Terjebak Dendam Suamiku

Terjebak Dendam Suamiku
Bab 100. Rencana pernikahan


__ADS_3

Tidak kerasa TDS sudah memasuki 100 episode πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜€


πŸ™ˆπŸ₯³ Terima kasih Readers yang sudah bertahan sampai bab ini. Mohon maaf, bila terdapat banyak kesalahan atau typo dalam novel ini. Terima kasih sudah bersabar dengan konflik yang kadang bikin keselπŸ™ˆ


Insya Allah, novel ini akan tamat bulan depan...mohon like dan komennya ya😁 Untuk pengumuman giveaway akan diumumkan bulan depan ya..


...πŸ€πŸ€πŸ€...


Sandiwara Bara, berhasil memporak-porandakan hubungan diantara Maura dan Bryan. Terutama hati Bryan, usai membawa Maura keluar dari ruangan itu. Bryan berjalan kembali masuk ke dalam ruangan.


"Bry! Kamu mau kemana?!" Tanya gadis itu dengan suara yang setengah berteriak.


Bryan menepis tangan Maura yang memegangnya, dia pergi dengan emosi ke dalam ruang rawat Bara. Bryan tidak bisa lagi menahan emosinya, dia pun kembali menghampiri Bara. Tak peduli bagaimana keadaan pria itu, Bryan langsung memukulnya sampai Bara terjungkal ke bawah.


BUK!


Clara terkejut melihat Bryan begitu emosi. "Bryan!"


Maura juga sudah berada didepan pintu ruang rawat itu. Dia melihat Bara terjungkal ke lantai. "Cukup! Kalau kamu begini terus, aku tidak akan tinggal diam!" Ancamnya seraya menunjukkan jari ke wajah Bara.


Gawat!


Pria itu kini sudah tersulut oleh emosi, dia tak tahan dengan perilaku Bara yang seenaknya kepada Maura, kekasihnya. "Bry!" Maura memanggil Bryan, berupaya untuk menghentikan aksinya memukul Bara.


Ya, namanya juga pria cemburu. Mungkin cemburu bisa membuat seseorang kalap dan gelap mata, inilah yang dirasakan Bryan saat ini. Bayangkan saja, jika ada yang mencium kekasihmu. Siapapun pasti akan marah, tak peduli pria itu siapa. Cemburu ya cemburu.


"Bryan, cukup! Kamu lupa, adik kamu lagi sakit!" Clara membantu Bara berdiri. Terlihat Bara yang sedang menyeka sedikit darah di sudut bibirnya.


"Bryan, sudah! Cukup!" Maura memegang tangan Bryan dengan erat, emosi pria itu masih meledak.


Matanya menatap tajam ke arah Bara. Diam-diam Bara tersenyum tipis. "Ma, kenapa kak Bryan memukulku?" Tanyanya dengan mata polos mengarah pada Bryan.


Wanita paruh baya yang cantik itu tidak mampu menjawabnya. Tapi Bryan lah yang bicara. "Itu karena aku marah, kamu mencium calon istriku!" Tegasnya emosi.


"A-apa? Kenapa bisa Maura jadi calon istri kakak? Maura itu istriku kak!" Seru Bara dengan wajah polosnya yang makin membuat Bryan jijik.


"Cuih....cukup! Jangan begini terus Bara, aku tau kau adikku. Tapi kamu tidak bisa melakukan ini kepadaku," ucap Bryan yang tangannya masih ditahan oleh Maura.


"Kakak.... kenapa Kakak bersikap seperti ini padaku? Dan Maura, apa benar kamu mau menikah dengan kakakku?" Bara menunjukkan wajah yang memelas.


Ayo Maura, aku tahu kamu pasti akan jawab tidak. Karena kamu kasihan padaku.


Semua atensi tertuju pada Maura, menantikan jawaban apa yang akan dikatakannya. "Benar, aku memang calon istri kakak kamu. Memang sebelumnya kita pernah menikah, tapi kita bercerai karena kamu--"


Maura juga sama tidak tahannya dengan Bryan. Dia tidak mau berpura-pura dan ujung-ujungnya akan membuat hubungan ya dan Bryan merenggang. Ia mencoba untuk tegas.


"Kamu apa?" Bara terperangah, dia tak menyangka bahwa Maura akan mengatakan semuanya.


Sakit hatinya, karena ternyata dia tidak bisa mendapatkan apa yang dia mau. Meski sudah berusaha berubah dan berpura-pura didepan Maura.


"Bry, udah ayo kita pergi aja! Kamu harus kerja, kan?" Maura mengalihkan perhatian Bryan pada yang lain. Tatkala dia merasa bahwa emosinya itu tak akan kunjung mereda begitu saja, jika dia tidak segera dibawa pergi dari sana.


Akhirnya, Maura berhasil membawa kekasihnya keluar dari ruang rawat itu. Mereka pun pergi keluar rumah sakit dan langsung masuk ke dalam mobil.


"Ferry, keluar kau!" Ujar Bryan tiba-tiba begitu dia duduk di kursi belakang mobil tersebut.


"Ah? Apa pak?" Ferry berusaha mencerna apa yang dikatakan oleh bosnya.


"Kamu tuli ya? Aku suruh kamu KELUAR!" teriak pria itu membentak bawahannya tidak tahu apa-apa.


Ferry dan Maura menelan ludah, kemarahan Bryan tidak dapat di bendung lagi. Sepertinya akan meledak. Tanpa berkata apa-apa, Ferry keluar dari mobil itu kan bosnya dan Maura berdua di sana.


"Bry, aku minta maaf...tadi aku tidak sempat untuk menghindar, aku gak tau Bara akan nekat melakukannya. Aku--hmph--"


Sebuah ciuman dibibir, berhasil membungkam mulutnya. Ciuman yang begitu intens dan menuntut, Maura menyadari ciuman yang diberikan Bryan padanya. Adalah ciuman sedih, mungkin cemburu dan marah.


Tak lama setelah pergulatan bibir yang cukup intim itu, Bryan melepaskan pagutan bibirnya, dilihatnya Maura dengan mata yang berembun. Ini pertama kalinya , Maura melihat presiden perusahaan Xander group itu menangis.


"Bryan," Ditatapnya pria itu dengan sorot mata sendu.


Bryan memeluk Maura, menaruh kepalanya di bahu Maura. "Ayo kita menikah sekarang!"


"Apa?!" Tersentak kaget, Maura mendengarnya. Dia mendorong pelan tubuh Bryan.


"Ayo kita menikah sekarang juga!" Ucap Bryan tegas.


"Bry, tapi kita belum mendapatkan tanggal pernikahan kita. Pernikahan bukan hal yang bisa dilakukan dengan cara mendadak,"


"Apa kamu gak mau menikah denganku?"


"Loh? Kenapa kamu nyangkanya begitu?"


"Terus, kenapa kamu menolak permintaanku...aku mau nikah sama kamu sekarang, kita tinggal nikah. Kalau masalah resepsi, kan bisa nyusul. Yang penting kita sah dulu," Tangan Bryan memegang tangan Maura mengecupnya sekilas.


Mungkin, kalau aku sudah menikahi Maura. Maka, Bara tidak akan berani lagi mendekatinya.


Ada kilatan rasa takut di dalam Bryan dan Maura melihatnya. Dia langsung paham apa yang ditakutkan oleh calon suaminya itu."Oke, aku paham. Kita bisa nikah sekarang, tapi..."


"Tapi apa sayang?"


"Kita harus bilang dulu sama mama dan yang lainnya,"


"Itu pasti, tapi jangan kasih tau Bara."


"Kenapa? Bry, Bara kan adik kamu."


"Pokoknya, kita nikah kita nggak boleh kasih tahu dia! Please! Little girl, i beg you, okay?"

__ADS_1


Tatapan memelas itu tidak bisa ditolaknya, Maura pun mengiyakan saja apa yang dikatakan oleh Bryan. Pernikahan memang lebih baik cepat dilakukan, untuk menghindari hal yang tidak-tidak. "Oke," jawabnya.


Senyuman manis mengembang di bibir Bryan, lalu dia mencium kening Maura dengan penuh kasih sayang. "Kita nikah nanti malam ya?"


"Terserah kamu,"


"Kenapa terserah? Kamu niat gak sih nikah sama aku?"


"Iya sayang, iya... cerewet banget!"


"Sayang?"


Bahagia hati Bryan sayang keluar lagi dari bibir Maura. Kemudian dia mencium pipi Maura dengan mesra. Maura balas mencubit hidung Bryan yang mancung itu. "Udah ah, kita berangkat kerja dulu yuk!"


"Oke,"


Setelah itu Bryan memanggil kembali Ferry ke dalam mobil. Kemudian mereka meninggalkan rumah sakit dan pergi ke kantor masing-masing untuk bekerja seperti biasanya.


Bryan sibuk dengan pekerjaannya, di sela-sela pekerjaannya itu. Bryan menelepon langsung penghulu yang akan menikahkannya, tak lupa dia menelepon pihak butik dan salon untuk mendandani calon pengantinnya. Semua serba mendadak. Namun semua yang ditelepon Bryan, setuju untuk melakukan pekerjaannya masing-masing.


"Nah...sekarang tinggal telepon pak Revandra." Pria itu menghela nafas, lalu dia mengangkat kembali teleponnya dan menelepon Evan. Memberitahukan rencana pernikahan dadakannya malam ini.


Bryan sudah tak sabar ingin memiliki Maura, mungkin lebih tepatnya dia ingin melindungi hubungan mereka dari hal yang tidak-tidak.


*****


Rumah sakit.


Hari ini Bara akan keluar dari rumah sakit, Clara sedang mengurus administrasi dan beberapa prosedur di bagian administrasi rumah sakit.


Bara sendirian di ruang rawat itu, wajahnya tampak suram. Dia tak bahagia, meski sudah menemukan keluarga kandungnya. Apa artinya semua itu tanpa Maura.


"Apa aku harus menyerah? Tidak...kalau aku menyerah, maka aku akan kehilangan Maura selamanya. Aku harus tetap bersandiwara seperti ini." Gumam pria itu sambil mencengkram kuat selimutnya.


CEKLET!


Pintu ruangan itu terbuka, terlihat seorang wanita berambut pendek di sana. Ia membawa keranjang berisi buah-buahan. Bara tercekat melihat wanita itu. "Vera--eh maksudku...kamu siapa?" .


Ternyata ini semua hanya sandiwara Bara. Kenapa Bara? Kenapa kamu masih mengharapkan wanita yang jelas-jelas hatinya sudah bukan untukmu lagi?. Vera sakit hati dengan kepura-puraan Bara.


"Sudahlah Bar, aku tau kalau kamu cuma pura-pura. Aku sudah denger semuanya barusan, kalau kamu gak amnesia tapi kamu buat drama." ketus Vera sambil meletakkan keranjang buah itu di atas meja di sana. Vera menghela nafas melihat penampilan Bara yang sudah tak memakai baju rumah sakit lagi. Kepalanya di balut perban, bekas luka itu.


"Terus ngapain kamu kesini Ver?" Bara tidak menyangkal dan dia berlaku jujur didepan Vera.


"Tentu saja aku datang kesini, menjenguk kamu." Vera menghela nafas. "Sekalian, mengingatkan kamu untuk sadar." lanjutnya.


"Sadar? Sadar akan apa? Memangnya aku kenapa?" Tanya Bara seraya menatap wanita itu.


"Sadar kalau...apa yang kamu lakukan saat ini hanya akan sia-sia saja. Maura, mantan istri kamu! Dia sudah tidak ada perasaan apa-apa lagi sama kamu, lebih baik kamu ikhlaskan dia. Bar... dia berhak bahagia dengan kebahagiaannya sendiri, dan bahagianya itu bukan dengan kamu."


Emosi Bara memuncak, manakala Vera memancingnya dengan ceramah tentang Maura. Salah, bukan ceramah tapi mengingatkan.


"Nggak, Bara. Aku nggak akan diam kali ini, kamu harus akhiri semuanya."


"Vera, cukup! Memangnya kamu siapa, ikut campur urusanku? Kamu itu bukan siapa-siapa ku!" Bara tegas, dia membentak Vera dengan keras.


Sakit hati sebenarnya hati Vera dengan ucapan Bara. Pria itu benar-benar tidak peka terhadap perasaannya selama ini, Vera telah menyimpan rasa padanya. Dan dia bicara seperti ini karena sangat peduli kepadanya.


"Bara...ya aku tahu, Aku bukan siapa-siapa kamu dan aku nggak berhak mengatakan semua ini. Tapi, aku peduli sama kamu, Bar." Vera menatap Bara dengan mata yang mengembun.


"Jangan peduli padaku Ver, aku tidak butuh rasa pedulimu." Bara acuh pada Vera.


"Jangan keras kepala lagi, Bara. Maura, biarkan dia bahagia dengan begitu kamu akan bahagia juga. Kamu... harus bisa menemukan kebahagiaanmu sendiri," Nasihat Vera pada pria itu. Ia tulus mendoakan kebahagiaan Bara.


"Tidak Vera, tidak ada yang bisa membuatku bahagia kecuali dia. Hanya dia, yang bisa membuatku bahagia. Orang lain belum tentu menerima semua kekuranganku, tapi aku yakin Maura pasti akan memaafkanku." Kata Bara percaya diri.


"Ada! Ada orang lain lagi, yang siap menerima kamu apa adanya! Dan dia orangnya!"


"Siapa?"


Akhirnya Vera tidak tahan lagi untuk mengutarakan isi hatinya. "Aku... aku orangnya."


Kalau aku tidak bicara, apa kamu akan peka? Baiklah, akhirnya sudah katakan semua perasaanku.


Bara tidak bicara sepatah katapun, tapi jujur jantungnya berdegup kencang setelah mendengar pengakuan Vera. "A-apa sih maksud kamu, Ver?"


"Apa masih kurang jelas aku mengatakan apa? Aku cinta sama kamu, Bar!.Bukan karena kamu adalah penyelamatku dari dunia hitam itu, tapi karena aku memang cinta kamu."


Vera telah mengatakan perasaannya, Bara menundukkan kepalanya. Dia tidak bicara sepatah kata pun setelah itu, hanya hening yang tercipta.


Kenapa Bara diam saja?.


Cekret!


Pintu kamar itu terbuka, terlihatlah Clara dan Alya berdiri di sana. "Eh, ada Vera?" Alya bertanya pada Vera, karena Alya memang sudah mengenal Vera.


"Bu Alya? Bu Clara?" Vera menyeka air matanya, lalu dia mencium tangan Alya dan Clara secara bergantian. Tentunya dengan sopan dan ramah.


Siapa ya wanita ini? Cantik...apa dia kesini untuk bertemu Bara?. Clara memperhatikan wanita cantik bernama Vera itu.


"Bara sudah mau pulang, kalau kamu gak ada kegiatan lain... ayo ikut kami antar Bara pulang."


"Ah....gak usah Bu, hari ini saya ada pekerjaan di restoran. Cepat sembuh ya, Bar... aku pamit dulu ya Bu Alya, Bu Clara." Vera menyunggingkan senyuman getir di bibirnya, sekolah dia sakit hati.


Ia benar, memang dia sakit hati oleh Bara yang tidak peka terhadap perasaannya. Entah bagaimana lagi caranya, agar Bara bisa menyambut hatinya itu.


"Eh...Vera, kok buru-buru..."

__ADS_1


Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Vera sudah meninggal ruang rawat itu. Dia yang menahan tangis sedari tadi, akhirnya menangis juga.


Dalam hati, Bara juga sebenarnya merasakan hal yang aneh. Ketika Vera menatapnya dengan mata berembun seperti itu, tapi ia berusaha tak peduli. Bara masih pada tujuannya, yaitu berpura-pura hilang ingatan.


Bara tiba di rumah besar keluarga Xander, dia melihat rumah mewah itu. Dia tak menyangka bahwa dirinya berasal dari keluarga kaya dan fakta bahwa ia adalah adik Bryan.


"Selamat datang den Kenzo," sambut Farhan dengan mata berkaca-kaca. Bibirnya kembang kempis, ia menatap Bara dengan sedih.


Bara melihat pria paruh baya itu dengan kening berkerut. 'Siapa pria ini?'


"Kenzo, ini adalah pak Farhan...dia yang salah mengasuh kamu dan Bryan sewaktu kecil." Clara memperkenalkan Farhan lagi kepada Bara, karena sepertinya Bara tidak mengingatnya.


"Oh...jadi bapak adalah--"


Farhan langsung berhambur memeluk Bara, ia menumpahkan air matanya. Farhan sangat sayang pada Kenzo, alias Bara. "Den... Alhamdulillah...ya Allah, den Kenzo sudah sebesar ini...den Kenzo masih ganteng kayak dulu ya? Gemesin....saya suka inget dulu, den Kenzo sama tuan muda Bryan suka main petak umpet bareng. Huhu..saya kira saya tidak akan pernah bertemu dengan den Kenzo lagi." Farhan menangis, terlihat dia sangat menyayangi Kenzo.


Bara membalas pelukan Farhan, ia dapat ketulusan sayangnya Farhan pada dirinya. Entah mengapa dia merasa sangat dekat dengan Farhan.


Clara dan Alya hanya tersenyum melihat itu. Dalam hati mereka berharap ingatan Bara cepat pulih.


****


Sore itu, Maura sudah dijemput oleh Ferry atas perintah Bryan. Karena mereka akan segera menikah malam itu juga. "Pak Ferry, kemana Bryan?"


"Oh...pak Bryan masih ada satu rapat lagi di kantor, jadi beliau saya untuk menjemput Bu Maura."


"Hem...gitu. Terus sekarang kita mau ke mana, pak?"


"Kita pergi ke tempat pernikahannya," jawab Ferry sambil tersenyum.


"Baiklah," Maura patuh dan hanya tersenyum menanggapinya.


Ferry menyetir mobil dengan hati-hati, pelan tidak, cepat juga tidak. Beberapa menit kemudian, mereka sampai di depan hotel Xander grup. Maura diperlakukan seperti Ratu oleh Bryan maupun bawahannya, bahkan membuka pintu mobil saja dia tidak diizinkan.


"Hati-hati nyonya," ucap Ferry sambil menjaga kepala Maura dari atas mobil.


"Pak Ferry apaan sih, malu tau ih dipanggil nyonya...hehe."


"Sebentar lagi kan, nyonya akan menjadi nyonya saya karena nyonya akan menikah dengan pak Presdir." Ungkap Ferry sambil tersenyum.


Tanpa mereka sadari ada sepasang mata tajam memperhatikan mereka. Tidak, bukan perhatikan mereka tapi memperhatikan Maura.


Apa? Kak Bryan akan menikah dengan wanita itu?. Seorang wanita cantik menatap Maura penuh dendam.


Ferry dan Maura masuk ke dalam hotel. Sesampainya disana, Maura disuruh masuk ke salah satu kamar hotel dan bertemu dengan seorang perias yang sudah di sewa oleh Bryan.


"Wah...ini sih gak usah didandanin juga udah cantik, mbak."


"Alhamdulillah...Aamiin, mbak juga cantik kok. Semua perempuan itu cantik. Kalau ganteng itu baru cowok," ucap gadis itu sambil tersenyum.


Sontak saja ucapan Maura membuat gelak tawa. "Aduh si mbak, bisa bercanda juga ya. Udah cantik, baik, gak sombong, pantes aja pak Bryan yang kayak batu itu bertekuk lutut sama mbak. Ya, Allah...pasti sudah menyiapkan jodoh untuk setiap manusia. Pak Bryan dan Bu Maura, saling melengkapi."


"Hehe, doakan saya ya mbak Selly. Semoga saya samawa bersama Bryan."


"Gak usah diminta, saya pasti akan doakan kok." Selly tersenyum lalu mulai merias Maura. "Kata pak Bryan, riasnya gak boleh menor menor. Katanya istrinya udah cantik, gak dandan juga..ternyata benar."


Maura semakin tersipu-sipu dengan ucapan Selly. 60 menit berlalu, Maura sudah siap dengan riasan wajah naturalnya. Bahkan dia sudah memakai kebaya modern berwarna putih yang sangat cantik dan bercahaya.


"Oh ya, maaf Bu Maura.. saya tinggal dulu ya, saya lupa bawa hiasan kepalanya...tadi saya titip di lobi."


"Oke," Maura tersenyum sambil mengangguk.


Selly pergi meninggalkan kamar hotel itu untuk mengambil hiasan yang dimaksud. Maura sendirian disana tanpa ada siapa-siapa yang menemani. Dia pun menelpon Bryan, karena merasa kesepian.


"Ya sayang?"


"Bry...kamu dimana?"


"Aku dijalan sayang, aku sama mama dan Bara juga." Jelasnya.


"Hah? Sama Bara juga?" Maura terheran-heran.


Loh? Jadi Bryan sama Bara juga, kok bisa ya?


"Iya, nanti aku jelasin deh detailnya. Kamu dimana? Udah siap?" Tanya Bryan pada Maura.


"Iya, aku udah siap...tinggal nunggu kamu datang." Ucapnya malu-malu.


"Oke, tunggu aku 10 menit lagi ya. Aku akan segera datang, persiapkan diri kamu malam ini."


"Hah? Memangnya kenapa?"


"Malam ini kamu gak akan bisa tidur," bisiknya menggoda.


Maura hanya tersenyum, terkekeh sendiri dengan ucapan Bryan. "Hehe, Bry...kamu hati+hat---hmphhhh!!" Seseorang membekap Maura dari belakang.


PRAK!


"Maura? Maura kamu kenapa?!" Bryan tersentak kaget mendengar suara aneh diseberang sana.


"Bryan, ada apa?" Tanya Clara melihat wajah panik putranya.


"Ada apa kak?" Bara juga ikut bertanya, apalagi Bryan memanggil nama Maura.


"CEPAT nyetirnya Pak!!" teriak Bryan pada supirnya dengan panik.


Firasatku gak enak.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2