Terjebak Dendam Suamiku

Terjebak Dendam Suamiku
Bab 64. Makan malam


__ADS_3

...🍀🍀🍀...


Segera setelah itu, para penjaga yang ada di rumah Bryan berkumpul di sebuah ruangan yang disebut sebagai ruangan penghukuman.


Terlihat si penjaga itu menundukkan kepala, menelan ludah, keringat dingin bercucuran di wajah mereka. Entah apa yang membuat Bryan memanggil mereka kesana dan pastinya itu bukan hal yang baik. Setiap mereka dipanggil ke ruang penghukuman itu, pasti ada salah satu dari mereka yang di hukum. Namun kali ini mereka semua yang dipanggil, apakah mereka semua akan di hukum?


"Kalian...kalian dan kalian semua. Siapa yang sudah membuat kaki wanitaku terluka?" Tanya Bryan dengan lirikan tajam pada semua penjaganya yang berjumlah sepuluh orang itu


Mereka semua hening ketika ditanyai, mungkin mereka takut untuk mengaku dan sudah tahu bagaimana akhirnya bila tuan muda mereka sudah murka.


"Oh, jadi kalian memilih diam saja? Kalau kalian diam saja, maka semua orang yang ada di sini akan menerima akibatnya!" Seru Bryan membentak semua orang disana.


Farhan sampai tersentak kaget, Baru kali ini sejak terakhir kali tuan mudanya itu marah.


Jantungku, aduh aku sudah mau tua dan masih harus melihat tuan muda marah.


"Pak Farhan!"


"Ya, tuan muda?" sahut Fathan yang berdiri tepat di samping Bryan.


Bryan melirik ke arah pria paruh baya itu dengan tajam, lalu dia bertanya kepadanya. "Siapa orangnya? Siapa yang sudah melukai Maura?"


"Itu..." Farhan masih ragu mengatakan kepada Bryan, tentang siapa yang sudah melukai Maura.


"Pak Farhan, aku tidak suka menunggu jawaban! Lebih baik kamu jawab dengan cepat, atau aku akan--"


Tiba-tiba saja seorang pria bertubuh tinggi dengan kacamata hitam, berdiri maju ke depan Bryan. Dialah pria yang sudah mendorong Maura hingga jatuh dan kakinya terluka.


"Kamu, orangnya?" Bryan bertanya pada pria di hadapannya itu.


"Iya pak, saya orangnya. Sa-saya.." pria itu gelagapan, keringat dingin bercucuran di wajahnya.


Bryan mendengus kesal mendengar pengakuan pria itu, "Pak Farhan, pecat dia! Berikan pesangonnya, aku tidak mau melihat ada orang ini di sekitarku!" Ujar Bryan tegas."Sudah untung, aku tidak membunuhmu juga!"


Keputusan Bryan tidak bisa diganggu gugat, jika dia sudah mengatakan A, maka harus A, jika dia sudah mengatakan B, maka harus B. Dia adalah seorang pebisnis yang tegas dan tidak terpengaruh terhadap perasaan, Bryan pada keputusan yang diambilnya.


Penjaga itu pun di pecat, teman-temannya yang ada di sana mencoba menghibur si penjaga itu. Ya, ini memang salahnya karena dia sudah melukai orang yang penting untuk Bryan.


****


Usai menyelesaikan masalah penjaga, Bryan turun ke lantai bawah. Disana terlihat Clara sedang mengobrol bersama Maura sambil duduk duduk di sofa ruang tengah.


Bryan heran ketika melihat mamanya yang judes itu, tertawa-tawa bersama Maura.

__ADS_1


"Haha...apa benar anak itu begitu? Dia kan sangat anti makan pedas." Clara tertawa-tawa. "Bahkan waktu kecil Bryan pernah menangis dan sakit lama karena makan pedas!"


"Iya Tante, saya kira pak Bryan benar-benar suka pedas seperti saya. Tapi ternyata saya baru tau dari pak Farhan kalau pak Bryan sakit karena tidak bisa makan pedas, saya kaget...tapi saya heran, kenapa dia makan pedas kalau dia tidak bisa makan?" Maura ikut terkekeh saat menceritakan tentang Bryan.


"Menurutmu kenapa dia begitu? Kamu suka pedas kan? Dia tidak suka pedas, itu artinya dia memakan pedas demi kamu." Clara tersenyum dan langsung terang-terangan menunjukkan bahwa Maura disukai oleh anaknya.


Wanita itu tertegun, dia tidak tahu harus berkomentar apa.


"Ehem! Kalian asyik banget sih, lagi ngomongin aku ya?" Tanya Bryan yang tiba-tiba sudah ada di belakang ibunya.


"GeEr kamu, siapa juga yang ngomongin kamu? Huh!" Clara tersenyum pada anaknya.


Mereka pun makan malam bersama, Farhan dan pelayan lainnya melihat ada yang berbeda dengan suasana di rumah itu. Kini terasa hangat bagai keluarga.


Setelah makan malam, Maura pamit karena hari sudah malam. Dia mencium tangan Clara dengan tulus, tidak ada maksud macam-macam ingin terlihat baik atau sebagainya.


"Tante, saya pamit dulu ya."


"Kamu sama siapa kesini? Sama supir? Atau naik mobil sendiri?" Tanya Clara cemas.


"Nggak, saya naik taksi."


"Bryan, ayo antar Maura pulang...ini sudah malam," Clara mendorong anaknya lalu menyerahkan kunci mobil pada Bryan.


Mama ini tau aja, aku memang mau nganterin dia kok.


"Eh, gak usah tante...saya bisa naik taksi kok."


Diantar pak Bryan? Nggak deh, aku canggung banget.


"Naik taksi bahaya, nanti kalau supirnya jahat gimana? Kejahatan banyak terjadi pada wanita yang naik kendaraan umum," oceh Clara.


"Saya bisa minta jemput supir saya," alibinya beralasan.


"Kelamaan, mending kamu sama Bryan aja! Lebih aman kalau sama dia," bujuk Clara agar anaknya bisa berduaan bersama Maura.


"Hem, pak Bryan kan lagi sakit. Mana bisa saya meminta orang sakit mengantarkan saya," kata Maura lagi.


"Aku udah gak apa-apa kok, aku sehat. Ayo naik...aku antar. Ma, Bryan berangkat dulu." Pamit Bryan pada mamanya.


"Oke Bryan, semangat ya antar calon mantu mama." Kata Clara berbisik pada anaknya itu.


Bryan hanya tersenyum, lalu dia mengajak Maura naik ke mobilnya. Maura naik ke dalam mobil dan Bryan melajukan mobilnya meninggalkan rumah itu.

__ADS_1


"Ckckck...aduh..." Clara tiba-tiba berdecak.


"Nyonya kenapa?"


"Pak Farhan, aku heran pada Maura...aku yakin dia suka pada Bryan, tapi kenapa dia terlihat tidak percaya diri."


"Mungkin...bu Maura belum membuka hatinya atau Bu Maura adalah tipe yang pemalu," Farhan menebak.


"Nggak! Ini pasti karena Bryan yang lambat, dia belum mengatakan cinta padanya. Anak itu harus segera bergerak!" Clara on fire, dia semangat ingin segera menimang cucu dari Bryan.


****


Bryan dan Maura telah sampai didepan rumah Maura setelah melalui perjalanan kurang lebih 30 menit.


"Pak, terima kasih."


"Iya, aku pulang ya. Hari sudah malam, kamu harus beristirahat..."


"Bapak juga ya, semoga bapak cepat sehat."


Bryan menatap wanita itu dengan lembut, dia senang mendapatkan yang walau hanya sedikit darinya. "Maura, apa aku salah?"


"Ya? Salah apa pak?"


"Apa aku salah kalah aku berpikir kamu datang ke rumahku bukan hanya karena masalah proyek tapi karena kamu cemas padaku?"


Maura menundukkan kepalanya, bukan dia enggan menjawab. Namun, apa yang dikatakan Bryan benar dan dia malu.


"Maura..."


"Bapak tidak salah, saya memang pergi karena proyek dan juga karena saya mencemaskan bapak." Ucapnya sambil menyingsingkan helaian rambut yang ada di wajahnya kebelakang telinga.


Pria itu terperangah, bertanya-tanya apakah Maura benar-benar telah memberinya lampu hijau. "Jadi, aku gak salah?"


"Ehm... sepertinya tidak,"


Bryan memegang tangan Maura, lalu menatapnya dengan lembut. "Maura, apa kamu--"


Tiba-tiba saja gerbang pintu rumah Maura terbuka dan terlihat seorang satpam yang asing membukanya. "Non Maura, non sudah pulang?" sambutnya dengan senyuman ramah.


Tangan Bryan dan Maura pun terlepas, mereka sontak melihat wajah satpam asing itu. "Bara?!"


...****...

__ADS_1


__ADS_2