
...๐๐๐...
Bara meringkuk sendirian di sel tersendiri, dia mengkhawatirkan keadaan Maura. Bahkan dia meminta pak polisi untuk menelpon Nathan, untuk mengecek keadaan Maura. Tapi, pak polisi tidak mendengarkan Bara dan mengabaikannya.
"Saya mohon pak! Biarkan saya menghubungi sekretaris saya, saya ingin menanyakan keadaan istri saya! Pak!" teriak Bara pada salah satu sipir penjara yang ada disana.
Namun Bara diabaikan lagi dan lagi, anehnya dia bukan memikirkan bagaimana caranya dia keluar dari penjara. Tapi dia memikirkan keadaan Maura di rumah sakit.
"Ya Allah, semoga Maura baik-baik saja..." ucap Bara seraya berdoa, mengatupkan kedua tangannya, berharap Maura baik-baik saja.
Aku tau aku tidak pantas berdoa untukmu, tapi aku akan tetap memohon agar kamu baik-baik saja.
Disisi lain, Ferry datang kesana dan melakukan apa yang diperintahkan oleh Bryan. Untuk menahan Bara di penjara, dan pria itu tidak boleh bebas dengan jaminan.
****
โณ๏ธDi rumah sakitโณ๏ธ
Pintu ruang UGD terbuka lebar, seorang dokter wanita dan seorang suster keluar dari ruangan itu. Bryan, Evan dan Hanna langsung beranjak tempat duduk mereka dan menghampiri si Dokter wanita.
"Dokter, bagaimana keadaan adik saya?!"tanya Evan dengan harap harap cemas.
"Keadaan Bu Maura saat ini sedang dalam masa pemulihan pasca operasi. Saya sudah menjahit bagian luka di bagian yang robek itu dan mensterilkannya, namun untuk saat ini...agar Bu Maura cepat pulih. Bu Maura harus banyak beristirahat dan jangan banyak bergerak sampai lukanya benar-benar sembuh. Kami akan memindahkannya ke ruang rawat," jelas dokter pada Hanna, Evan dan Bryan yang ada disana.
Seorang suster mendorong ranjang yang diatasnya ada Maura. Wanita itu masih menutup matanya, terbaring tak berdaya. Evan, Hanna dan Bryan melihat Maura yang dipindahkan ke ruang rawat dengan cemas.
Maura. Panggil Bryan pada wanita itu dalam hatinya.
"Terima kasih dok," jawab Evan lega.
"Tapi pak Revandra, luka-luka luar ditubuhnya mungkin bisa sembuh dengan cepat...namun, tidak dengan luka hatinya."
"Apa maksud dokter?" Tanya Evan sambil menatap si dokter wanita itu dengan bingung.
"Saya takut bahwa dengan kejadian ini akan menimbulkan trauma pada Bu Maura, apalagi trauma untuk melakukan hubungan intim. Tapi semoga saja tidak ya pak dan ini hanya kecemasan saya sebagai seorang dokter. Tapi pasti...setelah Bu Maura siuman, dia pasti akan merasa sakit seperti habis melahirkan." ucap Dokter itu menjelaskan kekhawatirannya terhadap kondisi Maura nantinya.
Sakitnya melahirkan? Ya Tuhan, itu pasti sakit sekali!. Batin Bryan sedih.
Penjelasan dari dokter itu membuat Bryan, Hanna dan Evan cemas pada kondisi Maura nantinya. Setelah Maura dipindahkan ke ruang rawat, Hanna, Evan dan Bryan melihat keadaannya.
Bryan menatap Maura dengan tatapan rasa bersalah, dia membayangkan betapa sakitnya Maura saat dipaksa oleh Bara dan dia tidak ada disana untuk menolongnya.
__ADS_1
"Pak Bryan, terima kasih bapak sudah menolong adik saya...namun sebaiknya bapak segera pulang karena hari sudah sangat malam." ucap Evan pada Bryan merasa tidak enak karena pria itu banyak membantunya dan Maura.
"Baiklah, kalau ada apa-apa...tolong beritahu saya." ucap Bryan berpesan pada Evan.
"Iya pak, terima kasih atas bantuan bapak."
"Kamu tenang saja, saya akan membuat Bara mendapatkan bayaran atas semua perlakuannya pada Maura," ucap Bryan sambil menepuk bahu Evan seraya menghiburnya.
"Terima kasih pak, bapak sangat baik pada saya dan adik saya!" Seru Evan sambil tersenyum pada Bryan.
"Jangan berterima kasih, saya merasa tidak enak." Bryan merasa tidak enak dengan rasa bersalahnya tidak bisa menolong Maura dari kebejatan Bara.
Bryan pun pamit pulang, dia mengetahui batasan yang harus dipatuhi. Apalagi Maura masih punya keluarga yang bisa membantunya dalam kesulitan. Dia sadar bahwa saat ini dia hanya orang luar yang sedang berusaha masuk ke dalam hidup Maura.
*****
Keesokan harinya, pagi itu sebelum berangkat ke kantor. Bryan pergi ke rumah sakit sambil membawa buket berisi buah buahan untuk menjenguk Maura. "Dia pasti sudah siuman dan sedang sarapan saat ini, semoga dia baik-baik saja." gumam Bryan sambil berjalan di lorong ruang rawat Maura.
Saat Bryan sudah dekat ke ruangan itu, dia mendengar kegaduhan didalam sana seperti ada benda-benda yang dilempar.
"Pergi! Jangan mendekat, atau aku akan-"
BRAK!
"Maura!"
Didalam sana, terlihat Maura sedang berdiri di ujung ruangan itu sambil memegang pisau buah. Disana juga ada Hanna dan dua orang suster, wajah mereka terlihat panik. Barang-barang disana juga berantakan, Bryan tidak mengerti apa yang terjadi.
"Maura, tenanglah dan simpan pisau itu..kami tidak akan menyakitimu, suster hanya ingin memeriksa kondisimu!" Jelas Hanna yang mencoba menenangkan Maura.
"TIDAK!" Maura berteriak, dia menyodorkan pisau itu pada orang-orang di sekitarnya untuk melindungi diri. "Kalian pasti mau memaksaku, dasar brengsek!!" Teriak Maura marah, matanya terlihat ketakutan.
"Bu Hanna, apa yang terjadi?" Bryan bertanya pada Hanna tentang keadaan Maura sebelum dia sampai disana.
"Saya tidak tahu, tapi saat Maura bangun dia sudah seperti ini...apalagi saat ada yang menyentuhnya." ucap Hanna menjelaskan secara singkat keadaan Bryan tentang Maura.
Apakah ini trauma yang dimaksud oleh dokter semalam?
"Ibu, ini tenang saja...saya hanya ingin memeriksa kondisi ibu." jelas seorang suster sambil berjalan mendekat ke arah Maura pelan-pelan.
Maura menatap marah pada orang-orang disekitarnya, dia ketakutan dan paranoid. "Bohong! Kalian pasti akan menyakitiku, kalian pasti akan memaksaku dan memukulku!" Dari kaki Maura terluka ada darah mengucur ke lantai. Mungkin dari tubuhnya yang terluka.
__ADS_1
"Tidak Bu, kami hanya ingin memeriksa kondisi ibu...kami tidak akan menyakiti ibu." Hanna dan kedua suster itu berusaha untuk membujuk dan mendekati Maura, namun wanita itu mengancam akan menusuk dirinya dengan pisau.
Bryan sedih melihat kondisi Maura seperti apa yang diperkirakan dokter. Bahwa luka hati tidak mudah untuk sembuh sama seperti luka luar yang bisa diobati juga cepat sembuh dengan obat.
"Maura, tenanglah...disini aman, dia tidak ada disini. Kamu akan baik-baik saja, turunkan pisau itu ya...please..."
Kalau dia terus bergerak seperti ini, lukanya yang terbuka bisa terus mengeluarkan darah.
"Tidak mau! Semua pria sama saja, semuanya JAHAT!" Teriak Maura pada Bryan, wanita itu seperti kehilangan akal sehatnya.
"Letakkan pisau itu, kami janji tidak akan memaksamu! Kumohon!" ujar Bryan membujuk Maura untuk meletakkan pisaunya. Dia berjalan perlahan-lahan mendekat ke arah Maura.
Sret!
Maura menyayat telapak tangannya dengan berani. Hanna, Bryan dan kedua suster yang ada disana kaget melihat tindakan berani Maura.
"Maura!" Hanna berteriak panik, melihat darah ditangan Maura.
"Aku akan sudah bilang, kalian jangan mendekat! Atau aku akan-"
Bryan mendekat ke arah Maura, dia terpaksa membopong wanita itu dengan paksa karena dia tidak mau Maura berbuat yang tidak-tidak lagi. "Lepaskan aku Bara! Kenapa kamu memaksaku? Kamu bajingan penjahat! Lepaskan aku!" Maura meronta-ronta pada tubuh kekar Bryan. Wanita itu menangis saat memukul-mukul Bryan.
"Tenanglah, aku bukan dia... tenang!" Teriak Bryan pada Maura, dia pun membaringkan Maura diatas ranjang.
Hanna dan kedua suster itu juga membantu Bryan untuk menenangkan Maura yang mengamuk disana. Mereka kasihan pada Maura yang mungkin kesehatan mentalnya agak terganggu. "Cepat kalian periksa dia!" Teriak Bryan sambil memegangi tangan Maura dengan erat. Bryan menatap Maura dengan mata berkaca-kaca.
Maafkan aku little girl...maafkan aku.
"Penjahat...Bara penjahat!!" teriak Maura emosi.
"Ba-baik pak," jawab suster sambil menyiapkan sesuatu didalam suntikan. Dia bersiap untuk menyuntik Maura.
Tanpa mereka sadari, ada orang yang mengintip diluar ruangan itu. Melihat Maura yang sedang di suntik obat penenang oleh suster.
"Ibu, wanita itu menjadi gila!" kata Ghea sambil menoleh ke arah ibunya.
"Ghea, jaga bicara kamu!" Ujar Alya pada anak gadisnya itu.
Ya Allah, Bara...apa yang kamu lakukan padanya hingga dia seperti ini?
...****...
__ADS_1