Terjebak Dendam Suamiku

Terjebak Dendam Suamiku
Bab 46. Lepaskan aku Bara


__ADS_3

...Terlalu sadis caramu...


...Menjadikan diriku.....


...Pelampiasan dendam dari pupusnya cinta masa lalumu......


...Aku yang tidak tahu apapun, kamu perlakukan seperti babu......


...Mulai saat ini semua TERSERAH....


...🍁🍁🍁...


"Sepertinya dia tulus pada Maura," bisik Hanna pada Evan.


"Ya, tapi dia tukang cari kesempatan." Kata Evan menambahkan.


"Haha, kakak benar..."


Hanna dan Evan merasa bahwa Bryan tulus pada Maura. Setelah itu mereka masuk ke dalam ruangan Maura, lalu Bryan pun pamit untuk pulang karena hari sudah larut.


"Loh, kenapa bapak mau pulang? Tidak menginap saja disini?" Tanya Hanna pada Bryan baru saja berpamitan kepadanya dan Evan.


"Bu Hanna, saya tau batasan yang harus dijaga. Kalau begitu saya pamit pergi, kalau ada sesuatu tolong kabari saya pak Revandra. "Kata Bryan pada Evan.


Evan menjawab ya' sambil tersenyum, Bryan senang melihat raut wajah Evan yang menunjukkan terbukanya pintu hati pria itu untuk dirinya.


****


Keesokan harinya, siang itu di sel penjara tempat Bara mendekam. Polisi membawakan makanan untuk para tahanan yang ada disana, Bara tidak sendirian lagi di selnya dan disana ada 3 orang pria yang sudah lama berada didalam penjara itu.


Saat sedang sarapan pagi, seorang pria didalam selnya menendang makanan yang akan dimakan oleh Bara hingga makanan itu tumpah berhamburan ke lantai.


PRANG!


"Hey, apa-apaan Lo?" Bara menatap tajam ke arah pria yang baru saja menendang makanannya itu.


"Sorry, gue gak sengaja bro." Pria berkulit sawo matang itu tersenyum sinis, seolah menertawakan Bara yang tidak bisa makan makanannya.


Bara emosi, dia pun berdiri dari duduknya. "Jelas-jelas Lo sengaja nendang piring gue!"


"Nyolot banget sih lu, gue kan udah bilang maaf gak sengaja." kata pria itu tak mau kalah.


"Hey bro! Lu biasa aje dong, temen gua udah minta maaf kan sama lu? Jangan nyolot jadi orang,"


"Oh gitu ya?" Bara tersenyum sinis, dia pun dengan sengaja menendang makanan pria berkulit sawo matang itu.


Bara adalah orang yang keras kepala dan tidak mau kalah apalagi ditindas. Dari kecil hidupnya sudah terbiasa keras, bekerja sambil sekolah itulah dirinya. Tidak pantang menyerah, itu sebabnya dia bisa pergi ke luar negeri dan bersekolah disana lalu bertemu dengan Maura.


PRANG!


Piring milik pria berkulit sawo matang itu tumpah dan makanannya jatuh berhamburan ke lantai. "Sialan lu!"


Pria itu memukuli Bara hingga dia tersungkur ke lantai. Dua pria lainnya yang ada didalam sel itu juga ikut memukuli Bara karena mereka satu komplotan dengan pria yang menganggu Bara.

__ADS_1


"Mati lu! Mati!"


"Belagu amat lu jadi orang!"


Bara melawan ketiga pria itu, namun sayang kekuatannya tidak sebanding dengan kekuatan pria pria kekar yang menyerangnya secara keroyok.


Mendengar ada keributan di dalam sel, seorang sipir penjara datang dan menegur para napi yang ribut. "Pak! Lihat pria yang baru masuk sini, dia dipukuli Baron dan gengnya!" seorang pria yang ada di sel depan, melapor pada sipir penjara.


"Hey! HENTIKAN!" sipir penjara yang berwajah garang itu akhirnya menghentikan pengeroyokan yang terjadi pada Bara.


Sipir penjara itu menarik tubuh Bara,dia juga menegur ketiga pria yang mengeroyoknya. "Sebagai hukuman, kalian harus membersihkan semua WC dan kalian tidak akan mendapatkan jatah makan malam juga sarapan pagi untuk esok hari!" Teriak sipir penjara itu.


"Baik pak!" jawab tiga pria itu sambil menundukkan kepala mereka dengan kompak.


Ketiga pria itu tersenyum puas melihat keadaan Bara yang babak belur dan lemah tak berdaya, akibat ulah mereka.


Pak Ferry pasti senang kalau dia tau, aku mengerjakan pekerjaan dengan baik. Pria berkulit sawo matang itu membanti.


Sipir penjara itu membawa Bara untuk di obati dibagian kesehatan yang ada di lapas tersebut. Bara mendapatkan perawatan dari tenaga medis disana. Wajah tampannya kini tak terlihat lagi karena lebam dan luka-luka disana. Tangan dan kakinya juga lebam, belum lagi perutnya sempat ditendang oleh ketiga orang pria itu.


Setelah selesai diobati, Bara kembali ke sel tempatnya berada. Dia tidak melihat ketiga orang pria itu karena mereka sedang di hukum. Bara sendirian berada disana, dia melamun dan terlihat sedih. Bara tidak menyadari bahwa seorang pria yang berada di seberangnya sedang memperhatikannya.


Ya Allah, apa ini KARMA untukku? Aku juga selalu memukuli Maura seperti ini...apa dia kesakitan juga seperti aku yang sakit sekarang? Dia pasti kesakitan...bukan hanya tubuhnya yang sakit, tapi hatinya. Maura maafkan kebodohanku.


"Hey! Pak, apa bapak baik-baik saja?" tanya pria berambut panjang yang ada disebrangnya itu.


"Apa bapak bertanya pada saya?" Sahut Bara seraya bertanya pada pria di sel depannya itu. Wajah Bara terlihat sedih.


"Iya pak, saya bertanya pada bapak. Apa bapak tidak apa-apa?"


"Sama-sama pak, saya mencemaskan keadaan orang baik dan saya yakin bapak adalah orang baik," pria itu menilai Bara sebagai pria yang baik karena Bara pernah menolongnya saat sedang diganggu oleh tahanan lain.


Bara mendesah, "Orang baik ya?" gumam Bara perih hatinya merasa tertohok karena dipanggil sebagai orang baik.


Apa aku orang baik? Ya Allah...


"Tidak pak, saya bukan orang baik." Bara menggelengkan kepalanya dengan lemah, matanya berkaca-kaca seperti akan menangis. "Saya berada disini karena saya bukan orang baik,"


"Pak, kenapa bapak bicara seperti itu? Saya yakin bapak adalah orang baik," kata pria itu tetap yakin bahwa Bara orang baik.


"Saya tidak seperti bapak yang masuk ke penjara karena dijebak oleh mertua bapak. Tapi saya memang benar-benar penjahat, saya benar-benar melukai istri saya." Bara menyesal, dia menahan air matanya.


"Pak...apa itu benar? Bapak bukan dijebak oleh istri bapak?" tanya pria itu lagi pada Bara.


"Iya, saya benar-benar menipu, menyiksa istri saya dan memperlakukan dia seperti pembantu. Pak, apakah saya berhak mendapatkan maafnya? Apa saya berhak atas kesempatan kedua? Saya sangat menyesal..."


"Percayalah pak, jika bapak bisa menunjukkan bahwa bapak benar-benar menyesal...saya yakin istri bapak akan luluh dan memaafkan bapak." Kata pria itu sambil tersenyum menyemangati Bara.


"Terima kasih pak." Bara tersenyum, dia tulus berterimakasih pada nasihat pria yang entah siapa namanya itu.


Tak lama kemudian, seorang sipir penjara datang menemui Bara. "Pak Bara, ada yang ingin bertemu dengan kamu!"


"Siapa pak?"

__ADS_1


"Saya tidak tahu, dia seorang wanita." jawab sipir itu tidak tahu siapa yang menjenguk Bara.


Bara berdiri, dia mengerutkan keningnya, berpikir apakah itu Ghea yang menemuinya? Sipir penjara itu mengantarkan Bara ke ruang besuk, sesampainya disana sipir penjara menunggu tak jauh dari tempat Bara akan bicara dengan pembesuknya ini.


Wajah Bara sumringah melihat siapa yang datang mengunjunginya. Seseorang yang tidak pernah dia duga akan datang kesana untuk menjenguknya. "Maura..."


Wanita itu terlihat dingin, dia tidak menunjukkan emosi apapun di wajahnya. Dia sedang duduk menunggu Bara untuk bicara.


"Duduklah, mari kita bicara."


Bara duduk di kursi yang ada didepan Maura, mereka pun bertatapan saling melihat satu sama lain. Maura tercekat melihat wajah pria itu penuh luka seperti habis dipukuli.


Dia kenapa bisa terluka seperti ini? Apa di penjara dia dipukuli? Kenapa wajahnya begitu pucat?


"Maura, apa kamu baik-baik saja? Bagaimana dengan lukamu?" Tanya Bara dengan tatapan mata lembut pada Maura, bibirnya yang terluka itu menyunggingkan sebuah senyum lembut.


Kenapa Bara? Kenapa sikap kamu berubah menjadi hangat lagi? Apa kamu mau menipuku lagi?.Tangan Maura mengepal melihat raut wajah Bara yang sudah lama tidak dia lihat sejak penipuannya terbongkar.


"Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja. Tapi kamu kenapa-" Maura tiba-tiba menghentikan kata-katanya.


Tidak Maura, apa yang kamu lakukan? Apa kamu mau menanyakan keadaannya? Untuk apa kamu datang kesini, hah? Ingat tujuan kamu!


"Maura, aku baik-baik saja...selama kamu baik-baik saja." Bara tersenyum lembut, sambil menjawab Maura.


"Aku tidak menanyakan keadaanmu," ucap wanita itu acuh.


"Tapi wajahmu memperlihatkan bahwa kamu menanyakan keadaanku, terutama wajahku yang babak belur ini." Kata Bara percaya diri.


"Heh! Jangan mengkhayal, aku kesini bukan untuk itu." Maura tersenyum sinis, dia pun membuka kantong hitam yang dibawanya.


Maura mengeluarkan dua map berwarna merah dan berwarna biru, lalu dia menyimpannya ke atas meja. Bara melihat dokumen itu, lagi-lagi dia melihat surat gugatan cerai ada didalamnya. Surat yang sudah ditandatangani oleh Maura dan satunya lagi adalah surat pemutusan kontrak budak pernikahan yang mengikat Maura sebelumnya.


"Kenapa kamu membawa ini lagi?" Bara menatap surat cerai dengan sakit hati.


"Bukankah itu sudah jelas. Aku ingin kamu menandatangani surat ini," ucap Maura menjawab dengan sarkas.


"Ambil kembali, aku tidak akan menandatanganinya." Bara memalingkan wajahnya dari Maura, dia menolak untuk tandatangan.


"Tolong lepaskan aku Bara! Mau berapa lagi kamu menyiksaku?" Pinta Maura pada suaminya.


"Aku tidak pernah ingin menyiksamu,"


"Hah? Apa kamu bilang? Jadi selama ini kamu anggap apa perlakuanmu padaku jika bukan menyiksa?"


Mata Bara dipenuhi rasa bersalah saat melihat Maura. Dia memang tidak bisa mengembalikan waktu atau menyembuhkan luka di hati Maura. Tapi dia tetap mencoba memohon pengampunan. "Maura, aku minta maaf...atas semua perlakuanku padaku, aku mohon maaf padamu." Bara berlutut didepan wanita itu.


"Bara!"


"Aku mohon maaf padamu, aku bersalah karena sudah melampiaskan dendam padamu yang tidak bersalah. Maura, aku menyesal....aku berdosa, aku tau aku tidak berhak meminta maaf. Tapi aku tetap akan mencoba agar kamu memaafkanku, jadi tolong berikan aku kesempatan untuk menebus semuanya. Mari kita mulai dari awal dan menjadi pasangan suami istri yang bahagia ya?" bujuk Bara sambil memegang kaki istrinya. Dia tidak mau kehilangan Maura yang dianggap masih mencintainya.


Maura tersenyum getir, dia menahan tangisnya atas rasa sakit yang Bara torehkan ke dalam hatinya.


Maura menepis tangan Bara yang menyentuh kakinya, "Jangan sentuh AKU!"

__ADS_1


...*****...


__ADS_2