
Pintu yang terbuka lebar itu, sontak saja membuat Maura dan Bryan terpisah. Maura langsung terkejut melihat siapa yang datang, seorang wanita yang tidak asing.
Ibu itu kan... Maura mengingat-ingat wanita yang berdiri diambang pintu itu.
Ish!
Bryan mendesis kesal dengan orang yang menganggu suasananya dan Maura, orang tidak tahu aturan dan membuka pintu tanpa mengetuknya.
"Siapa sih yang masuk tanpa mengetuk pintu?" Tanya Bryan gusar. "Mama?" Bryan ternganga melihat mamanya yang ada disana.
"Maaf, mama gak lihat kok! Mama gak lihat!" Clara membalikkan badannya, dia belum sempat melihat sosok Maura dengan jelas. Dia hanya sempat melihat rambut panjangnya, bentuk tubuh yang langsing dan ramping.
Ya Tuhan, aku lupa mengetuk pintu...saling semangatnya aku ingin melihat sosok perempuan yang membuat Bryan jatuh cinta.
Maura merasa tidak enak, dia pun gelagapan dan bingung mau melakukan apa. "Sa-saya..."
Duh, itu pasti mamanya pak Bryan. Aku gak enak banget, dikiranya aku ngapain kali ya sama pak Bryan.
Maura melihat Bryan mendengus kesal melihat sosok wanita yang ada di ambang pintu ruangan tersebut.
Aduh mama! Ngapain sih mama pakai masuk segala tanpa mengetuk pintu?
"Maaf pak, lebih baik sa-saya pulang...kita bicara tentang proyeknya nanti saja." Ucap Maura sambil mengambil tas selempangnya yang ada di atas kursi dengan gugup. Tiba-tiba saja dia merintih kesakitan. "Aw..."
Bryan langsung menghampirinya dengan cemas. "Kamu kenapa?"
"Tidak ada apa-apa pak," Maura memegang kaki sebelah kirinya yang tadi terluka saat di dorong oleh pengawal Bryan.
"Kamu terluka?" Bryan cemas melihat ada darah di lutut Maura.
"Saya gak apa-apa pak," jawab Maura sambil tersenyum.
Aku tidak tahu kalau rasanya dikhawatirkan seperti ini dan pak Bryan tidak pura-pura perhatian padaku seperti dia.
Clara langsung membalikkan badannya, dia ikut cemas pada Maura yang katanya terluka itu. Clara menghampiri Maura dan akhirnya dia melihat jelas wajahnya itu. "Menantu, kamu gak apa-apa?"
Menantu?. batin Maura kaget.
"Loh...kamu kan...?" Clara mengenali wajah Maura yang disebut sebagai menantu itu.
"Ibu? Ibu kan yang di restoran waktu itu?" Maura juga tampaknya mengenali Clara.
"Loh? Mama sama Maura udah saling kenal?" Bryan melihat pada dua wanita yang ada didepannya itu.
Maura dan Clara saling melemparkan senyuman, Bryan hanya melihatnya dengan kening berkerut.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Maura sedang diobati kakinya oleh dokter keluarga Xander yang dipanggil oleh Clara. Maura heran dan merasa ini sangat berlebihan karena dia hanya luka kecil saja.
"Ibu, pak Bryan...harusnya tidak usah sampai memanggil dokter segala. Saya hanya luka kecil di lutut saja,"
"Tidak bisa begitu menantu, lalu ada luka dalam bagaimana? Kalau ada keseleo bagaimana? Kita harus pastikan semuanya aman," ucap Clara perhatian.
"Iya, mama saya benar...kamu harus diperiksa secara menyeluruh." Kata Bryan setuju pada mamanya. "Dokter Haris, tolong periksa dengan benar ya!" ujar Bryan pada pria paruh baya yang memakai stetoskop itu.
Alis Maura menaut ke atas, dia heran dengan tingkah ibu dan anak ini. Mereka begitu kompak menunjukkan posesif terhadap Maura yang bukan siapa-siapa.
Kenapa ya mereka terasa posesif padaku? Apa perasanku saja?
"Sepertinya tidak ada luka dalam, hanya luka luar saja." dokter Haris tersenyum setelah memeriksa kondisi kaki Maura.
"Benarkan tidak apa-apa?" Tanya Clara tidak yakin.
"Saya tidak apa-apa Bu, saya kan sudah bilang ini cuma luka luar." Maura terlihat tidak enak dengan perhatian ibu dan anak itu padanya.
Duh, aku benar-benar tidak nyaman dengan semua ini. Kenapa mereka sangat baik padaku?
"Syukurlah," Clara mengelus dada lega, terlihat ketulusan di dalam wajahnya pada Maura.
"Ngomong-ngomong soal luka,kenapa kamu bisa terluka? Apa kamu jatuh sebelum datang kemari?" Tanya Bryan lagi.
Clara menatap ke arah Bryan, dia merasakan anaknya sangat berbeda saat bersama Maura. Dia yang selalu bersikap dingin kini sangat lembut.
"Saya tidak apa-apa pak, hanya terjatuh sedikit kok, saya terjatuh di depan tadi karena terburu-buru." jawab Maura memilih menutupi tentang pengawal Bryan yang mendorongnya.
"Kenapa kamu tidak berhati-hati? Syukurlah tidak ada luka dalam," Tanya Clara lembut.
"Iya Bu," jawab Maura sambil menundukkan kepalanya.
"Oh ya saya sampai lupa memperkenalkan diri, saya Clara mamanya Bryan." Clara mengulurkan tangannya pada Maura.
"Saya Maura," jawab Maura sambil berjabatan tangan dengan wanita paruh baya yang masih cantik itu.
"Maura? Nama yang cantik, secantik orangnya!" Clara memuji Maura yang cantik.
Syukurlah, walau ini pertemuan tidak terduga. Tapi mama sangat menyukai Maura. Ya, kalau tuhan sudah memberi jalan, maka aku akan mengambil kesempatan.
Bryan senyum-senyum karena melihat mamanya yang sangat menyukai Maura. Bahkan beberapa kali Clara memanggil Maura menantunya.
"Maaf Bu, sepertinya saya harus pamit pulang...saya masih ada pekerjaan di kantor." Kata Maura pamit.
"Apa? Kenapa buru-buru? Ayo makan malam bersama dulu," Clara tidak membiarkan Maura pergi begitu saja.
__ADS_1
Aku hanya tanya-tanya calon mantuku ini, dia juga harus tau kebiasaan Bryan dan segala hal.
"Tidak usah Bu, merepotkan." Maura menolak ajakan Clara untuk makan malam bersama.
"Iya benar, kamu makan malam dulu disini." Bryan tersenyum pada wanita itu.
"Maaf pak saya tidak bisa, saya harus kembali ke kantor!" Kata Maura menolak.
"Ke kantor? Ini sudah sore loh, apa kamu masih mau kembali ke kantor?" Bryan menyilangkan kedua tangannya didada.
"Ehm...itu.." Maura tidak bisa membuat alasan lagi.
"Tolong jangan menolak, anggap saja ini sebagai permintaan maaf Tante sama kamu karena sempat berprasangka buruk," Clara menatap Maura dengan memelas. Maura menjadi tidak tega menolaknya.
"Baiklah, tapi saya tidak akan lama Bu."
"Hehe, terimakasih menantuku. Eh maksud saya, Maura..." Clara tersenyum senang.
Kamu lihat ini, Bryan? Sepertinya kamu membutuhkan mama.
Clara melihat Bryan yang cemberut. 'Giliran mama yang ajak, dia mau...kenapa aku yang ajak dia gak mau?'
Selagi menunggu makan malam disajikan, Clara mengajak Maura mengobrol lebih dulu. Sementara itu, Bryan pergi ke kamarnya untuk berganti baju dan dia mengobrol dengan Farhan setelahnya.
"Pak Farhan, apa kamu tau kenapa Maura bisa jatuh? Katanya dia jatuh di depan, kok bisa?" Tanya Bryan sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Itu sebenarnya..." Farhan menelan ludah, dia ragu mau jawab apa.
Aduh, aku jawab apa ya? Kalau aku jawab, maka pengawal itu mungkin akan di pecat.
"Pak Farhan! Benarkah dia jatuh atau ada yang lain? Jawab jujur, karena saya tidak suka berbohong. Bapak tau kan kalau ada yang berbohong pada saya, akhirnya akan bagaimana?" tanya Bryan dengan ancaman di setiap kata-katanya.
Farhan menundukkan kepalanya lalu dia bicara. "Sebenarnya Bu Maura tidak jatuh sendiri, tapi--"
"Teruskan pak Farhan!" Ujar Bryan tak sabar.
"Sebenarnya Bu Maura jatuh karena di dorong oleh penjaga didepan-"
Farhan belum menyelesaikan ucapannya dan Bryan sudah naik pitam. "APA?! Cepat panggilkan penjaga yang didepan? Semuanya! Panggil diam-diam jangan sampai Maura tau!" Teriak Bryan marah.
"Ba-baik tuan muda," jawab Farhan patuh.
Gawat, tuan muda sudah marah.
...****...
__ADS_1
Hai Readers, author ada sedikit pengumuman untuk kalian...jangan malas untuk komen atau kasih gift juga vote ya karena nanti ada give away untuk komen terbaik dan rangking dukungan karya 🙏😀