
...πππ...
"Sayang...aku udah mandi salah, aku gak mandi salah. Kamu maunya apa sih?"
"Tau ah pokoknya kamu bau!" Maura menjauh dari suaminya, dia memegang hidungnya seolah bau dengan suaminya.
Astaga!
Aku sudah mandi 3 kali, tanpa sabun dan pakai sabun, masih saja di sebut bau. Sekarang mulutku yang bau. Ada apa dengan istriku? Apa dia mengidap sebuah penyakit? Ah...pokoknya setelah pulang kerja aku harus memeriksa Maura ke dokter.
"Hem...sayang, kamu bahkan gak mau cium aku. Sebel deh aku!" gerutu Bryan sebal.
"Bodoh amat! Kamu sih bau!" Maura menyilangkan kedua tangannya di dada.
Ting...tong...
πΆπΆ
Suara bel apartemen itu berbunyi, Maura lah yang membuka pintunya. Bara yang datang, dia langsung memberikan salam dengan sopan kepada kakak iparnya itu.
"Assalamualaikum kak."
"Waalaikumsalam Bara," jawab Maura.
Rasanya memang aneh saat Bara memanggil Maura dengan panggilan kakak, mengingat masa lalu mereka dulu adalah pasangan suami istri dan sekarang malah menjadi saudara ipar. Namun semua telah berlalu bukan? Sudah waktunya untuk melupakan masa lalu dan berjalan di masa depan. Rasa cinta itu tidak ada lagi di hati Bara untuk Maura, karena kini ada Vera yang mengisi hatinya dan ingin segera dia persunting.
Maura mempersilahkan adik iparnya untuk masuk terlebih dahulu. Tanpa basa-basi, Bara mengatakan kepada kakak dan kakak iparnya itu untuk membantunya. "Kak, kakak ipar, kalian mau membantuku gak?"
"Bantuan apa Bar?" tanya Bryan pada adiknya.
"Bantu aku bujukin mama," jawabnya lesu.
"Bujukin apa?" tanya Maura dengan kening berkerut. Bantuan apa yang membuat Bara meminta padanya juga untuk membantu?
"Bantu aku bujukin mama biar mama kasih izin aku menikah sama Vera."
Pasangan suami-istri itu tercengang mendengar ucapan Bara yang ingin menikahi Vera. Mereka lalu tersenyum bahagia, bagi mereka hal ini adalah kabar baik dan tentu saja Maura Bryan bersedia membantunya.
"Wah...jadi kamu mau menikah sama Vera?"
"Alhamdulillah kalau kamu sudah mantap dengan keputusan kamu. Tentang mama...nanti aku sama kakak kamu yang coba bujukin deh," ucap Maura sambil melirik ke arah suaminya.
__ADS_1
Bryan juga mengangguk setuju. "Ya aku juga bakal ngomong sama mama."
"Makasih banyak kak Maura, makasih banyak kak Bryan."
"Oke, karena ini udah siang....lebih baik kalian cepat berangkat kerja." titah Maura sambil menepuk tangannya.
"Oh ya kak, ini sudah siang!" Kata Bara sambil melihat arlojinya.
"Iya sayang, aku berangkat dulu ya. Kamu gak akan kemana-mana kan hari ini?" tanya Bryan seraya berpamitan pada sang istri.
"Aku mau ke rumah mama, katanya mama ada arisan keluarga. Gak apa-apa kak aku kesana?" ucap Maura seraya meminta izin pada Bryan.
"Boleh dong sayang, tapi kamu jangan capek-capek ya. Kamu kan lagi gak enak badan." Bryan mengusap lembut kening istrinya penuh kasih sayang.
"Kak Maura lagi gak enak badan?" tanya Bara yang tak sengaja mendengar itu.
"Iya dari tadi pagi dia mual-mual, katanya masuk angin. Sayang, kalau kamu mual-mual selalu lagi, aku terpaksa bawa kamu ke dokter!" ancamnya.
"Iya By, kamu hati-hati yang semangat kerjanya." ucap Maura.
Saat Bryan akan mengecup kening istrinya, Maura menghindar dan mundur ke belakang. Dia menutup mulutnya dengan satu tangan. "Jangan dekat-dekat aku By!"
Sepertinya sumber bau itu dari hubby. Aku gak mau dekat-dekat sama dia ah.
Sementara disisi lain, Bara tersenyum melihat gemasnya Bryan dan Maura. Mereka pun berangkat ke kantor bersama-sama meninggalkan Maura yang sendirian di apartemen. Tapi Maura tidak sendirian, di depan apartemen itu ada Nick yang selalu berjaga.
Terkadang pria itu bosan karena harus berdiam diri di luar seperti menganggur. Ya walaupun begitu dia selalu melaksanakan tugasnya dengan baik dan waspada dalam setiap keadaan.
"Pak Nick, kenapa bapak tidak masuk saja ke rumah?" tanya Maura yang sudah bersiap-siap untuk pergi ke rumah mertuanya. Dia melihat Nick berdiri didepan apartemen itu.
"Maaf Bu, saya tidak bisa melakukan itu karena saya masih ingin hidup." ucap Nick seraya tersenyum.
Melihat Nick tersenyum membuat Maura terkekeh. "PFut...saya pikir pak Nick tidak bisa tersenyum. Ternyata pak Nick bisa tersenyum dan bercanda juga."
"Saya juga manusia Bu, saya punya perasaan dan emosi." ucap Nick dengan suara dan wajah yang datar.
"Habisnya sih...pak Nick kayak Arnold Schwarzenegger di film Terminator. Datar gitu hehe." Maura terkekeh lagi teringat film Terminator. Dimana ada Robot berwujud manusia dan dia menyamakannya sebagai Nick. Ya, memang Nick jarang berekspresi karena dia sudah dilatih di pusat pelatihan bodyguard terhebat. Dia jarang menunjukkan emosinya.
"Bu Maura bisa aja. Tapi Bu Maura hari ini kita mau kemana Bu?"
"Rumah mama, tapi sebelum itu aku mau beli dulu makanan di supermarket ya?"
__ADS_1
"Oke Bu." jawab Nick patuh.
Nick dan Maura hendak turun dari apartemen yang memiliki 10 lantai itu dengan menaiki lift. Tak lama kemudian mereka pun sampai di lantai bawah, Nick membawa mobil lalu Maura pun masuk ke dalamnya.
Usai berbelanja di supermarket bersama Nick, Maura langsung pergi ke rumah ibu mertuanya. Di sana sudah banyak tamu yang hadir, teman-teman mama mertuanya sedang berbincang-bincang.
"Assalamualaikum," ucap Maura sopan pada semua orang yang hadir disana.
"Waalaikumsalam..." jawab Clara dan 5 orang teman-temannya yang tengah duduk di kursi itu.
"Eh, sayang...hey jeng jeng, kenalin ini menantu saya, Maura..." ucap Clara mengenalkan Maura kepada teman-temannya. Maura duduk tepat di samping mamanya, ia tersenyum dan memperkenalkan dirinya pada teman-teman mama mertuanya.
"Wah...cantik banget ya menantunya jeng." seorang teman Clara memuji Maura. Maura hanya tersenyum rendah hati.
"Maura ya?"
Acara arisan itu berlangsung dengan lancar, Maura juga bisa berbaur dengan ibu-ibu disana. Namun saat ibu-ibu akan memulai aksi makan bersama, Maura tiba-tiba saja memegang perutnya.
"Uwek...uwekk..."
Semua orang menatap ke arah Maura yang tiba-tiba mual-mual begitu sup ayam di hidangkan ke atas meja oleh BI Sumi dan bi Ijah.
"Loh? Menantu jeng Clara kenapa tuh?" tanya seorang wanita paruh baya bingung.
"Sayang, kamu kenapa?"
"Aku...uhm...gak apa-apa....cuma bau--"
Tidak kuat lagi menahan mualnya, Maura pun pergi dari sana meninggalkan ibu-ibu yang terlihat bingung. Maura pergi ke kamar mandi.
Clara terlihat cemas melihat menantunya tiba-tiba begitu. Saat Maura kembali bergabung bersama ibu-ibu, Maura meminta maaf karena pergi tanpa pamit.
"Wah... jangan-jangan menantu jeng lagi ngisi!" celetuk seorang ibu berambut pendek.
"Wah iya bener tuh!" kata seorang ibu yang duduk disampingnya membenarkan.
Clara terbelalak mendengar celetukan dari teman-temannya itu. Kemudian dia menatap Maura dan tersenyum penuh harap.
"Ngisi? Ngisi itu apaan, Ma?" tanya Maura tak mengerti.
...*****...
__ADS_1
Hai Readers! Pengumuman give away pada awal bulan nanti ya β€οΈπ so jangan bosan untuk komen dan kasih dukungannya ya...