
...🍀🍀🍀...
Samuel telah tiada dalam kecelakaan mobil saat menolong Jessica dan Mauralah yang paling terpukul dengan semua itu. Kepedihan Samuel telah meninggal kepedihan yang mendalam bagi Maura.
Nathan dan Jessica juga ternyata merasa kehilangan. Ya, walaupun Samuel selalu jahat pada orang lain dan merusak wanita. Tapi masih ada yang merasa kehilangan dirinya.
Seperti kata pepatah orang jahat tak selamanya jahat, pasti mereka adalah orang baik juga. Samuel juga memiliki sisi baik, entah dari mana sisi baiknya. Meski dia di kenal sebagai orang brengsek.
Di hari pemakaman Samuel, Maura berada disisi suaminya setiap waktu. Dia tak pernah meninggalkan istrinya yang masih berada di pemakaman.
"Sayang, pulang yuk?" ajak Bryan pada istrinya seraya merangkul tubuh istrinya.
"Iya...aku pamit dulu sama ayah." ucapnya lemas.
"Iya sayang," ucap Bryan sambil tersenyum pada istrinya.
Maura memandangi nisan ayahnya dengan tatapan sendu, berlinang air mata. "Ayah...Maura pulang dulu ya, Maura doakan semoga ayah tenang di sana." ucap Maura dengan senyumannya getir dibibirnya.
Hatinya sangat sakit melihat ayahnya telah berada di tempat terakhirnya, dia berdoa agar jiwa ayahnya bisa tenang di alam sana. Meski pria itu sudah membuat dirinya kehilangan masa depan yang indah, tapi pria itu yang sudah membuat dirinya terlahir ke dunia. Walau sosok ayah itu sering disebut brengsek dan kejam, tapi darah lebih kental daripada air.
Pastilah masih banyak rasa sayang di dalam hati Maura terhadap ayahnyam Apalagi selama ini Maura selalu dilimpahkan kasih sayang oleh Samuel dan Maura selalu ingat akan hal itu. Kenangan indah bersama sang ayah, semua itu tidak palsu dan tulus.
"Kak Nathan, kak Jessica, atas nama ayah.... aku mohon maaf kepada kalian berdua. Karena ayah telah berbuat banyak kesalahan kepada kalian berdua. Tapi aku mohon pada kalian berdua untuk memaafkannya, agar ayah tenang di alam sana."
Nathan dan Jessica tidak bergeming, sampai akhirnya Nathan mulai bicara. "Iya, akan kuberikan maaf ku kepada pria itu." ucap Nathan tanpa banyak basa-basi, dia pun pergi meninggalkan pemakaman itu bersama Jessica.
Sekilas Maura melihat ada kabut kesedihan di mata Nathan karena kepergian Samuel. Ada air mata berlinang di sana.
__ADS_1
"Sayang, kita pulang yuk? Udah mau hujan..." ucap Bryan sembari melihat ke arah langit yang sudah mendung itu.
"Iya By kita pulang." jawab Maura, lalu dia berjalan ke arah suaminya. Tubuhnya lemas, akhirnya Bryan memapah Maura.
Mereka pun sampai di rumah keluarga Agradana. Di sanalah Maura dan Bryan akan tinggal malam ini. Di rumah yang menjadi kenangan indah masa kecilnya bersama ayah dan ibunya.
Hati Maura terenyuh, dia melihat sekelebat kenangan indahnya di sana bersama kedua orang tuanya. Tak mampu lagi dia menahan tangisnya lagi, tangis yang sudah ditahannya dari tadi pagi. "Hiks...hiks... huhuuu...."
Tidak banyak yang bisa Bryan lakukan saat ini, dia hanya bisa memberikannya pelukan hangat seraya menghibur istrinya yang sedang berduka. "Gak apa-apa sayang, keluarin aja kalau kamu mau nangis. Aku akan disini menjadi tempat kamu bersandar. Nangis aja ITS okay, kamu memang lagi butuh itu...tapi nangisnya jangan lama-lama ya sayang? Aku gak bisa lihat mata kamu sembab," ucap Bryan sambil tersenyum, lalu mendaratkan kecupan di kening istrinya.
"Ayah....ibu....hiks..." Maura bersandar di pelukan suaminya dan menangis terisak-isak di sana.
Kini Samuel telah pergi selamanya, hanya tinggal nama saja dan Maura yang paling terpukul akan semua itu. Semalaman Maura menangis tak henti-hentinya, Bryan mencoba segala cara untuk membuat Maura lebih baik. Namun wanita itu masih sedih atas kehilangan ayahnya.
Sampai akhirnya Maura lelah menangis terus dan membuatnya tertidur di pangkuan suaminya. "Sayang, kamu udah tidur aja...padahal kamu belum makan apa-apa dari tadi siang." bisik Bryan lalu menghela nafas berat dan membuangnya kasar. Pelan-pelan Bryan menggeser tubuhnya lalu memindahkan Maura ke atas ranjang dengan lebih nyaman. "Sayang, jangan lama-lama sedihnya. Ada aku disini." Bryan mencium kedua kelopak mata Maura yang terpejam itu penuh kasih sayang.
***
Selama Maura berduka kehilangan sang ayah, Bryan selalu menjadi suami siaga dan berada di samping istrinya. Dia berusaha menghiburnya dengan segenap jiwa dan raga. Hingga tak terasa waktu pun berlalu, 2 bulan setelah kepergian Samuel.
"By...bangun dong? Ini udah siang loh, memangnya kamu nggak mau ke kantor?" tanya Maura seraya menggoyangkan tubuh suaminya untuk membangunkan pria itu. Pria yang tidurnya tengkurap.
"Eungh..." lenguh Bryan malas dengan mata terpejam.
"Sayang, mandi yuk? Kamu harus cepat bangun dong, kata pak Ferry kamu ada rapat!" teriak Maura tepat di telinga Bryan.
"Haduh... berisik!"
Maura mulai geram dengan tingkah suaminya, akhirnya dia memutuskan memakai cara lain untuk membangunkan suaminya. Dengan hati-hati, Maura menindih tubuh suaminya. Dia memegang rudal kebanggaan suaminya, namun belum lama di pegang. Rudal itu memanas dan menegang.
"Nah kalau gini kan kamu--"
Hup!
__ADS_1
Bryan membalikkan tubuhnya, dia memeluk Maura dengan erat. Kini Maura berada di dalam kungkungannya. Mata pria itu di penuhi oleh kilatan gairah membara. Padahal sebelumnya mata itu terpejam malas.
"Little girl, kamu sudah berani ya menggodaku? Apa kamu tidak tahu konsekuensinya?" tanya Bryan sambil membuka kancing baju istrinya.
"By...kamu--hmph--"
Bryan membungkam bibir istrinya dengan ciuman basah, tak lupa tangannya bergerak tak mau diam meracau kemana-mana. Maura membalas ciuman suaminya, saat berada ditengah kenikmatan. Tiba-tiba saja Maura mendorong tubuh suaminya.
"Ukhh..." Maura menutup mulutnya, keningnya berkerut. Dia merasa ada sesuatu yang bergejolak di perutnya.
Wanita itu beranjak dari tubuh suaminya, lalu berlari ke kamar mandi dengan buru-buru. "Uwekk...uwekk...." terdengar suara wanita muntah-muntah di dalam sana.
"Sayang! Kamu kenapa?!" Bryan langsung beranjak dari tempat tidurnya, kemudian dia berjalan ke kamar mandi yang tidak di kunci itu.
Dia melihat istrinya sedang mual-mual. "Sayang, kamu kenapa? Sayang..."
"Diam kamu! Kamu bau, jauhi aku...pergi! Uwekkk..."
Bryan mengerutkan keningnya, dia terheran-heran melihat istrinya begitu. Sekaligus bingung dengan junior yang sudah menegang harus patah hati karena tidak bisa mendapatkan jatahnya.
"Sayang..."
"Menjauh!" serunya tegas.
*****
Sementara itu Bara sedang bersama Vera di depan rumah kosan Vera. "Ver..."
"Bara, kenapa kamu kesini?" tanya Vera dengan wajah dinginnya.
"Ver, kita harus bicara!" Bara menatap sendu ke arah Vera. Dia dan wanita itu telah resmi menjalin hubungan kekasih, dua bulan mereka telah bersama-sama merajut kasih.
"Oke, aku duluan yang bicara." kata Vera sambil menggigit bibir bagian bawahnya. "Bara, aku mau kita PUTUS!"
__ADS_1
"A-apa?!" Bara tercengang mendengar ucapan Vera yang tiba-tiba saja meminta putus hubungan dengannya.
...*****...