
...🍁🍁🍁...
Ketika Maura selesai menyiapkan kejutan untuk suaminya di dalam kamar. Maura pergi ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya lengket karena keringat.
Usai mandi, Maura merebahkan tubuhnya diatas ranjang.Tanpa sadar dia ketiduran dan saat terbangun dia melihat jam sudah menunjukkan pukul 7 malam.
Kemudian Maura pun memasak makan malam di pantry, menyimpan masakan itu di atas meja yang ada di balkon kamarnya.
"Apa Hubby belum pulang? Katanya dia mau pulang cepat." gumam wanita itu lalu mengambil ponselnya yang kebetulan terdengar bergetar.
Maura terkejut mendapati banyaknya panggilan telepon dan pesan masuk di ponselnya. Ya, dari siapa lagi kalau bukan Bryan suaminya.
14: 03 [Sayang, kenapa kamu gak angkat teleponku?]
14 :05 [Sayang, apa kamu masih gak mau deket-deket sama aku? Kamu kenapa sih sayang? Apa kamu gak cinta sama aku lagi?]
14:10 [Little girl...aku minta maaf deh, aku gak akan sering-sering ngelakuin itu]
14:15 [Sayang, aku pulang malaman...ada rapat dadakan nih...]
Wanita itu tertawa melihat isi pesam pesan konyol dari suaminya yang berjumlah puluhan itu. Lalu dia semakin terbahak manakala melihat isi pesan terakhir dari suaminya.
18: 52 [Sayang! Angkat telponku! Aku bisa mati sayang, aku bisa mati! Sayang, tanpa kamu aku gak bisa bernafas, kamu oksigenku...I love you muach muach...angkat telponku sayang, jangan buat aku mati...aku masih ingin hidup lama bersamamu.]
"PFut...hahahaha..."
Kemudian Maura menelpon suaminya dan dengan cepat Bryan mengangkat telponnya. Bryan sedang dalam perjalanan pulang.
"Sayang!"
"By, kamu dimana?" tanya Maura pada suaminya. Matanya sambil berkeliling melihat ruangan yang sudah tertata bak kamar pengantin itu. Belum lagi ada sepasang meja di balkon kamar apartemen itu, berhiaskan bunga dan lilin-lilin kecil belum
Pertanyaan Maura malah dibalas pertanyaan lagi oleh Bryan. "Sayang, kenapa sih kamu gak angkat telepon ataupun balas pesanku?! Aku resah nungguin kamu, tau gak! Aku takut kamu marah sama aku."
"Maaf sayang, tadi aku ketiduran." ucapnya seraya memohon maaf.
"Oh kamu ketiduran, tapi kamu gak apa-apa kan sayang?" tanya Bryan cemas.
"Aku gak apa-apa, By."
"Oh syukurlah! Aku pikir kamu marah padaku...hm...sayang aku dalam perjalanan pulang, tiba-tiba saja aku lagi pengen martabak. Apa kamu mau martabak sayang? Atau kamu mau titip sesuatu?"
"Aku gak mau apa-apa sayang, aku cuma mau kamu cepat pulang...aku kedinginan." ucap Maura dengan suara mendesah manja yang bukan gayanya sama sekali.
Bryan terperangah mendengar suara dessahan istrinya dari sebrang sana, membuat saliva pria itu naik turun. Dia merasa ada yang aneh dengan istrinya. Mungkinkah Maura mengidap penyakit aneh? Ah! Pikirannya jadi melayang kemana-mana.
"Kamu kedinginan sayang? Oke, aku akan cepat pulang ya! Aku gak jadi beli martabak deh," ucapnya terburu-buru.
__ADS_1
"Iya sayang, aku butuh kamu untuk menghangatkan aku." lirih Maura dengan suara yang masih menggoda di telinga suaminya itu.
"Iya sayang. Ferry! NGEBUT!" teriak Bryan pada Ferry yang menyetir mobilnya.
"Asyiap pak!"
Kemudian telpon itu terputus, Maura pun bersiap-siap menyambut suaminya. Dia mengganti bajunya dengan baju tipis, bahan satin. Tak lupa dia memakai jaket sebagai luaran, dia akan mempersembahkan penampilannya itu ketika saatnya tiba nanti.
"Nah semuanya udah siap," wanita itu tersenyum, melihat semua persiapannya telah selesai. "Oh ya, satu lagi!" Maura membuka kotak panjang berwarna hitam yang berisi klip dasi, kemudian Maura meletakkan tes_pack di sana. "Nah! Beres..."
5 menit kemudian, suara tombol password apartemen di pijit dan pintu terbuka terdengar. Maura buru-buru menyambut suaminya dan keluar dari kamar. "Lah? Kok cepet banget sampainya?" gumam kecil Maura sambil berlari-lari kecil ke luar kamar.
Baru saja dia akan melangkah menuju ke arah pintu, pelukan suaminya membuat langkahnya terhenti. "Sayang, kamu gak apa-apa kan? Kamu baik-baik aja kan? Kamu dingin, sayang?"
Tak hentinya pria yang sudah bucin istri itu melontarkan pertanyaan dengan rasa cemas tercetak di wajah tampannya itu. Maura melepaskan pelukan suaminya pelan-pelan, kemudian menggantinya dengan kecupan sekilas di bibir Bryan yang tampak sensual itu. "Iya sayang, aku dingin."
Seketika dalam sekejap Bryan membeku dibuatnya, pipinya memerah seperti kepiting rebus. Terlihat peluh keringat di wajahnya, wajah lelah seorang yang baru pulang kerja. "Kamu pasti lelah sayang, mau mandi dulu atau makan dulu?" tanya Maura sambil berjinjit sedikit dan mengusap keringat di wajah suaminya dengan kedua tangan lembutnya.
"Eungh---itu---a-aku." tiba-tiba saja keringat dingin membasahi wajahnya, merasakan sikap istrinya yang aneh.
Apa yang sebenarnya terjadi? Tadi pagi Maura marah-marah terus sama aku. Sekarang dia kayak godain aku--
"Sayang, kamu mau mandi atau makan dulu? Mandi dulu aja ya sayang, aku siapkan air panas."
"Ehm... sepertinya aku butuh air dingin aja sayang." ucap Bryan sambil menyimpan tas kerjanya.
Karena kamu yang buat aku panas. Tentu saja ini dikatakan Bryan dalam hatinya.
"Aku kan keringetan sayang, jadi aku mau yang dingin aja. Tapi kamu, beneran kedinginan ya?" Bryan melihat istrinya yang memakai jaket tebal.
"Iya sayang, aku kedinginan...makanya aku pakai jaket."
"Aku udah telpon dokter Haris, dia bakalan datang nanti malaman buat periksa kamu."
"Gak usah sayang, aku gak butuh dokter...aku butuhnya kamu..." ucap Maura sambil membalas dada suaminya yang berada didalam balutan kemeja kerjanya.
"Sayang kamu--"
Tidak tahan lagi dengan pesona dan godaan yang disuguhkan padanya, Bryan meraih pinggul Maura. Menyatukan bibirnya pada bibir Maura yang di olesi lip tint berwarna pink. Ciuman yang lembut, berubah menjadi ciuman intens, manakala Bryan menekan tengkuk sang istri, guna memperdalam ciumannya.
"Eungh...sayang, mandi dulu." ucap Maura yang lalu mendorong tubuh Bryan.
"Kamu yang godain aku duluan, kamu udah gak bau sama aku lagi?"
"Ehm, anehnya enggak loh. Aku malah suka bau keringat kamu, tapi kalau kamu--hmph---"
Bryan kembali meraup bibir ranum itu dengan rakus, dia juga menggendong istrinya sampai ke atas.
__ADS_1
"Mandinya nanti bareng ya sayang? Kita tuntaskan dulu juniorku," ucap Bryan sambil tersenyum, dia tidak kuat menahan lagi sesuatu yang berada di bawahnya itu.
"Ya udah, tapi jangan lama-lama." Maura mengangguk, tidak ada alasan untuk menolak ajakan suaminya.
Mereka pun pergi ke kamar yang lampunya masih redup itu, dengan posisi Maura digendong ala koala. Kedua kakinya membelit tubuh Bryan, dalam keadaan berciuman.
"Kenapa lampunya di matiin sayang?"tanya Bryan heran dengan lampu kamar yang menyala.
"Nyalain aja." ucapnya sambil memeluk sang suami.
CTAK!
Lampu kamar itu pun di nyalakan, Bryan tidak ngeh dengan keadaan kamarnya dan sibuk melepaskan satu persatu bajunya. Kemudian dia pun membuka jaket Maura, terlihat istrinya memakai gaun tidur tipis itu. "Sayang, kamu sengaja rupanya..."
"By, apa gak sebaiknya kita makan dulu? Kamu kan belum makan malam."
Duh urutannya salah ini, seharusnya makan dulu baru lah...
"Aku lebih lapar lihat tubuh kamu," ucap Bryan sambil tersenyum, lalu dia menurunkan tali baju Maura.
Mereka pun melakukan penyatuan diatas ranjang, saat Bryan akan menggempur istrinya terus-terusan. Maura menghentikannya, dia mendorong suaminya.
"By, hentikan..."
"Kenapa sayang?"
"Gak boleh cepat-cepat, jangan lama-lama juga. Mulai sekarang gak boleh," ucap Maura sambil memegang perutnya, kemudian dia duduk diatas ranjang.
"Ah sayang--tapi aku--"
Bryan tak sengaja merasakan ada benda di bawah bantal dan mengambilnya. Dia pun menyadari bahwa kasur itu penuh dengan bunga-bunga.
"I-ini apa sayang?" tanya Bryan sambil memegang kotak hitam itu.
"Bukalah!"
"Apa dulu?"
"Hadiah buat kamu," jawab Maura dengan sunggingan senyum dibibirnya.
Rasa penasaran membuat Bryan membuka kotak itu, dia melihat klip dasi dan....
Atensinya tertuju pada benda yang memiliki dua garis itu. Dia lebih dulu mengambilnya, "Sayang, kamu--"
"Selamat sayang, kamu akan menjadi ayah.."
*****
__ADS_1