Terjebak Dendam Suamiku

Terjebak Dendam Suamiku
Bab 53. Rasakan itu


__ADS_3

Mohon untuk jangan unfav dulu ya kakak kakak..🤭 mohon bersabar dengan alurnya, menang novel ini tercipta untuk membuat kesal...


...🍁🍁🍁...


Kemarahan Maura semakin membuncah dan tak tertahankan lagi. Akhirnya dia meminta Nathan untuk menepikan mobilnya dipinggir jalan, saat Nathan menepikan mobil itu. Maura langsung menamparnya dengan keras, melampiaskan amarahnya.


"Wow...apa anda marah?" Nathan masih bisa tersenyum meski baru saja pipinya terkena tamparan yang cukup keras, bahkan hingga pipi itu memerah.


"Atas dasar apa kamu memanggilku murahan? Kamu pikir aku tidak akan berani hanya karena kamu lebih tua dariku beberapa tahun?!" Maura mendengus kesal, dia amat marah dipanggil 'murahan' oleh Nathan.


"Hahaha...kalau tidak murahan lalu apa? Datang ke dalam ruangan dan berduaan bersama seorang pria, lalu kalian melakukan hubungan intim di dalam sana. Padahal status anda masih istri orang, sungguh hebat." Nathan tersenyum, tanpa tahu malu dia menghina Maura.


Mata wanita itu terbelalak mendengar perkataan tajam dari mulut Nathan yang menusuk ke dalam hatinya. Maura tidak Bangka bahwa pria yang dianggap baik selama ini selalu berada di sisinya dan di sisi ayahnya, ternyata memiliki mulut pedas dan dendam yang mendalam pada Samuel.


"Kalau bapak tidak tahu apa-apa, mending bapak diam saja!" Seru Maura menahan kesal.


Tahan Maura, kamu harus berpikir logis untuk sekarang. Kamu harus tahu kesalahan apa yang dibuat oleh ayahmu pada kakaknya pak Nathan. Barulah kamu bisa menyimpulkan semuanya dan membalikkan semua perkataannya.


Nathan menatap Maura dengan heran, kenapa Maura tampak tenang dan tidak marah sampai membabi buta? Kenapa Maura menahan marahnya?


Mereka pun kembali ke perusahaan Agradana, Maura terlihat sangat kesal pada Nathan. Jika saja kakaknya tidak mempertahankan Nathan disana, Maura tidak ingin melihat pria mengesalkan itu disekitarnya lagi. Maura bertanya apa alasan Evan masih mempekerjakan Nathan disana, Evan selalu menjawab dengan raut wajah yang tidak dapat di mengerti olehnya. "Anggap saja sebagai bentuk tanggung jawab, kamu harus baik padanya Maura,"


Maura tidak mengerti, apa yang dirahasiakan Evan darinya tentang Nathan? Mengapa dia harus baik pada pria pengkhianat itu?


"Maura kamu sudah kembali?" sambut Evan melihat adiknya masuk ke ruangan Presdir. Evan sendiri sedang sibuk dengan beberapa pekerjaan yang menumpuk dan sempat ditinggalkan karena masalah Bara.


"Iya," jawab Maura cuek dan terdengar kesal, dia duduk di sofa yang berada didalam ruangan itu.


"Ada apa? Raut wajahmu itu sangat kusut, bukankah kamu habis bertemu dengan pak Bryan? Kenapa cepat sekali kembali?" Tanya Evan sambil melirik ke arah Maura, memperhatikan wajah adiknya yang terlihat kesal itu.


"Hem...mulai sekarang kakak, jangan menyuruhku untuk bertemu dengannya lagi! Aku tidak mau bertemu dengannya walau itu hanya urusan pekerjaan," ucap Maura tegas.


Evan beranjak dari tempat duduknya, keningnya berkerut. Dia menatap adik sepupunya itu. "Kenapa? Ada apa? Apa ada sesuatu yang terjadi?" Tanya Evan pada Maura.


"Tidak ada, jangan tanya dan jangan suruh aku bertemu dengannya lagi!" Maura tidak bicara lagi, dia pun keluar dari ruangan itu untuk segera kembali ke timnya dan bekerja seperti biasa.

__ADS_1


Wanita itu sampai membanting pintu Presdir karena kesal, Evan bingung kenapa adiknya seperti itu.


"Apa yang terjadi? Apa mereka bertengkar?" Evan bergumam bingung tak mengerti kenapa Maura begitu.


Sampai beberapa saat kemudian, Bryan menghubungi Evan. Bryan mengatakan pada Evan kalau dia memiliki kesalahan pada Maura.


["Pak Revandra, tolong saya!"]


"Mau minta tolong apa pak? Apa ini berkaitan dengan Maura?"


["I-ya pak, saya ada kesalahan pada Maura. Tapi kenapa bapak bisa tau? Apa Maura ada bicara dengan bapak?"]


"Iya, baru saja dia bilang kalau dia tidak mau-"


["Tidak mau apa pak?"] Bryan penasaran.


"Maura bilang kalau dia tidak mau bertemu dengan bapak lagi," jelas Evan memberitahu Bryan.


["Haaahhh....benarkah dia bicara begitu?"]


"Memangnya ada masalah apa sih bapak dengan Maura? Kenapa dia sampai bicara begitu?" Evan penasaran.


["Itu, saya tidak bisa jelaskan di telepon. Nanti saja kalau kita bertemu, saya akan jelaskan." ]


"Baiklah."


Setelah bicara dengan Evan, hati Bryan semakin tidak tenang. Apa yang harus dia lakukan untuk membujuk Maura memaafkannya?


"Ya Tuhan aku salah, aku sudah menjadi binatang. Entah apa anggapannya padaku sekarang? Mesum? Otak kotor? Atau aku hanya ingin tubuhnya saja...tidak, aku ingin mencintainya dengan urutan yang benar. Kalau seperti ini, artinya aku menghancurkan hubungan yang baru saja dimulai ini. Ya Tuhan..." Bryan menyesali otak yang penuh fantasi mesum itu, dia berusaha menenangkan pikirannya dan mencari cara meminta maaf yang pas pada Maura.


Terdengar suara ketukan pintu di luar ruangan itu.


"Pak, boleh saya masuk?"


"Masuklah Ferry," jawab Bryan.

__ADS_1


Ferry masuk ke dalam ruangan itu, dia pun menyerahkan beberapa dokumen yang harus ditandatangani Presdirnya itu. Sekalian mengingatkan bahwa Bryan ada makan malam bersama Clara, ibunya.


Walaupun dalam mood yang kurang baik dan gelisah, Bryan tetap menjalankan tugasnya secara profesional sebagai presiden grup Xander.


"Ferry, bagaimana? Apa orang sudah kamu suruh bergerak?" Tanya Bryan.


"Mereka sudah bergerak dari tadi pagi mengikuti anak itu," jawab Ferry.


"Bagus, jangan sampai gagal dan jangan sampai meninggalkan jejak. Aku mau anak itu merasakan apa yang Maura rasakan," wajah Bryan berubah menjadi gelap dan suram. Terlihat sedikit senyuman tipis di bibirnya.


****


Malam itu, Ghea tidak langsung pulang ke rumah seperti apa yang ibunya katakan. Dia tidak menuruti ibunya dan malah bermain bersama temannya ke sebuah tempat hiburan malam. Dia membawa ATM Bara yang masih memiliki sedikit uang disana.


"Wow Ghe, ternyata beneran ya kalau lo itu tajir?" Kata seorang gadis berambut pendek pada Ghea sambil tersenyum.


"Iya, Abang gue kan kaya! Dia juga sekolah di luar negri!" Kata Ghea sambil meneguk sesuatu didalam gelasnya.


Maaf kak, Ghea abisin uang kakak.


"Haha, iya gue dengar kalau kakak Lo nikah sama anak tunggal Agradana grup? Hebat banget ya."


Teman-teman Ghea memujinya dan Bara setinggi langit, entah mereka tulus memuji ataukah karena Ghea mentraktirnya makan dan minum disana. Tepat pukul 10 malam, Ghea dan teman-temannya hendak pulang ke rumah masing-masing.


Ghea hendak memanggil taksi online, saat dia melihat ponselnya mati. Dia mengurungkan niat itu dan akhirnya dia mencari ojeg atau taksi yang lewat disana. "Huhh.. kenapa gak ada satupun kendaraan yang lewat sih?"


Saat Ghea sampai di ujung jalan yang sepi, tiba-tiba saja ada seseorang yang menarik tubuhnya dan membekap mulutnya. "Hemphh!! Hemph!!" Ghea panik, dia meronta-ronta melawan orang itu.


Siapa mereka? Kenapa aku...


"Tenanglah manis, ayo kita bersenang-senang." Bisik seorang pria pada Ghea.


Ghea tidak sadarkan diri, bersamanya ada 5 orang pria yang terlihat seperti preman jalanan. Gadis yang tidak sadarkan diri itu dibawa ke sebuah gudang kosong dan gelap.


...****...

__ADS_1


__ADS_2