
...🍀🍀🍀...
Maura memasuki rumah yang ada Jessica dan seorang wanita muda berpakaian suster di sana. Atensi wanita muda itu teralihkan pada Maura yang berdiri di ambang pintu.
"Assalamualaikum," ucap Maura mengucap salam. Sungguh hati Maura sakit melihat Jessica seperti itu. Gadis yang memiliki gangguan mental, karena ayah kandungnya sendiri.
Kak Jessica.
"Waalaikumsalam," sahut wanita muda berpakaian suster itu menjawab salam Maura. "Maaf, mbak mau cari siapa ya?" tanya wanita itu.
"Saya mencari kakak saya, kak Jessica." jawab Maura yang membuat wanita muda itu tersentak kaget. Pasalnya ia hanya tau Jessica mempunyai satu adik saja yaitu Nathan. Lalu kini muncullah seseorang yang mengaku sebagai adiknya.
Wanita itu mempersilakan Maura untuk masuk ke dalam. Dia membawakan minuman untuk Maura. Kini mereka berdua duduk di atas sofa, dengan Jessica berada di sisi lain.
Jessica sedang menimang boneka bayi dengan penampilan yang acak-acakan. "Hehe, anakku...anakku..." ucap Jessica sambil memegang boneka itu, kadang ia tersenyum dan kadang ia menangis.
"Beginilah keadaan Bu Jessica, mbak..." ucap Rana, suster yang merawat Jessica. Atas perintah Nathan.
"Hem.... terima kasih ya suster Rana sudah menjaga kakak saya. Sebenarnya saya juga tidak pantas disebut sebagai adiknya, karena saya belum lama tau kalau kak Jessica adalah kakak saya beda ibu." tutur Maura dengan senyuman getirnya.
"Setelah mendengar cerita mbak, mbak tidak bersalah kok. Mbak juga kan baru tau tentang kakak mbak," ucap Rana sambil tersenyum.
Rana menceritakan bagaimana keadaan Jessica, selama hari-hari dia merawatnya. Jessica terkadang suka menangis dan sesaat kemudian dia tertawa-tawa. Dia selalu menanyakan anaknya yang tidak ada. Meski petugas Rumah sakit jiwa telah mengatakan kalau Jessica harus dirawat, Nathan menolak semua itu dan memilih merawat kakaknya di rumah saja. Karena kakaknya sama sekali tidak menyakiti orang lain.
__ADS_1
Tak terasa Maura mengobrol dengan Rana cukup lama, dia juga membantu Rana untuk mengurus Jessica. Bahkan sampai wanita yang mentalnya terganggu itu, tidur pulas.
Di saat Maura sedang mengobrol dengan Rana, Nathan sedang istirahat siang dan dia melihat eksistensi Maura di sana. Matanya menatap tajam ke arah wanita itu, jelas itu karena dia tidak senang dengan kehadirannya.
"Ngapain kamu kesini?" tanya Nathan tajam.
Maura langsung beranjak dari tempat duduknya dan melihat ke arah Nathan. "Kak, aku ingin bicara sesuatu sama kakak."
"Kakak? Apa gak salah? Siapa kakak kamu? Aku?" Nathan menunjuk ke dirinya sendiri, dia amat tidak senang dipanggil kakak oleh Maura.
"Terserah kakak mau bilang apa. Yang penting aku harus bicara dengan kakak detik ini juga!"
"Kalau aku menolak? Apa kamu akan tetap memaksa?" tanya Nathan sinis.
Maura mengganggukan kepalanya, meski Nathan menolak bicara kepadanya dia akan tetap bicara. "Iya, aku akan tetap bicara." jawab Maura tegas.
"Kak...keadaan papa kritis, dia ingin minta maaf sama kakak dan kak Jessica. Papa ingin memperbaiki hubungannya dengan kita. Papa pengen ketemu dengan kakak dan kak Jessica." tutur Maura pada Nathan dengan suara setengah berteriak.
"Hah?" desis Nathan kesal, tanpa menoleh ke arah Maura dan tetap membelakanginya.
"Aku juga ingin kita menjadi saudara kak, aku ingin punya kakak....kak Nathan dan kak Jessica, kalian ada saudaraku juga."
"Pergilah dari sini dan jangan kembali lagi!" titah Nathan tanpa melihat ke arah Maura.
__ADS_1
Ya, Maura memang sudah tau dengan jawaban yang diberikan oleh Nathan akan seperti ini. Namun setidaknya dia sudah mencoba untuk memperbaiki hubungannya dengan Nathan dan Jessica.
*****
Siang itu Maura kembali dengan penuh kekecewaan, dia pergi ke kantor suaminya bermaksud untuk mengajaknya makan siang bersama.
"Maaf Bu Maura, pak Bryan sedang rapat." ucap Ferry pada Maura.
"Gak apa-apa pak, saya pulang aja."
"Eh...jangan dong Bu, bentar lagi juga selesai kok." bujuk Ferry pada Maura. "Saya akan beritahu pak Presdir kalau Bu Maura datang!" ucapnya.
Ada apa ya sama Bu Maura? Dia terlihat sedih. Ferry menangkap ada kesedihan di wajah Maura.
"Eh gak usah pak Ferry, saya pulang aja. Tolong jangan bilang sama Bryan kalau saya datang," ucapnya lembut.
"Tapi Bu..." Ferry jadi merasa tak enak dengan Maura.
"Gak apa-apa kok pak, gak ada yang penting. Saya titip Bryan ya pak, ini saya titip juga makanan buat Bryan." Maura meletakkan kotak bekal berisi makanan yang telah dia siapkan untuk suaminya.
Setelah itu Maura pergi dari kantor suaminya dan terlihat sedih karena Nathan juga Jessica tidak mau pergi menemui Samuel yang berada di rumah sakit.
Di dalam perjalanan pulang ke rumah mertuanya, Maura yang hendak menyebrang jalan ke rumah besar itu. Tak sengaja terserempet motor dan terjatuh ke aspal.
__ADS_1
"ACK!!"
...****...