
...🍁🍁🍁...
Clara terlihat bingung, dia ingin menghubungi Bara tapi tak bisa.Ya, dia hanya berharap nanti dia akan bertemu dengan Bara lagi.
Wanita yang hampir paruh baya itu masuk ke kantor putranya untuk bicara sebentar masalah perusahaan. Clara meminta Bryan untuk membantu perusahaan adiknya.
"Ma, mama kesini hanya untuk memintaku membantu om Dion? Tell me the reason mom, why should I help Uncle Dion?!" Bryan meminta mamanya menjelaskan alasan kenapa dia harus membantu omnya itu.
"Karena om kamu butuh bantuan Bryan! Perusahaannya sedang collapse, tentu saja sebagai keluarga kita harus membantunya."
"Bryan tidak mau ma! Maafkan Bryan!" Seru Bryan menolak dengan tegas untuk membantu Dion.
"Bryan...om adalah adik mama satu-satunya." Pinta Clara pada anaknya itu.
"Sorry ma, apa mama lupa atau perlu Bryan ingatkan lagi? Dia yang buat Kenzo menghilang, Kenzo terpisah dariku saat itu karena dia. Tentu saja dia tidak masuk penjara saat itu karena tidak ada bukti, tapi aku tau Ma! Om Dion yang merencanakan semuanya." Bryan sakit hati mengingat adiknya yang menghilang karena Dion. Bibir Bryan gemetar, kepalanya penat saat mengingat kejadian itu.
"Bryan, om kamu gak mungkin melakukan itu!" Clara menampik adiknya yang membuat Kenzo menghilang.
"Suatu saat nanti, mama akan tau kalau om Dion itu jahat." Kata Bryan sambil menutup matanya dan duduk merebahkan diri di sofa.
"Om kamu gak mungkin ngelakuin ini Bryan."
"Terserah mama mau mikir apa! Aku tetap gak akan bantu om Dion, i don't care with him!" Bryan merentangkan kedua tangannya, dia menolak untuk membantu Dion.
Clara menghela nafas, dia pun pamit pergi dari sana dengan kecewa. Belum jauh pergi dari ruangan Bryan, seseorang menelponnya.
["Kak, gimana? Bryan mau bantu aku kan?"]
"Maaf Dion, kakak gak bisa bantu kamu."
["Loh? Kenapa kak? Apa Bryan menolak membantuku? Aku ini omnya loh, kak."]
"Maaf Dion."
["Haahh...kak, tega banget ya Bryan sama aku. Apa dia masih ngungkit masalah dulu? Dia pasti masih nyalahin aku kan?"]
__ADS_1
"Nggak, Dion." sangkal Clara.
["Bohong! Dia pasti masih curiga sama aku, anak itu benar-benar deh. Ya udah, nanti aku aja yang bicara sama Bryan."]
Setelah itu, Clara langsung menutup telponnya. Dia langsung tercenung dan berpikir. "Apa benar Dion yang sudah membuat Kenzo menghilang 22 tahun yang lalu?" Gumam Clara sambil mengepalkan tangannya dengan erat.
Tiba-tiba saja dia menangis dan melihat foto di dompetnya. "Kenzo...kamu dimana nak? Apa kamu baik-baik saja? Jika kamu masih ada, pasti kamu sudah sebesar pria itu...pria yang tadi." Clara teringat sosok Bara, pria yang sudah menolongnya.
****
Malam itu Maura, Evan dan Samuel berbicara dengan serius tentang semua keadaan saat Samuel koma.
Dari mulai Bara yang menyiksa Maura, perusahaan yang sempat collapse. Pelecehan dan pemerkosaan yang di lakukan Bara, sampai berakhirnya pernikahan Maura dan Bara satu bulan yang lalu.
"Haaahh... syukurlah kalau kamu sudah bercerai dengan pria itu." Samuel mengusap dadanya sambil tersenyum.
Kalau Maura sudah bercerai dengannya, lalu aku akan mendekatkan Maura dengan Presdir Xander grup itu.
"Ya aku bersyukur, tapi aku tidak merasa lega yah. Ayah harus menjelaskan sesuatu pada kami," ucap Maura serius.
"Apa yang harus ayah jelaskan sama kamu, Maura?" Tanya Samuel tidak mengerti apa yang membuat Maura dan Evan begitu serius padanya.
"Om...tentang Alina..."
Samuel tercekat dan menatap Maura juga Evan yang memang pada saat itu sedang menatapnya dengan tajam. Samuel seperti menolak membicarakan masalah Alina. Namun Maura dan Evan mendesaknya untuk bicara.
"Ayah! Please, ayah ngaku! Ayah memperkosa wanita yang bernama Alina sampai dia hamil dan bunuh diri?" Tanya Maura tajam.
"Om, JAWAB! Ini semua terjadi karena om, Maura menderita karena om. Apa om tega? Om gak mau ngaku?"
Sial! Apa aku sedang di interogasi?
Akhirnya Samuel mengakui semuanya, memang dia memperkosa Alina. Maura langsung mengelus dada mendengar perkataan Samuel, dia beranjak dari tempat ranjang ayahnya.
Fantasi Maura tentang ayahnya selama ini hanya ilusi saja, ayahnya ternyata memang bejat seperti apa yang dikatakan Bara. Sungguh kecewa Maura sudah diambang batasnya!
__ADS_1
"Maura, jangan pergi nak! Dengarkan penjelasan ayah dulu!" Samuel memegang tangan putrinya. Dia takut melihat Maura yang kecewa.
"Ayah, lalu tentang Bu Jessica...apa benar ayah memperkosa dia juga sampai dia hamil dan ayah mengugurkan kandungannya?" Tanya Maura pada ayahnya tanpa basa-basi.
Deg!
Jantung Samuel berdegup kencang saat mendengar pertanyaan dari Maura tentang Jessica.
"Ka-kamu...bagaimana kamu tau tentang itu?" Samuel merasa dihakimi dan diinterogasi, dia sangat kaget dengan semua kesalahannya yang terbongkar satu persatu.
"Itu karena saya pak."
Suara itu sontak membuat Maura, Evan dan Samuel melihat ke arah pintu kamar. Terlihat Nathan tersenyum sambil membawa dokumen ditangannya. Dia berjalan menghampiri keluarga Agradana.
Samuel menatap tajam ke arah Nathan. "Dasar pengkhianat! Ngapain kamu kesini, hah?!" Samuel emosi.
Nathan tidak bicara, dia hanya tersenyum sambil menyerahkan dokumen yang dia bawa pada Samuel. "BACA!" Titahnya dengan suara meninggi.
Samuel mengerutkan keningnya, lalu dia membuka dokumen itu karena penasaran. Alangkah kagetnya Samuel ketika dia melihat kartu keluarga dan dokumen dokumen keluarga Nathan disana. Ada foto pernikahan Samuel bersama seorang wanita cantik yang memakai sanggul.
"I-ini...ka-kamu..."
"Ya, memang saya jijik mengakuinya tapi saya adalah anak kandung bapak! Saya, adik kak Jessica...anak bapak yang bapak perkosa!" Nathan berteriak pada Samuel.
"Ka--kamu..." Samuel melotot pada Nathan, dia tak menyangka bahwa Nathan orang yang selama ini disampingnya adalah anaknya juga.
Nathan langsung mengatakan niatnya pada Samuel, dia meminta pertanggungjawaban dari Samuel dan meminta warisan. Lalu terjadilah cek cok diantara mereka. Samuel pusing dengan semua penghakiman yang dia terima dari Maura, Evan dan Nathan.
Samuel jatuh tidak sadarkan diri lagi karena dia syok, dia drop dan terkena serangan jantung untuk kedua kalinya. Dokter keluarga pun dipanggil dan memeriksa Samuel, dokter menjelaskan bahwa Samuel terkena stroke ringan.
Meski ayahnya berbuat salah, Maura tetap khawatir pada keadaan Samuel. Dia pun bicara pada Nathan. "Gak seharusnya kamu bicara sama ayah tentang warisan disaat keadaan ayah seperti ini." Tegur Maura pada Nathan.
"Kenapa Maura? Apa kamu sudah memaafkan kelakuan bejat ayahmu?"
"Pak Nathan, ayahku juga ayahmu. Walaupun dia salah, tapi kita harus hormat pada orang tua."
__ADS_1
"Memang ya, kamu anak baik." Sindir Nathan sarkas.
...******...