat Bryan tertawa dan mengejeknya. "Lulusan Harvard dengan nilai terbaik, kok kerjaannya jadi satpam ya?"


"Jangan remehkan perjuangan cinta orang lain," ucap Bara sinis.


"Perjuangan cinta? Ah...maksud kamu cinta yang didasari dendam dan penipuan itu?" Bryan mengejek lagi pria itu dan tak mau kalah.


"Kenapa? Kamu marah? Kamu gampang marah ya, persis seperti namamu BARA." Bryan menyeringai.


Bara benar-benar jengkel oleh Bryan yang terus memancing amarahnya. Tapi didepan Maura dia harus sabar.


Maura dan Evan keluar dari rumahnya, Bryan langsung melambaikan tangannya ke arah Maura dan Evan.


"Pak Bryan? Kenapa bapak kesini? Bukankah janji kita siang nanti ya?" Tanya Maura sambil menghampiri pria itu dan tidak menyadari kehadiran Bara di sampingnya.


Ini begitu menyakitkan? Apa ini rasanya diabaikan?. Bara memegang dadanya yang sesak.


Evan tersenyum senang melihat Bara sedih. Dia pun berbisik padanya, "Kamu lihat kan? Apa yang kamu perjuangkan tidak akan bisa kamu dapatkan. Seseorang sudah mengambil posisi itu darimu, Bara. Kamu dan Maura memang tidak berjodoh,"


Pria yang bernama mantan itu tidak menjawab, dia hanya diam sambil menahan amarah.


"Aku hanya mau menjemputmu saja, apa tidak boleh?"

__ADS_1


"Boleh kok, tapi kan bapak sedang sakit. Harusnya bapak langsung pergi ke kantor saja, akan merepotkan kalau bapak menjemput saya seperti ini." Jelas Maura cemas dengan kesehatan Bryan.


"Tidak apa, kalau orangnya kamu...sama sekali gak merepotkan." Bryan tersenyum, dia membukakan pintu mobilnya untuk Maura.


Saat Maura akan masuk ke dalam mobil, barulah dia menyadari bahwa ada Bara yang sedang menatapnya. "Kak, apa dia satpam baru?"


Bara, kenapa kamu masih ada disini?


"Ah? Ya? Apa?" sahut Evan yang sedang tak fokus.


"Kalau dia satpam baru, tolong ajarkan dia bekerja yang benar. Buka gerbang saja tidak bisa cepat dan jangan banyak melamun," kata wanita itu tegas pada Bara.


"Baik non Maura, terimakasih atas sarannya. Saya akan bekerja lebih baik lagi," ucap Bara sakit hati.


Maura tidak menjawab, dia pun masuk ke dalam mobil bersama Bryan. Evan juga pergi naik mobil bersama Hendra menuju ke kantor, dia sangat puas melihat Bara yang diabaikan oleh Maura.


Bara melihat kepergian Maura dan Bryan dengan tatapan sakit hati. "Tidak apa Bara, tidak apa! Maura akan kembali lagi padamu, tenang saja."


*****


Siang itu, Maura yang sudah ada janji dengan Bryan tiba-tiba membatalkannya. Dia teringat untuk membuntuti Nathan.


"Kak, aku gak enak badan nih. Aku izin pulang ya? Gak apa-apa kan?"


Kak Evan maaf aku bohong.


"Kamu sakit Ra?" Evan melihat adiknya yang memelas dan terlihat kesakitan. "Kamu sakit apa? Mau aku antar ke dokter?"


"Gak usah, aku mau pulang aja ke rumah dan istirahat."


"Beneran gak apa-apa? Ya udah kalau gitu aku telpon pak Hendra ya buat jemput kamu."


"Gak kak, gak usah...aku naik taksi aja. Kasihan pak Hendra bulak balik cuma buat ngantar aku."


Akhirnya Evan setuju dan mengizinkan adiknya pulang kerja lebih dulu dengan alasan sakit, padahal sebenarnya dia mengikuti Nathan.


"Rumah sakit jiwa?" Maura yang berada di dalam mobil taksi, terkejut karena Nathan masuk ke dalam sana.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2