
Maura pun duduk tepat disamping Bara dan berhadapan dengan Bryan. Bryan terus menatap Maura, namun wanita itu memalingkan wajahnya.
"Tunggu sebentar, siapa wanita ini?" tanya Bryan pada Bara dengan tatapan mata Bryan tertuju pada Maura.
"Dia adalah ketua tim desain di kantor Agradana grup, Bu Maura perkenalkan dirimu pada pak presdir." ucap Bara dengan lirikan tajam pada Maura.
"Perkenalkan, saya Maura...ketua tim desain di perusahaan Agradana grup." Maura menundukkan kepalanya dengan sopan. Dia bersikap formal dan profesional didepan semua orang disana.
Ternyata dia adalah Presdir Xander grup, kenapa saat itu aku tidak membaca kartu nama yang dibawa Hanna dengan benar. Jika dia Presdir Xander, bukankah artinya dia bekerja bersama kak Evan juga? Bos yang kak Evan sebutkan ingin membantuku, apakah dia?
"Maura ya? Sama dengan nama istri anda ya, pak Bara? Apa saya salah?" Bryan tersenyum tipis, dia memandang ke arah Bara dan Maura.
Pertanyaan Bryan, sontak saja membuat Maura, Bara dan Nathan tercekat langsung melihat ke arah pria keturunan Eropa itu. "Iya, Bu Maura memang istri saya." Bara mengakui Maura adalah istrinya.
"Oh...tapi kenapa ya saya tidak melihat hubungan kalian seperti suami-istri? Lebih ke seperti rekan bisnis saja." Bryan menyunggingkan senyuman dibibirnya.
Maura, kamu harus melihat dengan jelas seperti apa suamimu ini.
"Haha, pak Bryan bisa saja...saya dan istri saya harmonis kalau sudah di rumah. Tapi, jika berada di luar dan didalam lingkungan pekerjaan...kamu berusaha bersikap profesional." kata Bara sambil tertawa ramah. "Ya kan sayang?" Bara melirik ke arah Maura sambil tersenyum ramah seolah pria itu mencintainya.
Maura mengepalkan tangannya dengan kesal, dia tidak suka dengan jawaban bohong dan sikap manipulatif dari Bara. Bryan melihat Maura menundukkan kepalanya didepan, tubuhnya gemetar.
"Hem, iya sayang." Maura menengadah lalu dia tersenyum pada Bara.
Akhirnya mereka memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu sebelum membahas pekerjaan yang akan mereka lakukan bersama.
"Silahkan pesan yang kalian mau, saya yang akan bayar."
"Tidak usah pak, biar saya saja." kata Bara menolak Bryan untuk membayar makanannya.
__ADS_1
"Karena saya yang mengajak bertemu disini, maka tanggungjawab saya untuk membayarkan makanan. Itu adalah prinsip saya yang lebih baik menggunakan uang sendiri," Bryan menatap tajam ke arah Bara, seolah menganggap remeh pria itu.
Dasar pria brengsek, kau mau membayar makanan dengan uang curianmu itu? Tidak tahu diri.
Deg!
Bara tercekat dan merasa tidak nyaman dengan tatapan Bryan padanya. Dia bertanya-tanya dalam hatinya, apa dia punya salah pada Bryan? Atau pernah menyinggungnya? Karena dia merasa kalau Bryan bicara seolah menyindir dirinya.
"Baiklah pak, kali ini saya akan biarkan bapak membayarnya...tapi lain kali saya yang akan bayar," Bara tersenyum lembut menutupi rasa kesalnya.
Mereka pun memesan makanan Jepang, Maura terlihat sangat menikmati sashimi dan sushi yang dia pesan itu. Bryan tersenyum sambil menatap Maura yang asyik makan sendiri.
"Maura,"
"Ya?" sahut Maura pada Bara yang memanggilnya.
"Kamu seperti orang yang kelaparan saja, jaga sikapmu didepan pak Bryan!" bisik Bara pada istrinya itu.
"Maaf." Maura terdiam.
Suasana itu pun berubah menjadi pembahasan kerjasama antara Agradana grup dan Xander grup. Bryan, Bara dan Maura sedang fokus pada desain renovasi untuk gedung Xander grup yang baru. Bryan meminta pada Bara, harus Maura yang menangani proyek desainnya.
"Bu Maura, apa anda bisa mengambil tanggungjawab ini?" tanya Bryan pada Maura.
"Iya, saya bisa pak." jawab Maura percaya diri.
"Pak Bara, jadi sudah fiks ya? Saya mau istri bapak yang menangani proyek desainnya, saya tidak mau diganti dengan yang lain. Pilihan saya hanya Bu Maura." pria itu menyunggingkan senyuman termanisnya pada Maura.
Sontak saja membuat Maura langsung buang muka, sambil memegang dadanya. "Apa yang si gila ini lakukan? Apa dia sedang menggodaku?". Maura membatin.
__ADS_1
"Tentu saja pak, silahkan." Bara mempersilakan dengan senang hati.
Dia dan Bryan berjabatan tangan sesuai dengan kesepakatan. Ketika akan mengakhiri pertemuan mereka, Bara dan Nathan pamit pergi ke toilet terlebih dahulu. Mereka meninggalkan Maura, Bryan dan Ferry di ruangan itu.
"Bagaimana? Apa kamu suka makanannya? Kelihatannya kamu suka, sampai tidak ada yang tersisa. Ternyata benar kamu suka makanan Jepang." Bryan mendekati Maura dengan genit.
"Anda banyak bicara ya pak Bryan!" Seru Maura ketus.
"Kenapa sih kamu selalu menolakku? Padahal sikap suamimu juga begitu, jelas-jelas dia tidak cinta padamu."
"Terus apa urusannya dengan anda? Saya sudah bilang jangan ikut campur." kata Maura sambil memalingkan wajah.
Bryan mengangkat dagu Maura, dia menatap kedua mata cantik milik Maura. "Dia sangat bodoh, memperlakukan berlian seperti sampah. Suatu saat nanti dia akan menyesal." gumam Bryan.
Maura menepis tangan Bryan yang menyentuh dagunya. "Sentuh saya lagi, saya pukul kamu!" ancamnya gemas.
"Pukul saja, silahkan." Bryan dengan sengaja merelakan wajahnya untuk dipukul oleh Maura. "Untuk wanita yang aku suka, aku akan lakukan apa saja."
"Saya tidak tahu anda bercanda apa tidak! Ucapan anda seperti calon pebinor saja," gerutu Maura kesal.
"Tidak apa-apa, mau calon pebinor atau jadi pebinornya beneran juga. Aku tidak masalah, yang sedang aku kejar memanglah istri orang." kata Bryan tidak masalah.
"Apa?!"
Cup!
Bryan tiba-tiba saja mengecup pipi Maura dengan lembut. "Jadikan aku selingkuhanmu, tidak rugi kan?" Bryan tersenyum genit pada Maura seraya menggodanya. Maura tersipu malu, dia memegang pipinya, mata polos itu menatap Bryan dan semakin membuat pria itu terpesona di buatnya.
Meski harus ke lubang neraka, aku rela jika aku bisa mendapatkanmu Maura.
__ADS_1
Sepertinya pak presdir lupa kalau masih ada aku disini. Batin Ferry yang berdiri didekat pintu masuk.
...*****...