Terjebak Dendam Suamiku

Terjebak Dendam Suamiku
Bab 124. Kebahagiaan Bryan


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


...Selamat sayang, kamu akan jadi ayah......


Garis dua!


Bryan tertegun melihat benda yang memiliki garis dua itu, dia pun semakin terkejut manakala Maura mengatakan padanya bahwa dia akan segera menjadi seorang ayah.


"Sa-sayang, kamu HAMIL??!" tanya Bryan untuk memastikan sekali lagi.


Maura tersenyum, dia hanya menjawabnya dengan anggukan. Tangannya memegang perut yang masih datar itu. Terlihat wajahnya berseri-seri bahagia.


"Sayang! Aku bahagia sekali, aku akan jadi papa!" Bryan langsung memeluk istrinya, dia menangis haru dan membuat Maura merasa suaminya sangat lebay.


"By...jangan nangis dong, ayo senyum...senyum...lebay deh kamu ah." celetuk Maura sambil terkekeh geli.


"Aku cinta kamu sayang, love you so much..." ucap Bryan bahagia. Dia menghujani wajah istrinya dengan ciuman, dari mulai kening, kedua kelopak mata, hidung, pipi lalu turun ke bibir.


Ciuman yang lembut dan penuh kasih sayang. "By..."


Kedua tangan Bryan memegang wajah Maura dengan lembut. "Aku sangat bahagia sayang, sangat...sangat bahagia! Aku tidak tahu harus bagaimana sekarang...aku..."


"Ah! Ayo kita pergi ke dokter, kita harus periksa kamu sayang." ucap Bryan tak sabar ingin segera memeriksakan kandungan istrinya pada dokter.


"Besok saja sayang, ini sudah malam..."


"Sayang kita harus periksa bayi kita," kata Bryan tak sabar.


"Sayang, besok saja ya? Aku lapar, aku belum makan." Maura memegang perutnya. Dia memang belum makan dan menunggu Bryan untuk makan bersama.


"Kamu lapar? Baiklah ayo kita makan sayang, kita sudahi aktivitas kita malam ini...kamu mau makan apa? Aku belikan ya? Atau mau aku buatkan?" Bryan langsung beranjak dari tempat tidurnya dan dia menjadi heboh. Mungkin karena pria itu sangat bahagia dengan kehamilan istrinya.


"Aku sudah menyiapkan makanan, kita tinggal makan saja. Tapi sepertinya makanan itu sudah dingin," ucap Maura seraya melirik ke arah balkon dimana ada meja dan dua kursi. Diatas mejanya ada makanan tersedia dan ada juga cahaya lilin yang menyala di sana.


Mata Bryan menatap kesana dengan terperangah. Hah? Sejak kapan semua itu ada disana? Karena asyik bergulat dan tenggelam dalam suasana membara, Bryan baru ngeh kalau kamar itu telah dihiasi sedemikian rupa.


"Ya udah sayang, kita makan yuk..." ucap Bryan seraya memegang tangan istrinya dengan lembut. Ia menuntun sang istri menuju ke balkon kamar mereka yang luas.


"Hati-hati sayang, nanti jatuh..."


"By, aku gak apa-apa... kamu jangan berlebihan kayak gitu deh," ucapnya.


"Sayang, kenapa kasih sayangku ini dianggap berlebihan? Aku hanya ingin menjaga kamu dan calon anak kita," Bryan memegang perut Maura yang masih datar.


"Baiklah, dasar lebay!" Maura menepuk tangan Bryan.


"Biarin ah dipanggil lebay, karena aku cinta kamu. Aku pengen jaga kamu dan calon anak kita." kata Bryan bangga.


Gak sia-sia aku menggempur Maura habis-habisan. Inilah hasilnya!


Mereka berdua pun duduk di atas kursi, bersiap untuk menyantap makanan disana. Bryan menyantap makanan dengan biasa saja, dia malah seperti orang yang kelaparan. Tapi berbeda dengan istrinya,saat dia baru makan satu suapan. Tiba-tiba saja..


Huwek...Huwekk..


Bryan menghentikan suapannya, kemudian atensinya tertuju kepada sang istri. "Sayang, kamu kenapa?"


Maura muntah makanan yang barusan ia makan, muntahan itu sampai tumpah ke bajunya karena dia tak sempat pergi ke kamar mandi. "Sa-sayang..." Bryan panik dan segera mendekati istrinya, ia berencana untuk mengusap muntahan itu.


"Jangan deketin aku! Aku muntah, nanti kamu jijik..."


"Jijik apaan? Enggaklah," tukasnya. "Kita ke dokter ya sayang, sekarang!" ujar Bryan sembari membersihkan muntahan di baju istrinya dengan taplak meja.


"Gak apa-apa sayang, ini biasa kok...orang hamil emang kayak gini, aku baca di google kayak gitu." Maura menahan mualnya, sementara sang suami dengan telaten membersihkan bekas muntahnya tanpa rasa jijik.


Bryan so sweet banget. Dia sama sekali gak jijik sama aku.


Maura sungguh terharu dengan sikap suaminya ini yang membuatnya semakin jatuh cinta.


"Jangan bilang gak apa-apa sayang, pokoknya kita ke rumah sakit atau panggil dokter kemari?"

__ADS_1


"By, gak usah..."


"Ke rumah sakit atau panggil dokter Haris kemari, ayo pilih?" tanya Bryan tegas.


Akhirnya Maura memilih untuk memanggil dokter Haris ke apartemen saja. Tak lama kemudian, dokter Haris datang ke apartemen Bryan dan memeriksa kondisi Maura.


"Gimana dok?" tanya Bryan cemas.


"Bu Maura tidak apa-apa kok, mual-mual seperti ini biasa pada ibu hamil. Namanya morning sickness."


"Terus harus gimana dok biar istri saya gak mual-mual lagi? Atau gimana caranya biar dia mau makan dan makannya gak dimuntahin?" suara pria itu terdengar getir, jelas dia sangat mengkhawatirkan istrinya yang memuntahkan makanannya.


"Saya hanya bisa memberikan vitamin dan untuk langkah selanjutnya...coba buatkan makanan yang Bu Maura inginkan atau beli makanan yang Bu Maura inginkan. Pasti Bu Maura akan memakannya."


"Baiklah dok, tentu saja akan saya lakukan."


"Tapi untuk memastikan keadaan kandungannya dan berapa usia kandungannya, di tes saja oleh dokter kandungan di rumah sakit ya."


"Iya dok, makasih ya." Kata Bryan.


"Makasih dok," sambung Maura sambil tersenyum. Wanita itu masih berbaring di atas ranjang. "Maaf merepotkan, karena dokter harus datang malam-malam begini." ucapnya lagi merasa tidak enak karena Bryan memanggilnya malam-malam begini ke rumah.


"Tidak apa-apa Bu Maura, itu sudah tugas saya sebagai dokter keluarga Xander. Kalau hegitu saya pamit pulang karena hari sudah larut." pamit pria paruh baya yang berstatus sebagai dokter itu.


"Baiklah dok, biar saya antar." Maura hendak beranjak dari ranjangnya, namun Bryan kembali membaringkannya di ranjang.


"Sayang kamu disini aja, biar aku yang antar dokter Haris." katanya lembut dan perhatian.


Dokter Haris yang orang luar saja, bahkan bisa merasakan betapa bahagia dan perhatiannya pria itu kepada istrinya. Dia sangat senang karena Bryan yang dingin bisa menghangat karena Maura. Mungkin dia akan menjadi ayah yang bucin nantinya.


Setelah mengantar dokter Haris ke depan apartemen, Bryan kembali ke dalam. Dia langsung bertanya pada istrinya, mau makan apa dan apa yang diinginkan oleh Maura?


"By, aku gak mau apa-apa saat ini." Wanita itu menggelengkan kepalanya.


"little girl, kamu belum makan malam loh. Anak kita juga belum makan malam," ucapnya seraya melihat perut yang masih datar itu.


"Bilang aja kalau kamu mau sesuatu, nanti aku belikan, atau aku coba buatkan. Ya, walaupun aku nggak bisa masak sih."


"Tiba-tiba aku mau eskrim."


"Eskrim? Malam-malam begini kamu mau eskrim?" Bryan terperangah mendengar permintaan Maura yang ingin eskrim.


"Iya, gak tau kenapa aku mau eskrim. By, aku mau eskrim ya?" rengek wanita itu manja, matanya berembun menatap suaminya.


Kata dokter Haris, asalkan bisa makan dulu. Dan harus makanan yang Maura mau, ya udah deh.


"Aku beli dulu ya sayang,"


"Iya sayang."


Bryan menghembuskan nafas lega, dia bersyukur karena Maura minta dibelikan bukan dibuatkan. Kalau minta dibuatkan habislah dia karena tak bisa memasak.


"Rasa coklat stroberi ya By, merek eskrim nya harus Gxxx dan bentuknya yang cup." pesannya pada sang suami.


"Iya my girl, aku telpon Ferry dulu...biar dia yang beli."


"By, tapi aku mau kamu yang beli!" protesnya pada Bryan.


Bryan menganggukan kepala dengan pasrah, "Oke deh, kamu tunggu di sini ya sayang."


*****


Tak lama kemudian, setelah membeli eskrim yang diinginkan istrinya. Bryan melihat istrinya masih setia menunggunya, dia pun menyerahkan es krim itu untuk Maura. Dia tidak hanya membelinya satu, tapi 5 sekaligus.


Benar saja, Maura melahap es krim itu dengan bersemangat. Dia menghabiskan semuanya tanpa sisa, benar apa kata dokter Haris. Berikan Maura makanan yang diinginkan, pasti akan dimakannya. "By, aku mau tidur duluan ya. Aku ngantuk."


"Iya my girl, aku mandi dulu ya sayang." Bryan


mengecup kening istrinya dengan lembut, kemudian dia menyelimuti tubuh mungil itu dengan selimut hangat. "Good night sayang, terima kasih telah memberikanku hadiah terindah dalam hidup ini."

__ADS_1


"You too... terima kasih karena kamu telah hadir di hidupku dan menjadi cahaya di dalam hidupku." balasnya seraya tersenyum.


"Love you..."


Pasangan suami istri itu tak hentinya tersenyum bahagia, malam itu seakan menjadi malam yang panjang untuk mereka terutama untuk Bryan.


Setelah Bryan melihat istrinya tertidur, dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang lengket-lengket sehabis pulang kerja tadi. Beberapa menit kemudian, Bryan keluar dari kamar mandi dan sudah memakai piyama tidurnya.


Pria itu pun naik ke ranjang dengan hati-hati, karena takut membangunkan istrinya yang masih tertidur pulas. Ketika Bryan memeluk istrinya, tiba-tiba saja Maura terbangun. "Sayang, kenapa?"


"By, kamu bau!" protes Maura sambil menutup hidungnya dengan tangan.


"Sayang, tapi aku udah mandi...baru aja."


"Tapi kamu bau, aku gak kuat baunya! Ish!"


Astaga, apa lagi ini?


...*****...


Hai Readers, sambil nunggu up lagi...mampir ke novel my best friend ☺️☺️ seru loh ceritanya.


Karya Weny Hida


CUPLIKAN:


Devano kemudian bangkit dari tubuh Luna, lalu memungut pakaiannya dan pakaian Luna yang tercecer di bawah ranjang dan memberikannya pada Luna.


"Kau sudah selesai?" tanya Devano setelah melihat Luna yang kini sudah mengenakan pakaiannya kembali.


"Sudah," jawab Luna singkat.


"Ayo kuantar pulang!"


Luna menganggukan kepalanya, mereka lalu keluar dari sebuah kamar pribadi yang ada di ruang kerja Devano di kantornya. Sebuah ruangan yang sudah menjadi saksi bisu pergulatan nafsu antara dua insan yang sama-sama memiliki tujuan yang berbeda.


Beberapa saat kemudian, mobil Devano tampak berhenti di depan sebuah rumah sederhana di komplek pemukiman padat penduduk di ibu kota.


"Terima kasih, Luna."


Luna kemudian menganggukan kepalanya sambil menatap Devano, menatap wajah tampan yang ada di hadapannya dengan tatapan mata manik cokelatnya yang begitu dalam.


'Ahhh, tatapan mata ini? Kenapa dia harus menatapku dengan tatapan mata seperti ini lagi?' batin Devano.


"Semoga acara pertunangan anda besok lancar."


****


Setengah jam kemudian, Luna sudah berdiri di dalam kamar mandi sambil memegang sebuah benda pipih di tangannya.


Meskipun dengan penuh keraguan, dia mencelupkan benda pipih itu ke sebuah wadah kecil yang berisi cairan berwarna kuning.


CLUP


Luna menutup matanya, mata itu pun terpejam beberapa saat sambil mengumpulkan kekuatan untuk menegarkan hatinya.


"Hufttt, aku kuat!" ujar Luna sambil perlahan membuka matanya. Dia pun mengangkat benda pipih itu, seiring dengan matanya yang terbuka.


"Oh tidak!" ucap Luna saat melihat dua buah garis yang tertera di benda pipih itu.


Hatinya terasa begitu sakit, jauh lebih sakit daripada saat dia memendam rasa cintanya pada Devano. Luna pun hanya bisa menangis, sambil memegang perutnya dan memejamkan matanya.


"Keadaan yang membuatku jatuh cinta padamu, lalu aku dihancurkan oleh keadaan itu sendiri karena cinta ini adalah sebuah kesalahan."


Sementara itu, di sebuah rumah mewah tampak Devano sedang tersenyum setelah menyematkan cincin pada seorang wanita cantik yang ada di hadapannya diiringi riuh dan tepuk tangan orang-orang yang ada di sekitarnya.


'Cinta seorang laki-laki dewasa adalah kepalsuan, karena sesungguhnya laki-laki tidak butuh cinta. Just sexxx no love!' batin Devano


__ADS_1


__ADS_2