Terjebak Dendam Suamiku

Terjebak Dendam Suamiku
Bab 77. Samuel siuman


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


"Bry...kenapa ya Bara bisa tau kalau aku sedang hamil? Padahal aku sendiri gak tau? Terus kenapa kakak gak jemput aku?"


Kenapa tiba-tiba Maura bertanya begini? Tapi wajar saja sih dia tanya gini, karena dia pasti merasa ada yang janggal. Bryan membatin, dia bingung mau bagaimana menjawabnya.


"Hem...pak Evan bilang sama aku, katanya dia ada urusan mendadak dan dia suruh aku buat jemput kamu." Kata Bryan menjelaskan. Ia hanya menjawab pertanyaan kedua, sedangkan tentang Bara dia tidak jawab.


Maaf Maura, lebih baik kamu gak tau tentang Evan. Kalau kamu tau mereka sama aja, aku takut kamu akan terluka.


"Oh gitu ya." Bibir Maura membulat.


"Iya, kita pulang yuk! Kata dokter kamu harus istirahat di rumah."


"Oke."


Bryan dan Maura masuk ke dalam mobil, dengan perhatian Bryan memasangkan seat belt untuk Maura. Hingga wajah mereka berdekatan dan keduanya bertatapan.


Maura, kapan aku bisa menyentuhmu sesuka hatiku? Kapan aku bisa memilikimu? Ah! Shitt! Aku ingin menikah denganmu sekarang juga.


Kedua mata itu masih bertemu, Bryan masih dengan tatapan nanarnya pada Maura. Lalu tiba-tiba saja.


Cup!


Sontak Bryan membuka matanya lebar-lebar, memegang pipinya yang memanas. Baru saja bibir Maura mengecup pipinya. "Maura." lirihnya gugup.


"Kamu boleh lakukan apa saja kok. Jangan membatasi diri--aku kan calon istri kamu? Benar, kan?" Wanita itu tersenyum seraya menatap Bryan penuh cinta.


Jangan ditanyakan lagi bagaimana hati Bryan saat ini, apalagi jantungnya. Mereka seperti sedang berpesta didalam sana, Bryan bahagia. Cinta sepihaknya selama ini, akhirnya mendapat balasan. Tidak peduli dengan status Maura yang seorang janda, pernah keguguran, baginya cinta ya cinta saja.


Toh!


Clara, ibunya tidak mempermasalahkan hal itu. Dia terima keadaan Maura, asalkan Bryan dan Maura saling cinta, ia tak akan menghalanginya. Asalkan Maura sayang pada putranya, itu sudah cukup.


"Bry, kok kamu diam aja sih? Apa kamu gak mau nikah sama ak--"


Cup!

__ADS_1


Pria itu mengecup bibir Maura dengan cepat. "Iya, kamu satu-satunya calon istriku dan istriku, juga satu-satunya calon ibu dari anak-anakku." Tangan Bryan bergerilya membelai pipi Maura, mengusap-usap lehernya.


Perasaan Maura juga sama berdebarnya dengan perasaan Bryan padanya. Dia tidak menyangka akan mendapatkan cinta lagi, setelah pernikahan pertamanya gagal akibat terjebak dendam suami. Apakah sekarang Maura berhak bahagia?


"Bry..."


"Hem?"


"Tante Clara gimana? Apa Tante Clara mau menerimaku? Aku sudah pernah menikah, aku juga pernah hamil anak orang lain, jelas aku udah gak virgin. Apa mama kamu mau menerima aku yang seorang janda ini?"


Tentu, ada rasa rendah diri pada diri Maura. Mengingat dia mencintai Bryan yang statusnya masih single, mapan, tampan, apa sih yang kurang darinya? Pria itu bisa memberikan segalanya pada Maura. Tapi dia? Apa yang bisa dia berikan? Mungkin rasa malu yang ada! Apalagi Bryan berasal dari keluarga terhormat. Apa keluarga besarnya mau menerima status Maura?


Bryan paham kenapa Maura tidak percaya diri, ia tak bisa marah padanya dan mencoba memberikan pengertian. "Maura, aku udah bicara soal kamu sama mama...semuanya. Bahkan masalah kamu yang hamil dan keguguran, aku juga bilang sama mamaku. Aku terbuka sama mama kalau soal kamu, karena aku mau mama merestui kita sepenuh hatinya."


"Lalu apa jawabannya?" Tanya Maura sambil menggigit bibir bagian bawahnya dengan gemas. Ia menantikan jawaban dari Bryan, tentang pendapat mamanya.


"Hem, mama bilang aku bisa menikah dengan siapapun asalkan dia seorang wanita!" Candanya pada Maura.


"Ish...aku serius nanya. Kamu kok malah bercanda, sih?" Wanita itu cemberut, dia yang sedang tegang malah di bercandain oleh Bryan.


"Ya udah! Makanya cepet jawab dong, gimana soal Tante Clara?" Maura tidak sabar.


"Mama terima kamu kok, maksudku terima hubungan kita dan masa lalu kamu. Mama bilang gak masalah selama kita saling cinta,"


"Kamu gak bohong kan? Mana mungkin Tante Clara mau menerima aku."


"Little girl, i'm not lie! Mama bilang gini sama aku, setelah dia dengar masa lalu kamu. Katanya, Bryan gak masalah dengan status dan masa lalu Maura...selama kalian saling cinta, mama bahagia untuk kebahagiaan kamu kok. Mama tau setiap orang punya masa lalu dan masa lalu adalah bagian dari kehidupan, jadi---"


Jari telunjuk Maura menghentikan Bryan untuk bicara. "Ssstt...udah cukup, aku percaya."


"Bagus, nah gitu dong dari tadi. Jadi aku tenang. Setelah papa kamu siuman, aku akan langsung minta Restunya, aku akan pakaikan cincin di jari manis kamu...didepan semua orang." Kata Bryan yang lalu mengecup punggung tangan Maura dengan manis.


Ya, aku akan segera menikahimu agar aku tenang.


Keduanya bertatapan, lalu saling melempar senyum. "Oh ya, aku hampir lupa. Mama buatin bubur buat kamu, dia cemas banget sama kamu."


"Oh ya?"

__ADS_1


Wanita itu dan kekasihnya tidak langsung pergi dari sana setelah Maura menghabiskan bubur pemberian dari Clara. Mereka makan bersama didalam mobil dan terlihat bahagia.


Setelah makan, mereka pun pergi ke rumah Maura. Sesampainya disana, Maura melihat bi Inah dan Bi Iyam yang berlari ke lantai atas dengan panik. Bryan melihat juga kepanikan di wajah dua pembantu rumah tangga di rumah Maura.


"Bibi!" Panggil Maura kepada dua pembantunya itu.


"Non, Maura? Non sudah pulang?" sambut bi Iyam dan Bi Inah kompak.


"Iya bi, ada apa? Kok bi Iyam sama bi Inah kelihatan panik begitu?" Tanya Maura bingung dan ia jadi ikut cemas.


"Tuan...katanya tuan besar sudah siuman!"


"Ayah sudah sadar?!"


Maura tercengang mendengarnya, buru-buru dia langsung naik ke lantai atas meski kondisinya juga masih lemas. Bryan membantunya naik tangga. "Little girl, hati-hati...kamu masih luka loh." Bryan memegangi tangan Maura.


"Iya, makasih ya."


Bi Inah, bi Iyam, Maura dan Bryan sampai di kamar tempat Samuel berada. Disana Samuel sudah duduk dan sedang di periksa oleh suster Anna.


"Maura...anak ayah?" Samuel tersenyum, dia terlihat bahagia saat melihat Maura.


Siapa ya pria yang berada disamping Maura ya?


Pria yang sudah lama tertidur selama hampir 3 bulan itu, kini sudah kembali sadar.


Bukannya memeluk dan menghampiri ayahnya, Maura hanya terdiam membeku dengan wajah bingung. Matanya berkaca-kaca menatap ayahnya. Bryan melihat Samuel, dia langsung menyapanya.


"Pagi, om."


"Pagi." Samuel bingung. "Maura, kemarilah nak? Biarkan ayah memelukmu, sudah lama ayah tidak memelukmu. Ayah kangen sekali sama kamu." Samuel tersenyum, dia merentangkan tangannya.


"...."


Tidak bicara dan juga tidak bergerak, entah apa yang terjadi pada Maura. "Maura, kamu kenapa nak?"


...****...

__ADS_1


__ADS_2