
...🍀🍀🍀...
Walaupun Bara adalah rivalnya, dia percaya pada ucapan Bara bahwa dia memang harus segera meresmikan hubungannya dengan Maura. Akhirnya dia pun meminta saran Ferry, pria yang sudah beristri dan memiliki seorang anak.
Jelaslah Ferry sudah berpengalaman daripada dirinya dalam hal yang bernama asmara dan hubungan. Bahkan saran pernyataan cintanya tempo hari, itu berasal dari Ferry. Ya, itu semua karena dia buta dalam berhubungan dengan seorang wanita. Selama ini dia tidak pernah berhubungan dengan wanita, wajar kalau pengalaman cintanya nol.
Wanita pertama, cinta pertama ya hanya Maura seorang. Dari banyak wanita yang mendekatinya, hanya Maura yang mampu memikat dirinya dan hanya dia yang mampu mengatasi alerginya terhadap wanita.
"Ada apa pak?" Tanya Ferry yang baru saja masuk ke dalam ruangan Bryan setelah dipanggil.
"Ferry, aku akan mengajukan beberapa pertanyaan...kamu harus jawab dengan jujur!" Ujar Bryan dengan tatapan tajam pada sekretarisnya itu.
Ferry bersiap dalam posisinya, tegap dan tegak. "Tentu saja pak!"
Ini pasti menyangkut perusahaan, pak Bryan terlihat begitu serius.
"Ferry, sebenarnya bagaimana cara melamar pasangan? Kamu pasti tau, kan?"
Ferry melongo mendengar pertanyaan yang sedari tadi membuat bosnya gusar itu. Rupanya itu masalah Maura. "Pak, apa yang membuat bapak khawatir? Bukankah bapak pernah bilang pada saya, kalau bapak tidak akan dulu melakukan lamaran pada Bu Maura? Katanya...mau menunggu dulu sampai masalah Bu Maura selesai?"
Sektretaris sekaligus tempat curhat Bryan teringat dengan ucapan Bryan beberapa hari yang lalu, bahwa dia akan menunda dulu lamaran pada kekasihnya. Lalu sekarang, tiba-tiba saja Bryan membahas masalah lamaran.
"Ya kamu benar, aku memang khawatir dan aku tidak bisa menunggu sampai masalah itu selesai. Aku tidak bisa menundanya lagi, apalagi diluar sana masih ada pria lain yang mendambakan Maura." Wajah Bryan terlihat kalut, dia seperti banyak pikiran memikirkan obrolannya tadi pagi dengan Bara.
Meski tidak ada Bara sekalipun, mungkin akan ada pria lain di luar sana yang mendambakan Maura. Maura itu kan cantik, baik, smart dan calon istri sempurna ya walaupun dia berstatus janda. Tapi bagi Bryan dia sangat sempurna untuknya dan dia takut nanti akan ada Bara lainnya yang menginginkan Maura dan merebut gadis itu dari Bryan. Membayangkannya saja sudah membuat Bryan sangat ketakutan.
"Kalau bapak khawatir, bagaimana jika bapak mengikatnya saja dulu?"
"Mengikat? Maksudmu?"
"Maksud saya, kalau bu Maura belum siap menikah. Bagaimana kalau bapak bertunangan dulu dengan Bu Maura? Dengan begitu, bapak dan Bu Maura akan punya ikatan jelas!" Usul Ferry pada Bryan.
"Oh ya...tunangan ya? Baiklah, aku akan coba bicara dulu dengan Maura. Terimakasih Ferry,"
"Siap pak! Kapanpun bapak membutuhkan saya, saya akan siap membantu bapak!"
Bu Maura terimakasih, karena Bu Maura sudah membuat kepribadian pak presdir menjadi lebih baik dan pekerjaan saya juga menjadi lancar. Ferry tersenyum lebar, dia senang karena semenjak Bryan berhubungan dengan Maura, Bryan menjadi lebih hangat dan tidak dingin seperti dulu.
Setelah itu Ferry keluar dari sana dan kembali melakukan tugasnya seperti biasa. Beberapa menit kemudian sebelum jam makan siang, Bryan sedang memeriksa beberapa dokumen di ruangannya.
BRAK!
Tiba-tiba saja pintu itu terbuka lebar, tanpa diketuk dulu. Bryan terlihat marah pada orang yang membuka pintu ruangannya yang tidak sopan itu.
Ia sangat tidak suka dengan orang yang sembarangan masuk ke dalam kantornya. Tidak ada pengecualian, ya kecuali Maura.
"Om Dion?" Lirik sinis Bryan pada pria yang baru saja membuka pintunya itu. Dibelakang pria itu ada Ferry juga.
"Maaf pak, saya sudah mencoba menghentikannya, tapi--"
Bryan mengangkat satu tangannya, dia mengisyaratkan pada Ferry untuk berhenti menjelaskan. Ferry pun diam, dia paham isyarat dari Bryan walau bosnya tidak bicara dengan mulutnya. Lalu Bryan mengisyaratkan lagi pada Ferry agar pergi dari sana dan menutup pintunya.
Ferry menganggukan kepalanya, lalu dia keluar dari ruangan itu dan menutup pintu. Meninggalkan Bryan dan Dion berdua sana disana.
"Hebat ya kamu, telpon dari om.. kamu abaikan? Lalu aku pergi kesini pun harus buat janji dulu, padahal aku adalah om kamu dan kamu keponakanku. Lucu sekali kan Bryan?" Ucap Dion sarkas pada keponakannya.
"Silahkan duduk, om!"
Dion duduk di kursi yang berhadapan dengan kursi tempat Bryan duduk. "Apa aku harus buat janji dulu untuk bertemu dengan kamu, Bryan?"
"Om tau sendiri kan, kalau aku sangat sibuk." Kata Bryan cuek pada Dion.
"Heh! Sesibuk apa sih kamu sampai kamu tidak mau bertemu dengan om kamu? Heh Bryan! Apa mamamu sudah bilang kalau om butuh bantuanmu?"
__ADS_1
"Sudah,"
"Kamu--"
"Aku gak mau bantu, om." Bryan memotong ucapan Dion yang belum usai.
Dion mendelik sinis ke arah Bryan, alisnya terangkat. Dia tidak suka dengan penolakan Bryan secara terang-terangan. "Bryan, apa sikap kamu seperti ini karena kamu masih mengira kalau om yang sudah buat kamu dan adik kamu celaka?"
"Cukup om! Aku bukan mengira, tapi memang faktanya kalau om yang sudah merencanakan semua ini! Om jangan lupa, saat itu usiaku 10 tahun...aku paham betul mana orang jahat dan orang baik." Pria itu emosi dan menunjukkan jarinya ke arah Dion.
"Bryan! Kamu masih saja menuduh om seperti ini?" Suara Dion mulai meninggi. "Bryan pokoknya kamu harus bantu om!"
"Aku tidak mau!" Kata Bryan menolak sambil tersenyum sinis.
"Bryan! KAMU!"
Ketika keduanya bertatapan dengan bersitegang.
Tok, tok, tok!
Suara ketukan pintu membuat suasana hening itu menjadi sedikit mencair. "Siapa?"
"Pak, ini saya Ferry. Bu Maura dari Agradana grup datang untuk menemui bapak."
"Masuk!" Ujar Bryan dengan wajah yang sedih, teringat Kenzo adiknya. "Om, om sudah denger kan? Saya mempunyai janji bersama rekan bisnis saya, jadi lebih baik om pergi dari sini!"
"Sombong sekali kamu ya! Om, akan kembali lagi..." ucap Dion yang lalu melangkah pergi dari sana.
Dia berpapasan dengan Maura yang baru saja akan masuk kesana. Dion menatap Maura dengan tajam, pria itu masih terlihat marah. Lalu Maura pun masuk ke dalam ruangan Bryan. Dia kaget melihat Bryan jatuh terduduk, sambil memegang dadanya.
"Bry! Kamu kenapa Bry?"
"Haahh...haahhh...haahh..." Bryan mendadak sesak nafas, wajahnya berkeringat banyak.
"Bry! A-aku akan panggil Ferry!" Kata Maura panik melihat kekasihnya dalam kondisi tidak baik.
"Bry, aku akan panggil dokter...ki-kita ke rumah sakit saja..."
Maura semakin panik melihat kondisi Bryan yang masih sesak nafas itu. Dia pun teringat salah seorang temannya yang mengalami gejala serupa, gejala serangan kepanikan. Apakah mungkin ini gejala yang sama? Pikir Maura dalam hatinya.
Lalu dia pun membenamkan bibirnya pada bibir Bryan dengan maksud memberi nafas buatan. "Hmph---!" Setelah memberi nafas buatan, Bryan sedikit tenang.
"Bry, tenanglah...bernafas dengan tenang...aku ada disini...aku ada disini, Bry." Ucap Maura sambil memegang kedua tangan Bryan dengan lembut. Tatapannya juga lembut pada Bryan.
Dia berusaha menenangkan Bryan yang tidak terkendali. "Bry, jangan takut! Aku ada disini, aku akan bersama kamu...jadi kumohon tenanglah,"
Suara Maura? Suaranya membuatku tenang. Akal sehat Bryan mulai kembali, dia berusaha mengatur nafasnya kembali.
Tangan Maura membelai pipi Bryan dengan lembut. "Bry, tarik nafas lalu keluarkan perlahan...tenang...tenang ya Bry?" bujuk Maura dengan suara lembutnya.
"Haahh.... huuuh.... haaahhh..." Setelah nafas Bryan mulai beraturan, tubuhnya ambruk di dalam dekapan Maura.
"Bry?! Kamu kenapa Bry? Bryan?" Maura menggoyang-goyangkan tubuh Bryan yang berada dalam dekapan Maura.
"Aku...gak apa-apa." Jawab Bryan dengan suara beratnya.
"Gak apa-apa gimana? Kamu--"
Bryan memeluk Maura dengan erat. "Ada kamu, pasti aku baik-baik saja Maura."
Maura terdiam sejenak, keningnya berkerut. Dia cemas pada Bryan, namun dia memilih menahan diri untuk bertanya ada apa dengannya. Maura membalas pelukan Bryan dengan lembut. "Ya, ada aku disini...jadi kamu bisa tenang."
Kemudian, rencana obrolan tentang desain itu harus ditunda karena keadaan Bryan yang masih kurang baik. Maura dengan telaten penuh kasih sayang, memberikan Bryan banyak perhatian. "Bukankah kita harus pergi untuk makan siang bersama?"
__ADS_1
"Kita tidak usah pergi makan siang, kita disini saja gak apa-apa." Ucap wanita itu sambil menyodorkan segelas air minum untuk Bryan. Bryan langsung mengambil lalu meneguknya.
"Makasih little girl."
"Hem...ya udah aku keluar dulu ya, beli makan siang buat kamu."
"Gak usah, biar Ferry yang beli. Kamu disini aja ya?" Tatapan manja dari Bryan terarah pada wanita yang bernama Maura itu.
"Tapi--"
"Adu-duh...sakit banget dadaku," ucap Bryan sambil memegang kepalanya.
Maura menahan tawa. "PFut...itu kepala, bukan dada."
"Ah... kepalaku juga sakit. Aku gak mau ditinggal kamu, gak mau." Bryan memegang tangan Maura dengan manja, lalu dia memeluk pinggangnya.
"Bry..."
Dia ternyata bisa sangat manja seperti anak kecil. Dasar ckckck.
Tak lama kemudian Ferry masuk ke ruangan itu dan tanpa sengaja melihat adegan mesra diantara keduanya. Sikap Bryan yang tidak biasa pada Maura, dia seperti anak ayam yang menempel pada induknya.
Cinta memang bisa membuat orang berubah.
"Saya akan membeli makan siang, Bu Maura dan pak Presdir mau pesan apa?" tanya Ferry pada Bryan dan Maura.
"Biar saya saja yang beli--"
"Gak boleh! Biar dia saja!" Bryan enggan melepaskan Maura dari dirinya.
"Bry, gak enak dong suruh pak Ferry? Dia juga kan harus beristirahat untuk makan siang." Maura tidak enak jika harus menyuruh Ferry.
"Gak apa-apa kok Bu, kebetulan saya juga mau beli makan siang. Jadi sekalian saja." Ucap Ferry sambil tersenyum.
Setelah Bryan dan Maura mengatakan pesanan mereka. Ferry pun meninggalkan ruangan itu untuk segera melaksanakan perintah dari Maura dan Bryan. Yaitu membeli makan siang.
Selagi menunggu Ferry kembali, Maura bertanya pada Bryan apa yang terjadi sebelumnya pada Bryan mengapa pria itu terkena serangan panik. "Kenapa kamu bisa tau kalau aku kena serangan panik?"
"Ya, itu karena aku pernah punya teman...dia mengalami hal sama seperti kamu, terus aku nenangin dia."
"Apa? A-apa kamu cium dia juga seperti kamu cium aku?!" Mendadak pria itu menjadi marah.
"Cium sih enggak, aku cuma peluk aja!"
"Peluk? Kamu peluk temen kamu itu?" Suara Bryan meninggi.
"Iya aku peluk dia untuk menenangkan dia." jawab Maura dengan wajah polosnya.
Tiba-tiba saja Bryan mendekat dan membuat Maura terpojok di kursi. "Bryan.. kamu kenapa sih?"
"Kamu peluk dia! Aku gak suka!" Seru Bryan dengan wajah cemberutnya.
"Bry, dia cewek...kamu gak usah cemas deh. Gitu aja cemburu." Maura langsung paham arti dari raut wajah dan suara Bryan yang meninggi itu.
"O-oh... cewek ya." Bryan menggaruk kepalanya.
"Jadi, kamu kenapa bisa kayak gini? Kamu ada alami trauma? Cerita sama aku, Bry."
Selama ini Bryan selalu menjadi tempatku bersandar, aku juga ingin menjadi tempatnya bersandar.
"Sebenarnya, ini berkaitan sama adikku."
...****...
__ADS_1
Hai Readers, jangan lupa like komen gift dan votenya ya 😍😍😘
Kalau review tak lama, up 1 lagi malam ini.