Terjebak Dendam Suamiku

Terjebak Dendam Suamiku
Bab 120. Ada apa dengan Maura?


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Bara tidak menuntaskan semuanya sampai akhir dengan Vera. Dia baru sadar bahwa kenikmatan itu haruslah ia dapatkan ketika mereka sudah menikah. Beberapa saat yang lalu Bara terbawa suasana dan di dorong oleh naf_su laknatnya.


Berulang kali dia meminta maaf pada Vera karena telah berhasil membobol Vera walau tidak melanjutkannya. Dia berjanji akan menikahi Vera secepatnya, namun tentunya dengan restu Clara juga. Maka dari itu setelah dia mengangkat Vera bekerja ke restoran, Bara langsung menelpon kakaknya.


"Kak, kakak dimana? Kaka udah di kantor? Kakak ada waktu gak siang ini?" tanya Bara sambil memegang setir kemudi, dia berencana pergi ke kantor yang sama dengan tempat Bryan bekerja karena dia sekarang sudah pindah kesana.


["Hem...aku masih ada di rumah"]


"Kenapa kakak masih ada di rumah? Ini udah jam setengah 8 loh kak? Bukannya kakak ada rapat?" tanya Bara sambil melihat jam ditangannya.


["Aku gak mungkin ke kantor, Maura lagi...."]


["By kamu CEPETAN ke kantor!"]


Bara terkekeh mendengar suara Maura yang terdengar berteriak pada Bryan memintanya untuk pergi ke kantor.


"Kak...." panggil Bara pada kakaknya.

__ADS_1


Terdengar kakaknya berdebat dengan kakak iparnya di telpon itu, intinya Bryan tidak mau pergi meninggalkan Maura yang katanya sedang sakit. Tapi Maura tetap bersikeras menyuruh itu untuk pergi ke kantor karena dia baik-baik saja.


Kakak sangat mencintai Maura, syukurlah.


Akhirnya setelah perdebatan kecil itu, Bryan kembali bicara pada Bara. "Iya Bar, ini aku mau ke kantor."


"Aku jemput kakak di rumah ya? Kita berangkat barengan. Ada yang mau aku omongin."


"Oke, kebetulan mobilku lagi dibawa Ferry." jawab Bryan.


Setelah telpon itu terputus, Bryan terlihat cemberut sambil menunggu kedatangan Bara yang katanya akan menjemputnya. "Kenapa cemberut gitu? Kamu tidak mau pergi bekerja?"


"Aku gak apa-apa!" sanggahnya.


"Aku panggil dokter Haris ya?" tawarnya pada Maura cemas.


"Aku cuma masuk angin, kamu kan selalu ngajakin aku main di kamar mandi!" celetuknya kesal.


Bryan tertunduk malu, ya dia sadar kalau dia memang selalu melakukan hubungan itu dengan istrinya di kamar mandi. Ya mungkin karena itulah Maura bisa masuk angin.

__ADS_1


"Maafkan aku ya sayang, habisnya aku selalu gak tahan. Oke deh, aku gak akan sering-sering di kamar mandi." ucap Bryan sambil memegang tangan istrinya seraya membujuk wanita cantik didepannya itu.


"Hem...iya dan aku juga mau kamu ganti deodorant. Aku gak suka baunya, bikin mual!" serunya protes tentang bau deodorant.


"Oke fine sayang, nanti aku beli deodorant yang baru dan ganti deodorantku ya? Jangan marah lagi, suamimu ini mah mencari nafkah. jadi berikan senyuman terbaik kamu dong."


"Nih." Maura melebarkan bibirnya, sampai gigi gingsul yang menambah kecantikannya itu terlihat.


"Sayang, itu kamu nyengir bukan senyum."


"Terus?"


Bryan menarik tubuh istrinya lalu memeluk tubuh mungilnya itu. "Ini baru senyum..." Bryan tersenyum menggoda, dia pun mendudukkan Maura di pangkuannya lalu mencium bibir wanita itu dengan lembut.


Dia memporak-porandakan lidah Maura, menyesap manisnya bibir itu. Namun Maura mendorong suaminya dan lagi-lagi dia menolak ciuman Bryan. "Sayang..."


"Udah gosok gigi, kenapa kamu masih bau sih?!" protes wanita itu pada suaminya.


"Aku bau apa sih?Gak paham deh aku!" Bryan mulai gusar dengan istrinya pagi ini. Astaga ada apa dengan Maura?

__ADS_1


...****...


__ADS_2