
...🍁🍁🍁...
Maura menatap emosi pada wanita yang berada diambang pintu ruangan itu. Hanna juga melihatnya, dia adalah Alya ibu dari Bara yang tak lain adalah ibu mertua Maura. Hanna yang sedang berada dalam panggilan memanggil Bryan, langsung menyimpan ponselnya diatas meja.
Alya berjalan menghampiri Maura, walaupun tatapan dari kedua wanita yang ada di ruangan itu sangat tidak bersahabat kepadanya, malah menunjukkan kemarahan.
"Maura, ibu ingin bicara sama kamu." Pinta Alya pada Maura untuk bicara dengannya.
Melihat keadaannya saat ini, sepertinya dia sudah bisa diajak bicara. Syukurlah dia baik-baik saja.
"Apa yang mau ibu bicarakan dengan Maura? Apa ibu masih ada muka untuk bicara dengan teman saya?!" Hanna membentak wanita itu dengan menatapnya marah.
"Saya akan bicara dengan menantu saya, bukan kamu!" Ujar Alya sambil melotot ke arah Hanna. Meminta wanita itu untuk diam saja dan tidak ikut campur urusannya.
"Hah? Menantu? Lucu sekali!" Hanna mendesis sinis, menertawakan ucapan Alya yang mengatakan bahwa Maura adalah menantunya. Padahal selama dua bulan ini Maura selalu diperlakukan seperti pembantu di rumahnya sendiri.
Wanita ini benar-benar tidak tahu malu!
Alya berjalan mendekati Maura, dia memegang lembut kedua tangan wanita itu. Alya melihat telapak tangan Maura yang pernah terkena setrika waktu itu. "Maura, menantuku...ibu mohon maaf ya, selama ini ibu selalu memperlakukan kamu dengan tidak baik. Ibu kemari ingin meminta maaf sama kamu secara baik-baik,"
Hanna mencibir ucapan Alya yang memohon maaf dengan mudahnya pada Maura. Maura juga tidak bergeming, wajahnya tampak datar dan entah apa yang dia pikirkan tentang Alya.
"Ibu gak tau malu sekali ya? Meminta maaf, mengatakan Maura adalah menantu ibu, pasti ibu ada maunya kan? Kenapa? Apa ibu mau membujuk Maura untuk membebaskan putra tercinta ibu?" Sindir Hanna pada Alya dengan ketus.
Alya tidak menggubris ucapan Hanna, dia terus menunjukkan wajah memelas dan permohonan maaf supaya Maura luluh. Rencana Alya sudah tertebak oleh Maura dan Hanna, maafnya tidak tulus dan ada maunya.
"Maura, nak...kamu mau memaafkan ibu kan? Ibu adalah ibu mertua kamu dan Bara juga masih suamimu, tolong berikan kesempatan kedua kepada kami untuk memperbaiki kesalahan!" Alya memegang tangan Maura menatapnya dengan lembut
Masa sih Maura akan membiarkanku begitu saja, saat aku sudah memohon seperti ini padanya. Dia pasti akan luluh kepadaku.
Tangan Maura melepaskan tangan Alya yang memegangnya. Alya terperangah melihat sikap dan tatapan mata Maura yang tajam. "Maaf Bu, saya bukan menantu ibu...saya pembantu di rumah ibu dan tidak seharusnya ibu meminta maaf kepada saya." Maura ketus kepada Alya.
Aku ingat jelas, bagaimana kamu selalu memanggilku pembantu sambil melempariku dengan pakaian kotor.
"Nak...maafkan ibu, saat itu hati ibu tertutup oleh dendam dan kebencian. Ibu minta maaf Maura, ibu mohon...ibu akan lakukan apa saja asalkan kamu mau memaafkan ibu, Bara dan juga Ghea." Alya meneteskan air mata, dia mengatupkan kedua tangannya seraya memohon maaf pada Maura.
"Tidak, tidak ada maaf untuk kalian semua. Lebih baik ibu dari pergi sini, saya tidak mau nantinya saya bersikap tidak sopan pada orang tua." Maura tidak mau menunjukkan kelemahannya pada Alya, dia bahkan tidak mau menatap wanita itu dan membuang muka.
"Maura...ibu mohon, ibu akan lakukan apa saya asalkan kamu mau memaafkan ibu dan semuanya. Ibu juga mohon sama kamu untuk membebaskan Bara dari penjara, hidupnya bisa hancur kalau dia mendekam didalam penjara!" Alya memohon-mohon sambil menangis didepan wanita itu. Wanita yang selalu diperlakukan seperti pembantu olehnya, dicaci dimaki-maki sudah menjadi hal yang biasa untuk Maura. Namun dia tidak pernah melupakan rasa sakit yang dia alami karena ulah Bara.
Terlebih lagi kejadian semalam telah membuka matanya, bahwa dia tidak mau hidup bersama Bara selamanya.
__ADS_1
"Hahahaha...." Maura tiba-tiba saja tertawa, tawa yang sinis dan meremehkan Alya.
Hanna dan Alya menatap Maura yang sedang tertawa itu. "Niat ibu Alya benar-benar sangat TULUS ya? Ibu pasti sangat sayang pada anak ibu yang bajingan itu, sampai ibu membuat permintaan maaf yang tulus ini pada saya. Tapi maaf sekali... permintaan maaf ibu saya menolaknya!" Seru Maura tegas tanpa keraguan, matanya berkaca-kaca mengingat semua perlakuan buruk Bara dan keluarga Bara padanya.
BRUGH!
Alya menjatuhkan dirinya diatas lantai, dia duduk berlutut didepan Maura yang sedang duduk dengan posisi kaki terlentang diatas ranjangnya. Hanna dan Maura mengernyitkan keningnya, bertanya-tanya drama apa lagi yang akan dibuat oleh Alya.
"Ibu mohon! Apapun akan ibu lakukan, jika kamu ingin semua harta kekayaan keluargamu kembali, ibu akan membuat Bara kembali menyerahkannya sama kamu Maura. Asalkan Bara bisa dibebaskan dari penjara dan kamu memaafkan kami."
"Bu Alya, maaf ibu tidak ada gunanya. Maura sudah mengambil keputusan bahwa dia tidak akan memaafkan ibu, apalagi Bara!" Hanna angkat bicara, dia berusaha meyakinkan Maura untuk tetap pada keputusannya.
Aku harus membuat Maura teguh pada keputusannya dan dia tak boleh goyah lagi.
"Baik, saya akan melepaskan Bara dari penjara." Maura bicara dengan datar
Hanna menatap Maura dengan kaget. "Maura...apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu-"
"Benarkah? Kamu akan membebaskan Bara?" Alya terperangah mendengarnya.
"Iya, tapi tentu saja ada syaratnya." jawab Maura sambil mengepalkan tangannya.
Maura kamu harus berani mengambil keputusan, meski ini menyakitkan...kamu harus bisa.
Masih ada harapan, Bara masih punya masa depan. Setelah Bara bebas, aku akan membawanya dan juga Ghea untuk hidup dengan tenang.
"Jadi, apa syaratnya Maura?" Tanya Alya yang masih berlutut dilantai.
"Suruh Bara memberikan kembali semua harta kekayaan keluarga saya dan saya ingin dia melepaskan saya." ucap Maura memantapkan hati dan dengan berat hati ingin berpisah dari suaminya.
Hanna melihat Maura, dia tersenyum bahagia karena pada akhirnya Maura mengambil keputusan untuk dirinya dan Bara.
"Ba-baik, akan ibu sampaikan pada Bara tentang syarat darimu ini." Kata Alya menyanggupinya.
Sudah kuduga, dia pasti akan meminta hal ini. Pasti Bara akan setuju juga. Ya baguslah, mending mereka bercerai daripada berada dalam pernikahan tapi tak saling mencintai.
Alya pergi dari sana setelah dia menyelesaikan permintaan maafnya itu. Sementara itu, Maura langsung berbaring setelah banyak bicara dengan Alya, dia lelah dan pembicaraan itu menguras tenaganya.
"Maura, kamu sudah mengambil keputusan yang benar." ucap Hanna pada temannya itu.
"Syukurlah kalau keputusan ini memang sudah benar," Maura berusaha menahan tangisnya, namun akhirnya dia menangis juga. "Hiks...kenapa airnya malah keluar?"
__ADS_1
"Tidak apa-apa, keluarkan saja...jangan disimpan terus didalam hati." Hanna memeluk Maura seraya menenangkannya.
"Hiks...Hanna, berat sekali rasanya semua ini...apakah aku akan benar-benar berpisah darinya? Apakah memang hubungan kami harus berakhir seperti ini?"
"Maura...hubungan yang dimulai dengan kebohongan, memang harus berakhir." Hanna membenarkan semua keputusan Maura.
"Perasaanku tidak berbohong, aku mencintainya dengan tulus...tapi kenapa dia memperlakukan aku seperti ini, Han? Kenapa? Huhuuu..." Maura menangis didalam pelukan Hanna, menumpahkan semua kesedihannya.
Tanpa mereka sadari, telpon kepada Bryan terhubung dari ponsel Maura. Bryan menutup telponnya setelah mendengar Maura menangis, entah berapa banyak dia mendengar pembicaraan Maura dan sejak kapan dia mendengarnya.
Ferry melihat Bryan terdiam sambil memegang ponselnya. Wajahnya terlihat bingung, ada kesedihan didalam mata birunya itu. "Pak? Ada apa? Katanya Bu Maura menelpon bapak...lalu kenapa bapak tidak bicara?"
"Dia bilang dia ingin berpisah dengan suaminya..."
Ferry tersenyum, dia ikut bahagia dengan berita yang mungkin akan membuat Presdirnya itu kegirangan. "Woah...bukankah itu berita bagus pak? Ini kan yang sudah bapak tunggu-tunggu." Ferry memberikan ucapan selamat pada Presdirnya. Namun Ferry langsung diam ketika melihat wajah Bryan yang pucat.
Loh, kenapa pak presdir malah terlihat sedih? Bukankah harusnya dia senang karena Bu Maura memutuskan untuk bercerai? Harusnya dia berjingkrak atau malah salto mendengar berita bahagia ini.
"Pak, kenapa bapak sedih?" Ferry terheran-heran melihat raut wajah Bryan.
"Aneh kan Ferry? Harusnya aku bahagia mendengar kabar ini, tapi bahagiaku sepertinya tertunda sesaat. Ketika aku mendengar dia bilang kalau dia bilang cinta pada bajingan itu, rasanya sesak disini... Ferry." Bryan memegang dadanya, merasakan sesak disana.
"Pak, bapak jangan khawatir...mungkin sekarang Bu Maura masih merasakan sedikit cinta untuk pria itu, tapi nanti hatinya untuk bapak. Saya yakin bapak bisa membuat Bu Maura melupakan pak Bara sepenuhnya, saya juga yakin Bu Maura bisa melupakannya. Buktinya, bu Maura sudah memutuskan untuk bercerai....itu artinya Bu Maura sudah siap untuk melupakan masa lalunya. Bapak tenang saja, waktu akan membuat bu Maura melupakannya dan menyembuhkan lukanya, saat itulah bapak bisa masuk ke dalam hatinya."
Sekretaris Bryan itu menjelaskan dengan panjang lebar dan menyemangati Bryan agar pria tampan itu tidak menyerah.
"Hahaha...Ferry, kamu ini sekretarisku atau konsultan cinta? Hah?" Bryan tertawa.
"Apa maksud bapak? Tentu saja saya sekretaris bapak!" Ferry menyerukan para Bryan.
"Habisnya kamu bicara seolah kamu adalah pakar cinta, sepertinya kamu dulu playboy ya!" Seru Bryan menggoda sekretarisnya itu.
"Pak, bapak tau kan saya jomblo sampai sekarang karena siapa? Bagaimana bisa saya menjadi playboy? Sedangkan saya sibuk dengan semua pekerjaan di kantor dan tidak ada waktu untuk berkencan!" Keluh Ferry pada Bryan yang selalu mempekerjakannya tanpa tau waktu.
"Oh, jadi kamu keberatan dengan semua pekerjaan ini? Kalau kamu mau beristirahat, silahkan saja. Aku akan membuatmu istirahat di rumah selamanya, serahkan suratnya kebagian HRD dan ambil pesangonmu sana!" Titah Bryan sambil menatap tajam ke arah Ferry
Ferry menelan ludah, dia tercengang dan takut saat mendengar ucapan Bryan yang terdengar serius itu. "Oh iya pak, saya lupa kalau ada beberapa dokumen yang harus saya fotocopy!"
Pria itu langsung berlari pergi meninggalkan ruangan Presdir dengan terburu-buru karena ketakutan dengan ancaman Bryan.
🍀🍀🍀
__ADS_1
Sore itu, di rumah sakit tempat Maura di rawat. Maura sudah diperiksa oleh bagian psikologis dan tidak ada masalah serius terkait kejiwaannya. Reaksi yang tadi pagi hanyalah reaksi syok sementara. Kini keadaan Maura sudah kembali normal, namun dia banyak melamun.
...*****...