Terjebak Dendam Suamiku

Terjebak Dendam Suamiku
Bab 48. Fantasi Bryan


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Didalam sebuah kamar mewah dengan minim pencahayaan. Disana hanya ada Maura dan dirinya. Maura yang berpakaian seksi itu membelai tubuhnya, menciumi wajah dan leher pria itu. Maura menggodanya dan terlihat sangat mencintainya. "Pak Bryan," lirih Maura pada Bryan yang berada di atas ranjang dan wanita itu berada diatas tubuh kekarnya.


"Maura?" Bryan menatap wanita itu dengan nanar.


"Apa bapak mencintai saya?" Maura menatap Bryan dengan membara, belain tangannya memegang otot dada pria yang sixpack itu.


"Maura...jangan menggodaku begini? Kamu tidak tahu betapa aku telah menahannya selama ini." Bryan memerah, dia sampai tidak mampu menatap Maura yang duduk di pangkuannya.


"Pak, jawab dulu saya. Apa bapak mencintai saya?" Maura tersenyum menggoda, dia mengalungkan tangannya di leher Bryan.


"Aku cinta kamu," jawab Bryan meluncur jujur dari bibirnya.


"Saya juga.. saya cinta bapak..." ucap Maura mengungkap isi hatinya. Kemudian Maura mencium bibir Bryan dengan penuh hasrat yang menggelora didalam dirinya. Bryan membalas ciuman itu dengan lembut, tangannya memegang pinggul Maura.


"Maura, jangan begini...kamu tau aku tidak akan bisa menahannya lagi." Nafas Bryan terengah-engah, dia merasakan panas ditubuhnya.


"Jangan ditahan pak, serahkan saja semuanya pada saya. Saya akan melayani bapak!" Lagi-lagi wanita itu tersenyum menggoda dan berhasil meluluhkan pertahanan diri Bryan.


"Kamu ini... ternyata kamu agresif juga ya?"


"Untuk bapak, saya bisa jadi apapun." Goda Maura pada pria itu.


Di parkiran restoran, depan mobil Bryan. Maura menatap Bryan dengan bingung, mengapa pria itu tidak menjawab dan melamun ketika dia memanggilnya. "Pak! Pak Bryan?"


Ya Allah, apakah pak Bryan marah padaku karena aku menyentuh tubuhnya? Dia kan mysophobia.


"Pak!" Maura memberanikan dirinya untuk menepuk bahu Bryan.


Dengan cepat Bryan menangkap tangannya, dari pun tersadar dari lamunannya. Bryan terlihat bingung melihat keadaan sekitarnya. "Loh? Kenapa ada disini? Bukannya ada di kamar ya?" gumam Bryan bingung.


"Pak, saya mohon maaf saya tidak sengaja memeluk dan juga-" Maura malu mengatakannya, dia pun memohon maaf pada Bryan.


Bryan tidak fokus pada Maura yang sedang minta maaf itu, dia sadar bahwa bayangannya di dalam kamar ternyata hanya fantasinya saja. "Sial!"


Ternyata yang didalam kamar itu hanya fantasiku saja. Gila! Bryan Seager Xander, kau sudah gila.


Maura tercengang melihat Bryan kesal, dia berpikir Bryan marah karena dia. "Ma-maafkan saya pak, saya benar-benar minta maaf! Saya juga sudah mengotori baju bapak!" Maura menyadari bahwa tangannya yang kotor tadi sudah mengotori kemeja yang dipakai Bryan.


"Sudahlah, ayo kita pulang! Kamu harus mandi dan ganti baju kan?" Kata Bryan kesal sambil mengusap-usap rambutnya kebelakang.


Sial! Seandainya yang tadi itu bukan mimpi dan lebih sialnya lagi, mengapa si junior ini berdiri?. Bryan gusar pada dirinya sendiri yang sudah berpikiran kosong.


"Pak, apa bapak marah pada saya?" Maura menatap Bryan dengan mata polosnya.


Tak sanggup Bryan melihat ke arah wanita yang sudah jadi fantasi mesumnya itu, antara rasa malu dan kesal. "Ma-maaf, sepertinya kamu harus pulang sendiri. Aku akan panggil taksi untukmu, a-aku ingat kalau ada sesuatu mendesak." Bryan tergagap.


Maura mengerutkan keningnya, dia berpikir bahwa Bryan marah kepadanya. "Baiklah pak, sekali lagi saya minta maaf."

__ADS_1


Pak Bryan sangat marah padaku.


"Tidak, kamu tidak salah!"


Aku harus menghentikan panas ini dulu, mungkin untuk sementara waktu...akan sulit bagiku untuk bertemu dengannya.


Bryan memanggilkan taksi untuk Maura, sebelum itu dia memberitahukan pada Maura, bahwa ayahnya Samuel sudah dibawa ke rumah lamanya yang mewah untuk dirawat di rumah. Maura sangat senang dan sekali lagi dia berterimakasih pada pria itu.


Maura pulang ke rumah lamanya yang terasa asing akibat kekejaman Bara dan keluarganya, namun semua itu telah berlalu karena dia telah menjadi pemilik dari rumah itu lagi. Semua pelayan menyambutnya seperti biasa, namun kini disambut sebagai nyonya rumah.


"Bi, dimana ayah?" tanya wanita itu pada Bi Iyam.


"Tuan ada di kamar bersama seorang suster yang di perintahkan oleh tuan Bryan untuk merawatnya." Jelas Iyam pada Maura.


"Baik Bi, makasih."


"Non, saya senang non telah kembali menjadi nona saya." Kata Iyam sambil tersenyum ramah.


"Iya Bi, saya juga senang karena rumah ini kembali kepada pemilik aslinya." Maura membalas senyuman Iyan dengan ramah.


Saat Maura naik ke lantai atas untuk melihat keadaan ayahnya, dia melihat Ghea dan Alya sibuk mengemasi barang-barang mereka. Ibu dan anak itu membawa koper besar berisi baju-baju dan barang penting mereka. Maura mendelik sinis menatap ke arah Alya dan Ghea. Alya tertunduk diam dan malu, sedangkan Ghea masih saja berani menatapnya dengan tajam.


"Apa kalian sudah punya tempat tinggal?" tanya Maura tanpa melihat ke arah Alya dan Ghea, karena dia malas.


"Apa urusannya dengan kamu?" Ghea sinis.


Huh! Wanita ini, dia jadi sombong karena kembali menjadi kaya. Kenapa sih kak Bara masih saja mau sama dia?


"Saya tanya, apa kalian sudah punya tempat tinggal?" Tanya Maura yang lalu menoleh ke arah Alya dan Ghea dengan sinis.


"Kami akan mencarinya," jawab Alya.


"Tinggallah disini sampai sidang perceraian dan sidang hukuman untuk anak ibu di lakukan. Setelah itu kalian bisa pergi dari sini,"


Alya menatap Maura dengan heran. "Apa kamu sudah bicara dengan Bara? Kenapa harus ada sidang hukuman?"


"Kenapa lagi? Itu karena anak ibu menolak untuk menceraikan saya, terpaksa saya mengambil jalur hukum." Jelas Maura pada Alya.


Bara tetap tidak mau menceraikan Maura, apa itu artinya Bara akan tetap berada didalam penjara?


Ghea marah pada Maura bahkan menyebut Maura sebagai gadis yang kejam. Namun Maura tidak diam saja, dia membalas setiap perkataan Ghea padanya. Bahwa Bara, Ghea dan ibu mereka lah yang kejam pada keluarganya. Bahkan Maura menunjukkan luka bakar, luka sundutan rokok, luka cambuk dan luka pukulan di tubuhnya pada Alya dan Ghea.


Alya dan Ghea terperangah, awalnya mereka tidak percaya bahwa Bara akan kasar pada wanita. Namun setelah bukti bicara, mereka pun bungkam. Mereka pikir Bara hanya menyiksa batinnya saja, tapi juga fisiknya.


"A-apa kakak benar-benar melakukannya?" Ghea tidak percaya begitu saja.


"Kenapa kamu pura-pura tidak tahu? Bukankah kalian juga sering lihat kalau Bara memukul wajahku? Kalian manusia munafik," gumam Maura emosi.


Maura pergi meninggalkan ibu dan anak itu, dia masuk ke kamar dimana ada ayahnya dan seorang perawat disana. Ghea dan Alya tertegun bingung, jika mereka pergi dari sana sekarang maka Ghea tidak akan mendapatkan fasilitas mewah lagi. "Bu, kita jangan pergi dari sini Bu! Aku gak mau hidup di kontrakan sempit lagi," ucap Ghea pada ibunya.

__ADS_1


"Kamu ini! Masih saja memikirkan tentang hidup susah...bukan pikirkan kakakmu dipenjara, kamu ini sayang tidak pada kakakmu?" Alya marah pada Ghea yang pikirannya hanya harta dan hidup mewah saja.


"Tentu saja aku sayang sama kak Bara, makanya aku mengusulkan agar kita tinggal disini dulu Bu. Ah...apa ibu gak berpikir kalau dengan kita disini, mungkin kita bisa membujuk si Maura itu?"


"Panggil dia kak Maura," Alya meralat ucapan anaknya dengan tegas.


Ya Allah, aku sudah salah mendidik kedua anakku. Aku adalah ibu yang gagal.


"Iya maksudku kak Maura. Dengan tinggal disini kita bisa membujuk kak Maura untuk membebaskan kak Bara, mungkin saja dia akan luluh oleh perlakuan kita? Kita jadi saja pembantu di rumah ini Bu, sama seperti yang dia lakukan dulu."


Gak apa-apa deh jadi babu, yang penting aku masih bisa tinggal di rumah mewah ini.


Alya memikirkan usul dari Ghea dengan baik. Dia berpikir bahwa Ghea benar, Alya pun memutuskan untuk tinggal disana dan membujuk Maura. Alya berharap bahwa hati Maura akan luluh olehnya.


Alya dan Ghea pun pindah ke kamar pembantu yang ada di lantai bawah.


.


.


Maura menemui ayahnya yang masih terbaring koma di kamar atas, dia melihat seorang perawat disana. "Selamat siang Bu Maura," sapa perawat cantik itu dengan senyuman ramahnya.


"Siang juga,"


"Perkenalkan nama saya Anna, saya ditugaskan oleh Pak Bryan untuk merawat pak Samuel." jelas Anna memperkenalkan dirinya.


Pasti wanita ini sangat spesial untuk pak Bryan, hingga dia memintaku dengan bayaran mahal untuk menjaga pak Samuel.


"Iya suster Anna, perkenalkan nama saya Maura. Saya adalah putri dari ayah saya, pak Samuel Agradana." Maura juga memperkenalkan dirinya dengan sopan. "Mohon bantuannya suster Anna dan saya harap suster tidak sungkan pada saya. Jika suster Anna butuh sesuatu, silahkan katakan pada saya atau suster Anna bisa mengambil apapun yang dibutuhkan."


"Terima kasih Bu Maura, saya akan merawat pak Samuel dengan baik." Anna tersenyum.


Selain cantik, hatinya juga baik. Kasihan sekali, katanya dia korban KDRT.


🍀🍀🍀


Malam itu usai mandi air dingin, Bryan keluar dari kamar mandi. Dia telah mandi sebanyak 5 kali pada hari itu, akibat panas yang tidak tersalurkan.


Berkali-kali daging tegak tak bertulang itu berdiri, mengusik pikiran dan membuat tubuhnya gemetar. Bayang bayang Maura belum bisa hilang dari pikirannya. "Ah sial! Kenapa seperti ini sih? Apa pria pada usia segini memang suka berfantasi seperti ini? Kenapa aku tidak tahan? Bagaimana bisa aku bertemu dengan little girl ku kalau aku selalu berpikiran mesum padanya? Aku takut dia tau..." Bryan merebahkan tubuhnya, dia terus menggerutu menenangkan pikirannya sendiri dari sesuatu yang bernama n*fsu. Gairahnya terhadap Maura.


Tok, tok, tok!


"Bryan! Keluar kamu! Mama tau kamu ada di dalam? Ayo bicara sama mama!"


Ketukan pintu itu terdengar keras dari luar pintu kamarnya. Bryan langsung menutup kepalanya dengan bantal.


"Bryan! Mama akan dobrak pintunya kalau kamu tidak buka!" Teriak Clara emosi.


Bryan mendesah, "Haahh.. mau apa sih mama?"

__ADS_1


...*****...


__ADS_2