
...🍁🍁🍁...
Farhan langsung mempersilakan Maura untuk masuk ke dalam rumah dengan sopan. Maura menanyakan tentang kondisi Bryan, Farhan menjawab bahwa tuan mudanya itu sedang sakit.
"Maaf, kalau boleh saya tau...sakit apa ya?" Rasa penasaran Maura tinggi terhadap Bryan.
"Dokter keluarga kami mengatakan bahwa Pak Bryan sakit karena makan pedas." Jelas Farhan bermaksud mengetes
"Hah? Makan pedas? Bukannya pak Bryan suka makan pedas, pak?" Tanya Maura bingung.
Seingatku dia waktu itu pernah bilang dia suka pedas dan dia memakan semua seblak pedas itu.
"Hahaha...apa ibu bercanda? Tuan muda suka pedas? Tuan muda itu paling anti sama yang pedas pedas, dia gak bisa makan pedas...Bu." kata Farhan sambil terkekeh.
"Astagfirullah, benarkah itu? Jadi, pak Bryan gak suka pedas...lalu kenapa dia--"
Belum sempat menyelesaikan ucapannya, terdengar suara gaduh dari lantai atas. Maura mengenali suara itu, dia yakin Bryan yang sedang marah-marah. "Siapa yang suruh kamu pergi ke kamarku?!"
"Maaf tuan muda, saya pikir tuan muda--"
"Farhan, pecat dia!" teriak Bryan emosi.
Farhan dan Maura segera naik ke lantai atas untuk melihat apa yang terjadi. Bryan terlihat memegang kepalanya, dia memakai kimono handuk dan disana ada seorang pelayan yang menunduk ketakutan.
"Ada apa tuan muda?" pria paruh baya itu menatap pada Bryan.
"Apa dia pelayan baru? Kenapa dia masuk ke dalam kamarku dan sembarangan menyentuh barang--" Bryan tidak melanjutkan ucapannya begitu dia melihat Maura ada disamping Farhan, kepala pelayan dirumahnya itu. "Little girl??! What are you doing this here?" tanyanya dengan bahasa Inggris, dia melihat ke arah Maura.
Aduh! Mati aku, kenapa dia harus melihatku yang sedang marah-marah?
__ADS_1
"Oh, sa-saya..."
"Maaf tuan muda, saya akan mendidik pelayan ini dengan baik. Pelayan ini masih baru, dia belum paham tentang rumah ini." Kata Farhan menjelaskan.
"Maafkan saya tuan muda," ucap si pelayan wanita yang berkuncir 2 itu.
"Ya sudah, pergilah sana!" titah Bryan pada Fathan dan pelayan baru itu.
Kemudian, Farhan membawa pelayan itu agar Bryan tidak marah lagi. Dia sengaja membiarkan Maura dan Bryan berdua. Sesampainya di lantai bawah, Farhan langsung mengambil ponselnya dan menelpon seseorang.
["Halo pak Farhan, ada apa?"]
"Nyonya....calon menantu nyonya datang ke rumah!"
["Pak Farhan, katakan yang jelas dong, calon menantu apa?"] Clara sedang berada di dalam mall, dia baru saja selesai dari salon.
"Ada wanita cantik yang datang ke rumah untuk mencari pak Bryan,"
"Benaran Bu, dia sangat cantik dan masih muda loh!" Kata Farhan heboh.
["Tahan dia disana, jangan sampai dia kabur! Aku akan segera sampai di rumah!"] Clara tersenyum bahagia, lalu dia buru-buru menutup telponnya.
"Terimakasih Tuhan! Engkau sudah memberikan putraku pencerahan." Clara mengatupkan kedua tangannya seraya berdoa. "Semoga wanita itu bisa menerima putraku yang manja dan dia mencintai anakku!"
Clara bergegas pulang dari mall itu, tak sabar dia ingin bertemu dengan wanita yang sudah memikat hati putranya itu.
****
Kini Bryan dan Maura sudah berada didalam salah satu ruangan di rumah itu, lebih tepatnya ruang kerja Bryan. "Jadi, kamu kesini untuk penandatanganan proyek itu?" Tanya Bryan agak kecewa.
__ADS_1
Aku pikir dia datang karena aku sakit.
"Tidak hanya itu pak, saya kesini karena saya tau bapak sakit. Sebelumnya saya mohon maaf karena saya lupa membawa buah tangan," Maura dengan jujur mengatakan bahwa dia kesana karena cemas pada Bryan dan ingin melihat keadaannya juga.
Bryan terperangah, sungguh dia bahagia mendengar itu. "Kamu serius?"
"Iya pak, saya juga minta maaf...saya tidak tau kalau bapak tidak suka makan pedas dan tidak bisa makan pedas."
"Tidak apa, ini bukan salah kamu kok. Akunya saja yang mau dan aku yang harusnya bilang sama kamu,"
"Tapi kalau bapak sudah tau tidak bisa makan pedas, kenapa bapak tetap memakannya?!" Kening Maura berkerut menatap pria itu.
"Karena kamu suka,"
"Ya?" Maura mendongak.
"Karena kamu suka itu, maka aku harus coba menyukainya." Bryan tersenyum tulus, lagi-lagi hati Maura berdebar karenanya. Ada rasa tidak biasa yang tidak bisa dijelaskan oleh kata-kata dan hati yang merasakannya.
"Karena bapak masih sakit, saya lebih baik pulang,"
Gawat, jantungku mau copot rasanya.
Maura beranjak dari tempat duduknya karena salting, dia yang tidak fokus melihat jalanan jadi tersandung kursi dan akhirnya dia jatuh ke pangkuan Bryan.
"Pa-pak..." Maura gugup.
Bryan menatap wanita itu dengan nanar, kini Maura juga balas menatapnya. "Cantik, inilah definisi indah yang sebenarnya," gumam Bryan sambil tersenyum dan melihat wanita yang masih berada di pangkuannya itu.
BRAK!
__ADS_1
Tiba-tiba saja pintu terbuka lebar, menghancurkan momen romantis itu.
...****...