
...🍀🍀🍀...
Bara tersenyum ketika meminta Maura untuk tinggal di rumahnya.
Maura pasti senang karena aku menyuruhnya menginap disini. Tidak akan aku biarkan dia bertemu dengan selingkuhannya.
Pria bertubuh tinggi dan kekar itu berjalan mendekati Maura yang sudah sampai didepan pintu. Maura hanya menatap kosong ke arah Bara, "Maaf, apa aku salah dengar? Kamu memintaku tinggal?"
Tumben sekali dia memintaku menginap.
"Jangan salah paham Maura, aku memintamu tinggal karena aku ingin kamu memenuhi tugasmu sebagai istri dan aku mendapatkan hak ku sebagai suami."
Maura tercekat kaget mendengar ucapan Bara yang terasa ambigu untuknya. "A-apa maksud kamu Maura?" Kedua matanya melebar menatap ke arah Bara.
"Apa kamu gak paham? Malam pertama kita."
Maura menelan salivanya, ketika mendengar kata malam pertama dari bibir Bara terucap. Maura gemetar dan berdebar dengan kata malam pertama itu. "Aku pergi," wanita itu melangkah pergi.
Grep!
Bara memegang tangan Maura dan menghentikannya berjalan. "Bara, apa yang kamu lakukan?"
__ADS_1
"Ikut aku ke kamar, sekarang!" Bara menatap tajam ke arah Maura.
Wanita itu menepis tangan Bara, "Kamu lupa kalau pernikahan kita sekarang hanya kontrak."
"Iya aku tau, tapi apa kamu lupa...di dalam kontrak tertulis bahwa aku berhak meminta apapun padamu, syarat pembebasan kakak sepupu tersayangmu itu dari penjara!" Bara memegang dan menaikkan dagu Maura.
"Tertulis juga di kontrak, poin 10...kalau aku berhak pulang setelah pekerjaanku selesai." Kedua mata cantik Maura menatap Bara dengan tajam.
Sungguh aku sangat bodoh karena aku pernah sangat mencintaimu, Bara.
Bara kesal pada Maura yang terus membangkang padanya. Dia memegang tangan Maura dengan erat. "Kamu pasti mau bertemu dengan selingkuhanmu itu kan? Makanya kamu bersikeras ingin pergi dari sini."
"Aku tidak punya selingkuhan, kamu jangan menuduhku sembarangan! Daripada kamu mengurus aku lebih baik kamu urus aja wanitamu!" tatapan Maura menunjuk ke arah Vera yang sedang berjalan menuruni tangga.
"Gak bisa Bu, dia gak boleh pergi!"
"Kalau kamu gak percaya, silahkan saja kamu suruh orang ikuti aku. Aku hanya akan pulang ke rumah Hanna, aku tidak akan pergi kemanapun!"
Bara tidak bisa menghentikan Maura lebih jauh lagi, dia takut kalau Maura mengartikannya sebagai bentuk perhatian dan cemburu. Dia tidak mau mau kepedean, berpikir bahwa Bara masih mencintainya. "Ya sudah kalau kamu mau pergi, tapi pak Hendra harus mengantar kamu."
Maura bernapas lega karena Bara tidak menahannya lagi. Namun akhirnya dia pergi bersama Hendra, ke rumah Hanna. Maura diantar sampai ke depan rumah kontrakan Hanna.
__ADS_1
Tanpa Maura sadari, disana ada Bryan yang langsung bersembunyi ketika melihat Hendra dan Maura yang keluar dari mobil. "Maura bersama siapa?" gumam Bryan dengan suara kecil.
"Makasih ya pak Hendra udah nganterin saya pulang malam malam begini." Maura berterima kasih kepada Hendra, dia juga merasa tak enak membuat pria paruh baya itu mengantarnya di malam hari. Pada jam yang seharusnya semua orang sudah beristirahat.
"Sama-sama non, ini sudah tugas saya. Non, saya harap tuan Bara bisa berubah seperti dulu lagi dan bersama dengan non Maura. Karena saya yakin tuan Bara mencintai non Maura, hanya saja karena dendamnya, makanya tuan Bara begitu." Hendra yakin bahwa Bara mencoba Maura.
Maura menghela nafas, "Pak, tolong jangan bicara seperti itu...walaupun memang benar masih ada perasaan seperti itu, apa mungkin saya akan seperti ini sekarang? Apa mungkin dia akan membawa wanita lain ke kamarnya? Apa mungkin dia akan sanggup menyakiti saya seperti ini, jika dia benar mencintai saya? Pak, saya dan dia hanya tinggal masa lalu...semua masa lalu itupun adalah kepalsuannya saja." jelas Maura pada Hendra dengan sakit hati.
Hendra terdiam, dia tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Dia hanya bisa mengatakan pada Maura untuk hidup bahagia dan selalu bersabar. Dia juga mendoakan agar Samuel cepat sadar dan membantu Maura keluar dari jurang penderitaan. Maura terima kasih atas doa Pak Hendra untuknya dan ungkapan perhatian pada kondisi Samuel. Tentu saja itu karena Hendra banyak berhutang pada Samuel, pria itu di kenal baik kepada para bawahannya dan siapa juga yang akan menyangka bahwa di luar sana Samuel adalah sekarang b*jing*n.
Hendra pun pamit pergi mengendarai mobilnya, dia akan mengatakan pada Bara bahwa Maura sudah masuk ke dalam rumah dengan selamat dan tidak bertemu siapapun. Setelah Hendra dan mobil yang dikendarainya pergi cukup jauh dari sana, Bryan keluar dari persembunyiannya di bawah pohon.
"Kemana dia? Apa dia tidak jadi kemari?" gumam Maura sambil celingukan mencari keberadaan seseorang.
Tiba-tiba saja ada yang memegang tangan Maura dan membalikkan tubuhnya. "Little girl, apa kamu sedang mencariku?" Bryan tersenyum seraya menggoda Maura.
"Ternyata bapak ada disini," ucap Maura sambil memegang dadanya.
"Aku sudah dari tadi disini. Jadi, kita mau bicara dimana?" tanya Bryan bersemangat ketika akan bicara dengan Maura. Ditangannya Bryan memegang kantong kain berwarna merah.
"Hem, kita masuk ke rumah Hanna saja ya. Disana lebih aman dan disana kita tidak hanya berdua." Maura mengajak Bryan bicara di rumah kontrakan Hanna yang sekarang sudah menjadi tempat tinggalnya juga.
__ADS_1
Ah? Apa maksudnya dia tidak mau berduaan denganku?. Bryan tersedak mendengar kata-kata Maura.
...*****...