
Bara mencium bibir istrinya dengan rakus, kedua tangannya mencengkram tangan Maura yang tidak mau diam. Maura menangis seraya memohon pada Bara dengan tumbuhnya, menolak untuk disentuh Bara.
Tidak, aku tidak mau!
Bara menikmati ciuman itu, meski Maura selalu berusaha menutup mulutnya rapat-rapat. "Maura, buka!"
"Tidak!" Maura menggelengkan kepalanya.
"Buka, atau aku paksa kamu!" tangan Bara mencengkram pipi Maura dsngan keras, hingga membuat bibir Maura tertarik ke depan.
"Tidak mau..." Maura menolak suaminya.
Akhhp!!!
Bara mencium Maura lagi dan lagi dengan kasar. Maura sendiri berusaha berontak, dia tidak mau bibirnya di curi dengan keadaan seperti ini dan oleh pria yang sudah berciuman bahkan bercinta dengan wanita lain.
Kenapa rasanya berbeda ketika aku berciuman dengan Vera dan Mona?. Bara merasakan perasaan berbeda saat mencium Maura.
Sekuat tenaga Maura berusaha mendorong Bara, dia menggigit bibir bahkan lidahnya sendiri agar Bara melepaskannya. "Auw! Wanita sialan, beraninya kau mengigit bibir ku!" pekik Bara yang akhirnya melepas pagutan bibirnya dari Maura saat bibirnya berdarah.
Bara melihat Maura menangis dibawah tubuhnya dan mulutnya berdarah-darah. "Hey! Kenapa mulutmu juga berdarah?" Bara mencengkram wajah Maura, dia ingin melihat darimana asal darah yang bercucuran di mulut Maura itu yang sampai membasahi seprai. "Kamu...kamu sudah gila ya? Bagaimana bisa kamu menggigit lidahmu sendiri??!" teriak Bara pada Maura.
Apa yang wanita ini pikirkan?
"Kamu yang membuatku begini...mengapa kamu terdengar cemas?" kata Maura sambil menatap Bara dengan berkaca-kaca.
"Jangan bodoh, siapa juga yang mencemaskan kamu!" Bara beranjak dari tubuh Maura, kemudian Maura memegang tangannya. "Lepas!"
__ADS_1
Dia harus segera diobati.
"Bara...kamu mencintaiku kan? Iya kan?" tanya Maura yang masih berharap pada pria yang sudah memperlakukannya seperti sampah itu.
"Tidak pernah sekalipun." jawab Bara sambil menepis tangan Maura. Sakit hati Maura mendengar jawaban yang sama lagi, ternyata hatinya masih belum menerima perubahan Bara. Masih ada sedikit cinta dari masa lalu didalam dadanya.
Bara pergi meninggalkan kamar itu dan meninggalkan Maura disana. Beberapa saat kemudian, terlihat bi Inah yang berjalan menuju ke kamar sambil membawa baskom berisi es batu dan juga segelas air keruh yang entah apa isinya.
"Non..." Bi Inah menatap Maura dengan cemas. Dia menghampiri Maura sambil mengusap darah di sudut bibir Maura.
"Bibi? Kenapa bibi kesini?" tanya Maura keheranan.
Bi Inah menjawab bahwa dia diperintahkan oleh Bara untuk mengobati Maura. Maura mengompres lidahnya dengan es batu agar pendarahannya berhenti.
"Bara yang menyuruh bibi?" tanya Maura tidak percaya.
Maura tercekat mendengarnya, pria itu mengatakan dia tidak pernah sekalipun mencintainya lalu kenapa dia melakukan semua ini? Apa karena kasihan?
Malam itu setelah diobati oleh Bi Inah, Maura bersiap untuk pulang ke rumah kontrakannya bersama Hanna. "Mau kemana kamu?" tanya Bara yang sedang duduk di kursi.
Bahkan dia bertanya tanpa melihatku, sebenarnya aku bingung dengan perasaanmu padaku Bara. Benarkah semua cinta itu palsu dan hanya ada dendam saja?
"Aku akan pulang." jawab Maura dengan suara lemas karena lidahnya masih perih.
"Bukankah kamu sudah pulang, mau pulang kemana?" tanya Bara yang masih membelakangi Maura.
Hah! Dia bicara seolah rumah ini adalah rumahku juga.
__ADS_1
"Kemanapun aku pergi, bukan urusanmu."
Bara beranjak dari tempat duduknya, dia menghampiri Maura. "Apa? Kamu mau menyiksaku lagi?" Maura menengadah ke arah Bara dengan tatapan sayunya itu.
Pria itu tiba-tiba menundukkan kepalanya, entah apa yang ada dipikirannya. Tangannya mengepal erat, seperti menahan sesuatu.
"Bi Inah." panggil Bara pada Bi Inah yang sedang berjalan ke arah dapur.
Bi Inah menghampiri bara dan bertanya ada apa pria itu memanggilnya. Bara meminta bi Inah memanggilkan Hendra, supir rumah itu untuk mengantarkan Maura pulang.
"Saya akan segera panggilkan pak Hendra," ucap bi Inah patuh.
"Tidak usah bi, saya akan pulang sendiri."
"Ini adalah perintah, Maura!" Bentak Bara memaksa pada Maura.
Tidak mau berdebat lagi dengan Bara, akhirnya Maura setuju diantar oleh Hendra. Setidaknya dia tidak diantar pulang oleh Bara dan mana mungkin Bara akan mengantarnya. Sebelum Hendra mengantarkan Maura pulang, dia meminta secara diam-diam pada Hendra untuk memastikan Maura pulang dengan selamat dan sampai ke rumah kontrakan temannya itu.
Setelah melihat Maura pergi, Bara memegang kepalanya. Dia terlihat frustasi entah apa sebabnya.
"Bara...kamu sudah berhasil mengubah senyumannya menjadi air mata, tapi kenapa aku merasa kesal? Kenapa hatiku juga sakit melihatnya terluka?!" Bara terlihat sedih dan kesal pada dirinya sendiri. Bagaimana perasaannya saat ini pada Maura?
*****
Hendra dan Maura sampai didepan rumah kontrakan Hanna. Disana Maura melihat Evan sedang menunggunya. "Maura..."
"Kak Evan?"
__ADS_1
...*****...