Terjebak Dendam Suamiku

Terjebak Dendam Suamiku
Bab 58. Breakfast


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Alangkah bahagianya hati Bryan dia ajak sarapan oleh Maura, kebahagiaannya juga berlipat ganda saat dia mendengar dari Evan bahwa Maura, wanita yang ditaksirnya itu akan segera resmi bercerai dan hanya tinggal menunggu waktu saja.


Setelah menepikan mobil, Maura mengajak Bryan ke sebuah warung bubur kecil di pinggir jalan. "Disini buburnya sangat enak loh pak, saya selalu makan disini bersama kak Evan."


"Aku pikir kamu dan Evan tidak pernah datang ke tempat seperti ini," Bryan heran karena Maura yang notabenenya adalah orang kaya


Aku tidak menduga bahwa wanita yang terlihat seperti putri di keluarganya, bisa pergi ke tempat sederhana seperti ini. Aku pikir Maura adalah putri manja seperti apa yang dikatakan semua orang dan dia harus selalu mendapatkan sesuatu yang mewah.


"Walaupun warungnya kecil tapi makannya gak kalah enak sama di restoran kok, saya jamin pak! Oh ya pak, bapak kan tidak terbiasa makan ditempat seperti ini ya? Kalau bapak tidak nyaman, mending kita pindah ke tempat lain saja."


Aduh, kenapa aku tidak memikirkan ini? Orang seperti pak Bryan tidak mungkin makan di tempat begini.


"Tidak perlu, tidak apa-apa. Kita makan disini saja," Bryan tersenyum.


"Beneran gak apa-apa pak? Ah--saya tidak enak sama bapak," kening Maura berkerut.


"Jangan begitu, aku memang tidak pernah makan ditempat seperti ini tapi dari dulu aku memang ingin mencobanya."


"Pak..." Maura menatap pria bak model itu dengan heran.


"Kita pesan saja buburnya,kamu bilang buburnya enak kan?" Bryan tersenyum, dia senang akan sarapan bersama Maura.


Dimanapun asal bersamamu, aku akan senang.


"Baiklah pak, akan saya pesankan buburnya!"


Mereka pun makan bubur bersama disana, Bryan memuji rasa bubur di kedai kecil itu. Rasanya tidak jauh berbeda dengan bubur yang ada di restoran, malah lebih enak dan porsinya lebih enak walau harganya murah.


"Wah, kamu benar. Buburnya enak sekali,"


"Ya kan pak? Saya bilang juga apa, mulai sekarang bapak harus rajin sarapan ya setiap hari... bubur, roti, nasi goreng atau apa saja yang bisa mengisi perut. Jangan sampai perut kosong saat sedang bekerja, sarapan itu penting pak!"


"Ya ya baiklah. Tapi, apa kamu bisa membuat nasi goreng?" Tanya Bryan sambil memakan bubur yang ada di sendoknya.


"Hem, kenapa memangnya?" Maura melihat ke arah lawan bicaranya itu.


"Aku suka nasi goreng, apalagi nasi goreng kambing."


"Oh ya? Saya tidak tahu bapak yang kebarat-baratan ini menyukai makanan lokal juga," ucap Maura tak menyangka bahwa di balik wajah tampan Bryan yang seperti aktor Hollywood itu akan menyukai masakan oriental.

__ADS_1


"Hahaha...hanya wajahku saja yang kebarat-baratan, tapi sebenarnya aku sangat menyukai masakan negeriku sendiri. Aku juga dengan wanita asli Indonesia," ucap Bryan sambil menatap wanita itu dengan tatapan nanar.


Dan wanita yang aku sukai itu adalah wanita yang sedang aku lihat saat ini.


"Benarkah?"


Kenapa ya pak Bryan menatapku seperti itu? Aneh sekali..


"Hem...jadi kamu bisa masak nasi goreng atau tidak?"


"Bisa kok," Maura mengambil gelas berisi air minum.


"Baguslah, karena nanti kamu harus memasak untukku setiap hari agar aku bisa sarapan." Bryan mengedipkan matanya dengan genit.


Pruuuttttttt.....


Tak sengaja, Maura menyemburkan air yang sedang dia minum pada wajah Bryan. "Maaf pak, sa-saya..."


Apa aku salah dengar? Barusan pak Bryan bilang aku harus memasak untuknya setiap hari?


Maura segera mengambil tisu kering disana, dia membantu Bryan mengusap wajahnya yang basah. "Maaf pak, saya mohon maaf...saya tidak sengaja!"


Sesaat aku lupa kalau dia mysophobia. Ya ampun, dia pasti sangat marah!


Tangan Bryan memegang tangan Maura secara tak sengaja sebab dia ingin mengusap wajahnya sendiri. Tanpa sadar mereka jadi saling menatap satu sama lain. Dengan mata birunya yang indah seperti air laut, dia menatap mata Maura yang berwarna coklat muda itu.


"Pak,"


"Hem?" sahut Bryan yang tidak berkedip sama sekali saat menatap Maura. Dia terlena menatap wanita itu, ingin wajahnya disentuh lebih lama lagi oleh Maura.


Namun sayang Maura belum bisa dia miliki sepenuhnya karena masih ada batu sandungan bernama status dan juga Bara.


"Ayo kita pergi, nanti kita terlambat." Maura menyingkap rambut yang sempat menghalangi wajahnya. Dia bicara tanpa melihat ke arah Bryan.


"Iya, ayo." Bryan seperti linglung, terpesona oleh Maura.


Bahkan dia tidak sadar bahwa ada banyak pengunjung wanita yang menatapnya, di warung bubur kecil-kecilan itu.


Selesai membayar biaya makan bubur, barulah Maura menyadari bahwa banyak tatapan mata mengarah ke arahnya dan Bryan.


"Seharusnya aku saja yang bayar, aku tak enak dibayarkan oleh wanita."

__ADS_1


"Tidak apa-apa pak, saya yang mengajak jadi saya yang bayar. Lain kali bapak harus sarapan ya,"


"Kalau kamu mau menemaniku sarapan, aku pasti sarapan." Celetuk pria itu sambil tersenyum.


"Kenapa harus saya yang menemani bapak?"


"Karena aku mau makan kalau ada kamu," jawab Bryan yang sontak saja membuat hati Maura bergetar.


Pria ini...kenapa sih dia selalu saja mengatakan hal-hal yang membuatku merasa aneh?


"Ehem, sepertinya bapak populer sekali ya." Maura mengalihkan pembicaraan dan dia melihat ke arah pengunjung kedai bubur yang di dominasi oleh wanita, sedang melihat ke arah Bryan.


"Maksudnya apa?" tanya Bryan tidak paham.


"Bapak lihat saja tuh, semua wanita disini melihat bapak." Maura memperlihatkan pada Bryan, wanita-wanita yang menatapnya terpesona.


Bryan bergidik melihat tatapan tatapan genit dari wanita-wanita itu kepadanya, "Mereka tampak menyeramkan,"


"Apa?" Maura melongo, melihat reaksi Bryan yang terlihat tak senang dengan tatapan wanita-wanita disana.


"Ayo kita cepat pergi, aku ngeri disini." Bryan berjalan buru-buru meninggalkan kedai bubur itu. Maura melihat Bryan bergidik, sambil tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


Ternyata pak Bryan memiliki sisi yang lucu juga. Dasar mysophobia.


Mereka sampai di depan penjara, setelah melalui perjalanan hampir 15 menit kesana. Maura keluar dari mobil Bryan, dia berterimakasih karena Bryan mengantarnya. "Pak, terimakasih bapak sudah mengantar saya."


Bryan keluar dari mobil mengikuti Maura. "Pak, kenapa bapak turun juga?"


"Aku akan menunggu kamu disini," Bryan menatap Maura dengan serius, tatapan yang berbeda dari biasanya.


"Ti-tidak usah pak, bapak kan harus kerja dan bapak sibuk. Lebih baik bapak cepat pergi,"


Pria itu menggeleng, "Aku akan berada disini."


"Pak, tolong jangan terlalu baik pada saya. Saya tidak bisa menerima kebaikan bapak, saya tidak bisa membalasnya dan saya tidak mau memberi harapan pada bapak, karena saya tidak bisa memberikan apa-apa untuk bapak."


Apa little girl sudah peka terhadap perasaanku?. Bryan terkejut mendengar ucapan Maura.


"Jangan bilang begitu, jangan bilang kamu tidak bisa membalasnya. Tidak apa, aku akan tetap disini, kamu hanya perlu datang."


Maura berdebar mendengarnya, dia pun tersenyum dan membalikkan badan. Berjalan menuju ke dalam penjara. 'Pak Bryan, maaf tapi hatiku belum bisa,'

__ADS_1


Bryan menatap punggung Maura, "Tidak apa, aku akan disini, kamu hanya perlu datang. Aku yakin bahwa perasanku bukan hanya perasaan semu."


...*****...


__ADS_2