
...*****...
1 bulan telah berlalu, Maura sudah menjadi babu di rumah Bara. Perlakuan kasar dari Ghea dan Alya sudah tidak asing lagi baginya. Dia berusaha untuk tidak menanggapi mereka berdua, terutama Bara. Selama itu pula, Bara tidak pernah memberikannya nafkah lahir dan batin layaknya seorang suami.
Setiap harinya, setiap malam, Bara selalu membawa Vera bermalam di rumahnya. Bahkan Maura selalu membersihkan sisa-sisa hubungan ranjang mereka dengan kedua tangannya sambil menahan sakit hati. Maura berusaha tidak peduli pada Bara, dia berusaha menghilangkan rasa cintanya dengan benci. Walaupun sangat sulit untuknya mengubah hati itu, tidak semudah membalik telapak tangan.
"Heh! Istri sah, dimana Bara?" Tanya Vera dengan suara yang meninggi dan wajah memerah.
"Aku tidak tahu." jawab Maura sambil membersihkan kap lampu dengan kemoceng.
Bara membawa wanita lain semalam. Apa Vera sudah dicampakkan?. Batin Maura berfikir.
"Huh!" Dengus Vera kesal, kemudian dia menaiki tangga rumah mewah itu. Sudah jelas kemana arah tujuannya, dia pasti mau pergi ke kamar Bara.
Beberapa saat kemudian, Maura mendengar keributan di lantai atas. Hingga membuat Ghea dan Alya yang berada dilantai bawah keluar dari kamar mereka pagi itu.
"Ada apa sih ribut-ribut?" tanya Ghea geram.
"Maura, kamu lihat di atas ada ribut-ribut apa disana? Bukan bengong aja disini." Alya membentak Maura.
Aku gak bengong, apa dia buta ya? Gak lihat apa? Tanganku sedang bekerja.
Maura tidak menjawab, dia pun melangkah pergi untuk menaiki tangga. Dengan sengaja Ghea, meringkas kakinya hingga Maura terjatuh.
"Jalan pakai mata dong." Ghea tertawa.
"Kekanakan." gumam Maura sambil berdiri, wajahnya terlihat dingin.
"Apa kamu bilang?!" Ghea melotot pada wanita yang lebih tua darinya itu. Alya meminta anaknya untuk diam dan tidak bicara lagi.
Maura pun naik ke lantai atas, tiba-tiba saja sebuah vas kaca melayang ke arahnya. Maura tidak bisa menghindar, keningnya terkena vas kaca itu hingga vas kaca hancur dan kening Maura terluka. "Auw!"
PRANG!
Disana juga Maura melihat Vera dan wanita baru mainan Bara, sedang adu jambak. Bara pusing melihatnya. "Beraninya kamu naik ke atas ranjang Bara! Bara itu milikku!" Vera menjambak dan mencakar wajah si wanita itu.
"Kamu sudah tidak menarik lagi, jadi wajar saja kalau dia bosan denganmu!" kata wanita itu sambil tersenyum sinis.
Kedua wanita ini benar-benar...Bara tidak bisa melerai perkelahian kedua wanita itu. "Maura, cepat panggilkan Mang Udin!!" titah Bara pada Maura yang berdiri tak jauh dari sana.
"Ya," jawab Maura sambil tersenyum pahit.
__ADS_1
Dia memegang keningnya yang bercucuran darah, Bara tidak peduli melihat wanita itu terluka. Setelah memanggil pak Udin, satpam rumah itu. Akhirnya kedua wanita Bara diusir keluar dari sana dengan susah payah.
"Astagfirullah non, kepala non kenapa? Kenapa bisa berdarah?" tanya Udin cemas melihat darah di kening Maura.
"Gak apa-apa kok mang Udin," jawab Maura sambil memegangi kepalanya.
"Eh, gak apa-apa gimana non? Itu darahnya sampai ngalir gitu. Lebih baik cepat diobati non!" Mang Udin memberi saran kepada Maura untuk segera mengobati lukanya.
"Gak apa-apa kok, ini cuma goresan kecil." jawab Maura sambil tersenyum.
Luka ini tidak apa-apanya dibandingkan dengan luka di hatiku karena Bara. Setiap malam dia membawa wanita ke rumah dan mereka melakukan itu. Sakit hatiku ini Bara, setelah apa yang kamu lakukan padaku, mengapa aku masih mencintaimu...aku sangat bodoh. Maura menatap Bara dengan tatapan berkaca-kaca penuh harapan.
Bara melihat Maura yang terluka dengan mata bergetar. Dia memalingkan wajahnya dan kembali ke kamarnya.
Jangan pedulikan dia Bara, ingatlah bahwa dia adalah anak dari Samuel si brengsek itu.
BRAK!
Bara menutup pintu kamarnya rapat-rapat, tanpa peduli pada istrinya yang terluka itu. Maura tersenyum pahit melihat kepergiannya Bara.
Udin melihat Maura dengan iba dan menatap Bara dengan marah. Alasan Udin masih bertahan bekerja disana karena dia yakin bahwa suatu hari nanti Maura dan ayahnya bisa kembali menjadi tuan dirumah itu.
*****
"Apa benar pak Presdir kembali hari ini?" tanya seorang pria berbisik pada temannya.
"Iya, pak Bryan baru saja memenangkan tender besar dan mendapatkan penghargaan bisnis fashion terbesar yang mendunia." kata seorang karyawan membanggakan.
"Hem, ya dan kabarnya dia masih lajang di usianya yang sudah menginjak 28 tahun. Mungkin karena dia terlalu sibuk bekerja." ucap seorang karyawan lainnya bergosip.
Evan ada bersama para karyawan itu, dia terlihat mendengarkan percakapan mereka tentang Presdir Bryan Seager Xander yang memiliki darah keturunan Eropa. Evan adalah pegawai baru disana dan dia tidak tahu apa-apa tentang Presdirnya karena dia baru pertama kali akan bertemu dengannya.
Beberapa mobil mewah terparkir didepan kantor. Para karyawan itu bersiap di posisi mereka masing-masing untuk menyambut sang Presdir yang baru saja kembali dari luar negeri setelah satu bulan berada disana.
Evan terpana, dia baru pertama kali melihat presdirnya itu setelah satu bulan bekerja disana. Wibawa dan karisma, dimiliki oleh Bryan.
Keren sekali Presdir Xander grup ini, seandainya Maura bisa bersama dengan pria hebat seperti ini, bukan dengan si benalu Bara.
Semua karyawan disana menyambut kedatangan kembali Presdir mereka dengan hangat dan sopan. Evan juga menundukkan kepalanya didepan Bryan dengan sopan.
Bryan tidak tersenyum, wajahnya dingin. Namun saat dia melihat Evan, dia berhenti sejenak didepannya.
__ADS_1
"Angkat kepalamu!" titah Bryan pada Evan.
Evan dengan patuh mengangkat kepalanya, dia menatap Bryan dengan sopan. "Revandra Ag-radana?" Bryan mengeja name tag yang dipakai oleh Evan.
Agradana? Jadi dia pegawai baru yang Ferry sebutkan waktu ditelepon?
"Benar pak, itu saya." jawab Evan.
Kenapa pak Presdir menanyakan namaku, ya?
Tidak ada angin tidak ada hujan, Bryan tiba-tiba tersenyum pada Evan. Tangannya menepuk bahu Evan seraya menyemangatinya. "Bagus, semoga anda betah disini pak Revandra."
Semua karyawan lama diperusahaan itu melongo tertohok dengan sikap Bryan yang bersahabat pada Evan. Mereka tidak percaya bahwa presdir mereka yang dingin, akan tersenyum pada seseorang. Evan juga tidak mengerti kenapa dirinya diperhatikan.
Setelah Bryan dan Ferry pergi darisana, para karyawan langsung mendekati dan memuji Evan yang bisa membuat gunung es tersenyum.
"Woah, pak Revan? Apa anda sudah kenal dengan pak Presdir sebelumnya?" tanya pak Candra, atasan Revan di dalam tim pemasaran.
"Bapak kan tau sendiri, saya baru bekerja disini." ucap Evan bingung.
"Selamat ya pak Revan, anda berhasil membuat pak Presdir tersenyum. Kedepannya kita harus baik-baik nih sama pak Evan." ucap seorang karyawan sambil tersenyum.
Aneh? Kenapa dia sok akrab denganku padahal dia tidak kenal aku?.Evan terdiam bingung.
🍀🍀🍀
Di ruang presdir Xander grup.
"Ferry, dia kakak sepupu Maura yang kamu bilang itu?"
"Benar pak."
"Bagaimana kinerjanya?"
"Sangat bagus, bahkan dia mendapatkan penghargaan karyawan teladan bulan ini padahal dia masih baru." jelas Ferry.
"Bagus, tentang Revandra.. sebelumnya dia bekerja di perusahaan omnya. Lalu, kenapa dia bekerja disini?" tanya Bryan yang belum tau alasannya kenapa Revan bekerja di kantornya bukan di kantor omnya sendiri.
"Pak, sebenarnya perusahaan itu telah diambil alih oleh suami Bu Maura."
"APA?! Dia sudah menikah?!!" Bryan tercengang.
__ADS_1
Hati Bryan bagai tersambar petir, mendengar Maura ternyata telah bersuami.
...*****...