
Sebagian cuplikan bab ini ada di bab 1 ya, hanya saja di sini lebih rinci. Jangan heran kalau ada yang sama karena flashback berakhir di bab ini.🤫🥰🥰 Like lebih dari 120, komen lebih dari 20... author up lagi 🔪🔪🔪
...🍁🍁🍁...
Maura menepis tangan Bara dengan sekuat tenaganya. "Saya tidak mau ikut anda pak Bara,"
Daripada aku meladeni dia, lebih baik aku kembali ke pesta. Pak Bryan pasti sudah menungguku.
Bara kesal dengan Maura yang keras kepala, dia pun memegang erat lagi tangan Maura. "Bara!"
"Jadi selama ini benar kamu berselingkuh?" Bara menghakimi Maura, dia menatap Maura dengan tatapan terluka.
"Kenapa kamu menghakimiku? Apa kamu ada hak untuk bertanya seperti ini padaku? Disaat kamu sendiri membawa wanita lain ke pesta ini dan mengakui dia sebagai istri kamu? Bagaimana ceritanya Lisa menjadi Maura Agradana?" Sindir Maura sakit hati, karena suaminya membawa wanita lain ke pesta dan berpura-pura sebagai dirinya.
Bara memberikan penjelasan pada Maura."Itu karena kamu bilang, kamu akan pergi bersama Evan. Jadi aku tidak punya pilihan lain selain mengajak Lisa kemari!"
"Hah? Tidak punya pilihan? Kenapa kamu susah payah menjelaskannya padaku, Bara? Bukankah kamu selalu bersikap seperti apa yang kamu mau? Bukannya kamu senang kalau bisa pergi kemanapun bersama pelakor itu? Kenapa kamu membela diri di depanku?" Maura mendesis sinis, dia menatap tajam Bara.
Iya juga ya? Kenapa aku malah menjelaskan semua ini padanya? Padahal aku biarkan saja,agar dia cemburu. Tapi, aku sangat kesal melihatnya bersama pria lain...kenapa hatiku ini seperti tersayat? Bukankah aku tidak mencintainya?
Ketika Bara terdiam dan dia melepaskan tangan Maura, barulah wanita itu melangkah pergi. Namun sebelum Maura bergerak lebih jauh, Bara tiba-tiba menggendong Maura di bahunya dengan paksa. "Bara! Apa yang kamu lakukan? Bara lepaskan aku! Aku akan teriak!" ancam Maura dengan memukul-mukul punggung Bara.
"Teriak saja, mereka semua sedang sibuk di pesta, mana mungkin mereka mendengarmu. Lagian siapa juga yang akan melarangku membawa istriku sendiri?!" Bara dengan segala kekuatannya, dia mampu membopong tubuh Maura.
Bara membawa Maura masuk ke dalam lift setelah dia memesan salah satu kamar didalam hotel itu, beberapa orang melihatnya dengan aneh. Karena Maura mengamuk minta diturunkan dan memberontak pada Bara.
"Kami suami istri pak, saya dan istri saya sedang ada masalah." Jelas Bara pada seorang pria yang satu lift dengannya.
"Bapak jangan kasar ya sama istri bapak!" ujar si bapak itu mengingkatkan Maura.
"Hahaha baiklah pak," jawab Bara sambil tertawa canggung.
"Tolong pak, dia orang gila bukan suami-"
Bara segera menurunkan Maura dari gendongannya dan dia menutup mulut Maura dengan tangannya. "Sayang, maafin aku...mari kita selesaikan urusan kita di kamar ya." ucap Bara pada Maura.
Laki-laki bajingan.
*****
"Lepaskan aku Bar! Apa yang kamu lakukan?!" Ujar Maura pada seorang pria yang menarik tangannya dengan kasar itu.
Mereka berdua masuk ke dalam salah satu kamar hotel yang mewah. Kemudian Bara mendorong Maura ke ranjang dengan kasar. Hingga gadis itu terbaring diatasnya.
__ADS_1
"Bara!" Pekik wanita itu yang berusaha bangkit dari ranjang. Namun, kedua tangan pria bernama Bara itu sudah menguncinya hingga Maura tidak bisa kemana-mana.
Tangan Bara menaikkan dagu Maura, dia menatap wanita itu penuh kebencian dan murka. "Beraninya kau bermain dengan pria lain didepanku! Kamu sudah bosan hidup? Hah!" Bentak pria itu pada Maura dengan marah. "Jangan lupa, kita masih suami istri!" Teriak Bara menegaskan status pernikahan diantara mereka berdua.
Maura menatap Bara dengan mata yang berkaca-kaca. Dia selalu mencintai Bara dan segalanya telah dia berikan kepada Bara. Namun apa yang diberikan Bara padanya? Hanya cinta palsu dan penderitaan, apalagi setelah mereka menikah. Di malam pertama pernikahan mereka, suaminya itu berubah dan Maura tidak tau apa penyebabnya.
"Kenapa? Kamu tidak suka aku bermain dengan pria lain? Apa kamu cemburu?" Maura mendesis sinis, air matanya terlihat menggenang di bawah mata. Akan tetapi, gadis itu masih berusaha terlihat tegar di luar.
Bara tersenyum sinis, dia menaikkan bahu dan alisnya setelah mendengar perkataan Maura, "Hah! Apa kamu bilang? Cemburu? Aku? Apa kamu bercanda? Rasa cemburu hanya dimiliki oleh orang yang memiliki perasaan cinta, kau tau aku tidak memilikinya untukmu!" Bara memegang kedua pipi Maura dengan keras, kedua kakinya mengunci tubuh mungil Maura yang berontak.
"Kalau kamu tidak mencintaiku, kenapa tidak lepaskan saja aku? Apa susahnya?" Tanya Maura memberanikan dirinya. Terlihat dirinya sangat lelah dengan sifat Bara.
Pria yang aku cintai telah berubah, apalagi yang harus dipertahankan? Semua kehangatan itu. Semua cinta yang dia tunjukkan padaku sebelumnya, adalah cinta palsu. Aku lelah.. aku ingin mengakhiri semuanya. Maura membatin perih dalam hatinya.
Sekuat tenaga gadis itu menahan tangis, dia terisak dengan perlakuan suaminya.
"Beraninya kamu meminta aku melepaskanmu! Sepertinya belakangan ini aku terlalu lembut padamu. Baiklah, akan aku tunjukan betapa dalam aku cinta padamu, kalau kamu ingin tau!" Pria itu tersenyum sinis.
Bara melepaskan dasi dari kemejanya, dia mengikat kedua tangan Maura dengan dasi itu. Mata Maura melebar menatap suaminya, lagi-lagi dia diperlakukan kasar oleh Bara.
"Lepaskan...aku! Bara!" Pinta gadis itu sambil meronta-ronta. Kedua tangannya sudah terikat dengan tali mati.
Bara melepaskan ikat pinggang yang sebelumnya melilit di celananya. Maura mulai ketakutan melihat raut wajah suaminya yang tampak menyeramkan, dia berusaha bangkit dari ranjang itu, namun Bara memukulnya dengan ikat pinggang.
"Mau kemana kamu? Masih berani pergi dari sini? Cari mati kamu! Apa kamu masih mau menemui pria itu?!" Bara menarik tangan istrinya yang terikat erat itu dengan kasar. Dia mendorong Maura ke atas ranjang.
"Ya benar, aku memang mau pergi menemui pria itu, lalu aku akan bersenang-senang dengannya. Kenapa? Tak boleh? Kenapa kamu bisa bersenang-senang dengan wanita lain setiap malam sedangkan aku tidak bisa?!" Teriak Maura murka, dia tak tahan lagi dengan semua amarah menumpuk di benaknya.
Plakk
Bara menampar istrinya dengan keras. Hingga gadis itu tak tahan lagi lalu menangis. "Sepertinya kau seperti ini karena aku tidak pernah memuaskanmu, baiklah...malam ini aku akan puaskan hasratmu itu agar kamu tidak bisa pergi pada selingkuhanmu itu!" Bara melepaskan bajunya. Kini pria itu sudah bertelanjang dada di depannya.
Tubuh Bara menindih tubuh Maura dengan kuat. Hingga Maura tak bisa berkutik melawan tubuh kekar itu.
"Bara.. apa yang mau kamu lakukan? Ja-jangan.." pinta gadis itu sambil menangis.
Bara melorotkan baju yang dipakai istrinya, "Ssttt…kamu diam saja, malam ini aku akan buat kamu bertekuk lutut di hadapanku selamanya." Bibir Bara menelusuri leher sang istri bahkan menggigitnya dengan kasar.
"Ah tidak! Aku tidak mau, Bara. Lepaskan aku….d-dan mari kita bercerai saja." Maura ketakutan melihat perangai suaminya saat ini. Apalagi ketika Bara mulai melorotkan segitiga pengaman yang menutupi bagian terlarang dari tubuhnya. Bagian yang tak pernah terlihat bahan terjamah oleh siapapun.
"Bercerai? Jangan mimpi, setelah malam ini kamu tidak akan bisa dan tidak akan pernah bercerai dariku! Kamu harus mengandung anakku, hidup dengan air maniku selamanya." Bara memeluk Maura, dia melepaskan celananya. Kemudian dia menusuk tubuh Maura dengan kasar.
"AHHHh!! Sakit…Bara! Lepaskan aku, keluarkan…ini sakit..sakit…ughhh.." Maura menangis, seraya memohon pada pria yang menindih tubuhnya itu agar berhenti. "Hiks…hiks.."
__ADS_1
Sakit, ini sangat menyakitkan.
Bara tersenyum menyeringai, dia puas melihat Maura kesakitan dan menangis dibawah tubuhnya. "Bagus, merintihlah lebih banyak agar aku puas. Ayo Maura.. katakan! Bukankah suamimu ini sangat memuaskan di bandingkan pria itu?" Ucap Bara sambil menjilat air mata Maura yang menetes jatuh membasahi pipinya. "Aku lebih baik darinya kan, dalam urusan ranjang?" tuduh Bara yang mengira Maura telah bermain bersama Bryan diatas ranjang.
"AHHHh!!!" Teriak Maura dengan tangan yang kesulitan untuk bergerak. "Baraa!! Hentikan! Kamu menyakitiku…!! Aku tidak mau menyerahkan kesucianku untuk b"jing*n!"
Sesuatu masuk ke tubuh gadis itu dan membuat Maura kesakitan, dia merintih dengan bulir air mata terus jatuh membasahi pipinya.
Lalu bagaimana dengan pria yang sudah memaksanya itu? Dia malah tersenyum penuh kepuasan disaat Maura kesakitan.
"Kamu harus mengandung anakku Maura, kamu tidak boleh lepas dariku! Selamanya.. kamu tidak akan aku lepaskan. Kamu… akan selalu berada di bawah kakiku, di bawah tubuhku seperti ini!" Bara terus saja menusuk tubuh Maura dengan rudal miliknya tanpa ampun.
"Kamu benar-benar gila…tidak waras kamu, Bara! Sakit jiwa!" Pekik wanita itu menatap pada suaminya dengan penuh amarah.
"Diam!" Bara menutup mulut Maura dengan bibirnya, dia menyesap bibir itu dengan dalam. Dia tak mengizinkan Maura untuk mengambil nafas, dia terus melahap istrinya tanpa jeda.
Tak lama kemudian, Bara melepaskan pagutan bibirnya. Memberikan kesempatan pada Maura untuk menghirup sedikit udara. "Haaahhhh…huaahhhh…"
Bara mengangkat dagu sang istri dengan kasar, "Maura.. ingat ini! Pernikahan kita maupun perceraian, hanya aku yang bisa memutuskannya! Kau tidak punya hak untuk itu. Kalau kau berani lagi bicara soal perpisahan, aku akan membuat semua keluargamu menderita… terutama ayahmu yang tersayang itu. Apa kau paham? Apa kamu pikir aku bodoh? Aku sudah tau kamu menyembunyikan ayahmu dimana dan aku bisa melakukan apapun padanya."
Ayah? Tidak! Tidak boleh terjadi sesuatu pada ayah.
Mata Maura melebar mendengar ancaman Bara tentang ayahnya. Maura tak berdaya, dia tak bisa bergerak dengan tubuh kekar yang menindih tubuhnya dan membatasi pergerakannya itu. Maura memukul-mukul dada suaminya.
Brengsek kamu Bara! Bajingan, kamu! Aku membencimu Bara, aku menyesal pernah mencintaimu.
Bara menghentikan aksinya setelah beberapa kali dia mencapai puncak surga ketujuh, ketika dia sudah berhasil menyemburkan vanilla ke tubuh Maura dengan paksa. Hingga setengah malam sudah dia lewati dengan menyiksa Maura dia atas ranjang.
Beberapa saat kemudian dia merasakan ada sesuatu yang aneh dibawah sana. Ketika itulah dia berhenti menyiksa istrinya. Dia mengeluarkan miliknya dari tubuh Maura, wanita itu sudah tak berdaya.
Darah? Kenapa bisa berdarah? Bukankah dia sudah pernah dengan...
Pria itu tercengang saat dia melihat ada bercak darah di seprai ranjang. Darah yang berasal dari tubuh Maura. "Kenapa? Kamu kaget? Kamu pikir aku sudah berhubungan dengan pria lain?" Maura menatap penuh dendam pada pria yang adalah suaminya sendiri, pria yang sudah mengambil kesuciannya.
"Kamu!" Bara menatap Maura dengan bingung, ada rasa bersalah didalam matanya.
Pertama kalinya adalah aku?
"Bejat kamu Bara, bajingan...semuanya sudah berakhir, aku sangat benci kamu." Maura menutup matanya, dia terbaring tidak sadarkan diri diatas ranjang.
"Maura!" Bara menggoyangkan tubuh istrinya yang tidak sadarkan diri itu. "Maura! Sadarlah!"
...****...
__ADS_1