
...🍁🍁🍁...
Beberapa jam sebelumnya, Bryan terbangun manakala dia mendengar suara istrinya berteriak teriak. "Little girl? Kamu kenapa sayang?"
"Nggak...jangan...jangan...hiks...hiks...ayah... jangan..." Maura mengigau sambil berteriak dan menangis, memanggil ayahnya.
Bryan beranjak duduk, dia memegang pipi istrinya. Mencoba membangunkan Maura yang masih mengigau dengan mata terpejam. Wajahnya berkeringat dingin, "Sayang...kamu kenapa? Sayang bangunlah!" Tatap Bryan pada istrinya.
"Tidak! Ayah!" Maura pun membuka matanya, nafasnya masih terengah-engah. Dia mendongak dan melihat wajah suaminya yang tampan didepan mata. "By..." lirihnya.
"Sayang, kamu kenapa? Kamu mimpi buruk?" Bryan mengusap keringat di wajah sang istri tanpa rasa jijik sama sekali.
"By...ayo kita ke rumah ayah, aku mau ke rumah ayah sekarang!" Maura saja beranjak dari tidurnya. Dia terlihat gelisah, meminta pergi ke rumah sang ayah.
"Sayang, besok aja kita ke rumah kamu nya ya. Sekarang tengah malam, sayang." Bryan memegang tangan istrinya, seraya menenangkan istrinya yang gelisah.
"By, aku gak tenang...aku...aku..."
"Ada apa sayang? Apa yang membuat kamu gelisah begini? Apa kamu mimpi buruk soal ayah kamu?" Tanya Bryan dengan tenang.
Maura mengangguk pelan. "Iya."
"Mimpi apa?"
"Gak boleh diceritain, kata Almh mamaku mimpi buruk gak boleh diceritakan, nanti suka kenyataan." kata wanita itu sambil duduk di samping suaminya.
"Oke, kalau gitu kamu jangan ceritakan. Kamu tenang ya sayang," ucap Bryan sembari memeluk istrinya itu.
"By...aku gak tenang, ayah...ayah..."
"Pikirkan hal positif saja ya? Besok kita ke rumah ayah kamu, sekalian menginap di sana."
"Menginap juga? Tapi kan belum jadwalnya, By..." Maura merasa tidak enak hati pada suaminya, mereka sudah sepakat mengatur jadwal tempat tinggal. Namun kini Maura resah karena ayahnya karena sebuah mimpi.
"Gak apa-apa sayang, tidak sesuai jadwal pun tak masalah. Semua terserah kamu." Bryan memasrahkan semua pada Maura.
"Makasih ya By, kamu emang suami paling pengertian."
"Iya sayang, everything for you." Bryan memagut bibir Maura dengan lembut, perlahan-lahan pagutan itu berubah menjadi intens. Bryan melakukannya agar membuat Maura lebih tenang.
__ADS_1
"Eungh...By,"
"Ya, sayang?"
~Chup
Maura mengecup bibir suaminya dengan lembut, lalu ia mengucapkan syukur karena Bryan hadir ke dalam hidupnya seperti cahaya. Pria itu memberikannya banyak cinta, memberi warna dalam hidupnya. Membebaskan dirinya dari jerat dendam, akibat ulang sang ayah.
"By, makasih ya kamu telah hadir di dalam hidupku dan mencintaiku yang tidak sempurna ini. Aku merasa kamu adalah anugerah terindah yang Tuhan berikan padaku,"
"Sayang, jangan merasa bahwa dirimu tidak sempurna. Kamu sangat sempurna untukku, kamu berhasil membuatku jatuh cinta dan semua orang tau bahwa tak mudah untuk membuatku jatuh cinta. Jadi, jangan pernah kamu mengecewakan aku ya...sayang? Jangan pernah selingkuh dariku, tetap setia denganku sampai akhir hayat memisahkan kita...bisa, kan?"
"Kamu juga...kamu harus setia padaku, jangan melirik wanita lain yang mungkin lebih cantik dariku. Aku tidak mau ada perselingkuhan, pelakor, poligami, aku benci itu..." oceh Maura dengan bibir mengerucut yang menggemaskan untuk Bryan.
Bryan terkekeh, kemudian dia tak tahan dan mengecup bibir Maura, hingga Maura terbaring kembali di ranjang. Maura membalas ciuman suaminya, tangannya merengkuh leher Bryan.
"Tidak akan ada hal seperti itu, hanya ada kamu saja di dalam hidupku...im promise my little girl..."
"Fine, i believe you and i love you."
"I love you more."
Pasangan suami-istri itu kembali tertidur, Maura tidur di dalam dekapan suaminya. Setelah yakin Maura sudah tidur nyenyak, Bryan menelpon seseorang diam-diam di luar kamar.
"Halo Ferry! Ini aku!"
"Ih...apaan sih? Nelpon malam-malam gini, dalam mimpi aja masih gangguin. Gak cukup apa bikin capek seharian di kantor? Kenapa masih menghantuiku walau dalam mimpi?! Sialan!" Ferry masih menutup mata ketika dia bicara pada bosnya itu. Dia tidak sadar bahwa ocehannya membuat Bryan marah.
Anak ini bilang apa? Dia bilang aku sialan? Beraninya dia mengutukku seperti ini.
"Sialan kamu Ferry! Kamu mau ku pecat?!" Bryan sedikit membentak Ferry.
"Ah...iya pak." jawab Ferry yang masih mencoba membuka matanya lebar-lebar.
"Serahkan surat pengunduran dirimu besok, bodoh!" Ujar Bryan kesal, giginya gemeretak dan rahangnya mengeras.
Ferry langsung tersadar, manakala ia mendengar ancaman mengerikan itu. Langsung ia melihat panggilan telpon di ponselnya terhubung dengan Bryan. "APA? Maaf pak! Saya mimpi buruk! Jangan pecat saya pak!"
"Kamu bilang aku adalah mimpi buruk? Apa itu benar?"
__ADS_1
"Tidak pak! Saya mohon maaf!" Ferry langsung duduk diatas ranjangnya.
Astaga Ferry, mampus kamu...beraninya kamu bicara begitu pada atasanmu.
"Sudahlah, aku tidak akan memperhitungkan hal ini denganmu untuk sekarang. Cepat cari informasi tentang Arya Wiranto, si perawat itu! Aku ingin informasi detail tentangnya."
"Sekarang pak?"
"Besok....ya SEKARANG lah!" teriak Bryan marah.
"Ba-baik pak...saya siap laksanakan!"
"Dalam dua jam, kamu harus hubungi aku lagi dan kamu harus sudah mendapatkan informasinya! Paham?!"
"Ya pak!"
Tut...
Sambungan telpon itu di putus begitu saja oleh Bryan. Ya, mungkin sikapnya sedikit lebih baik sekarang. Namun tetap saja dia selalu menyuruh sekretarisnya itu untuk bekerja 24 jam seperti warung nonstop atau rumah sakit saja. Dan Ferry tak bisa bilang tidak padanya. Ini memang sudah tugasnya sebagai bawahan Bryan.
"Haduh...nambah lagi kerjaan di tengah malam. By the way kenapa pak Bryan memintaku menyelidiki tentangnya, ya?" Ferry segera menelpon seseorang, yang mungkin tau tentang Arya.
Dua jam kemudian, Ferry kembali menelpon Bryan dan Bryan masih terjaga dari tidurnya, dia menjaga Maura takutnya wanita itu akan bermimpi buruk lagi. "Halo Ferry, sudah kamu dapatkan infonya?" tanya Bryan tanpa basa-basi.
"Pak, saya menemukan data tentang pak Arya! Dia bukan seorang perawat pak!"
"Apa maksudnya?"
"Dia juga memiliki hubungan dengan pak Samuel."
Astaga! Ayah mertuanya lagi-lagi memiliki hubungan dengan orang lain? Apakah posisinya sama seperti Nathan juga? Pikir Bryan dalam hatinya.
"Hubungan apa dan katakan yang jelas!" Seru Bryan tegas.
Ferry pun menjelaskan sosok Arya yang sebenarnya, bahwa pria itu bukan seorang perawat melainkan seorang supir. Bagaimana bisa Arya menjadi seorang perawat? Itu karena dia menggunakan identitas bosnya, sebagai Arya Wiranto, padahal nama aslinya adalah Arya Arman. Dia kehilangan adiknya karena bunuh diri, akibat diperkosa oleh Samuel. Dan sudah jelas mengapa Arya berpura-pura sebagai perawat disana.
Mendengar keburukan seperti itu tentang ayah mertuanya, membuat Bryan miris. Teringat Bara yang dulu menyiksa Maura, sebagai bentuk balas dendam. "Ah! Sial! Bagaimana pun juga dia adalah ayah mertuaku! Kalau terjadi sesuatu padanya karena orang suruhanku, bagaimana ini?"
Pagi itu Bryan membangunkan Maura walau tak tega, dia memberitahu secara singkat tentang Arya. Bryan juga menelpon polisi, lalu dia dan istrinya pergi ke rumah Agradana.
__ADS_1
Benar saja, setelah mereka berada di sana. Mereka melihat Samuel hampir mati.
...****...