
...🍀🍀🍀...
Maura menyingkirkan dan mendorong Bara hingga jatuh ke lantai. "JANGAN SENTUH AKU!" Suara Maura meninggi.
"Maura...aku mohon..." Bara kembali berlutut didepan Maura, pria itu menangis terisak seraya memohon maaf dan kesempatan kedua pada istrinya.
Kenapa baru sekarang kamu menangis? Kenapa saat aku menangis kamu kejam padaku? Bermesraan dengan wanita lain didepanku, memukulku dan menjadikanku pembantu?
"Hahaha...lucu sekali kamu, Bara." Maura tertawa getir melihat Bara menangis dan berlutut didepannya.
"Maura?" Bara mendongak dan melihat ke arah Maura, dia bingung kenapa wanita itu tertawa.
"Kenapa kamu menangis dan berlutut seperti ini didepanku? Apa lagi yang kamu inginkan dariku? Siksaan dan drama macam apa ini, Bara Rahadian?" Maura menatap tajam ke arah Bara yang masih tetap berlutut di bawah kakinya.
Maura pikir aku sedang berakting?. Bara tercengang.
"Tidak Maura! Aku tidak sedang berpura-pura, sungguh aku tulus meminta maaf padamu, aku juga cinta padamu." Bara memegang tangan Maura.
Maura tetap bertahan dengan wajah datarnya, berusaha tegas dan memantapkan hati memutuskan hubungan antara dirinya dan pria yang pernah sangat dia cintai. Pelan-pelan dia melepaskan tangan Bara dari tangannya.
"Jangan berakting lagi dan cepat tanda tangani suratnya!" Seru Maura tegas, dia ingin masalahnya cepat selesai.
"Tidak, aku tidak mau!" Bara tetap menolak menandatangani surat itu.
Aku tidak akan pernah menceraikan Maura. Aku tidak mau kehilangan orang yang aku cintai.
"Baik, padahal tadinya aku ingin membebaskan kamu...tapi kalau kamu tetap tidak mau dengan cara yang mudah. Aku akan pakai cara yang sulit, kita bertemu di pengadilan saja!" Maura tersenyum sinis, dia mengambil kembali dua dokumen di map itu dan memasukkan ke dalam tas.
Bara kembali berdiri, dia memegang tangan Maura dengan tidak tahu malu. "Maura, aku mohon jangan lakukan ini...hubungan kita, berikan kesempatan pada hubungan kita. Berikan kesempatan kepadaku, aku janji tidak akan menyakitimu lagi, aku akan memperlakukanmu dengan baik."
Lagi-lagi untuk kesekian kalinya, Maura menepis tangan Bara seolah jijik padanya. Dia pun dengan berat hati melepaskan cincin kawin yang diberikan Bara padanya. "Tadinya aku mau membuang ini, tapi aku pikir kamu yang harus membuangnya." ucap Maura dengan senyuman tipis dibibirnya.
Cincin yang di ikatkan Bara padanya, dulu dia sangat bahagia menerima cincin itu dari Bara. Namun saat teringat lagi dengan masa lalu, dia merasa jijik dan merasa dibodohi karena semua ucapan janji manis Bara padanya hanyalah kebohongan semata.
"Maura...kamu harus tetap memakainya, kamu kan senang saat memakai cincin ini."
"Oh...itu dulu, sekarang tidak lagi Bara. Saat itu aku yang bodoh, kenapa aku bisa percaya dengan ucapan kamu."
"Maura... maaf, aku minta maaf. Aku benar-benar dibutakan oleh dendam, tapi aku tulus mencintaimu."
"Kalau kamu cinta, kamu tidak akan berani memukulku bahkan menyentuhku seujung kukumu! Pria tidak kasar pada wanita yang dia cintai." Maura menasehati Bara.
Bara tersentak kaget, matanya melebar menatap ke arah Maura. Saat Bara akan bicara, sipir penjara datang dan mengatakan bahwa waktu kunjungan telah habis.
"Ayo pak Bara, ikut saya kembali ke sel!"
"Tapi saya masih belum selesai-"
Perkataan Bara terputus saat dia melihat seorang pria mendekati Maura. "Kamu sudah selesai?"
"Ya pak saya sudah selesai." ucap Maura menjawab pertanyaan dari Bryan.
"Maura... apa kamu bersikeras ingin bercerai dariku karena dia?" Tanya Bara berteriak.
Bryan melihat Bara dengan tatapan tajam, kemudian dia tersenyum lebar melihat penampilan Bara yang kacau. Apalagi melihat wajahnya yang babak belur.
"Bukan urusanmu, Bara." ucap Maura sinis.
__ADS_1
"Maura, aku mau bicara sebentar dengan dia."
"Bapak mau bicara apa?" tanya Maura heran.
Tanpa menjawab pertanyaan dari Maura, Bryan meminta sipir penjara untuk tidak membawa Bara dulu, karena dia ingin menyampaikan sesuatu pada Bara. Bara menatap pria itu dengan tatapan penuh emosi.
"Jaga dirimu baik-baik ya, mungkin saja akan ada yang mengganggumu lagi disana. Menumpahkan makananmu, menyiram tubuhmu dengan air bekas pel, atau orang-orang yang akan membuatmu mati didalam sana." bisik Bryan dengan senyuman smirk. "Sayang sekali, kamu hanya babak belur... seharusnya kamu masuk ke dalam neraka saja." tambahnya lagi.
Deg!
Bara kaget, kenapa Bryan bisa tau hal yang terjadi padanya selama dipenjara?
"Apa kamu yang merencanakan semua ini?"
"Menurutmu kenapa aku bisa tau?" Bryan tersenyum. "Ini belum seberapa dibandingkan dengan rasa sakitnya. Aku akan buat kamu menderita, Bara! Semua keluargamu, akan membayar lunas penderitaan Maura berkali-kali lipat!" ancam Bryan pada Bara.
"Kamu..."
Bryan menepuk bahu Bara, "Silahkan bawa dia pak," kata Bryan pada sipir penjara.
"Ayo pak Bara, kita kembali ke sel!" Ujar sipir penjara itu sambil menggandeng tangan Bara.
Bara mendengus, dia menatap Bryan dengan sinis.
🍁🍁🍁
Setelah pembicaraannya dengan Bara, Bryan mengajak Maura untuk makan di sebuah restoran. Bryan memesankan makanan kesukaan Maura pada pelayan, tak lupa dia juga memesan minuman dan dessertnya.
"Makanlah yang banyak, kamu janji akan menghabiskan semua makanannya!" Kata Bryan sambil tersenyum.
"Tapi ini terlalu banyak," ucap Maura kebingungan saat melihat banyaknya makanan diatas meja itu.
"Ya, tapi tidak sebanyak ini juga kan? Aku bisa kekenyangan, jadi kita makan berdua ya?" Kata Maura sambil menyodorkan 2 porsi makanan yang berada diatas meja ke depan tempat Bryan duduk.
"Baiklah,"
Ketika sedang makan, Bryan terus curi-curi pandang pada Maura. Entah apa yang dia pikirkan. "Pak, apa ada yang mau bapak katakan kepada saya?"
"Ehm...ya itu, apa kamu jadi memerlukan jasa pengacara? Atau..."
Sial! Aku tidak bisa mengendalikan rasa penasaran ini, aku sangat ingin tau apakah si Bara itu menandatangani surat cerainya apa tidak?
"Dia tidak mau bercerai pak, dia memohon maaf dan meminta saya untuk memberikannya kesempatan kedua." Jelas Maura yang lalu meneguk air minumnya.
"La-lalu, kamu bagaimana? Apa kamu memberikan dia kesempatan?"Mata Bryan hanya berpusat pada Maura, dia sangat ingin tau jawabannya.
Kumohon, semoga tidak adalah jawabannya.
"Apakah saya sebodoh itu? Mengapa saya harus menerima kembali orang yang sudah menghancurkan hidup saya? Tentu saja saya menjawab tidak, bahkan memberikan maaf saja saya belum bisa. Tadinya saya terpikir untuk balas dendam, namun jika saya melakukan itu...apa bedanya saya dengan mereka?"
Bryan menyunggingkan senyuman bahagia mendengar jawaban Maura yang tidak memberikan kesempatan untuk Bara kembali dengannya.
"Kamu tidak usah balas dendam, biar aku saja yang membalasnya." Gumam Bryan pelan.
"Hah? Bapak bilang apa? Saya tidak mendengar jelas?" Maura menatap pria itu dengan tatapan bingung.
"Tidak, aku tidak bilang apa-apa. Ayo, kita habiskan makannya... setelah ini aku harus kembali ke kantor."
__ADS_1
"Oh ya, bapak harus ke kantor ya? Maaf karena saya jadi menyita waktu bapak!" Kata Maura buru-buru menyelesaikan makanannya.
"Ets...tidak usah buru-buru, santai saja." Bryan tersenyum melihat Maura yang sedang menghabiskan makanannya.
Usai menghabiskan makanannya, Maura pamit pergi ke toilet lebih dulu sebelum pulang. Dia melihat sekarang ibu-ibu yang cantik sedang mencari sesuatu di sekitar sana.
"Maaf Bu, ibu sedang mencari apa?"Maura bertanya pada seorang ibu yang sedang kebingungan itu.
"Ah....itu, saya kehilangan gelang saya." jawab Clara kebingungan.
Aduh bagaimana ini, itu kan gelang dari Bryan-ku.
"Ibu kehilangan gelangnya dimana, biar saya bantu carikan!"
"Ah tidak usah, biar saya sendiri yang cari." kata Clara ketus pada Maura.
Aku kan tidak tau, anak ini punya niat baik atau tidak. Siapa tau dia pencuri yang berkedok membantu orang?
Maura bingung karena ibu itu sangat ketus padanya, namun dia kasihan melihatnya dan mencari gelang itu. Tak lama kemudian, Maura kembali dengan tangan yang kotor sambil memegang gelang permata berwarna putih.
"Ibu! Tunggu Bu!" Seru Maura sambil mengejar Clara yang sudah berada di depan restoran.
Clara membalikkan badan dan melihat ke arah Maura, dia masih saja berwajah dingin. "Ini punya ibu, kan?" Maura menyodorkan gelang itu pada Clara.
"Iya, ini punya saya. Darimana kamu-" Clara merasa bersalah karena sudah berpikir yang bukan-bukan.
"Maaf Bu tangan saya kotor, gelang ibu saya temukan di kolam belakang."
"Ah ya, benar...tadi saya memang lewat sana. Ya ampun, apa kamu masuk ke dalam kolam ikan itu makanya kamu kotor begini?" tanya Clara melihat tangan dan kaki Maura kotor.
"Iya Bu, takut saya gak apa-apa kok." Ucap Maura sambil tersenyum ramah.
"Gak apa-apa gimana? Kamu ikut saya yuk, bersihkan badan kamu dan ganti baju."
"Maaf Bu, saya buru-buru...makasih atas tawarannya. Tapi teman saya pasti sedang mencari saya," Maura menundukkan kepala dengan hormat pada wanita itu dan pak supir yang ada bersamanya.
Wanita itu buru-buru pergi ke tempat parkir dan mencari Bryan. Clara juga sedang buru-buru, padahal niat hati ingin menyusul Maura. "Aduh pak, saya jadi gak enak nih sama anak itu. Saya sudah berprasangka buruk padanya,"
"Nyonya, jarang sekali ada anak jujur dan baik seperti itu pada zaman sekarang." ucap pak supir pada Clara
"Kamu benar, saya harus berterimakasih padanya. Anak itu benar-benar anak yang baik dan cantik." Clara tersenyum ketika melihat sosok Maura
Ngomong-ngomong soal anak yang baik, kapan Bryan akan memperkenalkan pacarnya itu? Kenapa dia selalu mengulur waktu? Apa benar dia bisa punya pacar?
Clara pergi menaiki mobil dan pergi dari sana, dia berharap bisa bertemu lagi dengan Maura di lain waktu.
Sementara itu Bryan sudah menunggu Maura di tempat parkir. "Maaf pak, apa bapak sudah menunggu lama?" Maura berlari menghampiri Bryan.
"Jangan berlari, hati-hati!" Bryan cemas melihat Maura berlari dengan sepatu hellsnya.
Sepatu hellsnya yang tinggi, membuat dia kehilangan kendali ketika berlari. Tak SENGAJA wanita itu jatuh kepelukan Bryan. Tak sengaja juga bibirnya menyentuh bagian tubuh Bryan.
Haaahh...bibir little girl, menyentuh leherku? Tu-tunggu, apa ini mencium? Bryan langsung membeku.
Bibirku mencium leher pak Bryan? Bagaimana ini? Bagaimana bisa kau menegakkan kepalaku didepannya?. Maura menyadari bahwa dirinya mencium leher Bryan.
Wanita itu tidak berani menatap Bryan.
__ADS_1
...****...