Terjebak Dendam Suamiku

Terjebak Dendam Suamiku
Bab 130. Kembali ke apartemen


__ADS_3

...πŸ€πŸ€πŸ€...


Setelah selesai menelpon seseorang, tak lama kemudian datanglah mobil hitam didepannya.


"Bu Stella, kenapa anda melarikan diri dari rumah sakit jiwa?" tanya Wilan, sekretaris Stella.


"Wilan, aku tidak gila...jadi kenapa aku harus tinggal disana."


"Bu Stella, anda harus di rawat--"


Ucapan Wilan terputus, manakala Stella membungkam bibir Wilan dengan bibirnya. Dia mencium Wilan dan pria itu menikmati ciuman dari Stella. "Hmphh--"


Sudah aku duga, dia menyimpan perasaan padaku...maka dari itu dia mau saja kusuruh membantuku.


Stella melepaskan pagutan bibirnya, kemudian dia menatap pria yang sudah tersihir oleh pesonanya itu.


"Bu Stella..." lirih Wilan kaget.


"Wilan, aku cinta kamu..."


"A-apa?" Wilan kaget bukan main manakala Stella mengatakan hal yang membuat jantungnya berdegup kencang. "Mana mungkin ibu mencintai saya, ibu kan sangat tergila-gila pada pak Bryan." decak Wilan tak percaya.


Stella menyandarkan tubuhnya pada delapan Wilan. "Wilan, aku bukan wanita bodoh yang mengharapkan cinta dari seorang pria yang sudah menikah. Aku sudah melupakannya dan aku sadar bahwa cinta tak bisa saling memiliki. Dan aku sadar kalau aku cinta sama kamu, Wil." suaranya lirih dengan tangan yang menyentuh dada berotot milik Wilan.


"Tapi itu gak mungkin--"


"Wil, aku cinta sama kamu...bawa aku pergi dari sini, aku akan hidup sama kamu aja. Aku gak mau berada di rumah sakit jiwa itu lagi." rengeknya dengan air mata yang mengalir deras dari matanya.


Wilan menjadi tidak tega melihatnya, ia pun luluh orang serangan dari Stella dan tipu muslihatnya. Wilan membawa Stella pergi dari sana, mereka pergi ke apartemen Wilan yang ternyata apartemennya dekat dengan apartemen Bryan.


Stella menyamar menjadi sosok yang lain agar tidak ada yang mengenalinya. Sekarang dia sudah satu langkah dekat dengan Maura dan rencana balas dendamnya. Dia masih belum bisa puas sebelum berhasil membunuh Maura.

__ADS_1


****


Keesokan harinya, pagi itu Maura, Bryan ditemani Nick juga sampai ke apartemen tempat tinggal Maura Bryan.


"Sayang, kamu sama little Bean mau sarapan apa? Tadi kita belum sempat makan." ucap Bryan pada istrinya.


"Aku lagi gak mau sarapan By," ucap Maura sambil merebahkan tubuhnya diatas ranjang.


Bryan langsung melotot kepada istrinya, mendengar jawaban itu. "Ets! Gak boleh, kamu sama little Bean harus sarapan."


"Nanti sekalian aja makan siang," jawabnya malas.


"My girl, aku gak bisa fokus kerja kalau kamu sama little Bean belum makan."


"Ya udah deh,"


"Ya udah deh apa? Kamu mau apa?" tanya Bryan sambil duduk berlutut didepan istrinya, seraya menatap sorot mata sendu bak binar kejora itu.


"Aku mau salad buah By," jawab Maura.


"Nick aja yang beli,"


Alis Bryan terangkat. "Tumben?"


"Gak tau kenapa, aku pengen kamu ada disini sekarang. Sepertinya anak kita yang mau--papanya disini."


"Ya udah sayang, aku libur aja ya?"


"Eh! Kok libur sih, By?" pekik Maura terkejut begitu mendengar suaminya ingin libur kerja.


"Kan kamu yang bilang, kalau anak kita sedang ingin dekat dengan papanya... Ya udah aku libur aja kerjanya terus nemenin kamu di rumah." celetuk Bryan santai.

__ADS_1


"Gak boleh, papa little Bean harus tetap kerja! Aku gak apa-apa disini kok, kan ada Nick."


"Ya udah aku panggil Nick dulu, suruh beli salad buah sama bubur. Aku lagi pengen bubur."


Bryan langsung memerintahkan Nick untuk membeli salad buah dan bubur. Dia juga menelepon mamanya agar salah satu pelayan di rumahnya menemani Maura selama berada di apartemen.


Setelah selesai sarapan bersama dan BI Sumi datang ke apartemen Bryan untuk menemani Maura. Barulah Bryan pamit pergi pada istrinya. "Little Bean dan little girl, papa Bryan berangkat dulu ya... baik-baik kalian di rumah. Papa Bryan hari ini pulangnya telat, karena ada janji di luar kota dengan klien bisnis."


"Iya papa little Bean, gak apa-apa. Kan ada pak Nick dan bi Sumi juga hehe." jawab Maura sambil tersenyum.


"Aku berangkat sayang," Bryan menyodorkan pipinya pada sang istri, mengisyaratkan sesuatu


Maura tersenyum, lalu dia mengecup bibirnya. "Wow...aku dapat bonus," pekik Bryan bahagia


"Karena kamu udah nyenengin aku, jadi aku kasih bonus."


"Aku minta tambahan bonus nanti malam ya sayang?" bisiknya seraya memeluk tubuh mungil Maura.


"Boleh by, tapi ingat kata dokter..." bisiknya lagi.


"Ahh.... baiklah." desahnya lemas. Ia ingat apa yang dikatakan oleh dokter tentang kandungan Maura, kandungan istrinya termasuk kandungan yang lemah. Jika melakukan hubungan intim, Bryan harus sangat berhati-hati dan tidak terlalu semangat. Sedangkan Bryan kadang tidak bis menahan diri kalau melihat istrinya yang cantik itu.


Maura mencium punggung tangan suaminya dengan hormat, Bryan balas mencium kening Maura dengan penuh kasih sayang."Hati-hati di jalan sayang,"


"Iya sayang," sahut Bryan lalu pergi dari apartemennya meninggalkan Maura dan bi Sumi di dalam sana.


Sementara Nick berada di luar apartemen seperti patung yang kadang tidak ada kerjaan. Tapi dia melaksanakan tugasnya dengan baik dan selalu waspada dalam keadaan apapun.


Tanpa mereka sadari, ada seseorang dari kamar sebrang yang melihat Maura Bryan dengan tatapan tidak senang. "Sialan! Menjijikan! Tunggu saja nanti malam, aku pasti akan membunuhmu dan bayimu itu!"


...****...

__ADS_1


Hai Readers, pengumuman give away aku undur jadi tanggal 5 ya, soalnya sekalian sama tamatin novelnya ☺️☺️


jangan lupa, pemenang give away adalah pembaca yang masih aktif ☺️


__ADS_2