
...🍀🍀🍀...
Dokter menghela nafas panjang lalu dia berkata bahwa operasi Bara berhasil. Semua orang yang ada disana langsung mengucapkan rasa syukur mereka dengan "Alhamdulillah."
Namun ucapan syukur itu hanya berlangsung sesaat, sampai dokter mengatakan bahwa cedera di kepala mungkin akan menyebabkan gegar otak dan berpengaruh pada sistem syarafnya. Dokter tidak tahu pengaruhnya apa itu pada ingatan atau fisiknya, karena Bara belum sadar dan harus dipastikan setelah pria itu siuman.
Clara dan Alya menghela nafas berat, mereka masih belum bisa tenang karena kondisi Bara masih belum stabil dan belum siuman. "Bu Alya, saya berterima kasih sebesar-besarnya kepada ini karena ibu sudah merawat anak saya Kenzo selama ini." Tak lupa Clara mengucapkan terima kasih pada Alya yang sudah merawat Bara hingga seperti sekarang.
"Ibu jangan berterimakasih pada saya. Saya malah senang mempunyai anak membanggakan seperti Bara, dia yang selalu menjaga saya dan Ghea selama ini."
Selagi kedua ibu-ibu mengobrol, Ghea terdiam sedari tadi duduk di kursi, dia tak menyangka bahwa Bara ternyata bukanlah kakak kandungnya. "Kak Bara ternyata adiknya pak Bryan? Pak Bryan pacarnya si Maura, wah...seru nih."
"Heh! Maura!" Seru Ghea sambil menghampiri Maura yang sedang berdiri bersandar didekat tembok.
"Kenapa sih kamu gak pernah berubah Ghea? Selalu aja gak sopan sama yang lebih tua." Kali ini Maura menegur Ghea, tidak seperti biasanya dia yang diam saja. Pandangannya tajam pada Ghea.
"Bodoh amat! Heh denger ya! Kalau terjadi sesuatu sama kak Bara, itu semua gara-gara kamu! Dasar cewek pembawa sial!" Ghea mendorong Maura hingga gadis itu jatuh tersungkur ke lantai.
"Ghea! Kamu tuh--"
BRUGH!
Bryan yang baru saja datang dari bagian administrasi, langsung mendorong balik Ghea hingga gadai itu jatuh ke lantai. "Aauuw....aduh..."
"Little girl, kamu gak apa-apa kan?" Tanya Bryan seraya membantu Maura untuk berdiri.
"Aku gak apa-apa Bry," ucap Maura sambil memegang tangan calon suaminya itu.
Bryan tidak tega melihat wajah lelah Maura. "Aku antar kamu pulang ya,"
"Tapi...Bara--"
"Nanti kamu kesini lagi, aku jemput. Kamu harus istirahat di rumah, kamu pasti syok. Ya, little girl?"
Maura menganggukkan kepalanya dengan patuh. "Oh ya...makan malam kita batalkan." Kata Bryan yang juga berat saat mengatakannya.
Padahal malam ini aku sudah merencanakan lamaran untuk Maura. Tapi ada hal yang tak terduga seperti ini.
Banyak sekali yang dipikirkan Bryan saat ini, salah satunya adalah Maura. Fakta Bara adalah Kenzo adalah hal yang tak terbantahkan. Ya Tuhan! Bryan benar-benar pusing dengan semua ini.
Bryan pun mengantarkan Maura pulang ke rumahnya, setelah itu dia kembali ke kantor untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan di sana. Walau dia banyak pikiran.
"Aku harus bagaimana....aku harus senang atau bagaimana!" Pekik Bryan sambil memegang kepalanya. "Musuhku... rival cintaku ternyata adik kandungku sendiri? Oh...God." Tak hentinya pria itu menggerutu.
Kenapa Kenzo harus Bara? Kenapa bukan orang lain saja?
Ketika Bryan berada di ruangannya dengan beban pikiran yang menumpuk. Seseorang mengetuk pintu ruangannya, lalu orang itu masuk ke dalam kantornya. "Pak, saya sudah mendapatkan tekanan cctv dari tempat kejadian!"
"Ya," sahut Bryan sambil memegang kepalanya.
Ferry memperlihatkan sebuah rekaman CCTV di depan restoran tempat Maura di serang, dari laptop itu terlihat seorang pria berpakaian hitam-hitam dengan masker setengah wajah. Memegang sebuah batu besar, pria itu melihat ke arah Maura dan hendak melemparinya dengan batu. Namun Bara yang melihatnya langsung menghampiri Maura dan terkena batu besar itu.
"Jadi memang benar sasarannya adalah Maura, tapi siapa dia?" gumam Bryan berpikir, kira-kira siapa yang akan melakukan hal ini. Tiba-tiba saja dia kepikiran dengan Dion yang tempo hari dia tolak untuk membantunya.
Om Dion...ini pasti dia! Dia yang sudah merencanakan semua ini. Beraninya dia menyakiti little girl ku.
Segera setelah itu, Bryan langsung menemui om nya yang berada di sebuah kantor kecilnya. Kantor itu hampir bangkrut dan itulah sebabnya Dion meminta bantuan dari Bryan untuk suntikan dana, tapi Bryan menolak membantunya.
"Oh...ada apa keponakanku yang baik datang kemari?" Sambut Dion dengan nada sarkas dan senyuman sinisnya.
Rahang Bryan mengeras, tatapannya tajam pada Dion. Dia berdiri tegap didepan pria yang berstatus sebagai adik mamanya itu. "Om! Aku tidak menyangka om akan melakukan hal yang sama! Sungguh, om tak pernah berubah!" Seru Bryan sambil menarik kerah baju Dion, tanpa peduli status diantara mereka.
"Apa ini sapaan kamu sama om kamu, Bryan!" Dion menepis tangan Bryan yang mencengkram kerah bajunya dengan kasar itu.
"Aku tidak peduli mau kamu Omku atau bukan! Tapi kamu berani menyentuh wanita yang aku cintai, aku tidak akan tinggal diam!" Bryan menunjuk ke arah wajah Dion dengan satu jari telunjuknya.
Dion mengerutkan kening, wajahnya seolah tak tahu apa-apa yang dibicarakan oleh Bryan padanya. Apa katanya? Menyentuh wanita yang ia cintai? Dion merasa tidak melakukan itu.
"Apa maksudmu Bryan? Aku menyentuh wanita yang kamu cintai? Maksud kamu wanita yang bernama Maura itu?" Tanya Dion dengan alis menaut ke atas.
"Iya, om kan yang mencelakai dia. Tolong ya om, jangan tunjukkan raut wajah seperti itu karena aku merasa jijik!" Presdir Xander grup itu kesal melihat wajah Dion seolah tidak bersalah.
"Aku tidak melakukan apa-apa," Dion menggelengkan kepalanya.
"Om jangan bohong! Aku tau om yang sudah mengirimkan foto-foto ku pada Maura, jadi om juga kan yang sudah menyuruh orang untuk melempar batu padanya?" Tuduh Bryan dengan tatapan tajam yang tak lepas dari pria itu.
"Hah? Melempar batu? Tidak tidak...aku memang mengirim foto-foto pada wanitamu itu, tapi aku tidak menyuruh seseorang untuk mencelakainya. Bryan, apa kamu sungguh berpikir bahwa aku sebodoh itu?"
Hem, ada yang mencelakai wanitanya Bryan?..Dion membatin.
Sebenarnya dalam hati, Bryan tidak percaya dengan apa yang dikatakan Dion padanya. Tapi karena ia juga tak punya bukti, akhirnya Bryan pergi dari sana setelah ia mengancam Dion. Jika Dion terlibat dengan orang yang me mencelakai Maura, maka Bryan akan bertindak.
"Tidaklah, aku saja tidak punya uang untuk bayar orang. Bagaimana bisa aku melakukan hal seekstrim itu?"
"Hah! Bisa saja....om kan dulu yang membunuh papa." Bryan tersenyum sinis.
Mata Dion melebar menatap Bryan, "Jaga bicaramu, aku tidak melakukan itu!" Dion tegas.
__ADS_1
"Aku memang tidak punya bukti untuk melaporkan om ke polisi, tapi om jangan lupa kalau aku melihat semuanya!" Setelah itu Bryan langsung pergi dari kantor yang hampir bangkrut milik Dion.
Hari itu tampak begitu sibuk untuknya, kepala Bryan berdenyut sakit memikirkan tentang Bara, Maura. Dan hubungannya dengan kedua orang itu. Setelahnya, Bryan meminta Ferry untuk menyelidiki tentang orang yang mencelakai Maura.
****
Malam itu, Maura kembali ke rumah sakit, tapi kini dia ditemani oleh Evan. Jujur, Evan tak suka pergi kesana karena masih menyimpan dendam pada Bara yang sudah melakukan hal buruk pada Maura.
"Ish...ngapain sih aku kesini?" gerutunya kesal.
"Kak, Bara udah menyelamatkanku dari bahaya. Jika bukan karena dia, pasti aku yang terbaring disana. Kakak...tolonglah..."
"Iya iya aku paham," ucap Evan mengiyakan saja walau tak suka berada disana.
Sungguh sulit dipercaya, kalau si Bara itu adalah adik pak Bryan yang hilang. Jangan sampai hal ini membuat pak Bryan berpisah dari Maura...aku tidak boleh membiarkan ini terjadi.
"Maura, kamu sudah datang?" seorang wanita paruh baya terlihat baru keluar dari ruang rawat Bara, dia adalah Clara. Clara menyambut calon menantunya dengan hangat dan ramah seperti biasa.
"Tante..."
"Panggil saja saya mama, ya? Sebentar lagi kamu kan mau menikah dengan Bryan."
"Hem...itu--"
"Rencananya malam ini Bryan mau melamar kamu, tapi kenapa kamu ada disini?" Tanya Clara berbisik pada Maura.
Gadis itu tercekat mendengar ucapan Clara. Tentang Bryan yang akan melamarnya. Tapi rencana makan malam itu Bryan batalkan beberapa saat yang lalu dan setelahnya Bryan terlihat sedih.
Kini Maura paham kenapa Bryan sedih. Mungkin karena rencana untuk melamarnya ditunda. "Hem...iya Tante," hanya begitu saja respon Maura atas pertanyaan Clara.
"Oh ya, kamu mau lihat Kenzo kan? Masuk aja ke dalam." Kata Clara sambil tersenyum ramah.
"Makasih Tante."
"Eh, mama!" Ralat Clara pada Maura.
"Iya...mama." ucap Maura yang akhirnya membuat senyuman mengembang di bibir Clara. Matanya sembab karena sedari tadi menangisi Bara, karena anaknya itu belum siuman juga.
"Tante tinggal dulu ya, titip adik iparmu sebentar. Kalau Kenzo sudah siuman, kamu kasih tau mama ya, sayang?" Kata Clara sambil menepuk bahu Maura, dia berpesan pada Maura untuk memberitahu kepadanya bila Bara sudah siuman.
Evan dan Maura tercekat mendengar kata adik ipar itu. Rasanya aneh, apalagi untuk Maura yang saat ini memang berstatus calon istri Bryan dan mantan istri dari adik iparnya. Entah mengapa terasa sesak di hati Maura.
Gimana ya kalau Tante Clara tau kalau aku juga adalah mantan istri Bara. Apa Tante Clara akan baik-baik saja?
Clara pergi bersama Farhan untuk pulang ke rumah lebih dulu dan mengganti pakaiannya. Sedari tadi wanita paruh baya itu berada di rumah sakit menunggu Bara siuman.
"Maura!"
"Ya kak?" Maura menoleh ke arah Evan.
"Kamu jangan kasihan sama dia," ucap Evan tiba-tiba.
"Kenapa kakak ngomong kayak gitu?!"
"Ya, kamu jangan kasihan sama dia...kalau kasihan nanti kamu jadi suka lagi sama dia. Inget, kamu udah punya pak Bryan."
"Aku tau kak dan saja aku tidak akan pernah punya perasaan seperti itu lagi kepada Bara!" Tegasnya pada Evan.
Karena hatiku sudah untuk Bryan. Ucapnya dalam hati.
"Benar! Karena Bara adalah Kenzo, calon adik iparmu..." ucap Evan menegaskan kepada Maura, bahwa ia tak boleh ada perasaan lagi kepada mantan suaminya.
Gara-gara si Bara, rencana Bryan untuk melamar Maura harus ditunda.
"Sudahlah kak, kita kesini untuk menjenguk orang yang sedang sakit. Tolong, Kakak jangan membicarakan hal di luar itu."
Perkataan Maura membungkam mulut Evan, ia tidak berbicara lagi. Maura meletakkan keranjang berisi buah di atas meja kecil yang ada di sana. "Semoga kamu cepat siuman, Bara." Doanya tulus seraya berbisik pada Bara yang terbaring lemah.
Maura dan Evan cukup lama berada di sana sampai Ghea datang dan menjaga Bara. Rencananya mereka akan langsung pulang ke rumah. Namun, saat berada di depan lorong rumah sakit. Evan tiba-tiba pergi begitu saja setelah ia menerima pesan dari seseorang dan Maura di suruh untuk pergi ke depan rumah sakit lebih dulu.
"Kenapa sih kak Evan? Dia kebelet apa gimana?" gerutunya di sepanjang perjalanan, karena Evan hilang begitu saja tanpa alasan yang jelas.
Ia pun berjalan menuju ke depan rumah sakit, matanya memicing menangkap sesuatu yang aneh di sana. "Ah...? Kok bisa ada lampu-lampu kayak gitu di taman rumah sakit? Lampunya kelap-kelip lagi? Aneh banget! Apa lagi ada pesta ya?" Pekik Maura dalam hatinya.
Karena rasa penasaran Maura yang tinggi, gadis itu pun berjalan menuju ke arah taman rumah sakit. Yang memang terlihat aneh, di sana ada bunga-bunga dan balon juga.
Saat Maura melangkah mendekati taman itu, tiba-tiba saja sebuah karpet merah terhampar didepan jalannya. "Eh...eh??" Keningnya berkerut.
Kemudian yang lebih mengagetkannya lagi, ketika ada sesuatu yang jatuh entah dari mana ke bawah kakinya. Gadis itu secarik kertas dan satu tangkai bunga mawar merah di sana. "Hem...?"
Di secarik kertas itu tertulis "Harus di baca, oleh little girl."
Ah sudah jelas, jika ada satu orang di muka bumi ini yang memanggilnya seperti itu, tentu saja Bryan lah orangnya. Terlihat senyuman mengembang dan manis di bibir gadis itu. Kemudian, dia membaca tulisan yang ada di kertasnya.
..."Jalan ke depan, tetaplah melihatku, jangan kemana-mana. Jangan berbelok!...
Hanya tulisan saja, bisa membuat jantung Maura hampir copot karenanya. Gadis itu tersenyum, dia berjalan ke depan sesuai intruksi di secarik kertas itu.
__ADS_1
Tak lama setelah dia berjalan menapaki karpet merah, Maura melihat lampu-lampu berkelap-kelip dengan indahnya menghiasi malam yang gelap, seperti bintang yang bersinar. Terlihatlah seorang pria berada di penghujung jalan itu, Maura tersenyum melihatnya.
Pria itu menunggunya, dia tersenyum lebar melihat Maura. Ditangannya sudah tersedia buket, bukan buket bunga tapi buket coklat.
"Bry..." lirihnya dengan suara lembut seperti biasa.
Tanpa berlama-lama, Bryan menundukkan tubuhnya didepan sang pemilik hatinya. Dewi pujaan hatinya, ia berlutut, kepalanya mendongak ke arah Maura. "Aku...tidak pandai membaca puisi, atau mengatakan kata-kata yang manis, aku juga tidak romantis. Tapi...you know, i love you! And i need you, aku ingin menghabiskan sisa hidupku denganmu selamanya, sampai aku tua, sampai akhir hayat...aku hanya akan mencintaimu Maura...."
Mata gadis itu mulai mengembun, mendengar kata-kata indah yang terlontar dari mulut pria yang ia cintai itu. "My little girl, maukah kamu menghabiskan sisa hidupmu bersamaku? Maukah kamu percaya padaku sebagai pelabuhan terakhir?"
Tangan Bryan meraih tangan Maura, ditatapnya wanita itu penuh cinta. Penuh harapan, kesungguhan, dia ingin menjadikan Maura permaisuri seutuhnya didalam hidupnya, ratu didalam baginya.
Bagi Bryan, pernikahan, cinta, hidup dan mati hanya sekali. Sama seperti prinsip alm papanya, yang setia pada sang mama sampai akhir hayatnya.
"Maura...maukah kamu menikah denganku?"
Deg!
Jantung Maura berdegup kencang, mendapatkan lamaran dari pria sempurna seperti Bryan.Sempat merasa insecure dengan keadaannya, tapi dia tidak bisa menahan rasa cinta pada Bryan.
Bryan mengambil kotak merah kecil berbentuk love, dia membukanya. Terlihat cincin dengan permata berwarna ungu ditengahnya. Bukan cincin emas tapi cincin berlian. Tadinya Bryan merasa cincin ini gak pantas untuk menghargai cintanya pada Maura, karena bagi Bryan. Maura tidak ada harganya, tidak bisa dibandingkan dengan berlian manapun di dunia ini.
"Ya, aku mau Bry...aku mau menikah denganmu." Air mata Maura jatuh, ia menganggukkan kepalanya.
Begitu bahagia hati Bryan, mendapat jawaban ya dari wanita itu. Bryan langsung menyematkan cincin di jari manis Maura. Bryan kembali berdiri dan mereka berpegangan tangan, saling menatap satu sama lain. "Selamat! Selamat Maura, Bryan!"
Suara suara yang memberikan selamat di sana membuat Maura dan Bryan menoleh ke asal suara itu. Terlihat lah Clara, Samuel, Arya, Ferry, Hanna yang menjadi saksi lamaran Bryan pada Maura.
"Wah selamat ya..." Hanna berhambur memeluk Maura dengan bahagia. "Semoga lancar sampai hari H."
"Makasih Han," Maura menyeka air mata bahagianya, ia tersenyum mengembang indah.
"Selamat pak Bryan," Ferry juga turut berikan ucapan selamat kepada bosnya itu. "Tak lama lagi bapak akan mengakhiri masa lajang bapak!" Kata Ferry lagi, bahagia.
"Selamat Bryan, pokoknya pernikahan kalian harus segera dilakukan ya. Mama gak sabar momong cucu," ucap Clara sambil menatap Maura dan Bryan dengan tatapan bahagia.
Clara memeluk Bryan dan Maura, ia mendoakan anak dan calon menantu yang sudah ia anggap anak sendiri, agar mereka bahagia selamanya. Pernikahan juga lancar sampai hari H.
"Swee...lam...mwatt..." ucap Samuel seraya menatap Maura dan Bryan.
Maura dan Bryan duduk berlutut didepan Samuel. "Ayah!"
Digenggamnya tangan Samuel, oleh Bryan. "Pak, saya janji...saya akan menjaga putri bapak...saya akan mencintainya seumur hidup saya."
Samuel hanya mengembangkan senyum tipis sebagai respon. Entah kenapa air mata membasahi pipinya. "Ayah..." lirih Maura.
"Swe..moga..kaliwaan..bahagwiaa.."
Maura memeluk ayahnya, sambil menangis haru. Ketika suasana sedang bahagia, tiba-tiba saja datang Ghea kesana dengan nafas yang terengah-engah. "Ghea?" Clara menatap Ghea.
"Kak Bara, kak Bara sudah siuman!" Seru Ghea tahu kepada semua orang yang ada di sana bahwa kakaknya telah siuman.
Semua orang tercengang, kemudian mereka pergi ke ruang tempat Bara di rawat dengan buru-buru terutama Clara yang Tak sabar ingin berbicara dengan anak kandungnya yang telah lama hilang itu.
BRAK!
Clara membuka pintu dengan cepat, dia yang paling cepat diantara semuanya saat masuk ke ruangan itu. "Ken--Bara..."
Clara yang tadinya akan memanggil nama Kenzo, akhirnya mengurungkan niatnya karena mungkin Bara tidak familiar dengan nama itu.
Bara yang kepalanya di perban, duduk bersandar di headboard ranjangnya, dia terlihat pucat dan bingung. Disana ada dokter dan suster, juga Alya yang terlihat cemas.
"Bu Alya....Bara sudah siuman? Bagaimana keadaannya?"
"Bu, sebenarnya Bara tidak mengenali saya!" Ungkap Alya sambil mengusap dada.
"A-apa maksud ibu?" Clara terperangah mendengar ucapan Alya.
"Sepertinya pak Bara mengalami hilang ingatan jangka pendek." Celetuk sang dokter setelah memastikan keadaan Bara.
Kedua ibu itu terkejut mendengar kata dokter. Cedera kepala yang di alami oleh pria itu ternyata adalah amnesia. "Apa?!"
Tak lama kemudian, Bryan dan Maura masuk ke ruangan itu. Tatapan Bara tertuju pada Maura, seketika ia langsung tersenyum. "Pak dokter, saya kenal dia!"
"Huh?" Maura dan Bryan saling melirik dengan bingung. Mereka sudah berjalan mendekat ke arah Bara.
"Pak Bara kenal dia?" Tanya dokter itu pada Bara.
Bara tak lepas dari pandangan kedua wanita paruh baya itu. Mereka terlihat cemas.
"Siapa dia pak?" Tanya dokter sekali lagi.
Pria yang baru saja siuman itu langsung menarik tangan Maura dan membuat Maura terkejut, Bryan juga. "Eh?"
"Dia Maura, istri saya dok!" Bara tersenyum lebar dengan wajah polosnya saat mengatakan, mengklaim bahwa Maura adalah istrinya.
Sudah tidak bisa diungkapkan lagi oleh kata-kata, Clara, Alya, bahkan Maura dan Bryan begitu shock mendengar hal itu.
__ADS_1
...*****...