Terjebak Dendam Suamiku

Terjebak Dendam Suamiku
Bab 57. Salah orang


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Ghea jatuh terduduk setelah dia ditampar oleh Maura, gadis itu menangis tersedu-sedu. Matanya menatap marah pada Maura.


Alya menghampiri Ghea dan memegang tangannya, dia tak percaya bahwa Ghea akan melakukan hal yang ekstrim. "Sebenarnya ada apa? Kamu kenapa nak? Kenapa kamu melakukan semua ini?"


"Aku tidak mau ada orang mati di rumahku, kalau aku mau mati...mati saja di tempat lain!" Maura berteriak marah pada Ghea yang melakukan tindakan nekad itu.


Ghea hanya menangis, dia tidak bicara sepatah katapun. Sang ibu memeluknya sambil menangis. "Kamu kenapa nak? Sebenarnya kenapa?"


Gadis itu berdiri lalu mendorong Maura hingga dia jatuh ke lantai. "Ghea! Apa yang kau lakukan?!" Alya kaget melihat anaknya yang marah tanpa sebab pada Maura.


"Kamu kan yang sudah menyuruh orang untuk melecehkanku? Kamu kan?!" tuduh Ghea pada Maura.


Maura kembali berdiri, dia menatap tajam ke arah Ghea. Tak paham apa yang dikatakan oleh adik iparnya itu. "Apa maksud kamu? Kenapa kamu menuduhku seperti ini?"


Apa semalam Ghea benar-benar dilecehkan?


"Kamu kan...kamu yang benci padaku dan kamu menyuruh mereka untuk--"


"Benar-benar tidak tahu diri kalian ya? Sudah ditolong oleh adikku, kalian masih saja bersikap buruk padanya. Maura, sudahlah kamu usir saja mereka dari sini!" Evan sudah berada dibelakang Maura, dia mendengar semuanya.


Maura terdiam, dia tidak bicara dan hanya menghela nafas saja. Dia pun keluar dari kamar itu dengan kepala penat seperti banyak pikiran, Evan mengikutinya. Evan mengatakan keluhannya kenapa Maura begitu baik pada orang yang sudah jahat padanya.


"Aku gak paham sama kamu Ra, sumpah! Kenapa kamu sangat baik pada mereka yang jelas-jelas sudah berbuat tidak baik sama kamu?"


"Aku juga gak paham sama kakak, kenapa kakak tetap mempertahankan pak Nathan di perusahaan setelah apa yang dia lakukan pada keluarga kita? Dia lebih buruk dari Bara dan keluarganya, itu karena dia sudah bersama kita dan bersama ayah selama bertahun-tahun. Tapi kenapa kakak masih mempertahankannya dan memintaku untuk berbuat baik padanya? Kenapa?"


Evan tertegun mendengar pertanyaan dari Maura tentang sikapnya pada Nathan. Melihat Evan terdiam, Maura merasa ada yang aneh dengan Evan seperti ada yang dia sembunyikan darinya.


"Kak, jawab!"


Maura melihat tangan Evan mengepal, gelisah tersirat di wajahnya. "Ayo kita sarapan lalu kita berangkat, aku ada rapat di kantor,"


Kak Evan mengalihkan pembicaraan?. Maura melongo dengan sikap Evan yang terang-terangan mengalihkan pembicaraan.


Evan berjalan pergi lebih dulu meninggalkan Maura. 'Maaf Maura, kamu tidak boleh tau tentang Nathan,'


Usai sarapan pagi, Maura dan Evan bersiap untuk berangkat ke tempat tujuan mereka masing masing. Sebelum ke kantor, rencananya Evan akan mengantar Maura ke penjara untuk bertemu Bara dan segera mengesahkan perceraiannya.

__ADS_1


Saat sampai didepan pintu, Evan melihat ada bunga seseorang yang membawa buket bunga mawar putih dan sekotak coklat besar di tangannya. Wajahnya terhalangi oleh buket bunga yang besar itu hingga Evan tak bisa melihat wajhnya.


"Oh!" Pekik Evan pelan.


"Se-selamat pagi, Maura." sapa Bryan pada Evan yang dianggapnya sebagai Maura. Sedangkan Maura berada di belakang Evan.


Suara ini kan suara pak Bryan? Ngapain dia kesini pagi-pagi?. Evan mengenali suara Bryan.


"Ka-kamu masih marah ya, aku minta maaf atas kejadian kemarin. Maaf aku khilaf, aku pikir semua itu mimpi...kamu pasti menganggapku mesum kan? Aku tau pasti kamu begitu tapi tak apa ini salahku, maafkan aku, aku tidak sengaja." Oceh Bryan.


Bryan memohon maaf, matanya terpejam tak berani menatap Maura. Dia takut melihat wajah cantik wanita itu marah ketika menatap dirinya.


Tangan Bryan meraih tangan Evan yang dia pikir adalah Maura. Evan terkejut sampai dia tidak bisa bicara. "Aku denger kamu suka coklat dan mashmallow, ini buat kamu. Oh ya, ini bunga anggaplah sebagai permintaan maafku...maaf little girl, aku menyesal."


Aku tidak percaya ini, Presdir Xander grup bisa melakukan hal yang romantis pada adikku. Padahal dia terkenal dengan sikapnya yang dingin pada wanita, ternyata dia benar-benar serius dengan Maura.


Bryan pun terdiam, karena dia tak kunjung mendapatkan jawaban dari Maura. Dia merasakan ada yang aneh dengan tangan yang dipegangnya. 'Kenapa ya tangannya besar dan kulitnya kasar?'


Maura menahan tawa melihat Bryan salah mengenali dirinya dan meraba-raba tangan Evan. Bryan pun membuka matanya, dia terkejut setengah mati saat melihat yang ada didepannya adalah Evan bukan Maura.


"Halo pak Bryan? Selamat pagi!" Sapa Evan pada Bryan dengan maksud memecah kecanggungan itu.


Pria itu langsung menyingkirkan tangannya dari Evan, dia sampai menjatuhkan buket bunga yang dibawanya. Lalu dia melihat Maura berdiri tak jauh dari Evan sambil menahan tawa. Terlihat dari dirinya yang menutupi mulut dengan telapak tangan.


Wajah Bryan langsung pucat, dia malu karena telah salah orang. 'Sial, aku malu sekali! Sangat malu, apalagi didepan Maura? Eh, tapi dia tersenyum?'


"Bapak mau bertemu dengan Maura ya? Ya udah kakak berangkat duluan ya, Maura." Evan melangkah pergi meninggalkan Maura dan Bryan, menuju ke mobilnya.


"Eh kakak, kok kakak berangkat duluan sih? Barengan dong kak!" Maura berteriak pada kakaknya.


Evan berbisik pada Bryan, "Pak Bryan, maaf saya merepotkan bapak untuk mengantar adik saya. Saya ada rapat yang harus saya hadiri secepatnya. Oh ya, hari ini Maura akan pergi ke penjara...dia akan segera bercerai."


Bryan tertegun mendengar itu, seperti ada bom meledak didalam hatinya. Bom ataukah kembang api? Yang jelas sesuatu itu membuat Bryan meledak tidak terkendali.


Maura akan bercerai dengan Bara? Artinya green light.


"Maura, kakak akan telat rapat. Kamu diantar sama pak Bryan ya, dia udah setuju."


"Kakak!"

__ADS_1


Diantar sama pak Bryan? Ya ampun, kemarin kami kan...


Evan benar-benar pergi seorang diri meninggalkan Maura. Akhirnya Maura ikut ke mobil Bryan karena dia takut akan terlambat ke kantor jika dia tak cepat-cepat pergi ke penjara untuk menuntaskan urusannya. Didalam perjalanan, Maura dan Bryan sama-sama terlihat canggung. Mungkin karena ciuman kemarin.


"Ehm...apa kamu sudah sarapan?" Bryan memberanikan dirinya bertanya lebih dulu.


"Su-sudah."


Ya Allah kenapa aku berdebar seperti ini?. Maura memegang dadanya yang tidak karuan.


"O-oh begitu ya," Bryan tersenyum tipis.


Bryan Seager Xander, seumur hidup dia tidak pernah gugup dalam keadaan apapun. Namun dihadapan seorang Maura, dia menjadi mati gaya.


"Bapak sudah makan?"


"Belum,"


"Kenapa belum pak?"


"Aku tidak terbiasa sarapan," jawab Bryan jujur.


"Mana bisa seorang pebisnis tidak membiasakan sarapan? Tubuh dan otak bisa tidak sinkron pak, bapak harus sarapan agar tubuh sehat dan juga kuat untuk memulai aktivitas." Maura tidak percaya Bryan tidak terbiasa sarapan pagi. Dia menasehati pria itu, bahwa dia harus sarapan.


"Tapi gimana ya, aku memang terbiasa tidak sarapan." Bryan tersenyum.


"Karena tidak terbiasa makanya harus dibiasakan pak, ayo pinggirkan mobilnya dulu!" tatapan Maura mengarah pada kedai bubur yang ada dipinggir jalan.


"Apa? Kenapa?"


"Kalau bapak tidak sibuk, kita sarapan dulu."


Dia sudah banyak membantuku, lagipula kemarin dia tidak sengaja. Ah...sudahlah aku maafkan saja dan lupakan kejadian kemarin.


"Kamu...mau temenin aku sarapan?"


"Iya, saya temani."


"Kalau gitu aku gak sibuk!" Kata Bryan yang lalu menepikan mobilnya ke pinggir jalan dengan selamat.

__ADS_1


Asik! Sepertinya little girl sudah memaafkanku.


...****...


__ADS_2